Chroma & Achromos

Chroma & Achromos
Chapter 23: The End of His Love


__ADS_3

Vhellesia. Sebuah negara kecil yang terletak di tengah Pulau Xan. Posisinya yang berada tepat di antara lima kerajaan terbesar di Pulau Xan—Chraz, Hecca, Ellios, Mollis, dan Exeta—membuatnya menjadi negara netral yang tidak terikat kepentingan kerajaan apa pun. Vhellesia adalah negara tanpa kerajaan yang sudah ada jauh sebelum kerajaan-kerajaan berdiri—melindungi Pulau Xan sejak ribuan tahun lalu. Selama 500 tahun sejak kerajaan-kerajaan berdiri, Vhellesia mampu menciptakan kedamaian berkat kekuatan dari klan yang bernama Artemis.


Artemis adalah klan tertua di dunia yang sudah punah bersamaan dengan Vhellesia. Lambang klan Artemis adalah mandala berwarna hitam yang terpasang di setiap sudut bangunan di sana. Anggota klan Artemis memiliki kekuatan yang bahkan dianggap sebagai isapan jempol belaka oleh orang-orang di dunia, yaitu sihir. Dan yang membuat mereka begitu tersohor adalah ciri-ciri fisik mereka yang begitu berbeda—bola mata emas cemerlang dan rambut perak bagai sinar bulan purnama.


Dari anggota mereka yang luar biasa, hanya satu orang yang memiliki kekuatan maha dahsyat. Kekuatan itu mampu melenyapkan apa pun ke dalam cahaya. Kekuatan sekaligus julukan bagi pemimpin klan yang bernama Xerra. Setiap seratus tahun sekali, seorang anak perempuan akan terlahir dengan tanda lahir berbentuk mandala di punggungnya dan menjadi Xerra.


Namun, ketika seorang Xerra ke-10 baru saja diangkat—sesuatu yang luar biasa terjadi.


Ini adalah awal dari kisah hidup Xerra terakhir.


•••


"Aku di mana?"


Chroma memindai seluruh area yang mampu ia lihat dengan terheran-heran. Sedetik yang lalu ia masih berada di tengah pertarungan dengan Schatten dan tiba-tiba saja saat ini ia berada di tempat yang tidak ia kenal.


Hamparan padang bunga yang berwarna-warni di sekitarnya bergoyang pelan karena hembusan angin lembut yang juga menyapu wajahnya. Chroma mengerjapkan matanya sekali lagi, mencoba memastikan ia tidak sedang berhalusinasi.


Setelah terkesima untuk beberapa saat, akhirnya kaki Chroma mulai melangkah. Tak jauh dari tempatnya berjalan, ia akhirnya melihat sesuatu selain bunga—seorang gadis dan laki-laki yang tengah berjalan beriringan. Tanpa pikir panjang Chroma berlari menghampiri mereka.


"A.. pa ini?" Chroma langsung tercekat dan menghentikan langkahnya begitu ia melihat apa yang ada di hadapannya.


Gadis itu menatap laki-laki di sampingnya dengan bola mata emas yang berkilauan dan rambut perak yang berkibar terkena angin. Laki-laki berambut hitam itu tersenyum lembut dan balas memandang sang gadis dengan bola mata coklat mudanya.


Chroma menganga tak habis pikir. Gadis itu adalah dirinya. Tidak salah lagi. Itu adalah Chroma. Dan laki-laki itu...


adalah Aram.


Warna rambut dan bola mata Aram memang berbeda, tapi Chroma tahu persis itu Aram. Wajah itu.. adalah wajah orang yang paling ingin ia bunuh. Ia tidak mungkin melupakannya.


"Apa yang sedang terjadi??" Gumam Chroma.


Ia berdiri begitu dekat dengan mereka, tapi mereka sama sekali tidak menyadari kehadirannya. Saat mereka melangkah mendekati Chroma, tubuh mereka melewati tubuh Chroma yang mematung begitu saja, seolah-olah Chroma adalah udara yang tak bisa disentuh.


"Apa yang sedang terjadi??"


