Chroma & Achromos

Chroma & Achromos
Chapter 22: Death


__ADS_3

Tidak ada yang bisa membayangkan betapa terkejutnya Cain begitu ia melihat sosok Chlari berada di antara kawanan berjubah hitam yang tidak lain adalah Schatten. Ada berbagai spekulasi yang muncul di otaknya secara spontan. Ia memang sudah mencurigai gerak-gerik Chlari yang mencurigakan, namun ia tidak menyangka Chlari merupakan bagian dari Schatten.


Beberapa saat setelah semua orang yang ada di sana masuk ke dalam ruangan dengan pintu yang dibiarkan terbuka, Cain menyadari dirinya terjebak. Ia kembali memikirkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi setelah ini: ia akan disiksa, mati, atau disiksa sampai mati.


Tubuhnya langsung menegang begitu suara derap langkah mulai terdengar mendekatinya. Ada seseorang yang menyadari keberadaannya. Dengan segenap hati Cain menahan napasnya hingga sesak luar biasa dan mulai melangkah sesunyi yang ia bisa. Jantungnya berpacu dengan cepat dan bulir-bulir peluh mulai berjatuhan dari wajahnya.


Setiap langkah yang ia ambil terasa begitu berat dan menegangkan. Entah sudah berapa jauh ia berjalan dari posisinya tadi, namun ia masih bisa mendengar suara derap langkah yang tidak juga meredup.


Langkahnya langsung terhenti seketika begitu melihat dinding kokoh di hadapannya. Ia menelan ludahnya dengan sulit dan langsung membalikkan badannya dengan napas tertahan. Tidak ada yang bisa ia lakukan. Ia akan disiksa, mati, atau disiksa sampai mati.


Begitu si pemilik langkah tiba di hadapan Cain, ia langsung melebarkan matanya.


"Kak Chlar.." Ujar Cain.


"Cain.. Kenapa kau ada di sini?" Tanya Chlari dengan suara berbisik dan wajah yang sedikit cemas.


"Kenapa.. Kak Chlar ada di sini?" Balas Cain.


"Dengarkan aku, Cain. Kau harus percaya padaku dan turuti saja perkataanku. Aku bersumpah akan mengeluarkanmu dari sini. Tapi untuk itu, aku harus menyakitimu." Ujar Chlari dengan terburu-buru.


Tanpa menunggu reaksi dari Cain, Chlari langsung menyayatkan pedangnya ke perut Cain lalu meninju wajah dan tubuhnya dengan keras. Cain langsung jatuh tersungkur ke lantai dan mengerang kesakitan. Chlari kemudian menyayatkan pedang ke beberapa bagian tubuh Cain dan tubuhnya agar mereka terlihat bertarung dengan sungguh-sungguh. Ia juga menyayatkan pedangnya ke beberapa tempat di tubuhnya agar goresan-goresan tercipta di sana.


Setelah membunyikan pedang selama beberapa menit, Chlari membopong tubuh Cain yang bersimbah darah dengan perlahan lalu membawanya ke tempat anggota Schatten yang lain.


Saat itu, di dalam otak Chlari mulai tersusun rencana yang akan ia lakukan untuk mengeluarkan Cain dari tempat terkutuk itu.


•••


Cain berusaha mempertahankan kesadarannya dengan susah payah setelah dirinya tergantung dengan kedua tangan terikat rantai dan disiksa semalaman. Sekujur tubuhnya terasa nyeri luar biasa dan tetesan darah menetes pelan dari luka di perutnya.


Kak Chlar.. tidak kenal ampun.. Dia.. Menyayatku dan menyiksaku tanpa ragu.. Batin Cain.


Ia lalu kembali menatap sosok laki-laki—yang ia duga sedang menjaganya—tengah duduk sambil memasang wajah datar. Tak berapa lama laki-laki itu kemudian melangkah pergi dari ruangan setelah terlihat berbicara pada sebuah lingkaran hijau yang melayang di depan wajahnya.


