
Cain menatap tanah di bawahnya yang berjarak sekitar sepuluh meter dari tempatnya berdiri. Wajahnya basah penuh air mata dan hatinya telah hancur tak bersisa. Ia ingin menyerah. Ia tidak mampu menanggung semua yang telah terjadi. Ia merasa luar biasa menyesal dan putus asa.
"Kak.. Chlar.." Bisik Cain.
Saat kakinya hendak melangkah pada udara di hadapannya, tiba-tiba saja sebuah tangan menarik tangannya. Tangan besar itu terasa dingin dan bergetar. Saat Cain menoleh, ia mendapati Achromos berdiri dengan wajah pucat pasi. Napasnya tersengal-sengal dan peluh bercucuran di wajahnya.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Achromos dengan suara berat di sela-sela helaan napasnya.
Cain hanya bisa menatap mata hitam Achromos tanpa bisa berkata apa-apa.
"KAU PIKIR UNTUK APA CHLARI MENYELAMATKANMU??"
Teriakan Achromos membuat Cain tersentak dan air mata kembali meleleh tanpa ampun. Tidak ada kemarahan di mata Achromos. Yang ada hanya luka dan kesedihan yang begitu mendalam. Juga rasa takut. Achromos lalu menarik dan memeluknya dengan bahu bergetar.
Cain kembali teringat bahwa Achromos juga ada di sana, menyaksikan hal yang sama dengannya. Achromos juga merasakan rasa sakit yang ia rasakan. Tapi kenapa ia malah berniat meninggalkan Achromos sendirian? Betapa bodohnya ia. Ia tidak memikirkan Achromos yang pasti merasa luar biasa terluka atas kepergian Chlari dan Aram. Juga Chroma yang pergi meninggalkannya.
Tangan pucat itu perlahan ikut memeluk punggung Achromos. Ia terisak sepuasnya di dalam pelukan kakaknya itu. Mereka berdua menangis—sama-sama merasakan kepedihan tiada tara.
"Cain.. kumohon.. jangan pernah berpikiran untuk mati.. jangan tinggalkan aku sendiri.." Bisik Achromos lirih.
"Kakak.. maafkan.. aku.." Balas Cain. "Maafkan aku.. Maafkan aku.."
Kedua kakak beradik itu sama-sama memiliki hati yang telah hancur, sama-sama kehilangan, dan sama-sama merasa putus asa. Tapi mereka baru tersadar bahwa mereka masih bisa saling menyokong, masih bisa saling mendukung, masih bisa berjalan bersama. Mereka baru tersadar bahwa selama mereka masih bernapas, mereka masih bisa mengubah keadaan.
Keduanya kemudian hanya terisak sepanjang malam—melampiaskan seluruh perasaan yang meluap-luap hingga hati mereka tak sanggup menampungnya.
•••
Achromos menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan lemas. Matanya terasa begitu kering setelah menangis semalam. Cain sudah tertidur di kamarnya setelah puas menangis.
Jantung Achromos nyaris copot begitu melihat jendela kamar Cain terbuka dan adiknya itu berdiri di sana. Kalau saja Achromos tidak pergi keluar istana untuk mencari angin segar, pasti tidak akan ada yang menyadarinya. Saat itu Achromos nyaris membeku. Untung saja instingnya membuat tubuhnya bergerak dan langsung melesat ke kamar Cain. Kalau ia terlambat beberapa detik saja, mungkin ia tak bisa menyelamatkannya.
"Aku harus kuat.." Gumamnya pelan.
Tok tok tok!
Suara ketukan pintu dan suara Mysha membuat Achromos bangkit dari tidurnya. Tak lama, Mysha muncul dari balik pintu dan langsung memberi hormat.
"Yang Mulia Achromos, Yang Mulia Braz memanggil Anda ke ruangannya." Ujar Mysha.