•••


Chroma berjalan dengan riang sambil menyapa seluruh orang di sekitarnya. Mereka semua balas menyapa Chroma dengan senang dan hormat. Tak aneh melihat mereka begitu menghormati Chroma, karena Chroma adalah Xerra ke-10. Ia adalah orang yang akan memimpin klan Artemis untuk ke depannya.


"Nona Chroma, tunggu aku!" Aram berlari menghampiri Chroma yang berjalan begitu cepat. Ia segera menggenggam tangan Chroma dengan erat begitu berhasil menyamai langkahnya. "Tolong jangan lepas dari pengawasanku, Nona!"


"Salahmu sendiri, Aram. Kau berjalan terlalu lambat, hihi." Balas Chroma sambil mengerling jahil.


"Nona, tolonglah! Aku hanya lengah untuk beberapa detik karena menolong anak kecil yang jatuh, tapi kau sudah menghilang entah ke mana!" Protes Aram sambil menghela napasnya dengan panjang.


"Aram, sudah kubilang jangan memanggilku 'nona'. Kita saudara, kan?" Tukas Chroma dengan wajah sedikit kesal.


"Ugh.. Kau tahu sendiri Nenek Bhey akan menghukumku habis-habisan kalau tidak memanggilmu 'nona'." Wajah Aram memucat begitu mengingat berbagai macam hukuman yang pernah ia terima dari Nenek Bhey.


"Puhahaha! Nenek Bhey memang menakutkan! Aku saja sampai merinding jika dipanggil ke ruangannya." Chroma terkekeh geli begitu melihat wajah Aram memucat, memperlihatkan deretan giginya yang rapi.


Aram tersenyum melihat Chroma tertawa. Hanya dengan melihat itu saja, ia akan merasa senang sepanjang hari. Baginya, Chroma adalah dunianya. Sebab tanpa Chroma, ia pasti sudah lama mati.


Tujuh tahun yang lalu, saat Chroma masih berusia sepuluh tahun, ia menyelamatkan Aram yang sekarat ketika sedang dalam perjalanan ke kuil di hutan perbatasan Vhellesia. Aram mengalami luka parah di sekujur tubuhnya dan ia kehilangan kemampuan untuk menggerakkan tangan kanannya. Tanpa merasa lelah, Chroma setiap hari datang menjenguk dan membantu herbalis klan untuk merawat Aram. Saat itu, Aram merasakan kehangatan yang luar biasa dari tangan Chroma, sampai-sampai ia menangis di suatu malam. Karena itulah Aram memutuskan bahwa ia akan membuat Chroma bahagia, bagaimana pun caranya.


"Aram, menurutmu apa Achromos akan datang?"


Suara Chroma memecah lamunan Aram, membuat Aram langsung menatap wajah Chroma yang terlihat sedikit bersemu merah. Seketika itu juga hatinya berdenyut. Tujuh tahun lamanya mereka bersama, tujuh tahun itu pula Aram memendam perasaannya. Ia tahu Chroma hanya menganggapnya sebagai keluarga, tidak lebih. Hal itu semakin dikuatkan ketika pertemuan kelima kerajaan besar diadakan dan Chroma bertemu dengan Raja Chraz, Achromos. Semenjak saat itu, Chroma selalu bersemangat untuk pergi ke pertemuan, bahkan ia sengaja mengerjakan tugas petinggi klan yang bersangkutan dengan Chraz demi bertemu dengan Achromos.


"Kurasa dia akan datang. Ini adalah pertemuan penting, dia tidak akan melewatkannya." Jawab Aram sambil tersenyum kecut.


"Benarkah?" Senyuman Chroma langsung merekah dengan indah, membuat rasa sakit di hati Aram kian perih. Aram hanya mengangguk mengiyakan. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan menuju gedung pertemuan dalam diam.


•••


Chroma sesekali melirik Achromos—yang sedang membenahi dokumen—begitu pertemuan selesai dilakukan. Wajah Achromos yang begitu tampan membuat Chroma berkhayal banyak. Tanpa sengaja, pandangan mereka beradu. Chroma tersentak dan segera mengalihkan pandangannya dengan panik. Achromos yang melihatnya hanya tersenyum tipis menahan tawa.


"Nona Chroma," Panggil Achromos tanpa diduga. "apa Anda memiliki waktu luang saat ini?"


