Chroma & Achromos

Chroma & Achromos
Chapter 8: Chlari


__ADS_3

Cain melangkahkan kakinya dengan santai menuju ruangan Achromos. Ia tidak lupa menyenandungkan lagu anak-anak kesukaannya. Saat ini suasana hatinya sedang senang karena tidak sabar ingin melihat bagaimana reaksi Achromos jika tahu Chroma sudah sadar.


Dari dalam ruangan, Achromos sudah bisa mendengar suara Cain yang datar dan sumbang itu. Ia menghela napas lalu menghentikan diri sejenak dari kesibukannya. Tak lama, pintu ruangan diketuk.


"Yang Mulia, saya Cain—"


"Aku tahu. Cepat masuk." Potong Achromos.


Cain melongok ke dalam ruangan dan mendapati Achromos yang sudah menatap ke arahnya sambil melipat tangannya di dada.


"Ada apa?" Tanya Achromos.


Cain melangkahkan kakinya lalu berdiri di hadapan Achromos dan memberi hormat.


"Yang Mulia, ada kabar baik bagi Anda." Ujar Cain.


"Kabar baik apa?" Tanya Achromos. "Kalau tidak penting, kau pergi saja."


Achromos merasa sangsi dengan kabar baik yang dimaksud Cain setelah mendengar senandungnya tadi. Biasanya Cain bersenandung dan mengatakan ada kabar baik kalau ia menemukan seekor kucing kecil, menemukan batu kaca warna-warni—yang saat ini jadi koleksinya—di kebun istana, atau menemukan serangga aneh yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Tentu pengalaman-pengalaman itu membuat Achromos tidak berharap tinggi akan kabar baik yang dibawa Cain.


Mata Cain membulat, memperlihatkan binarnya yang begitu berkilauan.


"Ratu Jane.." Ujarnya. "sudah sadar."


Achromos langsung bangkit dari duduknya dan menatap Cain dengan tajam. Pantas saja mata Cain berbinar-binar lebih dari biasanya. Ia berdecak. Dengan langkah lebar-lebar, ia melangkah menuju kastil timur diiringi dengan Cain di belakangnya.


Kenapa Cain selalu lambat dalam memberi kabar?? Batinnya kesal.


•••


Suara ketukan pintu membuat mata Chroma yang terpejam perlahan terbuka. Ia lalu duduk di tempat tidurnya dengan lemas.


Siapa? Raja gila itu? Tanyanya dalam hati.


Tak lama, pintu kamar terbuka, memperlihatkan sosok laki-laki dengan rambut hitam legam yang menjuntai hingga ke pinggang. Laki-laki itu tersenyum. Chroma memicingkan matanya—mencoba mengira-ngira siapa orang yang sedang berdiri di ambang pintu itu.


"Halo, Ratu Jane." Sapa laki-laki itu sambil menghampiri Chroma. Tubuh kurusnya melangkah pelan dan duduk di sebelah Chroma.


"Ya-Yang Mulia Chlari?" Ucap Chroma setelah menyadari siapa laki-laki itu. "Mengapa Anda kemari?"


Chlari tersenyum. Ia lalu mengusap pipi Chroma pelan—membuat Chroma merasa luar biasa tidak nyaman dan langsung menghindari sentuhan itu.


Apa-apaan orang ini?? Batinnya.


"Kurasa perlu bagiku untuk menemui istri adikku sendiri, bukan? Apalagi kau baru saja terkena musibah. Selama kau tidak sadar, sesekali aku datang untuk menengok." Timpal Chlari.

__ADS_1


Orang ini.. entah kenapa membuatku tidak nyaman. Ujar Chroma dalam hati.


"Oh, begitu. Tentu, Yang Mulia. Maafkan ketidaksopanan saya. Terima kasih sudah mau menengok saya." Ujar Chroma sambil tersenyum.


"Pfft!" Chlari menutup mulutnya dengan tangan, menahan tawa mendengar ucapan Chroma. Chroma mengerenyitkan dahinya.


Kenapa dia tertawa?


Chlari menghentikan tawanya lalu menatap Chroma lekat-lekat. Ia lalu mendekatkan mulutnya ke telinga Chroma, membiarkan napasnya menyentuh leher Chroma yang terasa menggelitik namun membuat Chroma bergidik.


