
"Siapa kalian? Mengganggu kesenanganku saja!" Gerutu Jona pada ketiga orang yang baru saja datang itu.
"Oh, maafkan kami." Ujar si rambut merah. "Perkenalkan, namaku Ruu. Yang berambut hitam di belakangku namanya Fuu, dan yang berambut kelabu di sebelahnya bernama Kuu."
"Aku tidak tanya nama kalian!" Seru Jona kesal.
"Loh? Tadi bukannya kau bertanya siapa kami?" Balas Ruu sambil berpura-pura heran.
"Cih! Terserah kalian saja! Kalau kalian mau ikut bermain, tidak masalah! Kalian akan tetap mati!" Balas Jona.
"Ckckck, tidak perlu marah seperti itu. Akan kuberi tahu. Kami adalah Sol, pengawal pribadi Raja Achromos yang tidak pernah dianggap." Jawab Ruu.
"Pengawal pribadi?" Jona menaikkan alisnya dengan heran. Ia baru dengar Achromos memiliki pengawal pribadi.
"Iya, pengawal pribadi. Yang Mulia Braz memerintahkan kami untuk menjadi pengawal pribadi Raja Achromos, tapi raja itu tidak pernah mau dikawal oleh kami." Ruu menghela napas sambil menggelengkan kepalanya.
"Diam kau!" Desis Achromos yang lukanya tengah diobati oleh Fuu. "Siapa yang mau dikawal oleh orang suruhan Braz?!"
"Diamlah, Raja. Kau membuatku sulit mengobati lukamu." Keluh Fuu dengan datar.
"Kau juga diam!" Seru Achromos. "Lagi pula untuk apa kalian kemari?! Aku tidak pernah memerintah kalian satu kali pun, kan?!"
"Memang bukan Anda, tapi Yang Mulia Braz." Sambar Kuu.
"Hah???" Seru Achromos tak percaya.
"Beliau mengatakan 'Aku tidak mau raja bodoh itu mati karena kebodohannya sendiri. Nanti aku yang repot karena harus jadi raja lagi. Cain juga menghilang entah ke mana, jadi aku tidak bisa menyuruhnya menggantikan kakak bodohnya. Kalau aku jadi raja lagi, itu akan sangat menyusahkan. Aku jadi tidak punya waktu untuk bersenang-senang'." Tiru Ruu sambil memeragakan gerak-gerik Braz.
Dasar kurang ajar! Geram Achromos dalam hati.
"Lalu, di mana dia sekarang??" Tanya Achromos.
"Berlibur di pantai timur." Jawab Kuu.
Aku bersumpah akan membunuhnya kalau dia kembali nanti!!! Achromos mengepalkan jemarinya dengan kesal sambil membayangkan apa yang akan ia lakukan pada Braz jika mereka bertemu kembali.
"Hei, jangan abaikan aku!!!" Pekik Jona dengan geram.
"Oh, maafkan kami! Kami sampai lupa kalau kita sedang bertarung!" Ujar Ruu sambil terkekeh pelan.
Jona segera berdecak dan kembali memasang ancang-ancangnya. Pandangan Ruu, Fuu, dan Kuu juga langsung berubah menjadi serius. Mereka lalu ikut mengeluarkan pedangnya dengan sigap.
"Kalau begitu, mari kita mulai pestanya." Kata Ruu sambil tersenyum.
"Itu kata-kataku." Balas Jona sambil menyeringai.
•••
Di sebuah ruangan remang, Chlari dan Shienna duduk tanpa membuka suara. Sedari tadi Chlari tak bisa melepaskan pandangannya dari Shienna yang terlihat begitu sendu. Tentu saja Shienna merasa sedih. Ia adalah anggota Schatten yang pertama, dan ia mengenal Aram jauh lebih lama dari anggota lain. Chlari juga tahu, Shienna mencintai Aram dengan sepenuh hati.
"Chier.. menurutmu, kenapa Aram melakukan ini semua?" Tanya Shienna membuka mulut.
"Hm..." gumamnya. "Aku juga tidak mengerti, yang tahu hanya Aram sendiri. Aram tidak pernah menceritakan apa pun pada kita, kan? Dia selalu menyimpannya seorang diri." Jawab Chlari sambil menatap entah ke mana.
"Apa tidak ada cara lain?" Ujar Shienna lagi.
"Aku tidak tahu.." Kata Chlari pelan. "Tapi Aram sudah memutuskannya jauh sebelum kita bertemu dengannya, dan aku akan menghargai keputusan itu."
"Aku juga!!" Sambar Shienna tak mau kalah. "Aku juga menghargai keputusannya.."