Cain mendesah begitu ia merasa sedikit lega laki-laki itu pergi. Ia lalu kembali teringat dengan Achromos. Entah kenapa firasatnya buruk. Ia sangat ingin pulang. Andai saja ia bisa berteleportasi ke Chraz, atau bertelepati dengan Achromos.


"Kak Achro.." Lirihnya miris.


Selang beberapa menit, Chlari muncul dari balik pintu. Ia menatap Cain yang terlihat mengenaskan dengan tatapan tak bisa ditebak. Cain balas menatap Chlari sambil setengah mati mencoba untuk tetap sadar. Matanya terasa begitu berat dan seluruh tubuhnya begitu nyeri.


"Kak.. Chlar.." Lirihnya pelan.


Chlari langsung menempatkan telunjuknya di depan bibir, mengisyaratkan agar Cain tidak bersuara.


"Diamlah, Cain." Bisiknya sambil tersenyum. "Sebentar lagi akan dimulai."


"Apa?" Tanya Cain meminta penjelasan.


"Aku akan mengeluarkanmu dari sini. Aku sudah mengatakan sesuatu pada Aram, dia tidak akan membunuhmu. Aku juga akan menyelamatkan Achromos."


"Kak.. Achro?" Tanya Cain lagi.


Raut wajah Chlari langsung berubah menjadi serius. Senyumannya langsung surut seketika. "Achromos dalam bahaya, Cain."


Cain langsung mengerutkan alisnya karena tidak mengerti.


"Rencanaku akan berjalan lancar jika kau mau bekerja sama denganku." Tambah Chlari. "Achromos akan mati jika kita tidak melakukan sesuatu."


"Mati..?" Alis Cain tambah berkerut mendengarnya.


"Chroma sangat berbahaya, Cain. Jauh lebih berbahaya daripada seluruh anggota Schatten dijadikan satu. Jika semuanya dibiarkan, akan sangat berbahaya."


"Aku.. tidak mengerti.." Cain menggelengkan kepalanya dengan heran, nyaris tidak mampu mencerna seluruh perkataan Chlari. Apa lagi kesadarannya yang sudah nyaris hilang membuatnya sulit berpikir.


"Kau pasti sudah tahu Xerra, kan?"


Cain langsung membeku mendengar kata itu. Ya, seluruh hal yang terjadi berkaitan erat dengan Xerra, dan juga Chroma. Misi awal Cain adalah untuk menyelidiki asal-usul Chroma begitu Achromos menemukan sebuah buku kuno yang menceritakan sebuah klan yang telah punah dengan ciri-ciri yang sama persis seperti Chroma: berambut perak dan bermata emas. Meski saat itu Achromos belum dapat memastikan siapa Chroma, namun bola mata emasnya tidak bisa disangkal. Itu adalah warna mata yang tidak pernah ia temukan. Dan yang paling membuat Achromos terkejut adalah: lambang dari klan itu adalah sebuah lambang mandala yang sama persis dengan lambang Schatten. Hal ini membuat banyak pertanyaan muncul di benak Achromos, hingga akhirnya ia meminta Cain untuk menyelidikinya. Setelah Cain menyelidiki berbagai macam buku, dokumen, dan pergi ke berbagai tempat, Cain menemukan sesuatu.


Xerra. Sebuah kekuatan misterius yang hanya dimiliki oleh salah satu anggota klan tersebut. Dan entah kenapa, orang itu adalah Chroma.


"Xerra berada di dalam tubuh Chroma. Tapi bukan itu masalahnya. Jika semuanya terulang kembali, Achromos akan mati." Ujar Chlari. Mata hitamnya menatap bola mata biru Cain dalam-dalam. "Cain, aku ingin kau bersumpah untuk menyelamatkan Achromos jika terjadi sesuatu padaku."


Belum sempat Chlari menjelaskan semuanya, suara langkah kaki membuat keduanya membisu seketika. Chlari mengisyaratkan agar Cain berpura-pura tak sadarkan diri dan Cain menurutinya dengan segera.


Setelah itu, Shienna muncul dengan tampang malas dan menatap Chlari dengan penuh selidik.


