Chroma & Achromos

Chroma & Achromos
Chapter 9: The Beginning of Change


__ADS_3

Ruangan yang luar biasa luas itu memiliki penerangan yang tidak terlalu gelap, dan tidak terlalu terang. Beberapa pedang dan perisai terpasang di dinding sebagai hiasan. Chroma tertegun di atas tempat tidur ukuran besar, menyisir ruangan yang mulai hari ini akan menjadi kamar barunya itu. Ia tahu persis kamar siapa yang menjadi kamar barunya itu. Apa lagi, saat ini sudah malam, tentu sudah waktunya untuk tidur.


Ke-kenapa aku tidak tidur di kamar ratu?? Ratu punya kamarnya sendiri bukan? Pikirnya.


Hentakan sepatu menyadarkan lamunan Chroma, membuatnya menengok ke arah pintu besar di sampingnya. Dari balik pintu, sosok Achromos muncul tanpa mengetuk terlebih dahulu. Ia melangkah menghampiri Chroma lalu terduduk di sampingnya.


Chroma mengalihkan pandangannya, berusaha menutupi kegelisahan yang ia rasakan sejak masuk ke kamar ini. Di dalam pikirannya, berbagai macam hal berputar-putar tidak karuan. Wajahnya sedikit memerah. Jantungnya berdegup kencang. Achromos menatap Chroma lekat-lekat, membuat Chroma merasa semakin gelisah.


Tak lama, Achromos bangkit dan melangkah ke arah lemari pakaian super besar di sudut ruangan. Ia lalu membuka bajunya sampai Chroma terlonjak kaget dan dengan kalang kabut berusaha tidak melihat Achromos.


Astaga! Astaga! Kenapa dia membuka bajunya di depanku!! Astaga! Apa yang harus aku lakukan?? Aku harus bisa melindungi diriku sendiri!!! Seru Chroma dalam hati.


Setelah beberapa saat, Achromos kembali melangkah menuju tempat tidur dengan pakaian tidurnya. Ia duduk di sebelah Chroma yang terlihat sangat gelisah. Tangannya kemudian terangkat, membuat Chroma kembali berpikir macam-macam. Namun tanpa diduga, tangan besar itu mengusap kepala Chroma dengan lembut. Chroma tercenung—tidak menyangka Achromos akan melakukan hal itu.


Ta-ta-tapi bisa saja ini salah satu cara untuk mendapatkanku!!!


Melihat Chroma yang kembali was-was, Achromos menghela napas. Ia lalu berhenti mengusap Chroma dan merebahkan diri di sampingnya. Ia kemudian mematikan lampu kamar.


"Selamat tidur." Bisiknya.


Chroma masih melongo dengan posisi yang siap melawan Achromos. Rasanya cukup mengejutkan Achromos tidak melakukan apa-apa selain mengusap kepala Chroma. Di dalam bayangan Chroma, Achromos tidak akan segan-segan melakukan apa yang ia mau karena Chroma adalah istrinya. Chroma pikir Achromos sama kejamnya seperti sang ayah yang memenggal ibunya sendiri.


Dengan hati yang masih sedikit gelisah, Chroma merebahkan tubuh kecilnya pelan-pelan. Dalam hati ia merasa luar biasa lega, tapi apa Achromos tidak akan melakukan apa-apa padanya di masa depan? Chroma menggeleng-gelengkan kepalanya dan meyakinkan dirinya bahwa ia bisa melawan Achromos bila ia melakukan hal macam-macam. Tidak lama kemudian, mata bulat Chroma mulai terpejam dan ia akhirnya tenggelam di alam mimpi.


•••


Chroma membuka matanya perlahan dan menatap langit-langit ruangan yang terlihat begitu jauh. Ia mengusap matanya pelan lalu bangkit dan duduk di atas tempat tidur. Ia melirik ke sebelah kanan dan mendapati tempat Achromos sudah kosong dan tertata rapi.


"Pagi sekali raja bodoh itu bangun." Gumam Chroma sambil turun dari tempat tidurnya. Senyum kecil mengembang di bibirnya. Hari ini ia berencana untuk berkeliling istana—setelah tertunda oleh berbagai macam kejadian yang terjadi. Dengan senang ia menggumamkan lagu kesukaannya.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuat Chroma berhenti dan menyuruhnya masuk. Seorang perempuan—yang terlihat sebaya dengan Chroma—masuk dan memberi hormat. Ia memakai pakaian pelayan dan membawa sarapan pagi untuknya.


"Yang Mulia Ratu, ini sarapan Anda." Ujarnya sambil mendorong troli makanan itu dengan kikuk.


"Namamu siapa?" Tanya Chroma.