"Eeh?!" Seru Chroma kelepasan. Ia segera menutup mulutnya dengan wajah merona. "I-iya, Yang Mulia. Aku tidak ada keperluan lain."


"Panggil saja aku Achromos, Chroma." Ujar Achromos sambil tersenyum. "Kalau begitu, tolong temani aku makan siang."


Skak mat. Saat itu juga hati Chroma meledak. Ia merasa seperti di alam mimpi. Selama ini ia hanya mampu menatap Achromos selama pertemuan atau saat ia mengunjungi Chraz karena ada urusan pekerjaan, namun saat ini Achromos mengajaknya makan siang bersama. Tidak terbayangkan sebanyak apa bunga bermekaran di hati Chroma. Bahkan mungkin bisa menutupi seluruh permukaan Pulau Xan sangking banyaknya.


Setelah ajakan Achromos itu, mereka berdua kemudian semakin sering bersama. Bahkan Achromos datang berkunjung di saat tidak ada pertemuan. Hubungan mereka tentu tidak bisa dibilang sebagai teman. Mereka lebih mirip sepasang kekasih. Faktanya Achromos dan Chroma memang saling mencintai. Dan suatu hari, di usia Chroma yang ke delapan belas, Achromos melamarnya.


Aram yang selama ini menahan beribu macam perasaan melihat Chroma bersama Achromos langsung hancur berkeping-keping begitu mendengar berita itu. Padahal ia sudah bersumpah akan membuat Chroma bahagia, namun ia malah merasa begitu sedih ketika Chroma telah mendapatkan kebahagiaannya. Dengan sekuat tenaga, Aram berusaha tetap menjadi Aram yang selalu berada di sisi Chroma, menjadi Aram yang biasa. Ia sudah memutuskan untuk membunuh perasaannya pada Chroma, meskipun konsekuensinya ia akan ikut membunuh hati dan jiwanya.


Namun tak disangka, sebuah kejadian tragis terjadi. Kerajaan Hecca, Ellios, dan Chraz mengkhianati kesepakatan damai yang telah dibuat Vhellesia. Mereka berlomba-lomba membantai seluruh anggota klan Artemis demi mendapatkan kepala mereka yang bernilai jual tinggi.


Klan Artemis tidak tinggal diam, mereka berusaha melawan dengan kekuatan mereka, termasuk Chroma. Chroma yang begitu terkejut mendengar Chraz ikut dalam penyerangan itu tetap memutuskan untuk datang ke medan perang. Ia ingin menanyakan langsung pada Achromos, apa maksud semua itu. Aram tentu saja menentang keputusan Chroma habis-habisan, namun Chroma begitu keras kepala dan tetap pergi ke sana.


Begitu melihat medan perang, Chroma nyaris terjatuh ke tanah jika tidak ditangkap oleh Aram. Mayat tentara kerajaan bergelimpangan di seluruh penjuru dan bau darah begitu menyengat hingga menusuk hidung. Dan di antara mayat-mayat itu, berbaur mayat-mayat dengan pakaian khas klan Artemis. Mereka semua tergeletak. Tanpa kepala. Klan Artemis yang berusaha melawan merasa kesulitan. Kekuatan sihir mereka tidak sekuat 500 tahun silam, saat perang terakhir di Pulau Xan terjadi. Selama 500 tahun ini, mereka terlalu percaya diri bahwa perang tidak akan pernah terjadi lagi. Namun kenyataan pahit yang terjadi saat ini membuat mereka tertampar keras.


Aram yang menyadari ketakutan Chroma segera menutup mata Chroma dan memeluknya erat.


"Jangan lihat!" Seru Aram. Tubuh Chroma bergetar ngeri. Seumur hidupnya, ia tidak pernah merasa setakut ini. Ia tidak pernah melihat perang sebelumnya, dan ia kini menyadari bahwa perang adalah pembantaian yang tidak masuk akal.


"Nona Chroma, kita harus pergi!!" Seru Aram sambil menarik tangan Chroma—yang tak berkutik sama sekali—menjauh dari pusat perang.


Naas bagi mereka, baru saja berlari sebentar, mereka sudah dihadang oleh tentara Hecca. Aram berdecak. Saat ini Chroma terlalu syok untuk menggunakan kekuatannya, dan dirinya sendiri tidak bisa bertarung karena cedera di tangan kanannya.

