Chroma & Achromos

Chroma & Achromos
Chapter 17: War


__ADS_3

Achromos bergegas menaiki kudanya dan pergi ke lapangan istana setelah meminta tentara kerajaan berkumpul. Ia lalu berteriak memberikan komando pada mereka. Serangan mendadak dari Kerajaan Hecca membuatnya sedikit kalang kabut, namun ia masih bisa memikirkan strategi. Dengan setitik harapan, ia berdoa agar Chraz masih bisa melindungi penduduknya. Hanya itu saja yang ia inginkan.


"Pemanah, segera bersiap di posisi kalian! Tim A, segera pergi ke utara! Tim B ke selatan! Tim C ke barat! Tim D ke timur! Kalian bawa semua penduduk ke tempat aman! Tim E dan Tim F ikut denganku! Kita akan menghadapi mereka secara langsung!" Seru Achromos dari atas kudanya.


Seluruh tentara kerajaan langsung mematuhi perintah Achromos dan bergegas mengerjakan tugasnya masing-masing. Achromos langsung memacu kudanya dengan kecepatan tinggi, memimpin tentara kerajaan yang menyusul di belakangnya.


Setelah berkuda hingga sampai ke gerbang kota, tentara Kerajaan Hecca langsung datang menyerang. Tak mau kalah, tentara Kerajaan Chraz juga langsung menyerang. Pemanah juga mulai melepaskan anak panahnya ke udara dan tentara lain mulai mengayunkan pedangnya. Achromos merasakan kemarahan yang luar biasa. Ia merasa dikhianati dua kali oleh Hecca. Apa lagi ia harus mengurusi Schatten, Chroma, dan mencari Cain. Tidak ada waktu untuk meladeni kerajaan sampah seperti Hecca!


Tanpa basa-basi, Achromos menebas seluruh tentara Hecca yang berada dalam pandangannya dengan pedang. Mata hitamnya berkilat-kilat penuh amarah. Dalam sekejap ia sudah menghabisi puluhan dari mereka. Meskipun cerita mengenai Raja Kegelapan adalah kesalahpahaman, namun Achromos memang memiliki kemampuan bertarung yang luar biasa.


Pertarungan terus berlangsung dengan sengit. Hari sudah berganti begitu sinar matahari mulai menyelinap dari timur dan perang masih belum usai. Akan tetapi, tentara Hecca semakin tertekan mundur. Mereka kalah jumlah setelah tentara Chraz menghabisi lebih dari sebagian tentara Hecca. Kerajaan Chraz memang terkenal karena memiliki kekuatan militer yang kuat. Itu sebabnya mereka bisa memperluas wilayahnya dalam waktu singkat. Achromos saja berhasil menghabisi ratusan tentara Hecca sendirian. Meski begitu, tentu tubuhnya tidak terhindar dari luka-luka. Karena terlalu mendadak, ia bahkan tidak sempat mengenakan baju zirahnya—membuat tubuhnya dapat dengan mudah dilukai. Dengan rasa nyeri yang luar biasa di sekujur tubuh, ia segera memacu kudanya ke barisan musuh, mencari keberadaan Raja Hecca.


"SHEVOO!!! TUNJUKKAN DIRIMU!!" Seru Achromos setelah turun dari kudanya.


Sesaat kemudian seseorang muncul dari balik barisan tentara Hecca. Namun yang muncul bukanlah Shevo, melainkan seseorang yang mengenakan seragam militer berwarna biru. Seragam itu penuh dengan noda darah—namun itu bukan darahnya sendiri.


"Di mana rajamu?? Sembunyi?! Dasar pengecut!" Geram Achromos sambil menatap Vhor dengan tajam.


"Pengecut?" Gumam Vhor. Ia mengepalkan tangannya dengan erat.


"JUSTRU KAU YANG DIAM-DIAM MEMBUNUH PUTRI DAN PANGERAN YANG PENGECUT!!" Seru Vhor sambil menyerang Achromos dengan pedangnya.


"Apa maksudm—"


Pertarungan sengit tak terhidari. Achromos bahkan tidak sempat bertanya maksud perkataan Vhor. Vhor terus menyerang Achromos tanpa henti. Kemampuan mereka nyaris seimbang, membuat Achromos kini merasa sedikit cemas. Suara dentingan pedang terasa begitu nyaring di telinga.


"Hentikan! Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, tapi aku tidak pernah memerintahkan siapa pun untuk membunuh putri dan pangeran Hecca!!" Seru Achromos di tengah pertarungan.


