
Jane menatap dirinya yang terpantul di cermin sambil bersenandung. Ia sedang mencoba gaun baru yang diberikan oleh ayahnya. Lusa, Vhor sudah berjanji akan mengunjunginya. Ia akan mengambil cuti sejenak sekaligus memberi laporan pada Shevo. Sudah lama sekali Jane tidak bertemu dengan Vhor, tentu ia merasa luar biasa senang.
Tok tok tok!
Jane masih menatap dirinya sesaat sebelum ia menghampiri pintu. Ia lalu membuka pintu dengan cepat.
"Ada ap—" Ucapannya terhenti begitu ia melihat sosok laki-laki berambut coklat yang tidak ia kenal. Jane mundur ke belakang, merasa sedikit takut. Apa lagi orang itu menatap Jane dengan tajam.
"Si-siapa kau? Kenapa bisa masuk ke sini??" Tanya Jane.
"Kau.. Putri Jane?" Tanya orang itu.
"Jawab dulu pertanyaanku!" Seru Jane.
"Mohon maaf, Tuan Putri. Aku tidak punya waktu untuk itu."
JLEB!!
Sebuah pedang tiba-tiba saja menembus tubuh Jane. Jane mematung. Darah segar mulai bermunculan dari dadanya. Tatapannya kini semakin samar.
"Ke.. napa.." Ucapnya sebelum ia akhirnya terjatuh dan menutup matanya.
"Semoga kau diberkati Dewa." Ujar Juna sambil mengibaskan pedangnya—menyipratkan sisa darah yang menempel di pedangnya ke lantai—dan menyarungkannya ke pinggang. Ia lalu menjatuhkan kancing seragam militer Kerajaan Chraz.
"Lumayan berguna juga tikus itu." Bisiknya.
Ia lalu segera berbalik dan berjalan melangkahi tubuh pengawal istana yang tergeletak di sekitarnya dengan wajah datar, seolah-olah itu adalah pemandangan biasa.
"Sudah tiga, sisa satu." Gumamnya pelan.
•••
Vhor berjalan melewati koridor istana Hecca dengan tergesa-gesa. Tiba-tiba saja ia mendapatkan panggilan dari Shevo. Ia terpaksa meninggalkan Chraz dan bergegas kembali ke Hecca.
"Yang Mulia, Vhor menghadap Anda." Ujarnya begitu ia sampai di ruangan Shevo.
"Vhor!! Vhor!! Mereka mengkhianati kita!! Mereka menyerang kita!!" Seru Shevo dengan panik. Ia menangis tersedu-seru seraya menghampiri Vhor dan mencengkram bahunya.
"Mereka siapa, Yang Mulia?" Tanya Vhor.
"Kerajaan Chraz!!! Mereka mengkhianati kita!! Jane.. Stevia.. Fein.. Nein.. Anakku!! Anak-anakku!!!" Seru Shevo tak karuan.
DEG!!!
Darah Vhor langsung mendidih begitu nama Jane disebut. Ia langsung menatap Shevo dengan tajam.
"Ada apa dengan Putri Jane, Putri Stevia, Pangeran Fein, dan Pangeran Nein??" Tanya Vhor dengan nada meninggi.
"Mereka.. Mereka.. Mereka semua dibunuh!!! Oh, anakku! Anak-anakku yang malang!!" Shevo tak berhenti tersedu.
Vhor tercenung. Ia merasa kupingnya salah dengar. Jane dibunuh? Seluruh putri dan pangeran kerajaan dibunuh? Itu tidak mungkin!
"Vhor!" Panggil Shevo sambil mempererat genggamannya di bahu Vhor. "Kita harus membalas mereka!! Tidak akan kumaafkan!! Siapkan seluruh tentara kerajaan untuk menyerang Chraz!! Tidak boleh ada satu pun dari mereka yang tersisa!!"
Vhor menatap Shevo dengan tatapan tajam lalu mengangguk.
"Saya mengerti." Ujarnya.