"Bisa-bisanya kau memerintahkanku untuk melakukan ini semua." Protesnya sebal.


"Oh, ayolah. Aku hanya ingin kau mengendalikannya agar tenaga serang kita bertambah. Lumayan, kan?" Ujar Chlari sambil tersenyum.


"Apa gunanya mengendalikan orang yang sudah sekarat untuk dijadikan tenaga serang? Paling-paling satu menit kemudian dia mati." Gerutu Shienna sambil menciptakan lingkaran sihir berwarna biru laut.


"Kalau begitu, sembuhkan saja dia." Kata Chlari simpul. "Biar aku yang sembuhkan."


Lagi, Shienna menatap Chlari penuh selidik. Namun ia malas memikirkannya karena sedang berkonsentrasi pada mantra pengendali yang cukup sulit dilakukan.

__ADS_1


Saat itu Chlari tidak menduga kedatangan Achromos yang begitu cepat dan tiba-tiba akan menghancurkan rencananya menyelamatkan Cain dan Achromos.


•••


Suara hujan yang turun dengan cukup deras terdengar berderu samar dari dalam ruangan. Suhu di ruangan gelap itu begitu dingin dengan udara yang semakin lembap karena tetesan air hujan yang merembes melalui sela-sela batu. Aram masih terdiam sambil memperlihatkan tatapan penuh amarah pada Chlari, dan Chlari meneguk ludahnya dengan gelisah. Ia tahu ini sangat amat berisiko, namun hanya ini yang bisa ia lakukan untuk mengetahui tujuan Aram sebenarnya. Aram mengetahui Xerra jauh lebih baik dibanding dirinya. Mungkin saja ada sesuatu yang bisa ia lakukan untuk menyelamatkan Achromos. Tiga belas tahun ia mengenali Aram membuatnya sangat tahu Chroma adalah sosok yang begitu penting bagi Aram. Selama ini ia berpikir itu karena Xerra yang ada di tubuh Chroma. Tapi sepertinya bukan hanya itu. Buktinya saat ini Aram murka padanya. Jika memang Xerra yang menjadi tujuan Aram, bukankah Chroma telah menjadi pion yang tak berguna? Chlari mempertaruhkan segalanya dan memutuskan untuk berpikir bahwa bukan hanya Xerra yang diincar Aram. Dan hal itu bersangkutan dengan Achromos.


Hingga akhirnya—setelah berpikir cukup lama—ia memutuskan untuk melakukan sesuatu yang sangat ekstrem. Jika ia mendapatkan jawaban dari Aram, ia akan membunuh Chroma. Jika ia tidak mendapatkan jawaban dari Aram, ia akan tetap membunuh Chroma sebelum Aram membunuhnya. Tapi saat ini ia yakin kemungkinan kedua yang akan terjadi.


"Jawab aku Aram." Ujar Chlari dengan tenggorokan yang begitu perih. Ia masih berusaha untuk memutar keadaan, berharap Aram mau menjawabnya dengan patuh.


Sementara itu, Cain yang merasa itu adalah kesempatan berharga baginya dengan sigap mengeluarkan pedangnya. Baru saja ia akan melangkah, Achromos segera menahan tangannya.


"Apa yang akan kau lakukan??" Bisik Achromos panik. Ia tidak mau Cain menambah runyam masalah yang sudah rumit itu.


"Aku.. akan menolong Kak Chlar!" Balas Cain. Ia segera menampis tangan Achromos lalu melesat menghampiri Aram dengan kecepatan tinggi.


Tanpa basa-basi—dengan serangan yang begitu cepat hingga nyaris tak terlihat oleh mata—Cain menghunuskan pedangnya tepat ke jantung Aram. Seluruh pasang mata langsung menatap kejadian itu dengan terkejut. Akurasi dan kecepatan Cain benar-benar luar biasa.


"Cain!" Seru Achromos.


