
Chroma menatap kolam ikan di hadapannya sambil melamun. Entah kenapa bayang-bayang Achromos tidak bisa hilang dari kepalanya sejak kejadian waktu itu. Namun setiap kali ia mengingat Achromos memanggilnya Jane, hatinya berdenyut sakit. Jantungnya juga berdegup aneh ketika Chlari memanggilnya Chroma waktu itu. Ada apa dengannya?
Apa aku sakit? Pikirnya.
Selain itu, ia juga sangat penasaran dengan apa yang terjadi di antara Achromos dan Chlari. Kenapa hubungan mereka begitu buruk? Chlari memang mencurigakan, tapi entah kenapa Chroma tidak merasakan aura kejahatan di dirinya. Namun meskipun Chroma sangat ingin bertanya pada Achromos, tentu saja ia tidak berani menanyakannya.
"Jane."
"WUAAH!!"
Chroma memekik begitu Achromos tiba-tiba muncul di hadapannya. Jantungnya berdebar tidak karuan.
Kenapa semenjak tinggal di sini.. instingku semakin menumpul? Batin Chroma sambil memegang dadanya.
"Ya-Yang Mulia. Ada apa?" Tanya Chroma sambil berdeham.
Achromos menatap mata Chroma lekat-lekat, membuat Chroma merasa luar biasa tidak nyaman.
"Aku hanya ingin bertanya kenapa kau melamun." Balas Achromos.
"Oh.. begitu. Bukan apa-apa kok." Jawab Chroma sambil kembali menatap kolam.
"Jangan bohong." Ujar Achromos sambil memegang dagu Chroma dan membuatnya menatap matanya. Chroma merasa bingung. Apa sebaiknya ia menanyakannya langsung pada Achromos? Tapi apakah Achromos akan menjawabnya begitu saja?
Arrghh!! Sekarang atau tidak sama sekali! Batinnya.
"Ya-Yang Mulia." Ucap Chroma. "Yang Mulia memerintahkanku untuk tidak bertemu lagi dengan Pangeran Chlari, bukan? Aku.. Aku tidak bisa begitu saja menuruti perintah Yang Mulia, tanpa tahu alasannya. Aku rasa aku punya hak untuk tahu, karena ini menyangkut diriku juga."
Achromos terdiam menatap Chroma, tidak menyangka Chroma akan menanyakan hal seperti itu. Ia melihat mata Chroma yang memancarkan keseriusannya.
Yah.. Kurasa ia punya hak untuk tahu. Ujarnya dalam hati sambil melepaskan tangannya dari dagu Chroma.
"Ceritanya.. panjang." Ujar Achromos pelan. Mata Chroma langsung membulat dan bersinar.
"Tidak apa-apa! Aku ingin tahu apa yang terjadi."
•••
"Ibunda, aku menemukan burung kecil ini di taman! Dia terluka!" Achromos kecil berlari menghampiri ibunya sambil memegang burung kecil yang tergolek lemas. Raut wajahnya terlihat begitu sedih dan khawatir.
"Achromos, bukankah sekarang waktunya belajar? Kenapa kamu malah pergi ke taman? Bajumu kotor sekali.." Ujar Kellia ketika melihat Achromos yang terlihat kotor akibat menolong burung itu.
"Tapi Ibunda, burung ini terluka! Aku harus menyelamatkannya!" Seru Achromos.
Kellia menghela napas. Dari dulu Achromos memang sangat menyayangi hewan. Ia sudah sering menolong anjing dan kucing yang terluka atau terlantar. Kellia kemudian tersenyum lembut.
"Achromos, aku mengerti. Biar aku yang mengobati burung ini, kamu kembali ke ruanganmu dan belajar yang tekun, ya." Ujar Kellia sambil mengusap kepala Achromos dan mengambil burung sekarat itu dari tangannya.
Senyuman Achromos mengembang seketika. Ia mengangguk lalu segera berlari kembali ke ruangannya untuk belajar. Sementara itu, Chlari sedari tadi menatap mereka berdua dari lorong. Ia baru saja kembali dari jalan sorenya. Tubuhnya yang lemah membuatnya harus terus terbaring di tempat tidur sehingga ia sesekali harus berjalan untuk menggerakkan badannya. Achromos menghentikan langkahnya lalu menatap Chlari.
"Selamat sore, Kakak." Sapa Achromos.
Chlari hanya terdiam menatap Achromos lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju kastil timur. Achromos yang tidak digubris merasa sedih lalu kembali berjalan menuju ruangannya.
"Apa Kakak membenciku?" Bisik Achromos.
Achromos dari dulu menduga Chlari membencinya. Bagaimana tidak, Chlari diturunkan dari statusnya sebagai Putra Mahkota akibat penyakitnya yang semakin parah. Oleh sebab itu, Achromoslah yang menjadi Putra Mahkota untuk menggantikan Chlari. Selain itu, ibunya juga tidak pernah menjenguk dan mengurus Chlari. Ia pernah menanyakan kenapa ibunya tidak pernah menjenguk Chlari, namun ibunya menolak untuk menjawab. Ditambah lagi, ayahnya juga terlihat tidak peduli pada Chlari dan hanya memperhatikan Achromos agar ia dapat menjadi raja yang pantas. Entah kenapa Achromos merasa bersalah. Ia merasa dirinya telah merebut sesuatu dari Chlari.
__ADS_1
"Maafkan aku, Kakak. Aku juga tidak mau seperti ini." Bisik Achromos.
Saat itu, Achromos berjanji dalam hati bahwa ia akan menolak tahta kerajaan dan mengembalikannya pada Chlari.
•••
Achromos menatap Kellia yang sedang tertawa senang dengan seorang pengantar surat sambil mengunyah kue yang ia dapat dari pengantar surat itu. Sudah beberapa bulan ini, Kellia dan Vhell—si pengantar surat—bertemu di sisi taman yang cukup tersembunyi. Achromos yang menemukan mereka secara tidak sengaja ketika berjalan-jalan di taman diminta tutup mulut oleh ibunya. Achromos menurutinya begitu saja karena Kellia terlihat senang ketika bersama dengan Vhell. Lagi pula, Braz sama sekali tidak mempedulikan Kellia. Ia jarang sekali pulang dan hanya mementingkan pekerjaan dan perang.
"Achromos, apa kuenya enak?" Tanya Vhell.
"Iya, enak!" Seru Achromos senang.
Kellia dan Vhell tersenyum. Achromos menyadari tangan mereka berdua yang bertautan. Meski Achromos masih kecil, ia mengerti apa yang terjadi, dan ia bersumpah tidak akan membiarkan ada yang merusak kebahagiaan mereka.
Srak..
Achromos tak sengaja menengok ketika mendengar bunyi semak yang pelan. