
Sepasang mata berwarna emas itu memandang lurus ke depan dengan datar. Kakinya bergerak dengan langkah kecil yang pasti. Suara ketukan sepatunya terdengar keras di lorong luas berlantai marmer itu.
Rambutnya yang berwarna perak dikuncir tinggi, membuatnya bergerak ke kiri dan kanan selama ia berjalan. Tubuhnya yang ramping dan mungil membuatnya terlihat seperti hewan berbulu perak, misalnya rubah berbulu perak—setidaknya itu yang dikatakan orang-orang. Dan ia tidak pernah sekali pun merasa peduli.
Ia menghentikan langkah kecilnya di depan sebuah pintu kayu berukir yang cukup besar. Tangan kecilnya terangkat lalu mengetuk pintu itu tiga kali.
"Masuk." Ujar seseorang dari balik pintu.
Ia membuka pintu dengan perlahan lalu menutupnya kembali setelah masuk. Ia lalu melangkah mendekati seseorang yang sedang duduk di balik meja.
"Chroma si rubah berbulu perak," katanya sambil menatap gadis itu dengan serius. "terima kasih sudah menerima tawaranku."
Chroma menatap pria tua itu dengan tatapan datar. Ia tidak suka berbasa-basi dengan siapa pun, tak terkecuali dengan kliennya. Ia hanya ingin segera mendengar apa pekerjaannya, menyelesaikannya secepat mungkin, menerima uang, dan segera menghilang dari kehidupan mereka. Ya, seperti yang biasa ia lakukan.
"Tidak usah basa-basi," ujarnya datar. "langsung jelaskan dengan detil."
Pria tua itu berdeham beberapa kali. Jarinya ia remas dengan gelisah. Wajar. Ia sedang berhadapan dengan 'Chroma si rubah berbulu perak'. Setiap orang yang tahu identitasnya akan merasa gelisah saat berbicara dengannya.
"Baiklah," kata pria tua itu. "begini ceritanya."
•••
Chroma menatap pantulan dirinya di cermin dengan tatapan luar biasa tidak senang. Rambut peraknya—ciri khas yang sangat ia suka—terpaksa harus dicat dengan warna coklat muda. Mereka bilang bahwa rambut perak terlalu mencolok dan sangat mencurigakan.
Rambut coklatnya itu disisir dan ditata oleh seorang pelayan, sementara yang lain sibuk mengoleskan kuas ke wajahnya, mengencangkan korset yang membuatnya sesak bukan main, dan memasangkan gaun.
Neraka, pikirnya.
Entah apa yang ada di pikirannya saat ia menerima tawaran pekerjaan ini. Oh, tidak. Tentu karena uang. Pekerjaan ini memiliki imbalan sepuluh kali lipat dari imbalan yang biasa ia dapat. Tanpa pikir panjang ia menerima tawaran itu. Siapa yang tidak mau uang yang bisa dipakai untuk membeli sebuah kastil beserta isinya?
Akhirnya—setelah empat puluh menit penuh siksaan—semua pelayan itu pergi dengan sopan. Chroma berdiri menatap seorang gadis dengan gaun di pantulan cermin di hadapannya. Sama sekali beda. Terlalu. Ia merasa ingin muntah melihatnya. Menjijikkan.
__ADS_1
Ia segera melengos meninggalkan cermin, tak mau lama-lama menatap pantulan dirinya yang seperti orang asing. Ia lalu keluar dari ruangan itu dan mendapati seorang pengawal berdiri di samping pintu.
"Oh, Nona Chroma. Mari saya antar menuju kereta kuda." Ujarnya ramah. Chroma hanya mengangguk sekali lalu mengikuti pengawal itu.
Srak.. Sruk.. Srak.. Sruk..
Chroma mengumpat dalam hati karena begitu sulit berjalan dengan gaun yang sangat berat dan menyusahkan itu. Ia heran kenapa semua perempuan mau saja memakai baju seperti ini. Sangat tidak efisien untuk bergerak, batinnya.
Setelah sampai di depan istana, kereta kuda sudah menunggu—lengkap dengan beberapa pengawal. Chroma melangkahkan kakinya lebar-lebar, merasa kesal karena sulit berjalan dengan rok yang mengembang sepuluh kali lipat dari lingkar pinggangnya. Ia lalu menaiki kereta kuda dengan beringas.
Di dalam kereta kuda, Chroma langsung memasang wajah yang serius. Ia sudah masuk dalam mode kerjanya. Misi rahasianya telah dimulai saat kereta kuda itu melaju pesat meninggalkan istana.
•••
Chroma turun dari kereta kuda dengan anggun, dituntun oleh pengawalnya. Senyum tipis tersungging di bibirnya. Ia lalu berjalan pelan dan memberi hormat pada orang-orang yang telah menunggunya.