Cain melepaskan pedangnya dengan kasar lalu menatap mata Aram lekat-lekat dengan napas yang memburu. Entah kenapa ia merasa gelisah. Ada sesuatu yang tidak beres dari ekspresi Aram. Padahal jelas-jelas pedang di tangannya telah menembus tubuh Aram, dan darah segar mengalir dari sana. Apa lagi ia menusuknya tepat di jantung. Bukankah seharusnya Aram sudah tewas saat ini?


"Apa.. yang kau lakukan?" Ucap Aram pelan.


Cain melangkah mundur ke belakang, merasakan adanya bahaya. Aram lalu mendongak dan menatap Cain dengan bola mata merahnya yang sepekat darah. Tidak ada kilatan amarah atau emosi apa pun di sana. Tapi Cain tahu sesuatu yang buruk akan terjadi.


Dengan segera, Chlari langsung melepaskan Chroma dan berlari menghadang Aram. Ia juga menyadari ada sesuatu yang aneh dengan Aram dan Cain sedang dalam bahaya besar.


Hanya berselang sepersekian detik setelah Chlari berdiri di hadapan Cain, tiba-tiba saja semburan darah memuncrat dari mulutnya. Semua orang tertegun karena tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Chlari langsung terbatuk keras dan terjerembab ke tanah.


"Kak.. Chlar.." Ujar Cain tak percaya. Ia langsung berlutut di sebelah Chlari.


Dari dada kiri Chlari, darah mengalir begitu saja—membuat genangan merah yang luas di sekitar tubuhnya. Napasnya terlihat tersengal-sengal dan pandangannya mulai kabur.


"Chlari!" Achromos segera berlari menghampiri Chlari dan ikut duduk di sebelahnya.


"Apa.. yang terjadi?" Ucap Ruu tak percaya.


"Kak.. Chlar.." Cain terisak sambil menatap Chlari yang sudah tak berdaya.


"Fuu! Cepat obati dia!!" Seru Achromos. Fuu yang tertegun langsung tersentak dan tergopoh-gopoh menghampiri mereka. Dengan panik tangannya mulai menekan kain dari bajunya yang ia letakkan di atas dada Chlari untuk menghentikan darah yang mengalir deras.


"Maaf..kan.. aku.. Cain.. Achromos.." Ucap Chlari.


"Kenapa kau minta maaf?!" Protes Achromos. "Jelaskan semua yang kau sembunyikan padaku!"


"Achromos.. di kamarku.. di laci mejaku.. ada buku.. yang harus kau baca.." Ujar Chlari dengan susah payah. Ia mengeluarkan sebuah kunci dari kantung bajunya dan memberikannya pada Achromos.


"Jangan dulu bicara, Pangeran Chlari!" Seru Fuu sambil terus berusaha menghentikan pendarahan yang terus terjadi.


"Maafkan.. aku.. karena tidak.. bisa.. menjadi kakak.. yang baik.." Ujar Chlari lagi. "Maafkan.. aku.. karena tidak bisa.. menyelamatkan.. Ibunda.."


"Menyelamatkan Ibunda?" Achromos terbelalak kaget mendengar ucapan Chlari. Kepalanya menggeleng dengan pelan. "Aku tidak mengerti."


Chlari hanya tersenyum sambil menatap Achromos dan Cain dengan sendu. Chlari sering sekali mengkhayal, bagaimana jika mereka bertiga hanyalah orang biasa, kakak-adik biasa, di rumah biasa, dengan orang tua biasa? Akankah semua tragedi yang telah terjadi tidak ada di hidup mereka? Mungkin saat ini mereka sedang bekerja di ladang bersama, atau mengobrol santai di padang rumput. Mungkin ayah dan ibunya bisa hidup dengan harmonis. Mungkin Achromos akan sulit mendapatkan kekasih karena sikapnya yang dingin. Mungkin Cain akan sering diberi coklat oleh nenek di sebelah rumah karena sikapnya yang menggemaskan. Mungkin Chlari akan tertawa begitu melihat keduanya. Mungkin..


Mungkin ini bukan waktu bagi dirinya untuk bahagia. Ia tahu itu semua hanyalah khayalan belaka. Tapi.. apa ia salah jika ia berharap seperti itu?