"A-ah! Ampuni hamba, Yang Mulia! Maafkan ketidaksopanan hamba yang tidak memperkenalkan diri hamba! Nama hamba Mysha, mulai hari ini hamba akan menjadi pelayan utama Yang Mulia." Jawabnya dengan gelisah.


Chroma menghampiri Mysha yang tertunduk lalu menggenggam tangannya erat-erat.


"Salam kenal, Mysha!" Ujar Chroma sambil tersenyum. Mysha sangat terkejut melihat reaksi Chroma, namun dengan cepat kembali menundukkan kepalanya.


"Mysha, setelah sarapan aku ingin berkeliling istana sendirian. Tolong bilang pada Yang Mulia Raja jika ia mencariku." Kata Chroma sambil duduk dan mulai melahap sarapannya.

__ADS_1


"Ta-tapi Yang Mulia, hamba diminta oleh Yang Mulia Raja untuk terus mengawasi Anda, dan Anda diminta untuk tidak keluar dari kamar Anda hingga Yang Mulia Raja kembali." Tukas Mysha panik.


Chroma memutar bola matanya. Sejak Chroma sadar, Achromos jadi sangat protektif dan melarangnya melakukan ini itu. Ia bahkan harus rela tidur sekamar dengannya. Bahkan mengobrol dengan Chlari saja ia dimarahi. Ada apa sih dengan raja bodoh itu?


"Mysha," ujar Chroma dengan serius. "Jika Yang Mulia mencariku, katakan saja aku mengancammu untuk pergi dari kamar ini dan kau tidak bisa melawan. Nanti biar aku yang membelamu kalau dia mau menghukummu."


Chroma mengusap mulutnya dengan serbet lalu segera bangkit dan mengganti bajunya. Mysha yang mendengar perkataan Chroma hanya bisa mengangguk dengan terpaksa. Chroma melayangkan senyumnya pada Mysha sebelum akhirnya keluar dari kamar.


Baru saja ia melangkah keluar kamar, ia sudah dihadang oleh dua orang pengawal yang diperintahkan oleh Achromos untuk menjaga Chroma. Chroma berdecak. Senyuman jahilnya mengembang dan ia langsung menyerang tengkuk kedua pengawal itu hingga mereka ambruk tak sadarkan diri. Chroma menjulurkan lidahnya pada mereka dan segera melangkahkan kaki kecilnya di lorong istana—tidak menyadari sepasang bola mata yang sedari tadi menatapnya sambil tersenyum.


•••


Chroma menatap kebun bunga luas di hadapannya sambil tersenyum. Ia langsung menghampiri sekumpulan bunga mawar putih yang sedang bermekaran. Ia mencabut satu batang bunga tanpa mempedulikan tangannya yang berdarah terkena duri. Ia mencabut kelopak bunga yang kini ternoda dengan warna merah itu dan melemparkannya ke atas, membuat mereka berguguran pelan.


"Kau aneh sekali." Sebuah suara membuat Chroma menengok. Chroma langsung memasang wajah datarnya dan menghela napas.


"Kenapa kau ada di sini?" Tanya Chroma sedikit ketus. Chlari hanya tersenyum sambil menghampiri Chroma dengan pelan.


"Di sini dekat dengan kastil timur, kau tidak tahu?" Tanyanya. Chroma menggeleng. Tentu saja. Siapa yang bisa hapal seluk-beluk istana dalam waktu sekejap? Chroma saja baru sempat menjelajahi istana karena terlanjur terjadi berbagai macam hal.


"Kau.. tidak lupa dengan janji kita, kan?" Tanya Chlari sambil mengusap kepala Chroma. Chroma menepis tangannya lalu menatapnya dengan tajam. Chlari terkejut melihat Chroma menepis tangannya dan menatap Chroma dengan sedih. Chroma menelan ludah. Entah kenapa wajahnya mengingatkannya pada dirinya di masa lalu.


"A-aku tidak lupa!" Seru Chroma. "Da-dan maaf sudah menepis tanganmu." Timpalnya pelan.


Senyum Chlari langsung kembali mengembang dan ia segera merengkuh tubuh mungil Chroma. Chroma terbelalak. Ia segera melepaskan dirinya dengan cepat dan memasang ancang-ancangnya.


Chlari terkekeh melihat reaksi Chroma. Ia lalu menghampiri Chroma yang melangkah mundur.


"Chroma." Panggilnya.


Chroma terdiam. Ia merasa sudah lama sekali tidak dipanggil dengan namanya. Akibat pekerjaannya, ia dipanggi dengan istilah rubah berbulu perak dan akibat misinya kali ini, ia dipanggil dengan nama Jane. Terkahir kali ia dipanggil Chroma, mungkin hanya oleh Ash, dan itu terjadi tiga tahun yang lalu.