"Oh, Putri Jane dari Kerajaan Hecca! Selamat datang!" Seru seorang pria tua dengan pakaian mewah sambil memberi ciuman di tangan Chroma.
"Tidak, tidak, Putri Jane. Aku sudah pensiun menjadi Raja. Kau tidak perlu memanggilku Yang Mulia." Katanya.
"Oh tidak, Yang Mulia. Anda adalah Raja Braz, Raja ke-14 Kerajaan Chraz, Anda pantas dipanggil Yang Mulia." Timpal Chroma sambil tersenyum. Pria tua itu tertawa kecil.
"Ah, Achromos sudah menunggumu di taman. Ia tidak mau ikut menyambutmu. Padahal sudah kupaksa." Kata Braz.
Chroma hanya tersenyum menanggapinya lalu berjalan pelan menuju taman. Ia melangkahkan kaki kecilnya di lorong yang atapnya terbuat dari tanaman merambat itu. Wangi bunga langsung menyeruak, membuatnya merasa mabuk sangking wanginya.
Mata Chroma menangkap punggung seorang laki-laki dengan rambut hitam legam dan jubah yang tidak kalah hitam. Ia duduk di bangku taman dengan tegak, membiarkan angin mengibarkan jubahnya. Chroma berjalan dengan anggun hingga ia bisa melihat wajah laki-laki itu dengan jelas. Laki-laki itu langsung menengok ketika Chroma mendekat, memperlihatkan matanya yang tajam dan dingin.
"Se-selamat siang, Yang Mulia." Ujar Chroma, berpura-pura merasa takut melihat ekspresi Achromos yang dingin.
Achromos berdiri dan langsung menghampiri Chroma. Ia memegang dagu Chroma lalu menatapnya lekat-lekat.
__ADS_1
Laki-laki kurang ajar! Umpat Chroma dalam hati.
"Tidak buruk." Komentar Achromos setelah beberapa puluh detik menatap wajah Chroma. Ia lalu melirik tubuh Chroma yang mungil. "Tapi terlalu kecil."
Chroma melotot mendengar perkataan Achromos. Kata 'kecil' adalah kata paling memuakkan dalam hidupnya. Ingin rasanya ia segera mengambil pisau dan menusuk laki-laki itu.
Chroma menarik napas panjang—mencoba menenangkan diri—lalu tersenyum manis.
"Yang Mulia, namaku Jane Frieth Verroxa Hecca dari Kerajaan Hecca." Ujarnya lembut.
"Aku tahu." Timpal Achromos singkat.
Chroma menahan rasa amarahnya yang semakin memuncak. Ia hanya bisa tersenyum semampunya, entah Achromos bisa menyadari senyum paksanya itu atau tidak.
"Laki-laki brengsek." Bisik Chroma begitu Achromos memalingkan wajah.
Achromos langsung menatap Chroma dengan tajam dan sedetik kemudian, tangannya mencengkram leher Chroma dengan kuat.
Chroma terkejut bukan main. Lehernya terasa sakit luar biasa dan ia tidak bisa bernapas. Ia memukul-mukul tangan Achromos sebisanya, mencoba melepaskan genggaman yang begitu kuat. Chroma meronta, menatap mata Achromos yang begitu keji. Perlahan air mata menetes dari matanya.
Achromos melepaskan genggamannya dengan kasar, membiarkan tubuh mungil Chroma terjatuh ke tanah. Chroma batuk hebat sambil memegang lehernya yang masih terasa sakit. Ia berani bersumpah, sedetik saja Achromos terlambat melepasnya, ia pasti sudah mati.
Achromos berbalik dan melangkah dengan tenang, meninggalkan Chroma yang masih terduduk. Jubah hitamnya berkibar-kibar di antara wangi bunga yang menyengat. Chroma mengumpat. Kenapa ia kelepasan mengatakan Achromos brengsek? Ia merasa bodoh. Baru kali ini ia merasa gagal dalam melakukan pekerjaannya.
"Ini baru permulaan. Lihat saja nanti, raja bodoh." Bisiknya.
•••
Achromos menatap telapak tangannya yang baru saja mencengkram leher mungil dan rapuh milik Chroma. Tatapan matanya begitu dingin dan tajam—seolah-olah bisa membuat apa pun yang ia lihat langsung membeku. Sesaat tadi, ia bisa merasakan ada yang aneh dari "Putri Jane" yang ia temui. Firasatnya mengatakan akan ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi, karena itu ia lepas kendali dan mencengkram erat leher gadis itu.
"Jane, ya?" bisiknya nyaris tak terdengar.
__ADS_1
———