Ia lalu bangkit dan melangkah keluar ruangan. Ia menggeretakkan giginya dengan geram dan mengepalkan tangannya dengan erat. Ia meninju dinding di sebelahnya sekuat tenaga, hingga menyisakan retakan di sana. Aura membunuh terasa begitu pekat di sekitarnya. Ia sudah tidak bisa berpikir jernih. Yang ada di kepalanya saat ini adalah satu, membunuh semua orang yang ada di Kerajaan Chraz.
"Chraz.. Tidak akan kumaafkan!!!" Geramnya.
•••
Achromos langsung mempererat pelukannya begitu Chroma selesai menceritakan masa lalunya itu. Ia sekarang mengerti kenapa Chroma sampai meledak ketika menemukan lambang mandala di perutnya. Diusapnya kepala Chroma dengan lembut.
"Achromos, aku harus pergi.." Lirih Chroma.
"Apa maksudmu?" Tanya Achromos.
"Aku akan menghancurkan semua." Jawab Chroma dengan pilu.
"Tidak, Chroma! Aku akan melindungimu! Aku berjanji! Aku akan mengalahkan Schatten!" Tegas Achromos.
__ADS_1
"Tidak, Achromos. Kau tidak akan bisa mengalahkan mereka. Mereka bukan manusia biasa! Mereka memiliki kekuatan yang mengerikan! Mereka akan membunuh semua orang yang berada di dekatku!" Seru Chroma.
"Tapi—"
"Aku harus pergi." Ujar Chroma dengan tegas. Ia melepaskan diri dari pelukan Achromos dengan perlahan. Bola mata emasnya kini menatap Achromos dengan penuh kepastian.
"Chroma, tubuhmu sedang lemah. Kalau kau pergi, bagaimana denganmu?" Tanya Achromos sambil memegang pipi Chroma.
Chroma tersenyum tipis. Ia menatap Achromos dengan penuh kesedihan.
"Achromos, aku sudah tidak mau lagi melihat orang yang aku sayangi pergi. Aku sudah bilang, kan?" Ujarnya.
Entah kenapa, Achromos merasakan sesuatu dari ucapan dan tatapan Chroma. Ia memiliki firasat buruk.
"Kau.. berencana menyerahkan diri?" Tanya Achromos nyaris tercekat.
Chroma tidak menjawab. Ia hanya tersenyum menatap Achromos yang kini terpaku. Achromos kemudian menggelengkan kepalanya sambil menunduk.
"Aku tidak akan membiarkannya!" Seru Achromos tidak setuju.
"Achromos, sejak awal ini adalah masalahku. Ini semua tidak ada hubungannya denganmu, juga orang-orang di Kerajaan Chraz. Kalau terjadi apa-apa pada orang-orang di Chraz, aku tidak akan pernah memaafkan diriku." Ucap Chroma.
"Tapi, Chroma—"
Baru saja Achromos hendak protes pada Chroma, tiba-tiba saja Chroma terbatuk. Ia terlihat kesakitan. Tangannya terlihat meremas perutnya dengan kuat.
"Chroma?? Ada apa??" Seru Achromos dengan panik.
"Aaaaargh!!!" Chroma mengerang kesakitan.
Cahaya merah kini muncul dari perut Chroma. Lambang mandala yang tadinya berwarna hitam kini berubah menjadi merah pekat. Chroma semakin menjerit dengan keras. Tubuhnya tiba-tiba saja melayang ke udara. Rambut peraknya yang tadinya sepanjang punggung, kini memanjang hingga kakinya. Achromos panik dan berusaha menariknya ke bawah. Tiba-tiba saja, Chroma berhenti menjerit dan membuka mata. Raut wajahnya berubah menjadi seperti orang lain.
"Di mana.. klauvhi?"
Suara Chroma berubah begitu ia mengucapkan hal yang tidak bisa dimengerti oleh Achromos. Mata emas Chroma kini menatapnya lekat-lekat.
"Chroma?" Panggil Achromos pelan.