Achromos menaikkan alisnya dengan heran. Apa yang ingin dibicarakan orang itu padanya? Apakah ia akan kembali menceritakan tentang ibunya? Achromos hanya mengangguk sekilas dan segera berangkat menuju ruangan Braz.
Sesampainya di ruangan Braz, Achromos langsung menatap Braz dengan tatapan meminta penjelasan. Braz hanya menyeringai sambil melemparkan sesuatu ke atas meja di hadapannya.
__ADS_1
"Lihatlah." Perintahnya singkat.
Achromos mendekat dan menggapai lembaran kertas itu. Kertas itu adalah sebuah lukisan potret seorang perempuan yang sedang mengenakan gaun mewah. Achromos mengalihkan pandangannya pada Braz dengan alis berkerut.
"Dia adalah Putri Mirria, putri pertama Kerajaan Exeta. Kau akan menikah dengannya sebulan lagi." Pungkas Braz.
Mata Achromos langsung melebar dan ia menggebrak meja dengan geram.
"JANGAN BERCANDA!!" Serunya.
"Wuah, seram sekali." Ejek Braz sambil menggelengkan kepalanya. "Achromos, kau tidak usah menunggu perempuan itu kembali. Dia tidak akan kembali. Kau harus memikirkan Chraz yang sedang compang-camping ini. Pernikahan dengan putri dari Exeta akan menambah kekuatan Chraz. Pikirkan sedikit posisimu sekarang. Apa kau mau Chraz runtuh karena kau terus menunggu perempuan itu?"
"Kau..." Achromos berucap sambil menggeretakkan giginya. Ia merasa begitu marah pada Braz yang semena-mena. Sewaktu Braz memintanya menikahi Jane, Achromos memang menerimanya karena ia tidak peduli dengan kehidupannya. Yang ia pikirkan saat itu adalah menjadi raja Chraz yang sebenarnya dan membalaskan dendam pada Braz dan Chlari. Tapi saat ini berbeda. Ia sudah menemukan orang yang ia cintai. Ia sudah tidak terobsesi untuk membalaskan dendamnya. Dan Braz seolah-olah tidak peduli dengan itu semua.
"Aku tidak akan menuruti perintahmu!!" Geram Achromos sambil keluar dari ruangan Braz dengan beringas, membuat Braz menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi dengan lelah.
"Anak yang tidak penurut." Gumam Braz.
"Yah.. tapi mau bagaimana lagi," Braz menghela napas sambil tersenyum kecut. "dia tidak tahu waktuku tidak banyak dan aku tidak mau dia dikecewakan oleh gadis berambut perak itu."
•••
Achromos menghela napasnya sambil duduk di sisi jendela kamar Cain. Hujan rintik menetes pelan-pelan dari langit, membentuk pola titik-titik bening di kaca yang jernih itu. Sepanjang hari pikirannya kacau tidak karuan. Ia benar-benar dibuat pusing oleh Braz. Seenaknya saja memintanya menikah. Memangnya ini hidup siapa?
"Cain, kau sudah bangun?" Tanya Achromos sambil menghampiri Cain.
Cain langsung menundukkan kepalanya dengan sedih. "Kakak.. Maafkan aku, ya.." Ujarnya pelan.
Achromos tersenyum simpul sambil menepuk kepala Cain dengan lembut. "Asal kau berjanji tidak akan mengulanginya lagi, aku akan memaafkanmu." Katanya.
Cain sambil mengangkat wajahnya dan mengangguk. Ia lalu menatap lekat-lekat wajah kakaknya itu cukup lama, membuat Achromos sedikit terusik membayangkan apa yang ada di dalam pikiran Cain.
"A-ada apa, Cain?" Tanya Achromos.
"Kakak.." Ujar Cain. "Mata Kakak.. bengkak seperti donat.."
Achromos langsung terjungkal sedikit begitu mendengat ucapan Cain. Ia lalu menatap Cain dengan tajam.
"Kau... Memangnya kau tahu matamu seperti apa sekarang??" Serunya kesal. "Bengkak seperti gajah!"