Vhor tidak menggubrisnya dan tetap menyerang Achromos. Aura membunuh meluap-luap dari tubuhnya. Achromos berdecak. Vhor sudah tidak bisa diajak bicara. Ia sudah dibutakan oleh kemarahan. Dengan terpaksa, ia menyerang Vhor dengan cepat dan mulai bertarung dengan sungguh-sungguh. Vhor mulai terdorong ke belakang. Saat Vhor berniat menyerang jantung Achromos, Achromos dengan lihai menghindar dan melemparkan pedang Vhor hingga terpental. Tubuh Vhor pun langsung oleng dan terjatuh di tanah hingga akhirnya..


JLEB!!


Pedang Achromos berhasil menancap tepat di sebelah kepala Vhor. Melenceng satu senti saja, maka kepala Vhor yang tertusuk. Wajah Vhor memucat luar biasa. Seluruh tentara Hecca langsung bergidik ketakutan. Vhor adalah kstaria terkuat di sana, dan kini ia dikalahkan oleh Achromos. Mereka kemudian mundur dan berlari ketakutan. Jumlah mereka terlalu sedikit untuk melawan Achromos.


"Kenapa.. kau tidak membunuhku?" Tanya Vhor sambil menelan ludah.


"Karena aku ingin mendengar maksud perkataanmu." Ujar Achromos dengan dingin. Ia mencabut pedang itu dan menodongkannya ke leher Vhor. "Kenapa kau menuduh kami membunuh putrimu?"


"Karena memang kalian yang membunuhnya!!" Geram Vhor. Ia lalu melemparkan sesuatu ke arah Achromos.


Achromos langsung terkejut begitu melihat benda itu. Itu adalah kancing seragam militer Kerajaan Chraz. Kancing milik Cain. Ia langsung menggenggam erat kancing itu dan melemparkan pedangnya dengan frustrasi.


"Schatten!!!!!!" Serunya dengan penuh amarah.


"Schatten?" Tanya Vhor terkejut.


"Kita telah dipermainkan oleh mereka!" Seru Achromos sambil menutup wajahnya dengan tangan.


"Jadi begitu. Ternyata Schatten.." Ujar Vhor sambil bangkit.


Ia lalu mengambil pedang yang dilemparkan Achromos diam-diam, memanfaatkan Achromos yang sedang menutup wajahnya. Dengan cepat ia kembali menyerang Achromos, membuat Achromos tersentak dan berusaha menghindar dengan susah payah.


"Dasar bodoh!! Kau lengah!!" Seru Vhor.


Tanpa pedang, Achromos luar biasa merasa kesulitan hingga nyaris terkena serangan Vhor berkali-kali. Ia lalu menyambar pedang yang ada di dekatnya dan berusaha menangkis semua serangan.


"Cih! Kau memang Raja Kegelapan! Keras kepala!" Gerutu Vhor.


"Dengarkan aku! Bukan Chraz yang membunuh pangeran dan putrimu, tapi Schatten! Kancing ini milik adikku yang tertangkap!!" Seru Achromos.


"Mereka tidak mungkin melakukannya!!!" Seru Vhor.


"Apa maksudmu?!" Seru Achromos.


Vhor tidak menjawab dan terus menyerang Achromos. Tentara Chraz yang akhirnya bisa menyusul Achromos hanya bisa terdiam di tempat. Pertarungan mereka begitu luar biasa, seperti bukan pertarungan antar manusia. Mereka begitu cepat hingga nyaris tak bisa diikuti oleh mata.


Achromos merasa geram. Ia menyesal tidak langsung membunuhnya tadi. Dengan cepat ia kembali mengerahkan seluruh kekuatannya. Kali ini ia tidak akan berhenti. Ia akan membunuh Vhor.


Vhor menyadari tatapan mata Achromos yang kini berubah. Namun ia tidak bisa mundur. Ia sudah bersumpah akan membunuh semua orang yang ada di Chraz. Ia akan membalaskan dendam Jane.

__ADS_1


Jane...


Begitu mengingat nama Jane, jantung Vhor langsung berdenyut. Ia langsung kehilangan konsentrasi. Kuda-kudanya melemah. Achromos melihat kesempatan ini dan segera memanfaatkannya.


JLEB!!


Dalam sekejap, Achromos sudah menghunuskan pedangnya. Kali ini pedang itu tidak menancap di tanah, melainkan di perut Vhor. Vhor langsung memuntahkan darah segar dari mulutnya.


"Si.. al.." Lirih Vhor.