"Kau tidak pintar bersandiwara, rubah kecil." Bisik Chlari. Ia kemudian menjauhkan wajahnya dari Chroma dan memegang kedua pipinya sambil tersenyum.


Chroma tercenung. Matanya terbelalak kaget. Chlari mengetahui identitasnya! Penyamarannya terbongkar?? Jika Chlari tahu, ada kemungkinan orang lain juga tahu. Tapi, bagaimana bisa Chlari mengetahui identitasnya?


Chroma menelan ludah yang terasa seperti kerikil di tenggorokannya. Jantungnya berdebar cepat dan napasnya mulai memburu. Ia ingin lari dari tempat ini secepat mungkin, namun tubuhnya masih sangat lemah.


Chlari kembali terkekeh melihat ekspresi wajah Chroma yang terlihat panik. Ia lalu menepuk kepala Chroma pelan, hal yang tidak disangka oleh Chroma akan dilakukan olehnya.


"Tenang saja, aku tidak akan memberi tahu siapa-siapa." Ujar Chlari.


Chroma memandang Chlari dengan sangsi. Tidak mungkin Chlari merahasiakan identitasnya begitu saja tanpa memberi suatu syarat. Chroma sangat yakin akan hal itu. Apa lagi senyuman Chlari sejak awal sangat mencurigakan.


"Aku tidak akan minta yang aneh-aneh, tenang saja." Timpal Chlari, seolah-olah bisa membaca pikiran Chroma.


"Apa yang kau mau?" Tanya Chroma.


"Aku mau kau menjadi temanku." Katanya.


"Hah?" Tanya Chroma heran. Chroma sama sekali tidak menyangka hal itu keluar dari mulut Chlari. Teman? Apa Chlari sangat amat kesepian sampai harus mengancamnya—secara halus—untuk menjadi temannya?


Chlari kembali terkekeh melihat Chroma yang melongo. Chroma merasa sedikit kesal dengan Chlari yang seolah mempermainkannya. Namun sekilas, ia bisa menangkap sedikit kesedihan di mata Chlari.


"Hm.. Baiklah." Jawab Chroma setelah menimbang-nimbang beberapa saat. Toh, tidak ada salahnya berteman dengan seseorang di kastil super besar ini. Chlari tersenyum senang.


"Kalau begitu, mulai sekarang kau harus memanggilku Chlari dan kita harus bertemu setiap hari." Tambahnya.


Entah kenapa Chroma menyesali keputusannya. Ia benar-benar tidak bisa menebak apa yang ada di pikiran Chlari. Ia selalu memasang senyuman yang sama dan mengatakan hal-hal yang tidak terduga. Lagi-lagi Chroma merasa hal ini akan menjadi sesuatu yang menyusahkan.


"Oke." Kata Chroma akhirnya.


Chlari memperlihatkan senyuman yang semakin lebar lalu menggenggam tangan Chroma dengan erat. Ia lalu mengusap pipi Chroma lagi.


BRAK!


Suara pintu yang terbuka tiba-tiba membuat keduanya menengok. Di ambang pintu, Achromos berdiri mematung dengan wajah terkejut. Di belakangnya, Cain melongok dengan wajah datarnya. Keempatnya kemudian tidak bergeming untuk beberapa saat.

__ADS_1


Setelah terdiam, Achromos dengan cepat menghampiri Chlari dan menariknya menjauh dari Chroma. Kilatan amarah terlihat di matanya. Ia mendorong Chlari keluar dari kamar dengan paksa.


"Pergi kau dari sini!" Ujarnya geram. Chlari yang oleng dan nyaris jatuh akhirnya kembali mendapatkan keseimbangannya.


"Huff! Hampir saja aku terjatuh. Lain kali pelan-pelan saja, adikku." Ujar Chlari sambil tersenyum. Achromos berdecak. Ia benar-benar tidak suka dengan senyuman Chlari yang selalu ia pasang itu, membuat dirinya tidak bisa membaca apa yang ada di pikirannya.


"Kenapa kau di sini?" Tanya Achromos ketus.


