Chroma & Achromos

Chroma & Achromos
Chapter 5: Sudden Attack


__ADS_3

Suara lesatan terdengar menggema di ruangan yang hening. Semua mata langsung tertuju pada Chroma yang masih berdiri di depan altar. Achromos menatap Chroma dengan terkejut. Gaun putih Chroma pelan-pelan dinodai oleh warna merah yang semakin tersebar. Cairan pekat itu kemudian menetes ke lantai—menciptakan bercak-bercak merah di atas lantai marmer seputih kapas itu.


Sebuah panah menancap di perut Chroma dan menembus hingga ke punggungnya. Chroma menatap Achromos dengan wajah tidak percaya. Ia tidak pernah selengah itu sampai-sampai dirinya terluka oleh serangan mendadak seseorang. Ia langsung tahu bahwa orang yang menyerangnya bukanlah orang biasa. Chroma lalu memegang perutnya erat-erat dan dari sudut bibirnya darah juga mulai mengalir. Beberapa detik kemudian, ia mulai kehilangan keseimbangannya.


"Jane!" Seru Achromos sambil menopang tubuh mungil Chroma dengan hati-hati dan membuatnya duduk di dalam rengkuhannya, Raja Braz dan beberapa pengawal segera lari menghampiri Achromos.


"Keparat!!" Seru Achromos.


Achromos menatap sekelilingnya dengan tatapan penuh amarah, mencoba menerka-nerka dari mana asalnya panah itu. Namun yang ia lihat saat itu hanyalah seluruh tamu undangan yang berteriak ketakutan. Mereka semua berhamburan ingin keluar dari dalam gedung. Beberapa ada yang sampai terjatuh dan terinjak-injak. Keadaan di hadapannya begitu kacau sehingga sangat tidak mungkin baginya untuk mencari orang yang melakukannya.


"SIAPA YANG MELAKUKANNYA???!!" Teriakan Achromos menggema di gedung luas itu, membuat semua orang yang sedang sibuk melarikan diri terhenti. Mereka langsung menundukkan kepala mereka dengan takut. Raja kegelapan itu menatap semua orang dengan penuh kebencian.


"Jika aku berhasil menemukan siapa pun yang melakukan hal ini, aku akan mengulitinya dan memenggal kepalanya." Ujarnya sambil menatap mereka semua dengan tajam. Seluruh tamu undangan langsung bergidik melihat Achromos. Mereka semua kembali panik dan berebut keluar dari dalam gedung.


"Jane." Panggil Achromos sambil kembali menatap Chroma yang sudah terlihat pucat di dalam rengkuhannya. Chroma menatap ke arah Achromos sambil memicingkan matanya. Pandangannya mulai kabur dan ia mulai merasakan kesadarannya semakin menipis.


"Di mana dokternya?!" Seru Achromos pada pengawal dan pelayan yang ada di sana. Tangannya lalu tiba-tiba digenggam erat oleh Chroma. Achromos menengok kembali pada gadis itu.


"Jane?" tanya Achromos.


"Ash.." Bisik Chroma pelan. Achromos langsung terdiam mendengar ucapan Chroma.


Siapa.. Ash? Batinnya.


"Ash.." Bisik Chroma lagi. "Ash.. jangan pergi."

__ADS_1


Achromos menangkap tetesan air mata yang keluar dari mata Chroma. Achromos tercenung. Chroma yang biasanya terlihat kuat itu saat ini terlihat begitu rapuh hingga menitikkan air mata. Tanpa sadar Achromos merengkuh tubuh mungil Chroma dan menggendongnya.


"Mana dokternya??!" Seru Achromos.


"Maaf, Yang Mulia. Dokter kerajaan sedang pergi ke tempat Yang Mulia Chlari di kastil timur. Kami sudah memanggilnya ke sini." Ujar salah seorang pelayan.


"Ck! Tidak berguna!" Achromos segera berlari sambil menggendong Chroma ke kastil timur. Selama ini, ia tidak pernah mau pergi ke kastil timur karena Chlari di tempatkan di sana, tapi kali ini ia sudah tidak peduli lagi. Di dalam pikirannya, yang terpenting adalah menyelamatkan Chroma yang wajahnya terlihat semakin pucat pasi.