Andai saja..


Andai saja..


semua harapan di dunia ini akan terkabul..


Pasti aku akan mendoakan kebahagiaan Achromos dan Cain setiap hari..


Pasti aku akan berdoa Ibunda kembali hidup dan menemani kami..


Pasti aku akan berdoa Ayahanda berubah menjadi ayah yang baik..


Aah..


Apa aku.. akan mati?


Andai saja aku masih punya waktu..


Padahal.. aku ingin menjadi kakak yang baik untuk Achromos dan Cain..


Tapi pada akhirnya.. aku gagal menyelamatkan mereka..


"Maafkan aku.. Achromos.. Cain.."


Selamat tinggal..


Dengan suara yang nyaris hilang, Chlari mengucapkan kata yang kemudian terhenti begitu saja. Matanya kemudian terpejam rapat dengan air mata yang menetes ke pipinya.

__ADS_1


"Chlari?" Panggil Achromos. "Chlari!! Chlari!!!"


Fuu yang tadinya masih menekan luka Chlari menarik tangannya perlahan. Ia menunduk menatap pangeran pertama Kerajaan Chraz yang telah menutup mata itu dengan sendu.


"Kak.. Chlar.." Isak Cain. "Ini semua.. salahku.."


"Apa-apaan kau, Chlari!" Protes Achromos sambil mengguncang-guncang bahu Chlari dengan keras. "Kenapa kau menutup matamu?? Kenapa kau tidak mengatakan apa pun?? Kenapa kau tidak memberi tahuku?? Selama ini kau tidak pernah bersikap sebagai kakak!! Kenapa baru sekarang???"


Achromos terdiam sambil mengatur napasnya yang memburu. Ia lalu melepaskan bahu Chlari dengan lemas.


"Kenapa kau.. menanggung semuanya sendirian?" Suara Achromos langsung tercekat begitu air mata menetes dari bola matanya.


Selama ini, ia begitu membenci Chlari. Tidak pernah satu kali pun ia menganggap Chlari sebagai kakak. Ia bahkan bersumpah akan membunuhnya suatu hari nanti. Saat Cain mengatakan bahwa Chlari melakukan ini semua demi menyelamatkannya, Achromos tidak percaya begitu saja. Ia merasa sangsi Chlari benar-benar berniat untuk menyelamatkannya. Ia berpikir bahwa Chlari memanfaatkan ketulusan hati Cain dan menipunya. Tapi saat ini, hatinya terasa seperti ditusuk seribu pedang, dipukul dengan batu, dan diremas hingga hancur. Tangannya langsung menggengam dadanya dengan erat. Rasa sakit yang ia rasakan begitu meluap-luap hingga ia ingin menjerit sekencang-kencangnya.


"Ahaha.. Ahahaha.. AHAHAHAHAHAHA!!" Aram tebahak dengan keras sambil memegang dada kirinya yang kini tak terluka sedikit pun. Tawa yang menggema begitu kontradiktif dengan air mata yang bergulir di pipinya. Tangannya sudah kembali menggendong tubuh Chroma—yang dibiarkan tergeletak begitu saja—dengan erat. Seluruh mata langsung kembali terfokus padanya.


"Kalian tidak akan bisa membunuhku, sayang sekali." Katanya sambil menyeringai senang. "Aku tidak bisa mati."


Saat itu juga, Achromos bangkit lalu melesat dan menghunuskan pedangnya pada Aram. Matanya menunjukkan kobaran amarah dan kebencian yang begitu besar. Ia berhasil menusuk jantung Aram dengan pedangnya lalu mencabutnya dengan binal.


Namun seluruh pasang mata kembali dikejutkan dengan apa yang terjadi satu detik setelah itu.


•••


"Astheri akashri arba."


Sebuah bisikan terdengar begitu jelas di telinga Chroma, membuatnya mulai tersadar.


Gelap...


Apa yang sebenarnya terjadi?


Aku di mana?


