Chroma & Achromos

Chroma & Achromos
Chapter 13: Danger


__ADS_3

Cain menahan napasnya agar tidak terdengar oleh beberapa orang yang sedang berbicara tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia bersembunyi di balik dinding, berusaha sebisa mungkin untuk tidak membuat suara. Jantungnya berdebar cukup kencang. Tidak peduli sedatar apa pun, situasi ini bisa membuat siapa pun tegang—tidak terkecuali Cain.


Sudah sepuluh menit Cain berdiri di tempatnya, memperhatikan lima orang yang mengenakan jubah hitam itu. Setelah melakukan penyelidikan panjang, ia akhirnya sampai di sana, di dalam sebuah reruntuhan kuil kuno yang terletak di bawah tanah Kerajaan Phixa. Saat Cain sedang menyisir isi kuil itu, mereka tiba-tiba saja muncul—membuat Cain terkejut dan berakhir di tempat persembunyiannya.


"Jadi? Belum ada reaksi?" Ujar salah seorang dari mereka.


"Belum, mungkin efeknya lambat. Kau tahu sendiri orang itu adalah Xerra." Balas yang lain.


"Hm, benar juga. Untuk membuatnya pingsan saja sulitnya bukan main."


"Ngomong-ngomong mana dia? Lama sekali!"


"Biasanya juga dia terlambat, kan?"


"Tapi ini sudah lewat cukup lama!"


"Kita tunggu saja di tempat biasa."


Cain mengintip pelan dan memicingkan matanya ketika mereka mulai beranjak. Ia lalu terkesiap melihat sosok yang ia kenal berada di antara mereka. Ia menutup mulutnya yang nyaris berucap dengan cepat.


Aku.. harus beri tahu Kak Achro! Batin Cain.


Cain menunggu hingga mereka semua melangkah. Ia lalu mengintip, mencoba memastikan keberadaan mereka untuk mencari celah untuk kabur. Wajah Cain memucat begitu menemukan mereka masuk ke ruangan tak jauh dari sana. Pintu ruangan itu dibiarkan terbuka. Cain menelan ludahnya yang terasa seperti kerikil dengan susah payah. Ia terjebak.


Satu-satunya jalan keluar, berada tepat di seberang pintu ruangan itu.


•••


Achromos mengetuk-ngetukkan jarinya ke atas meja dengan cemas. Semenjak Cain pergi untuk menyelidiki sesuatu, ia sama sekali belum dapat kabar. Cain memang tulalit, tapi kalau soal penyelidikan, tidak ada orang yang selihai Cain. Faktanya, Cain adalah seorang penyelidik jenius. Ia mampu menyembunyikan hawa keberadaannya dengan sempurna sehingga ia mampu mendapatkan informasi yang sangat penting. Ia juga mampu memecahkan kasus-kasus sulit dengan cepat layaknya detektif terkenal. Tapi, ada konsekuensi dari kemampuan hebatnya itu.


Kemampuan bertarung Cain akan menurun drastis ketika ia sedang fokus pada penyelidikan.


Jangan salah sangka. Dalam keadaan normal, Cain yang terlihat lamban itu mampu melawan satu batalion sendirian. Ia malah menganggap dirinya seperti sedang bermain. Tapi ketika ia berpikir keras, ia tidak mampu bertarung seperti biasa. Hal inilah yang membuat Achromos enggan meminta Cain untuk menyelidiki sesuatu yang berbahaya, seperti penyelidikan Schatten. Karena itu ia membuat tim penyelidik lain untuk menyelidiki kasus itu, bukan meminta Cain. Apa yang ia minta untuk Cain selidiki seharusnya tidak terlalu berbahaya, tapi kenapa Cain tidak memberi kabar dan belum kembali?


Achromos memukul mejanya dengan frustrasi. Kalau sampai terjadi sesuatu dengan Cain, ia akan hilang kendali. Bahkan ia tidak akan segan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Selama ini, sosok Cain adalah satu-satunya penopang dirinya yang begitu rapuh. Hanya Cain yang tetap berada di sisinya. Di saat Achromos kehilangan arah, Cain muncul—mengembalikan sesuatu yang ia kubur dalam-dalam semenjak ibunya meninggal.


Sesuatu yang bernama keluarga.

__ADS_1


"Cain.. kumohon.. jangan tinggalkan aku." Lirih Achromos pelan.


Sementara itu, Chroma mematung di depan cermin begitu ia tak sengaja melihat sebuah lambang di perutnya. Sampai kemarin ia tidak menemukan lambang itu di perutnya. Tangan kecilnya mengusap lambang itu dengan pelan. Ia langsung merasakan kebencian dan kemarahan yang memuncak sampai ke ubun-ubun. Sangking benci dan marahnya sampai ia nyaris tidak bisa merasakan apa pun.


Dengan cepat Chroma berlari ke ruangan Achromos. Pikirannya masih kosong, tapi ia tahu apa yang ia lakukan. Sesampainya di ruangan Achromos ia langsung membuka pintu dengan kasar, membuat Achromos tersadar dari lamunannya.