__ADS_1


"Nona Chroma, aku akan mengalihkan perhatian mereka. Saat ada celah, larilah!" Bisik Aram pada Chroma.


"Apa maksudmu?!" Seru Chroma tersadar dari syoknya.


Aram tidak menjawab dan segera meraih pedang yang berada di dekatnya. Ia lalu berlari menghampiri tentara-tentara itu dan berusaha melawan mereka. Chroma bergetar ketakutan. Ia tahu Aram tidak bisa menggunakan tangan kirinya dengan baik dan tangan kanannya sama sekali tidak bisa digerakkan. Apa yang ia lakukan saat ini sama saja dengan bunuh diri.


"Aram!!!" Seru Chroma panik.


"LARILAH, CHROMA!!!" Pekik Aram. Ia terlihat setengah mati menahan serangan demi serangan yang dilontarkan tentara Hecca. Chroma menatap kejadian yang ada di hadapannya dengan ketakutan. Lututnya terasa luar biasa lemas seperti tak bertulang. Lidahnya kelu dan tenggorokannya sakit luar biasa. Tanpa disadari, seorang tentara Ellios muncul di belakang Chroma dan menguhunuskan pedang ke punggung Chroma hingga akhirnya..


JLEB!!!


Pedang keperakan itu kini dinodai dengan warna merah pekat. Mata Chroma terbuka lebar-lebar. Ia nyaris tidak bisa mencerna apa yang telah terjadi. Semuanya terjadi terlalu cepat. Lututnya yang semakin lemas itu kini menyerah dan membuatnya terjatuh ke tanah. Bulir-bulir bening berdesakkan keluar dari matanya. Begitu pedang kembali ditarik dengan kasar oleh si tentara, Chroma bisa melihat senyuman tipis di wajah Aram yang terlihat semakin memucat.


"Syukur..lah.. kau.. selamat.. Chroma." Lirih Aram dengan suara begitu parau.


Tubuh tegapnya kini terjatuh tanpa basa-basi ke atas tanah. Matanya yang berwarna coklat muda itu semakin meredup. Tubuhnya tak lagi bergerak, dan genangan darah menyebar dengan cepat. Chroma memegang dadanya dengan erat, merasakan rasa sakit yang luar biasa dahsyat dan mengerikan.


"ARAAAAAAAAAAM!!!!!!"


Chroma segera merengkuh tubuh Aram yang tak bergerak dengan erat. Perang itu telah merenggut banyak orang yang ia sayangi, bahkan ia juga dikejutkan dengan pengkhianatan Achromos. Dan kali ini, ia kehilangan keluarga yang paling ia sayangi di dunia. Ia sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.


Cahaya keperakan mulai berpendar di tubuh Chroma yang tak berhenti meneriakkan nama Aram. Sebuah pilar cahaya kemudian muncul menjulang membelah langit. Seluruh tentara yang sedang berperang langsung terhenti dan menatap pilar tersebut. Anggota klan Artemis langsung terkesiap. Mereka tahu apa yang sedang terjadi pada Chroma.


"Gawat!! Xerra lepas kendali!!"


Tiba-tiba saja suara gemuruh terdengar memekakkan telinga. Tanah terasa bergetar hebat hingga orang-orang kehilangan keseimbangan mereka. Seluruh mata menatap tak percaya ke arah pilar cahaya yang semakin membesar.


"Apa itu?!" Ujar Achromos terkejut. Ia baru saja sampai ke Vhellesia untuk menyuruh tentaranya berhenti berperang setelah mengetahui ayahnya diam-diam memerintahkan tentara kerajaan untuk memburu kepala anggota klan Artemis. Pemandangan yang ia temukan ketika sampai sudah cukup membuatnya terkejut luar biasa, namun masih ada hal tak terduga lain yang terjadi.


Achromos mendekat lalu memicingkan matanya, berusaha melihat siapa yang ada di dalam pilar cahaya itu. Ia kemudian menemukan sosok samar Chroma yang tengah memeluk Aram sambil terduduk.


"Chroma??!!" Serunya tak percaya.


"Kita harus menghentikannya!! Kalau begini terus seluruh dunia akan tenggelam dalam cahaya!!"