Kenapa aku tidak bisa melihat apa pun?


Apa aku... mati?


Mata Chroma yang terpejam mulai mengerjap-ngerjap pelan. Setitik sinar samar mulai bisa ia lihat. Ia juga mulai bisa merasakan sakit luar biasa yang menyebar cepat di sekujur tubuhnya, membuatnya sangat percaya dirinya belum mati.


Saat Chroma akhirnya bisa membuka mata dengan lebar, ia menangkap banyak sosok yang tengah terdiam tanpa suara. Tepat di hadapannya, Achromos berdiri dengan pedang di tangannya. Matanya terbuka lebar dan dari mulutnya cairan merah pekat menetes.


"Achro.. mos..?" Ucap Chroma pelan.


Sesaat sebelum terjatuh ke lantai, Achromos sempat menatap Chroma untuk sekejap. Ketika tubuh tegapnya beradu dengan lantai, barulah Chroma tersadar sepenuhnya mengenai apa yang terjadi.


"Achromos!!" Pekik Chroma kaget.


Ketika ia akhirnya menyadari dirinya sedang digendong oleh seseorang, ia langsung mendongak dan mendapati wajah Aram yang tengah menyeringai dengan mata yang basah.


"Wah, kau sudah sadar rupanya, Chroma-ku sayang." Ujar Aram sambil mengecup kepala Chroma. "Aku sedang berduka saat ini. Apa kau tidak mau menghiburku?"


Entah perasaan apa yang dirasakan Chroma saat ini. Ia sudah tidak tahu lagi. Apa lagi ia kemudian menyadari tubuh Chlari yang juga tergeletak bersimbah darah dan Cain yang mematung terkejut dengan air mata yang terus mengalir.


"Apa.. yang telah kau lakukan?" Ujar Chroma pelan.


Aram hanya tersenyum dan hanya mengedikkan bahunya.


"Entahlah. Sedari tadi aku hanya diam tanpa melakukan apa pun." Ujarnya santai.


Chroma menatap bola mata Aram dengan tatapan tak bisa ditebak.


Aram tersenyum tipis, seolah-olah tahu apa yang ada di dalam pikiran Chroma saat ini. Ia lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Chroma dan berbisik, "Lakukan saja."


Lagi-lagi, tak ada yang tahu pasti apa yang terjadi, namun Aram langsung terjerembab ke lantai, membuat Chroma melompat dan berdiri di sebelahnya.


"ARAM!!" Seru Juna, Jona, dan Fen bersamaan. Mereka bergegas menghampiri Aram dengan susah payah karena harus membonpong Jona yang terluka.


Chroma—yang entah kenapa tangannya berlumuran darah—menatap Aram dengan tatapan kosong. Gaun putihnya kini bercorak merah pekat. Aram balas menatapnya sambil tersenyum. Napasnya tersengal-sengal dan tubuhnya berdarah.


Perlahan, sinar keperakan muncul menyelimuti tubuh Aram. Chroma yang kembali tersadar langsung melangkah mundur dan menengok ke arah Achromos.


"Achromos!!!" Serunya sambil berlutut di lantai. Tangannya langsung mengepal erat tangan Achromos yang tak bertenaga.


"Chroma.." Ujar Achromos.


Belum sempat Chroma mengatakan sesuatu lagi, tiba-tiba saja tubuhnya tertarik ke cahaya keperakan yang kini telah berubah menjadi pilar cahaya. Tangan Achromos terjulur, berusaha mencapai tubuh Chroma yang kini telah masuk ke dalam pilar cahaya itu.


"Chroma!" Seru Achromos. Ia berdecak karena tubuhnya tak bisa bergerak.


"Apa yang terjadi??" Seru Chroma panik. Ia nyaris tidak bisa melihat apa pun di sana.


Begitu seluruh pandangan Chroma telah tertutup cahaya, Chroma kemudian melihat sesuatu yang begitu mengejutkan.


Sesuatu yang akan mengubah seluruh pandangannya mengenai semua hal yang telah terjadi.

__ADS_1


———


__ADS_2