"Kalau begitu, yang bisa kita lakukan hanya mendukung Aram." Chlari memperlihatkan senyuman hangatnya untuk sesaat. Tangannya lalu meraih tubuh mungil Shienna dan memeluknya erat. Shienna yang sedang rapuh saat ini menerima pelukan Chlari dengan senang hati. Ia balas memeluk Chlari dengan erat. Hati Chlari berdenyut nyeri untuk beberapa detik.
__ADS_1
"Maafkan aku, Shienna.." Bisik Chlari pelan.
Jleb!
Tanpa disangka, sebilah pisau panjang menembus kulit punggung Shienna hingga ke jantung. Shienna yang terkejut nyaris tidak berkutik. Matanya membulat tak percaya.
"Chi..er..? Apa yang.. kau—?" Belum tuntas perkataan yang diucapkan Shienna, kesadarannya sudah menyerah lebih dulu begitu Chlari mencabut pisaunya. Mata indahnya kini tertutup dan tubuhnya terkulai lemas.
Chlari masih memeluk tubuh Shienna dengan erat. Ia mengecup pucuk kepala Shienna dengan lembut. Tetesan bening mengaliri pipinya. Ia menyunggingkan senyuman pahit dengan hati yang hancur berkeping-keping.
"Selamat tidur... Shienna-ku yang malang." Bisik Chlari.
•••
Aram terhenyak dari lamunannya begitu merasakan sesuatu yang tidak biasa. Jantungnya berderu dan hatinya terasa sakit. Ia tidak mengerti apa yang sedang ia rasakan.
"Apa ini?" Gumamnya pelan.
Tak lama berselang, seseorang muncul dari balik pintu, menatap Aram dengan tatapan yang tidak biasa. Orang itu muncul sambil menggendong seorang perempuan berambut emas yang tergolek lemas dengan berlumuran darah.
"Shienna?!" Pekik Aram kaget. Ia bergegas menghampiri. "Apa yang terjadi padanya, Chier??"
"Shienna.. sudah mati.." Jawab Chlari sambil menunjukkan wajah yang begitu sendu.
"Tidak.. mungkin.." Ucap Aram tak percaya. "Tidak mungkin!!!"
"Aku juga.. tidak mau percaya.." Chlari menatap Aram dengan matanya yang basah, membuat Aram langsung berlutut ke lantai.
Aram menatap sosok Shienna dengan mata yang kini mengeluarkan tetesan air. Tangannya bergetar hebat. Ia merasakan sakit yang luar biasa di hatinya. Padahal ia sudah bersumpah tidak akan membiarkan mereka mati. Mereka adalah keluarga baginya.
"Shienna.. Shienna.." Lirih Aram sambil mengusap pipi Shienna yang kini pucat dan dingin.
"Siapa..?" Tanya Aram. "SIAPA YANG TELAH MEMBUNUHNYA????"
"Achromos."
Aram langsung menghilang menjadi kepulan asap hitam dalam sekejap, meninggalkan Chlari yang masih terdiam. Chlari menurunkan Shienna dari gendongannya lalu mengusap air matanya. Ia melangkahkan kakinya dengan pelan menuju tempat Chroma tergeletak.
"Kau akan menyusul Shienna, Chroma." Gumam Chlari sambil menatap Chroma dengan dingin.
"Uhuk!!! Uhuk!!!" Tiba-tiba saja Chlari terbatuk dengan keras hingga mengeluarkan darah. Ia meremas dadanya dengan kuat, menahan rasa sakit yang begitu menusuk.
"Tidak ada waktu.." Ucapnya sambil menghapus noda darah di bibirnya.
Ia kemudian menggendong tubuh mungil Chroma dan ikut menghilang menjadi kepulan asap hitam.
•••
"Kak Achro!!" Cain tiba-tiba saja langsung menghambur memeluk Achromos yang kini telah diobati lukanya dan mampu berdiri kembali.
"Cain?!" Seru Achromos kaget. "Kau sudah sadar??"
"Maafkan.. aku.." Cain menatap Achromos dengan wajah menangis seperti anak kecil. Achromos segera balas memeluk Cain lalu mengusap kepalanya.
"Tidak apa-apa, Cain. Ini salahku. Maafkan aku juga." Ujar Achromos sambil tersenyum.
"Kenapa dia bisa bergerak??" Ujar Jona dengan kaget begitu ia melihat Cain. Tangannya masih sibuk menangkis serangan dari Sol.
"Hei, kalau kau salah fokus bisa-bisa jantungmu berlubang dalam sekejap loh.." Ujar Ruu sambil terus menyerang Jona, membuat Jona berdecak dengan kesal.