"Tapi bagaimana caranya??"


"Kita.. harus membunuh Nona Chroma! Tidak ada cara lain!"


"Tapi, kita akan ikut mati jika membunuh Xerra!"


"Kau masih memikirkan hal itu?? Kalau tidak ada yang menghentikannya, kita semua akan tetap mati!!"


Achromos langsung berlutut tak percaya begitu mendengar perkataan beberapa anggota klan Artemis yang kalang kabut. Ia merasa lemas. Apa maksudnya Chroma harus dibunuh? Apa maksudnya? Achromos menangis dalam diam karena menyesali apa yang terjadi. Kalau saja ia bisa mencegah ayahnya. Kalau saja ia menyadari Hecca dan Ellios akan ikut menyerang. Kalau saja ia datang lebih cepat. Achromos mengutuk semua orang yang menyebabkan ini terjadi. Ia lalu bangkit dengan susah payah dan berjalan perlahan mendekati Chroma.


"Raja Achromos?! Kenapa dia menghampiri Chroma?!"


"Apa yang akan dia lakukan??"


"Maafkan aku.. Chroma.."


JLEBB!!


Pedang di tangan Achromos kini menembus dua tubuh yang sedang berpelukan. Achromos dan Chroma segera memuncratkan darah dari mulut. Achromos tak melepaskan pelukannya dan masih meneteskan air mata.


"Achro.. mos.." Bisik Chroma nyaris tak terdengar.


Seketika itu juga, pilar cahaya tersebut kian mengecil dan cahaya perak yang menyilaukan kian meredup. Mata Chroma semakin tertutup.


Aram, yang ternyata masih menyisakan sedikit nyawanya langsung terkejut melihat Achromos menusuk tubuh Chroma dan tubuhnya sendiri. Ia lalu menyaksikan cahaya perak yang lenyap tak berbekas dan kedua pasang mata yang kini tertutup rapat. Tubuh mereka kemudian terjatuh pelan ke atas tanah.


Aram menangis luar biasa. Ia berteriak tanpa suara dan mengamuk dengan tubuh yang tak bergerak. Ia memaki Dewa karena telah membiarkan ini semua terjadi. Ia bersumpah akan melakukan apa saja untuk membuat Chroma bahagia, namun Chroma harus meregang nyawa di usia yang baru menginjak delapan belas tahun.


Dewa.. DEWA!!! AKU TIDAK TERIMA DENGAN INI SEMUA!!! TIDAK TERIMAAAA!!!! Pekik Aram sekuat hatinya.


Lalu, apa kau ingin melakukan kontrak denganku?


Suara yang entah datang dari mana itu mengubah segalanya. Tanpa ragu Aram menyetujui kontrak yang ditawarkan oleh suara itu. Kontrak itu memberinya kemampuan untuk melakukan sihir, termasuk sihir yang paling terlarang—sihir waktu.


Dan sebagai bayaran dari kontrak tersebut adalah, Aram tidak akan bisa mati..


kecuali jika Chroma membunuhnya.


•••


Akhirnya penantian panjang Aram berakhir setelah sepuluh tahun menyempurnakan sihir waktunya. Ia kembali ke masa saat Chroma hidup dan telah resmi menjadi iblis. Rambut hitamnya berubah menjadi putih dan bola mata coklatnya berubah menjadi sepekat darah. Tanda kutukan berlambang jam berbentuk bulat dengan ukiran-ukiran berwarna hitam muncul di dadanya. Tapi Aram sama sekali tidak memedulikan hal itu.


Kali ini aku akan melindungimu, batin Aram.


Namun, apa yang terjadi setelahnya begitu kejam bagi Aram. Hal yang nyaris sama tetap terjadi. Sekuat apa pun Aram berusaha mengubah semuanya, Chroma dan Achromos tetap mati. Dan ia terus menerus menyaksikan hal itu, entah berapa kali.


"Kenapa..?" Gumam Aram tak percaya.


Aram tidak mengerti apa yang salah. Apakah memang takdir Chroma dan Achromos untuk saling mencintai namun tak bisa bersatu? Apakah ini salah dirinya yang telah hadir di hidup Chroma? Apakah takdir mereka berdua memang untuk mati? Apakah sekeras apa pun ia berusaha, takdir mereka tidak bisa diubah?