"Pfft!" Mendengar reaksi Achromos, Cain tertawa kecil—memperlihatkan lesung pipinya yang samar.
Achromos langsung ikut tersenyum melihat Cain tertawa. Jarang-jarang sekali Cain mau memperdengarkan tawanya yang khas itu.
__ADS_1
Syukurlah, dia sudah kembali. Batin Achromos.
"Dasar adik tidak sopan!" Ujarnya sambil tetap tersenyum.
"Oh iya.." Ujar Cain sambil berhenti tertawa dan kembali memasang wajah datarnya. "Kakak.. sedang ada masalah?"
Raut wajah Achromos langsung berubah masam begitu mendengar ucapan Cain. Ia kembali teringat perintah bodoh Braz itu. Achromos menatap Cain dengan tatapan tak enak lalu menghela napasnya panjang-panjang.
"Braz menyuruhku menikah dengan putri Kerajaan Exeta." Jawab Achromos dengan sedikit ogah.
"Menikah..? Ayahanda.. yang menyuruh?" Tanya Cain.
"Iya! Dia memang orang yang semena-mena! Tidak punya perasaan!" Gerutu Achromos.
"Kakak.. bagaimana dengan.. Nona Chroma?" Tanya Cain dengan sedikit ragu. Achromos hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan lemas.
"Aku belum menemukannya. Dia benar-benar seperti rubah. Begitu mudahnya pergi dan begitu sulitnya dicari."
"Apa Kakak.. akan terus mencari.. Nona Chroma?"
Achromos tercenung mendengar pertanyaan Cain. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Jika menuruti keinginannya, tentu ia akan mencari Chroma sampai kapan pun. Tapi ia adalah seorang raja. Ia memiliki kewajiban untuk meneruskan tahta pada anaknya kelak—hal yang sejujurnya ia benci. Ia juga memiliki kewajiban untuk mengurus kerajaan yang sangat memakan banyak waktu. Tapi ia tidak punya pilihan lain. Urusan Chraz tidak hanya tentang dirinya dan keluarganya, namun juga urusan seluruh rakyat yang bergantung pada Chraz.
"Aku.. tidak tahu.." Jawab Achromos akhirnya. Matanya menyiratkan kesedihan saat mulutnya melontarkan perkataan itu.
Cain menyadari hal itu dan hanya bisa terdiam tanpa menanggapi atau menanyakan lebih lanjut. Ia takut Achromos akan hancur dan meledak jika ia memaksakan pemikirannya saat ini. Achromos masih membutuhkan waktu untuk mengambil keputusan dan Cain akan menunggu sampai saat itu tiba.
•••
Chroma terdiam sambil menatap langit malam yang tidak berbintang, menghabiskan waktunya di kuil itu sebelum berangkat nanti subuh. Hujan baru saja usai dan rerumputan di sekitarnya masih basah, tapi ia tetap merebahkan diri di atasnya—tidak peduli baju dan tubuhnya basah dan penuh lumpur.
Perlahan, Chroma mengangkat tangannya seolah-olah ingin menggapai kegelapan tak berujung di atasnya tubuhnya itu.
"Aram.." Bisiknya. "Apa kau ada di sana?"
Di tengah gelapnya malam, tiba-tiba saja secercah cahaya muncul dari telapak tangan Chroma, membuat tubuh mungilnya langsung bangkit karena terkejut.
"A-apa ini??" Pekiknya kaget.
Tak lama, rasa perih menjalar di perutnya. Chroma langsung meringkuk sambil memegang perutnya erat-erat. Sebuah cahaya merah berbentuk mandala memancar menembus kain yang menutupi perutnya. Mata Chroma langsung terbuka lebar begitu menyadari cahaya itu adalah sesuatu yang seharusnya sudah hilang bersama dengan Aram.
"I-ini... jangan bilang.."
"Xerra..?"
__ADS_1
———