"Shienna yang memasang mantra padanya, kan? Mantra itu hanya bisa lepas jika si pembaca mantra yang melepaskannya sendiri atau dia mati. Kalau mantranya tiba-tiba terlepas tanpa Shienna melepaskannya itu artinya..." Fen terdiam tanpa mau melanjutkan perkataannya.
__ADS_1
"Shienna.. mati?" Lanjut Juna nyaris tercekat.
Mendengar hal itu, Jona terhenti sekejap karena terkejut. Kesempatan itu diambil tanpa basa-basi oleh Sol yang langsung menyerang dengan bertubi-tubi.
JLEB!! JLEB!! JLEB!!
Jona yang terlambat membaca mantra pelindung, mau tidak mau menerima serangan Sol dengan cuma-cuma hingga tubuhnya kini dipenuhi dengan luka tusukan pedang.
"Jona!!!" Jerit Juna sambil menghampiri kakak kembarnya itu dengan panik.
Fen segera menghadang Sol untuk memberi waktu bagi Juna untuk menyelamatkan Jona.
"Jona!!" Seru Juna lagi.
"Si.. al.." Lirih Jona. "Chier.. memang mengkhianati.. kita!!"
"Jona! Kau harus diobati!!" Seru Juna panik.
"Tidak.. Juna.. kau harus.. melindungi Aram.." Tegas Jona.
"Tapi—"
BUUMM!!!!
Tiba-tiba saja sebuah kepulan asap hitam muncul dengan dentuman keras, membuat semua mata langsung tertuju ke sumber suara. Dari kepulan asap hitam itu, muncul sosok Aram yang terlihat begitu marah. Matanya masih mengeluarkan air mata tanpa henti.
"ACHROMOSS!!!!" Seru Aram.
Dengan secepat kilat, tiba-tiba saja Aram sudah berada di hadapan Achromos, membuat Achromos nyaris tidak bisa melakukan apa pun. Baru saja pedang Aram hendak menembus jantung Achromos, tangan Aram berhenti bergerak. Ia tidak melanjutkan serangannya dan mematung tanpa suara. Achromos—yang terkejut hingga lupa menarik napas—langsung bernapas lega meski jantungnya masih berderu cepat. Lalu tiba-tiba saja, kepulan asap hitam kembali muncul di ruangan itu.
"ARAM!!" Seru Chlari dengan tangan memegang pisau yang ia todongkan ke leher Chroma. Aram yang masih mematung langsung menengok dengan cepat.
"Chier??" Pekik Aram kaget. "Kenapa kau—?"
"Aku yang membunuh Shienna." Ujar Chlari.
"CHIERR!!!!" Seru Jona dengan geram.
"Chlari??" Gumam Achromos.
"Pangeran Chlari?!" Seru anggota Sol.
"Kalau kau tidak mau aku membunuh Chroma, katakan padaku saat ini juga, apa tujuanmu yang sebenarnya?" Tanya Chlari.
"Chier..." Aram yang biasanya menyeringai itu kini menatap Chlari penuh amarah. Semua anggota Schatten, termasuk Chlari sendiri, sangat tahu bagaimana Aram ketika marah. Apa lagi saat ini Aram memiliki kekuatan Xerra. Tidak bisa dibayangkan sebesar apa kekuatan yang akan ia keluarkan.
"Chlari, lepaskan Chroma!!" Seru Achromos sambil menatap Chlari dengan tajam.
"Jawab aku, Aram." Tegas Chlari tanpa menghiraukan Achromos. Ia menekan pisau di tangannya hingga sedikit darah mengalir di leher kurus Chroma.
Keheningan mencekam langsung mengisi seluruh ruangan. Udara di sekitar terasa begitu berat. Aura membunuh Aram yang berwarna hitam pekat kini menyeruak menyelimuti tubuhnya, membuat setiap orang yang ada di sana bergidik ngeri.
"Chier.. kau membuatku marah." Ujar Aram pelan dan datar. Namun seisi ruangan tahu sesuatu yang berbahaya sebentar lagi akan terjadi. Chlari menelan ludahnya dengan sekuat tenaga. Ia bisa membayangkan apa yang akan terjadi sesaat lagi.
"Kak Achro!!" Bisik Cain panik. "Kakak.. harus selamatkan Kak Chlar!!"
"Apa maksudmu, Cain??" Bisik Achromos. "Dia pembunuh ibuku yang sedang menodongkan pisaunya ke leher Chroma!"
Cain segera menggelengkan kepalanya dengan kuat.
"Kakak.. salah!! Kak Chlar.. bukan orang jahat! Kak Chlar.. melakukan ini semua untuk.."
__ADS_1
"menyelamatkan.. Kak Achro!"
———