Achromos mencabut pedangnya dengan kasar lalu mengibaskannya. Ia menatap Vhor dengan tatapan dingin.


"Kau begitu bodoh. Kalau kau mau mendengarkanku, kita mungkin bisa bekerja sama melawan Schatten." Ujar Achromos sambil menyarungkan pedangnya.


"Kenapa.. Schatten..?" Bisik Vhor.


"Sudah kubilang, Schatten yang membunuh putrimu. Kancing ini adalah kancing adikku yang tertangkap oleh mereka. Mereka mengadu domba kita." Jawab Achromos.


"Kau tidak percaya padaku?" Tanya Achromos sambil menatap Vhor dalam-dalam.


Vhor meringis. Sebenarnya ia tahu Achromos tidak berbohong, ia juga tahu kalau Schatten adalah organisasi yang sangat licik. Tapi ia ingin melepaskan rasa amarahnya hingga melampiaskannya pada Achromos.


"Jadi.. mereka.. yang berkhianat." Ujar Vhor pelan.


Achromos langsung membelalakkan matanya dan menghampiri Vhor.


"Apa maksudmu??" Seru Achromos.


"Putri Jane.. maafkan.. aku.." Ucap Vhor sambil menutup matanya.


"Hei!! Bangun!! Buka matamu!! Buka matamu!!!!!" Achromos mengguncang-guncang tubuh Vhor yang sudah tidak bergerak. Ia lalu mengecek detak jantungnya.


Masih berdetak!


"Hei, bawa dia ke dokter Ghoz! Sekarang!" Perintah Achromos pada tentara yang ada di sekitarnya. Mereka kemudian segera membawa Vhor ke istana.


Achromos menggeretakkan giginya. Schatten benar-benar membuat mereka semua menari di atas telapak tangannya. Ia bersumpah tidak akan menyisakan satu pun dari mereka.


•••


Achromos berjalan menuju kamarnya dengan gontai. Ia sudah membunuh ratusan nyawa dengan tangannya. Apa lagi, mereka sebenarnya diadu domba oleh Schatten. Achromos merasa luar biasa marah. Dan bersalah.


Begitu sampai, ia dengan cepat membuka pintu kamar. Namun ia langsung terkesiap begitu melihat lambang mandala di dinding. Lambang itu lagi-lagi ditorehkan dengan darah. Achromos segera membuka selimut di atas tempat tidur, mencari keberadaan Chroma dengan panik.


"Chroma.. CHROMAA!!!!!"


Achromos membanting seluruh benda yang bisa ia gapai. Ia merasakan darahnya mendidih luar biasa. Ia harus segera menemukan Cain dan Chroma, tapi ia tidak tahu di mana mereka berada.


Andai saja ada Cain! Serunya dalam hati.


"Tunggu.. Cain..?" Gumamnya.


Dengan langkah yang nyaris oleng ia berlari menuju ruangan Cain. Mungkin saja ada petunjuk mengenai Schatten di sana.


Sesampainya di ruangan Cain, ia segera mengobrak-abrik ruangan, mencari apa apun yang berhubungan dengan Schatten. Saat itu, ia menemukan buku catatan Cain. Biasanya Cain selalu membawanya ke mana pun, tapi kali ini ia meninggalkannya tergeletak begitu saja. Memang aneh, tapi Achromos sudah tidak punya waktu untuk memikirkan hal itu lagi. Tanpa basa-basi ia segera membuka dan membacanya.


"Ini.." Gumamnya.


"Cain.. kau memang cerdas! Luar biasa!" Serunya. Ia segera pergi ke ruangannya dan mengenakan baju zirahnya yang berwarna hitam pekat. Ia menyarungkan pedangnya, mengenakan busur serta anak panah di punggungnya, dan menyelipkan beberapa pisau di balik jubahnya.


"Ya-Yang Mulia." Suara Mysha yang ternyata berdiri di ambang pintu sejak sesaat tadi membuat Achromos menengok.


"Ada apa, Mysha?" Tanya Achromos.


"Anda mau pergi ke mana?" Tanya Mysha dengan wajah khawatir.


"Aku akan pergi menyelamatkan Cain dan Chroma." Jawab Achromos.


"Ch-Chroma?" Tanya Mysha.

__ADS_1


"Kau tidak perlu tahu, Mysha." Balas Achromos dengan dingin. Mysha terlihat sedikit terpukul mendengar ucapan Achromos, namun ia segera menghilangkan rasa sedihnya dan menggeleng.