"Jane? Ada apa?" Tanya Achromos.


Chroma menghampiri Achromos dan menatapnya dengan tatapan kosong. Bola mata emas yang biasanya berkilauan itu terlihat meredup. Ia terlihat seperti boneka tanpa emosi. Achromos mengerutkan alisnya. Ada sesuatu yang salah dengan Chroma.


"Kau," Ujar Chroma sambil menunjuk ke arah Achromos. "Kau tahu ini apa?"


Chroma menyingkap baju tidurnya, memperlihatkan perutnya yang kini dihiasi oleh sebuah lambang hitam yang tidak asing, lambang berbentuk mandala. Achromos terbelalak. Ia langsung menghampiri Chroma dan menatap lambang itu lekat-lekat.


"Ini.. bagaimana bisa?!" Serunya heran.


Chroma mendorong tubuh Achromos ke belakang, membuatnya mundur beberapa langkah.


"Jane?" Panggil Achromos heran.


"Katakan semua yang kau tahu." Ujar Chroma.


"Katakan atau aku akan membunuhmu."


•••


"Ahahaha! Ahahaha! AHAHAHAHAHA!!" Chroma tertawa keras begitu mendengar semua informasi yang diberikan oleh Achromos.


Achromos menatap Chroma dengan tidak percaya. Ini bukan Chroma yang ia kenal. Ia terlihat seperti orang yang berbeda. Achromos menelan ludahnya. Entah sudah berapa lama ia tidak merasa tegang. Ia sangat percaya dengan instingnya. Chroma yang saat ini sangat berbahaya. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, namun ia memberikan informasi mengenai Schatten, termasuk serangan mereka pada Chroma. Tapi Achromos tidak memberikan seluruh informasi yang ia punya.


"Jadi begitu.." Gumam Chroma. "Jadi, kali ini juga semua akan dimusnahkan?"


Juga? Batin Achromos.


"Jane, tenangkan dirimu. Jelaskan padaku, apa yang terjadi?" Tanyanya dengan sedikit tegang.


"Tenangkan? Tenang? BAGAIMANA MUNGKIN AKU BISA TENANG!!" Chroma menjerit hebat hingga membuat Achromos kembali mundur beberapa langkah.

__ADS_1


"Kau tidak mengerti.. Kau tidak mengerti.." Lirih Chroma sambil memegang kepalanya dengan kedua tangan. Air mata meluap begitu saja dari matanya.


"Ash.. Ash.. Maafkan aku.. Maafkan aku.." Gumamnya.


Ash? Sudah kuduga, Ash adalah manusia. Batin Achromos.


"Jane," Panggil Achromos sambil berusaha mendekati Chroma.


"JANGAN PANGGIL AKU JANE!!" Chroma kembali menjerit hingga Achromos menghentikan langkahnya.


"Jangan panggil aku Jane.." Lirih Chroma.


"Aku mengerti. Aku tidak akan memanggilmu Jane. Aku mengerti." Achromos kembali melangkah mendekati Chroma yang terisak. Dengan sangat hati-hati, ia merengkuh tubuh mungil Chroma yang bergetar. Achromos sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi, tapi ia tahu jika Chroma dibiarkan, ia akan hancur. Berkeping-keping. Hingga tak bersisa.


"Aku ada di sini untukmu." Bisik Achromos sambil mengusap kepala Chroma dengan lembut.


Isak tangis Chroma semakin menjadi. Tanpa ragu ia balas memeluk Achromos dengan erat dan menangis meraung-raung. Entah sudah berapa lama ia menahan ini semua. Apa salahnya hingga ia harus menerima kenyataan yang begitu kejam? Kenapa ia tidak pernah bisa bahagia? Kenapa mereka harus kembali? Kenapa?


"Aku.. a.. ku lelah.." Isak Chroma dengan susah payah.


"Aku mengerti. Kau sudah tidak perlu berusaha. Kau sudah cukup berusaha. Sudah saatnya kau istirahat, bukan?" Ujar Achromos.


"Isti.. rahat?" Ucap Chroma.


"Benar, kau harus istirahat. Nanti aku akan mengajakmu piknik ke Kerajaan Mollis. Di sana ada padang bunga yang indah, kau tahu? Bunganya banyak sekali, melebihi bunga di rumah kaca." Celoteh Achromos.


Saat itu, Achromos tidak akan pernah pernah menyangka atas apa yang akan keluar dari mulut Chroma.


"Achromos.. tolong.."


"bunuh aku."


•••


Seseorang dengan jubah hitam berjalan di lorong gelap yang terbuat dari batu itu, membuat hentakan sepatunya terdengar sedikit menggema. Senyum tipis mengembang di wajahnya. Dalam dua puluh empat jam, sesuatu yang sudah lama ia tunggu akan dimulai.


Semuanya berjalan sesuai dengan rencananya.

__ADS_1


———


__ADS_2