"Jangan mati.. Jangan mati.." Bisik Achromos berusaha menahan gejolak di dalam hatinya yang menderu.


Samar-samar—di sisa-sisa kesadarannya—Chroma bisa melihat wajah Achromos yang terlihat panik.


Achro.. mos? Batinnya. Setelah itu, seluruh pandangan Chroma menjadi gelap gulita.


•••


Atau jangan-jangan orang itu mengincar dirinya tapi meleset? Tidak bisa dipungkiri, Achromos yang dijuluki sebagai Raja Kegelapan memang memiliki banyak sekali musuh. Bahkan di dalam Kerajaan Chraz sendiri, Achromos sudah beberapa kali menemukan orang yang mencoba membunuhnya. Lagi pula, Achromos berpikir Jane tidak mungkin diincar. Jane adalah putri Kerajaan Hecca yang tidak terlalu mencolok—ia tidak pernah melakukan hal-hal yang bisa membuatnya diincar Jadi mungkin saja pembunuh itu sebenarnya mengincar nyawa Achromos, namun di tengah keramaian itu ia tidak sengaja meleset.


Kalau benar ini salahku... ak**u... Batin Achromos.


Ia lalu segera menggelengkan kepalanya. Ia tidak perlu memikirkan orang lain. Ia tidak salah. Kalaupun memang pembunuh itu meleset dan tidak sengaja mengenai Chroma, itu semua bukan salahnya. Berulang kali Achromos mengulang-ulang hal itu di dalam pikirannya. Ia lalu segera bangkit dan keluar dari ruangan, meninggalkan Chroma yang masih tergeletak lemah.


Aku tidak perlu memikirkan orang lain. Hal itu hanya akan membuatku tersiksa. Pikirnya sambil melangkah dengan cepat.


"Achromos?"

__ADS_1


Sebuah suara membuat langkah Achromos terhenti. Ia tahu suara itu berasal dari belakangnya, namun ia tidak menengok atau pun berbalik. Di dalam hati ia mengumpat karena keberuntungannya sangat jelek hari ini.


Suara langkah kaki terdengar mendekat pelan dari belakangnya, lalu sosok laki-laki kurus dengan rambut hitam yang terlihat pucat muncul dan berhenti di hadapan Achromos.


"Achromos." Ujarnya sambil tersenyum.


Achromos mengepalkan tangannya erat-erat, ingin segera angkat kaki dari tempatnya berdiri. Kalau saja bisa, ia bahkan ingin mengurung orang di hadapannya di dalam penjara dan menyiksanya pelan-pelan.


"Kakak." Jawab Achromos dingin.


"Sudah lama sekali kita tidak bertemu, Achromos." Ujar Chlari sambil tersenyum. Achromos hanya terdiam tanpa menanggapinya. Bahkan menatap wajahnya pun ia enggan.


"Yang ada di kamar itu.. istrimu? Tadi dokter Ghoz dengan panik berlari karena katanya istrimu diserang oleh seseorang." tanya Chlari.


"Kau.. lagi-lagi gagal melindungi orang yang seharusnya kau lindungi, ya." Ujar Chlari sambil masih tetap tersenyum.


Jantung Achromos langsung berdegup kencang mendengarnya. Ia langsung teringat dengan wajah ibunya sesaat sebelum dipenggal. Kepingan-kepingan memori yang sangat ingin ia kupakan kembali berkelebat di dalam kepalanya. Ia menggeretakkan giginya karena amarah yang begitu meluap.


"Tutup mulutmu! Itu semua bukan urusanmu!" Seru Achromos sambil menggenggam leher Chlari dengan kencang.


Chlari tebatuk hebat dan mulai kehilangan napasnya. Baru setelah itu, Achromos segera melepaskan genggamannya dan menjatuhkan tubuh kurus Chlari ke lantai. Ia menatap Chlari dengan penuh kebencian lalu melangkah pergi dari tempat itu.


Chlari memegang lehernya yang terasa berdenyut nyeri dengan jemarinya yang kurus. Ia menatap punggung Achromos yang semakin menjauh dengan tatapan yang tidak bisa dibaca.


"Adik yang tidak penurut." Gumam Chlari sambil tetap menyunggingkan senyum yang sama.

__ADS_1


———


__ADS_2