Kalau begitu, tidak ada artinya aku kembali, kan?? Yang kuinginkan hanya melihatnya tersenyum!! Seru Aram dalam hati.


Saat itu, ia menyesali keputusannya untuk menerima kontrak dengan suara misterius itu. Apa lagi kontrak itu memiliki konsekuensi yang besar.


Aram tak akan bisa mati, kecuali jika ia dibunuh oleh Chroma.


Jiwanya juga tidak akan bisa pergi ke surga atau pun neraka, dan ia tidak akan pernah terlahir kembali. Ia hanya akan hilang sepenuhnya dari dunia. Tak berbekas.

__ADS_1


Dan saat ia melakukan sihir waktu, ia mengaktifkan tuas yang akan membuatnya terus kembali ke masa yang sama, hingga ia mati.


Lalu, setelah berulang kali gagal melindungi Chroma, Aram telah memutuskan. Ia sudah luar biasa lelah, namun kali ini ia akan mengerahkan segala yang ia miliki. Ia akan mengakhiri lingkaran setan ini.


Ia memutuskan untuk menjadi musuh Chroma, merebut Xerra dari tubuhnya, dan mati di tangannya.


•••


Pertemuan Aram dengan Chroma yang entah keberapa kalinya itu berlangsung sesaat. Begitu Chroma terlahir, Aram langsung menculiknya dan memindahkannya ke kota terpencil di Ellios. Ia menitipkan Chroma pada seorang nenek penjual bunga yang baik hati. Setelah itu, ia kembali ke Vhellesia lalu melenyapkan semuanya, memindahkan seluruh isi Vhellesia ke pulau kecil tak berpenghuni di ujung peta dunia. Ia kemudian mengubah ingatan seluruh penduduk pulau Xan mengenai Vhellesia dan Artemis hingga mereka semua menganggap Artemis telah lama punah.


Apa yang ia lakukan adalah hal yang berisiko tinggi. Setelah melakukan itu semua, Aram tergeletak sekarat di tengah hutan. Tubuhnya nyaris hancur akibat menggunakan kekuatan yang terlalu besar. Siksaan rasa sakit itu terus ia rasakan hingga satu bulan ketika tubuhnya sedikit demi sedikit kembali menyatu, karena ia tidak bisa mati.


Setelah tubuhnya kembali menyatu dengan sempurna, Aram bergegas pergi ke Ellios. Namun ketika ia sampai, kota kecil tempat ia menitipkan Chroma berubah menjadi senyap. Tak ada satu pun suara atau pun orang yang berlalu lalang. Seluruh toko terlihat ditinggalkan begitu saja dengan barang dagangan yang sudah kering.


Aram bergegas berlari menuju rumah sang nenek, namun ia tidak menemukan siapa pun.


Tidak ada satu orang pun di kota itu.


•••


Setelah bertahun-tahun mencari Chroma, Aram akhirnya mendengar desas-desus mengenai rubah berbulu perak. Tidak salah lagi, itu adalah Chroma. Tapi kenapa ia malah menjadi pembunuh bayaran?


Aram berteriak frustrasi sambil membanting apa saja yang ada di hadapannya. Kenapa semua yang ia lakukan tidak pernah berjalan lancar?? Apa ini hukuman karena ia telah bermain-main dengan takdir dan waktu?


Di tengah rasa frustrasi yang menggerayanginya, ia kembali mencari Chroma. Ia lalu mendapatkan kabar bahwa Chroma diselamatkan oleh Ash, seorang pangeran berambut perak dan bermata emas di Kerajaan Ellios. Aram merasa dilema. Di satu sisi ia senang karena Chroma berhenti menjadi pembunuh bayaran dan bertemu dengan keluarganya, namun di sisi lain ia merasa begitu marah dengan Kerajaan Ellios. Ia tahu Ellios, Hecca, dan Chraz adalah kerajaan licik yang bisa melakukan apa pun demi mendapatkan apa yang mereka inginkan, meski pun Hecca sudah ia tangani dengan membuat Shevo menjadi raja dan membuatnya menari di atas telapak tangannya dengan mudah.