Ia tiba-tiba kembali menjerit, membuat Achromos tersentak. Tubuh mungilnya lalu terjatuh dengan mata terpejam. Achromos segera menangkapnya lalu merengkuh Chroma dengan erat.
"Apa yang sedang terjadi?" Gumamnya dengan cemas.
Ia segera mengembalikan Chroma ke atas tempat tidur lalu menyentuh lambang mandala di perut Chroma dengan perlahan. Ia tersentak dan menarik tangannya begitu ia merasakan betapa panasnya lambang itu, seperti air mendidih.
"Ada apa dengan Chroma?!" Serunya frustrasi.
"Chroma, kumohon.. jangan sampai terjadi apa pun padamu.." Bisik Achromos sambil mengusap pipi putih Chroma.
"Yang Mulia!! Yang Mulia Achromos!" Seorang pengawal istana tergopoh-gopoh membuka pintu dan menghampiri Achromos yang sedang duduk di sisi tempat tidur, bahkan ia tidak mengetuk pintu sangking tergesa-gesanya.
"Ada apa? Kenapa kau tergesa-gesa?" Tanya Achromos.
"Ya-Yang Mulia!! Maafkan kelancangan hamba!! Ini keadaan darurat!! Di gerbang istana.." Orang itu mengatur napasnya yang tersengal-sengal untuk sesaat. Ia lalu menelan ludah.
"Di gerbang istana.. tubuh tim penyelidik.."
Achromos langsung membelalakkan matanya. Ia mengerti apa yang dimaksud si pengawal dan langsung berlari keluar kamar menuju kandang kuda di samping istana. Sesampainya di sana ia segera menaiki kuda yang pertama kali ia lihat dan bergegas menghampiri gerbang istana. Saat gerbang sudah terlihat, ia mendapati pengawal kerajaan sedang berkerumun. Ia lalu turun dari kudanya dan menghampiri mereka dengan tergesa-gesa.
"Yang Mulia!!" Seru para pengawal.
Achromos mematung begitu melihat pemandangan di hadapannya. Tiga buah tubuh tak bernyawa dipaku di gerbang istana. Mereka berlumuran darah dan luka. Di gerbang itu juga, sebuah lambang mandala berukuran besar ditorehkan dengan darah.
"Yang Mulia.. Kami juga menemukan ini.." Ujar salah seorang pengawal sambil memberikan sesuatu pada Achromos.
Achromos memperhatikan benda itu dan langsung terkejut. Ia terjatuh hingga berlutut di tanah. Itu adalah seragam militer putih milik Cain. Dan seragam itu kini sudah compang-camping disertai dengan noda darah yang pekat.
"Ca.. in.." Lirihnya. Ia lalu memukul tanah dengan keras.
"Tidak akan kumaafkan.. TIDAK AKAN KUMAAFKAN! SCHATTEEEEEN!!!!!!" Seru Achromos dengan geram.
"Ya-Yang Mulia!!!" Seru salah seorang pengawal kerajaan. Mereka semua terlihat menatap ke luar gerbang.
"Apa lagi?!" Seru Achromos dengan penuh amarah.
__ADS_1
"Ko-kota.. Kotanya terbakar!!!"
Achromos segera bangkit lalu menatap kota yang berada di hadapannya. Posisi istana yang berada di atas bukit membuatnya dapat melihat seluruh kota kerajaan. Kali ini Achromos benar-benar tidak berkutik. Seluruh kota menyala dilalap api. Asap hitam membumbung tinggi ke langit biru.
"Yang Mulia!!! Itu bendera Kerajaan Hecca!!!!"
•••
"Sekarang, pion mana yang akan jatuh lebih dulu?" Gumam Aram sambil menyeringai. Ia menyeruput kopi di cangkirnya dengan santai.
"Aram, aku sudah menyelesaikannya." Ujar Juna sambil masuk ke ruangan.
"Ooh, Juna! Cepat juga." Timpal Aram.
"Lalu, sekarang kita harus apa?" Tanya Chier.
