Chroma & Achromos

Chroma & Achromos
Chapter 25: Wounded Heart


__ADS_3

"KENAPA KALIAN TIDAK MELIHATNYA???"


Suara Achromos terdengar menggelegar di tengah ruangan kerjanya itu. Beberapa pengawal dan ksatria kerajaan berdiri dengan kepala tertunduk di hadapan raja yang tengah murka itu.


"Maafkan kami, Achromos. Kami sama sekali tidak menyadari kepergian Nona Chroma. Nona Chroma memang pantas disebut rubah karena bisa melenggang pergi tanpa terdeteksi." Ujar Ruu mencoba membela anak buahnya.


Achromos hanya menanggapi perkataan Ruu dengan menendang meja kerjanya. Ia merasa begitu frustrasi. Ia nyaris tidak tidur karena harus mengurusi pekerjaannya yang terbengkalai karena pergi menyelamatkan Chroma dan mengurusi minggu duka yang masih berlangsung karena kepergian Chlari. Ditambah ia juga tak bisa melepaskan pikirannya dari Chroma. Apa lagi ia tidak dibantu oleh Cain yang sekarang selalu mengurung diri di kamarnya.


"Pergi kalian! Cari Chroma sampai ketemu!" Seru Achromos dengan nada suara yang mulai merendah.


Para pengawal dan ksatria itu kemudian memberi hormat dan meninggalkan ruangan dengan segera.


Achromos bergegas membanting tubuhnya ke atas sofa lalu menghela napas dengan panjang. Ia mengusap kedua pelipisnya yang terasa pening sambil memejamkan mata. Tubuhnya terasa lemas dan tak berdaya. Ia merasa begitu putus asa. Ia kira setelah urusan dengan Schatten selesai, maka semuanya akan menjadi lebih baik. Tapi kenyataan yang terjadi justru sebaliknya.


"Oi, raja malas."


Sebuah suara membuat Achromos membuka mata dan segera mengerutkan alisnya dengan kesal.


"Sudah puas liburan?" Sindir Achromos.


Braz terkekeh lalu menghampiri Achromos yang terlihat begitu enggan berurusan dengannya.


"Tega sekali kau tidak memberitahuku Chlari meninggal." Ujar Braz.


"Apa pedulimu?" Balas Achromos.


"Hei, Chlari adalah anakku yang kuselamatkan nyawanya dari perempuan busuk itu! Kau kira aku tidak akan peduli?"


Achromos segera bangkit dan menatap Braz dengan heran. "Apa maksudmu?"


"Memangnya aku tidak pernah memberitahumu, ya? Ibumu itu perempuan licik yang ingin melenyapkan Chlari dengan meminumkannya racun hingga anak itu sakit-sakitan. Akhirnya anak itu harus merelakan tahtanya pada raja bodoh sepertimu." Braz hanya menggelengkan kepalanya lalu duduk di atas meja kerja Achromos dengan brutal—membuat hampir semua dokumen yang terletak di atas sana berserakan di lantai.


"Jangan bercanda!" Sanggah Achromos geram. Matanya berkilat-kilat penuh amarah. "Mana mungkin kau yang haus darah menyelamatkan nyawa Chlari!"


"Hm.. Terserah padamu mau percaya atau tidak, aku tidak peduli." Braz menggoyang-goyangkan kakinya yang ia silangkan dengan santai. "Tapi, kenapa kau tiba-tiba peduli pada Chlari? Apa yang terjadi selama aku pergi?"


"Salahmu sendiri pergi begitu saja!" Desis Achromos. Kalau saja badannya tidak terasa lemas ia pasti sudah menendang Braz sekuat tenaga.


"Yah, ada benarnya juga. Tapi sayang saja, kukira aku bisa menyaksikan drama mengharukan yang membuatmu tidak membenci Chlari lagi."


Achromos langsung menggeretakkan giginya dengan geram dan melemparkan tinjunya ke wajah Braz secepat kilat, namun Braz dengan mudahnya menahan tinju itu dengan satu tangan.

__ADS_1


"Jangan kurang ajar kau, Braz!!!" Seru Achromos.


"Achromos, kau terlalu naif. Kalau terus seperti ini Chraz akan hancur berkeping-keping di tanganmu. Hanya karena Chlari mati dan perempuan itu pergi, kau langsung kehilangan ketenanganmu." Braz menatap Achromos dengan tatapan begitu serius dan dingin. Suaranya yang berat menggema di telinga Achromos.


"Kau pikir, bagaimana bisa aku baik-baik saja saat mengetahui istriku sendiri mencoba membunuh anakku? Bagaimana bisa aku baik-baik saja mengetahui istriku berselingkuh dengan mata-mata Kerajaan Armea, musuh bebuyutan kita sejak dulu? Bagaimana bisa aku baik-baik saja saat membunuh istriku sendiri dengan tangan ini? Hah?!?!?!" Braz meninju wajah Achromos dengan keras hingga ia tersungkur ke lantai. Achromos memuncratkan sedikit darah dari mulutnya lalu menatap Braz dengan terkejut. Ia tidak pernah melihat Braz hilang kendali. Baru kali ini ia melihat Braz terlihat begitu terluka dan penuh amarah.