"Chroma, kau bisa menjadi dirimu sendiri di depanku." Ujar Chlari sambil mengusap pipi Chroma dengan lembut.


Deg!


Degupan jantung yang tidak biasa membuat tubuh Chroma menegang, tapi ia juga merasa tidak bertenaga. Apa ini efek racun yang masih tersisa? Tiba-tiba, Chroma kehilangan keseimbangannya dan dengan cepat ditangkap oleh tangan kurus Chlari.


"Chroma?" Panggil Chlari sedikit terkejut. Entah kenapa Chroma merasa lelah. Sangat lelah. Dengan segenap kekuatannya, Chroma melepaskan diri dan segera berlari dari sana.


"Apa yang terjadi?" Gumam Chroma sambil memegang dadanya dengan erat.


•••


Chroma menatap ke lantai tanpa berani menatap wajah Achromos yang luar biasa terlihat tidak senang. Tentu saja. Selama ini tidak pernah ada yang berani melawan perintahnya. Hanya Chroma yang dengan gampangnya melanggar perintah yang baru saja diberikan padanya.

__ADS_1


"Kenapa kau keluar?" Tanya Achromos dengan nada yang dingin.


"Maafkan aku, Yang Mulia. Aku hanya ingin berjalan-jalan berkeliling istana karena aku ingin tahu seluk beluknya. Sebagai ratu, aku merasa perlu tahu keadaan istana." Jawab Chroma setengah mengada-ngada.


Achromos terdiam. Bukannya ia ingin melarang Chroma berkeliling, tapi penyerangan itu membuktikan bahwa nyawa Chroma—atau dirinya—terancam. Ditambah lagi, Chlari sepertinya merencanakan sesuatu. Ia lalu menghela napasnya panjang-panjang.


"Lalu, kenapa kau terluka?" Tanya Achromos sambil meraih tangan Chroma yang berdarah.


"Aku tadi ke kebun mawar, lalu tidak sengaja memegang durinya, Yang Mulia." Jawab Chroma.


"Kebun mawar??" Tanya Achromos dengan nada meninggi. Ia menggenggam tangan Chroma yang terluka dengan erat, membuat Chroma sedikit meringis.


"Kenapa kau ke kebun mawar?? Apa kau bertemu dengan Chlari??" Seru Achromos.


"Ti-tidak, Yang Mulia!" Timpal Chroma.


"Jawab aku dengan jujur!!" Achromos meraih dagu Chroma dan mendekatkan wajahnya. Matanya menyiratkan kemarahan yang begitu besar. Sebenarnya apa yang membuat Achromos begitu membenci Chlari?


"Tidak, Yang Mulia. Aku tidak bertemu dengan Pangeran Chlari." Jawab Chroma sambil menatap lurus pada mata Achromos. Achromos segera melepaskan tangannya dan duduk di atas tempat tidur.


"Kali ini kau kumaafkan." Ujarnya. "Kemari."


Chroma mendekati Achromos dan sedikit terkejut ketika tiba-tiba Achromos menarik tangannya yang terluka dan menjilat lukanya. Achromos lalu meraih serbet yang ada di meja sebelah tempat tidur dan mengikatkannya pada luka Chroma. Ia lalu menggenggam tangan Chroma dengan erat.


"Ada apa, Yang Mulia?" Tanya Chroma.


"Jane," ucap Achromos pelan. "kumohon, jangan melanggar perintahku lagi. Jangan pergi ke kebun mawar itu lagi."


Chroma sedikit terkejut mendengar suara Achromos yang sedikit bergetar. Rasanya baru kali ini Achromos terlihat begitu lembut. Chroma tersenyum kecil lalu mengusap kepala Achromos pelan. Achromos menatap Chroma dengan sedikit terkejut.


"Aku mengerti." Jawab Chroma sambil tersenyum.


Jantung Achromos tiba-tiba saja berdegup kencang. Tanpa ia sadari, tubuhnya bergerak dengan sendirinya dan memeluk Chroma dengan erat. Chroma cukup terkejut dan ingin melawan, tapi bahu Achromos yang sedikit bergetar membuatnya mengurungkan niatnya. Dengan sedikit ragu, Chroma balas memeluk Achromos dan tersenyum tipis.


"Jane.." Bisik Achromos.


Chroma terdiam untuk sesaat sebelum akhirnya menyadari sesuatu.


Ah..


Benar juga..


Saat ini, aku adalah 'Jane'.


Saat itu, senyuman Chroma langsung menghilang dari wajahnya.

__ADS_1


———


__ADS_2