Saat itu Aram menyusun rencana. Ia akan menghancurkan Ellios dan membuat Chroma membencinya. Ini adalah kesempatan emas. Saat Chroma lahir, ia sudah memasang segel tambahan agar Xerra tidak mengamuk. Ia sudah mempersiapkan semua dengan matang.


Aku akan merebut Xerra dan membuatmu bahagia, Chroma.


Setelah itu, Aram menghancurkan Ellios, mempertemukan Chroma dan Achromos, serta merencanakan semuanya dengan susah payah hingga sampai ke titik ini.


•••


Chroma..


Apa aku.. memang tidak bisa membuatmu bahagia?


Kenapa aku selalu gagal melindungimu.. melindungi senyumanmu?


Apa salahku?


Apa ini semua karena aku muncul di hidupmu?


Apa ini semua karena aku begitu mencintaimu?


Maafkan aku.. Chroma..


Tapi sekarang.. kuharap aku tidak melakukan kesalahan lagi..


Kuharap.. kau dan dia bisa bahagia..


Akhirnya.. aku bisa beristirahat..


Penantian panjangku.. telah berakhir..


Ucapan Aram di dalam hatinya terdengar begitu saja oleh Chroma. Kini hanya ada mereka berdua di dalam pilar cahaya itu. Chroma telah kembali dari dunia yang ternyata adalah potongan memori milik Aram.


Dengan goyah Chroma langsung menghampiri Aram yang tergeletak tak berdaya dengan bersimbah darah hitam. Bulir-bulir air mata berlomba-lomba keluar dari matanya. Ia nyaris tak percaya apa yang baru saja ia saksikan. Aram adalah klauvhi, ksatrianya. Aram telah melindunginya sejak dulu, menyaksikannya mati entah berapa kali.


Dan Aram..


mencintainya selama ratusan tahun.


Tangan Chroma yang bergetar mengusap pipi Aram dengan penuh pilu. Tangisannya semakin menjadi begitu melihat mata Aram yang kian meredup.


"A..ram.. maafkan.. aku.." Lirih Chroma.


"Chro.. ma.." Balas Aram dengan suara parau. "Ter..senyumlah.."


Chroma menangis semakin keras mendengar ucapan Aram. Ia menyesal luar biasa karena tidak mengetahui apa pun. Ia tak bisa membayangkan seberapa besar beban yang harus Aram tanggung sendirian, seberapa hancur hatinya, dan seberapa menyakitkan semua yang telah ia alami. Kenapa Aram tidak menceritakan semua padanya?


"Aram.. kumohon.. jangan pergi..." Isak Chroma.


"Chro..ma.. tersenyum..lah.." Balas Aram. Tubuhnya kini mulai memecah perlahan menjadi kepingan-kepingan hitam kecil. Chroma tersentak dan berusaha meraih kepingan-kepingan itu.


"Aram!! Aram!!!" Seru Chroma histeris.


"Chroma.. sudah terlambat.. kumohon.. untuk terakhir.. kalinya.. aku.. ingin melihat.. senyumanmu.." Ucap Aram dengan susah payah.


Chroma menggenggam tangan Aram dengan erat lalu menyeka air matanya. Ia kemudian berusaha memperlihatkan senyuman semampu yang ia bisa. Aram melirik Chroma lalu tersenyum. Senyuman yang memancarkan kebahagiaan sekaligus kesedihan yang begitu mendalam.


"Akhirnya.. aku bisa.. beristirahat.." Ucap Aram.


Tangis Chroma kembali memecah begitu tubuh Aram luruh sepenuhnya menjadi kepingan hitam. Kedua matanya kini tertutup rapat.


Chroma..


Berbahagialah..


Hanya itu satu-satunya.. keinginanku..


Kata-kata terakhir Aram di dalam hatinya menggema di kepala Chroma. Tubuhnya kini sudah benar-benar berubah menjadi kepingan hitam yang langsung menghilang di udara. Cinta Aram selama ratusan tahun pada Chroma kini telah berakhir. Chroma segera meraih kepingan yang tersisa dengan hati yang begitu hancur. Air matanya nyaris tak bisa berhenti keluar.

__ADS_1


"Aram... Aram!!!! ARAAAAAAAAAAAAAM!!!!"


———


__ADS_2