"Apa yang kau—" Tenggorokan Achromos tak mampu melanjutkan perkataannya. Ia hanya bisa menatap Braz yang ekspresinya sudah kembali ke sedia kala.


"Kau harus mampu mempimpin Chraz, Achromos. Kau pikir untuk apa aku memberikan tahtaku begitu saja padamu? Tentu bukan untuk melihat kau merengeki kepergian perempuan itu dan kematian Chlari!" Seru Braz sambil melangkah ke luar ruangan, meninggalkan Achromos yang masih belum mampu berkata-kata.


Begitu kakinya menapak di lorong dan tangannya menutup pintu, Braz langsung melangkah dengan goyah. Ia meremas dada kirinya kuat-kuat dan bernapas dengan berat. Dari sudut bibirnya darah merah mengalir.


"Sial! Terkutuk kau, Arlen! Berani-beraninya kau memperalat istriku untuk membunuhku dan Chlari! Aku bersumpah akan membunuhmu, Arlen!" Bisik Braz geram.


Di dalam otaknya, kembali berputar bagaimana Chlari sewaktu kecil. Betapa ia berharap ia bisa menyelamatkan anak sulungnya itu.


"Chlari, maafkan aku.."


Saat itu, sang mantan raja meneteskan air matanya yang tak pernah ia perlihatkan pada siapa pun. Hanya dirinya sendiri yang boleh tahu bahwa Braz, raja yang terkenal kejam dan tak kenal ampun itu, sebenarnya memiliki hati dan tubuh yang begitu rapuh.


•••


"Aram.."


"Chro.. ma?"


Begitu sampai di tempat Aram menghilang, Chroma bertemu dengan Juna. Ia terlihat terkejut melihat kedatangan Chroma yang tiba-tiba.


"Kenapa kau ada di sini??" Tanyanya.


"Juna.. Tolong aku.." Chroma tak lagi kuat menahan isakannya. Ia kini menangis tersedu-sedu, membuat Jona dan Fen ikut muncul karena mendengar tangisannya.


"Chroma??" Seru Jona.


"Maaf..kan.. aku.." Isak Chroma. Ia terus mengatakan maaf pada tiga orang itu dengan begitu pilu.


Juna merangkul bahu Chroma dengan erat dan menariknya masuk. "Duduklah."


"Kenapa kau ke sini??" Tanya Jona. Ia terlihat tidak senang dengan kedatangan Chroma dan sepertinya ingin mengatakan sesuatu jika Fen tidak menghentikannya.


"Aku.. tidak bisa.. hidup.." Ujar Chroma. "Aku tidak.. tahu.. bagaimana.. aku bisa hidup.."

__ADS_1


"Chroma, aku mengerti apa yang kau rasakan," Kata Juna. "tapi kau seharusnya tidak berada di sini. Kau seharusnya berada di sisi Achromos."


Chroma segera menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Aku tidak bisa.. Wajah Aram.. memori tentang Aram.. selalu muncul.. membuatku hancur lebur.."


"Kalau begitu, bagaimana kalau kau ikut dengan kami?" Usul Fen tiba-tiba.


"Fen?? Apa yang kau katakan??" Seru Jona kaget.


"Sebentar lagi kami akan pergi meninggalkan Pulau Xan. Kami akan mencari anggota Klan Artemis yang diselamatkan Aram. Apa kau mau ikut?" Tanya Fen tanpa memedulikan Jona yang terlihat begitu tidak setuju.


"Ar..temis? Klan.. Artemis?" Ucap Chroma pelan.


"Kami ingin melindungi apa yang ingin Aram lindungi, termasuk Klan Artemis dan kau, Chroma." Fen menghampiri Chroma dan mengusap air mata di pipinya. "Bagaimana?"


Chroma terdiam sejenak sebelum kemudian mengangguk pelan.


"Kalau begitu, ayo kita pergi."


•••


Cain menatap lukisan potret wajah Chlari yang ia ambil dari aula istana dengan tatapan kosong. Entah sudah berapa jam ia duduk di dalam kamarnya, hanya mengamati wajah Chlari yang terlihat sendu di lukisan itu di tengah kegelapan. Tanpa beranjak, tanpa bicara, tanpa melakukan apa pun.


Lalu, jam dinding tua yang ada di sudut lorong kamarnya berdentang keras hingga dua belas kali menandakan hari telah berganti.


"Maafkan aku, Kak Chlar.." Bisik Cain di tengah keheningan malam. Air mata menetes dari matanya yang terlihat seperti orang tak bernyawa itu.


"Maafkan aku.. Kak Chlar.."


"Maafkan aku.."


"Maafkan aku.."


"Maafkan aku.."


"Maafkan.. aku.."


"Apa yang harus aku lakukan.. untuk menebus dosaku?"


Cain mengepalkan tangannya dan meninju lantai yang ia duduki. Ia lalu melihat tirai yang berkibar ditiup angin karena jendela yang ia biarkan terbuka lebar. Di dalam otaknya muncul sebuah ide gila.


"Kak.. Chlar.. tunggu aku.."

__ADS_1


———


__ADS_2