"Ya-Yang Mulia.. sebenarnya.. Yang Mulia Braz dan Pangeran Chlari menghilang." Ujar Mysha.


"Menghilang??" Tanya Achromos sedikit terkejut.


"I-iya, Yang Mulia. Sudah beberapa hari ini.. mereka tidak ada di istana." Kata Mysha.


"Cih! Sudah kuduga!" Gerutu Achromos. Ia lalu segera melangkah melewati Mysha dan pergi begitu saja.


"Ya-Yang Mulia!! Pulanglah dengan selamat!!" Seru Mysha sambil meremas jarinya. Ia menatap sosok Achromos yang kian menjauh sambil berdoa tanpa henti.


Achromos menaiki kudanya dan segera memacunya dengan tergesa-gesa. Ia sudah tahu di mana kira-kira Schatten berada. Itu hanya dugaan Cain di dalam buku catatannya. Namun kemampuan penyelidikan Cain tentu dapat dipercaya. Memang berisiko, namun Achromos mempertaruhkan segalanya dan memutuskan untuk pergi ke sana.


"Tunggu aku, Cain, Chroma." Bisiknya pelan.


•••


Aram tersenyum senang melihat gadis mungil berambut perak yang saat ini terlentang di atas sebuah altar persembahan dengan kedua tangan dan kaki yang terikat oleh akar pohon. Akar-akar pohon itu seolah menyatu dengan tangannya, membuatnya tidak akan bisa bergerak ketika sadar nanti.


"Chroma, kau cantik sekali." Gumamnya. "Sebentar lagi kita akan bertemu."


"Aram, jadi ini yang namanya Chroma?" Tanya Fen sambil menatap tubuh mungil yang tergeletak itu.


"Iya. Cantik, bukan? Mirip denganku, ya?" Ujar Aram sambil terkekeh.


Jona langsung memasang tampang ingin muntah.


"Lalu, mau diapakan?" Tanya Shienna.


Aram kembali menyeringai dan memperlihatkan deretan giginya yang rapi.


"Tentu saja membuatnya kembali!" Jawab Aram.


"Begitu." Timpal Chier.


"Oh iya, Fen, bagaimana dengan Hecca?" Tanya Aram sambil tetap menatap Chroma.


"Habis." Jawab Fen.


"Hahaha! Lalu, apa reaksi Shevo?" Tanya Aram senang.


"Hanya berdalih untuk memohon ampunan. Tapi setelah itu langsung kuhabisi, jadi aku tidak mendengar apa-apa lagi." Tukas Fen.


"Hoo, sampai akhir dia memang pengecut. Padahal sudah susah-susah aku membunuh istrinya dan menghilangkan ingatan anak-anaknya agar dia jadi raja." Gerutu Aram sambil menggelengkan kepalanya. "Lalu si kakek tua itu?"


"Kakek Fro juga sudah kuhabisi. Perannya sudah usai setelah dia menawarkan pekerjaan itu pada Chroma." Tambah Fen.


"Baiklah." Balas Aram.


"Padahal aku saja yang ke sana! Kenapa aku malah diminta berjaga di sini, sih?! Aku jadi tidak bisa bersenang-senang dan malah ditinggal dengan orang mencurigakan seperti Chier, kan!" Gerutu Jona.


"Jona, Jona. Kau selalu berisik! Mulutmu mau kujahit?" Ancam Aram sambil menatap Jona dengan tajam.


"Tidak, terima kasih." Ujar Jona sambil meneguk ludah.


Ia tidak mungkin berani melawan Aram jika sudah marah. Aram yang selalu menyeringai itu akan berubah sangat mengerikan saat marah. Meski ia selalu protes pada Aram, pada akhirnya ia selalu menuruti perkataannya. Aram adalah ketuanya dan ia adalah orang yang paling kuat di antara mereka. Kalau mereka melawannya bersama-sama sekalipun, Aram akan tetap menang.


"Lalu, sekarang kita harus apa?" Tanya Juna.


Aram mengembalikan senyumannya lalu membalikkan badannya dengan riang.


"Kita akan memulainya."


•••


Di sebuah ruangan yang gelap dan lembap di reruntuhan kuil kuno, seseorang tergantung dengan kedua tangan yang dirantai. Tubuhnya penuh dengan luka dan napasnya terasa berat. Ia merasakan rasa nyeri yang tak terbayangkan di sekujur tubuhnya dan sesekali terbatuk hingga memuncratkan darah. Kesadarannya juga sudah nyaris hilang.


"Kak.. Achro.." Lirihnya.

__ADS_1


———


__ADS_2