"Aku hanya menjenguk istrimu yang baru saja sadar setelah terkena musibah, memangnya salah?" Tanya Chlari.


Achromos kembali berdecak. Memang alasannya masuk akal jika dalam situasi normal. Tapi hubungan Achromos dan Chlari sama sekali tidak bisa dibilang normal. Perang dingin yang mereka lakukan—atau Achromos, lebih tepatnya—sudah berlangsung sejak mereka kecil. Meski Chlari selalu melakukan hal-hal yang terlihat di kacamata orang lain sebagai suatu hal yang "normal" dalam hubungan keluarga, bagi Achromos hal itu hanya pertanda bahwa Chlari sedang merencanakan sesuatu. Akan tetapi, Achromos tidak bisa melakukan hal yang buruk pada kakaknya itu. Ia bisa dihukum mati jika kedapatan menyakiti Chlari.


"Pergi kau." Ujar Achromos sambil menutup pintu dengan keras.


Chlari yang terusir dari kamar Chroma hanya tertawa kecil melihat adiknya yang terlihat sangat marah. Ia menyadari, Achromos dan Chroma akan memiliki hubungan yang tidak biasa. Ia kemudian melangkah pelan menuju kamarnya.


Aku tidak akan semudah itu menyerahkan rubah kecilku padamu, Achromos. Dia adalah teman baruku. Batin Chlari.


Achromos mengepalkan tangannya erat-erat. Ia lalu menghampiri Chroma dengan cepat dan memengang tangannya dengan kuat.


"Kenapa kau membiarkannya masuk??" Serunya.


Chroma meringis pelan. Kekuatan Achromos memang luar biasa dahsyat hingga bisa membuatnya kesakitan hanya dengan sebuah genggaman.


"Yang Mulia Chlari datang tanpa memberi tahu siapa dirinya! Aku kira itu Anda, Yang Mulia!" Balas Chroma.


Achromos berdecak. Ia tidak bisa menyalahkan Chroma atas apa yang ia lihat. Tapi tetap saja hal itu membuatnya sangat geram.


"Lain kali, jangan biarkan dia masuk! Aku akan memindahkanmu ke kastil barat! Jangan pernah bertemu dengannya lagi!" Perintah Achromos sambil melepaskan genggamannya.


Chroma luar biasa ingin protes, tapi ia harus menjadi putri yang penurut karena tuntutan perannya. Dengan berat hati ia mengangguk. Baru saja sedetik setelah mengangguk, ia langsung teringat janjinya dengan Chlari.


Gawat! Apa yang harus aku lakukan? Ujar Chroma dalam hati.


Chroma menatap Achromos—berharap ia bisa menolak perintahnya—namun tatapan tajam Achromos membuatnya mengurungkan niatnya.


"Yang Mulia Jane, Anda beruban."


"Wuah!" Chroma terkejut bukan main begitu mendapati wajah Cain tepat di sebelah wajahnya. Jantungnya berdegup tidak karuan. Hawa keberadaan Cain sama sekali tidak terdeteksi untuk beberapa saat. Apa Cain memang memiliki hawa keberadaan yang tipis atau insting Chroma yang menumpul?


Chroma segera menarik rambutnya yang dipegang oleh Cain.


"Mu-mungkin karena aku stres akibat serangan waktu itu, Pangeran Cain." Jawab Chroma asal.


Cain menatap Chroma—dengan tatapan datarnya—lekat-lekat. Ia lalu menjauh dan menundukkan kepalanya. Sungguh Chroma sama sekali tidak mengerti untuk apa Cain melakukan hal barusan. Mengecek ubannya?? Mencari kutu?? Chroma menggelengkan kepalanya, merasa menyerah untuk mencoba memahami Cain. Sementara itu, Achromos hanya menatap mereka berdua tanpa ekspresi, lalu menepuk kening Chroma.

__ADS_1


"Jangan terlalu memikirkan kasus penyerangan itu, serahkan saja kepadaku." Ujarnya pada Chroma yang melongo. Chroma hanya bisa mengangguk sebelum Cain melengos pergi dari kamarnya dan Achromos segera meminta pelayan untuk memindahkan Chroma dari kamar itu.


———


__ADS_2