"Hm.. Bagaimana kalau kita jemput dia sekarang? Kurasa sudah mulai bereaksi." Kata Aram sambil menaruh cangkir kopi di atas meja sambil bangkit.
"Kau yakin? Bukankah saat ini mereka sedang melawan satu sama lain?" Tanya Shienna.
"Hahaha! Justru itu gunanya! Kau pikir untuk apa aku sengaja membuat Hecca menyerang Chraz? Saat ini pasti raja Chraz yang bodoh itu mau tidak mau harus melawan Hecca dan melupakan dia sejenak. Dengan begitu kita bisa mengambilnya dengan mudah, kan?" Kata Aram sambil memakai jubah hitamnya.
"Kau memang selalu seenaknya sendiri, Aram! Tidak bisakah kau mengatakan seluruh rencanamu dengan jelas?!" Seru Jona dengan kesal.
"Heeh? Untuk apa aku harus menjelaskannya? Yang penting semuanya berjalan dengan baik, kan? Sudahlah! Lebih baik kita berangkat sekarang. Juna dan Shienna saja yang ikut denganku! Aku tidak butuh orang yang berisik!" Sindir Aram sambil melirik Jona yang kini terlihat semakin kesal.
"Memangnya siapa yang mau ikut denganmu??! Aku juga muak!!" Seru Jona.
"Aram, maksudmu aku juga berisik?" Tanya Fen.
"Aku juga?" Tanya Chier.
"Oh, tidak, Fen, Chier. Aku hanya butuh orang yang becus untuk menjaga markas! Aku tidak bisa tenang kalau meninggalkan Jona sendirian di sini." Balas Aram sambil melengos pergi.
Juna dan Shienna mengekor di belakang Aram. Namun tiba-tiba Aram menghentikan langkahnya.
"Oh iya, Chier." Ujarnya sambil menengok ke belakang. "Kuharap kau tidak melakukan hal yang gegabah, ya. Dan Fen, tolong bereskan Hecca."
Aram melemparkan senyumannya pada Chier sebelum ia menghilang bersama Juna dan Shienna.
"Cih! Kenapa dia menerima orang mencurigakan sepertimu, sih?!" Oceh Jona sambil melirik Chier.
"Apa maksudmu mencurigakan?" Tanya Chier sambil tersenyum.
"Lihat!! Itu yang kumaksud! Kau selalu tersenyum dalam keadaan apa pun! Itu membuatmu sulit dibaca!!" Seru Jona.
"Heee? Begitu? Bukannya itu hanya kau saja yang tidak punya kemampuan untuk membacaku?" Goda Chier.
Jona sudah bersiap-siap mengeluarkan pedangnya saat tangan Fen mencengkramnya dengan kuat.
"Jangan melakukan hal bodoh." Ujar Fen.
"Cih! Semua orang membuatku kesal!" Gerutu Jona sambil menendang meja.
•••
Aram bersenandung riang begitu mereka sampai di istana Chraz. Ia menatap kobaran api yang menyala terang di pagi yang cerah ini.
"Wow! Kerajaan Hecca tidak tanggung-tanggung!" Serunya riang.
Ia lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju suatu ruangan. Begitu ia membuka pintu, ia menemukan Chroma sedang tertidur di atas tempat tidur. Ia langsung menyeringai sambil menghampirinya.
"Chroma-ku sayang, aku datang menjemputmu." Ujarnya sambil menggendong tubuh Chroma.
"Juna, tolong buat lambang mandala di dinding. Pakai darah, ya. Biar terlihat keren!" Pinta Aram.
Juna hanya mengangguk dan menyayat tangannya tanpa basa-basi. Ia membuat lambang mandala di dinding dengan darahnya sendiri.
"Sekarang, semuanya sudah beres! Ayo kita kembali!" Ajak Aram.
Ketiganya langsung mengumpul dan membaca suatu mantra. Tubuh mereka kemudian berubah menjadi asap hitam yang langsung menghilang dalam sekejap.
———
__ADS_1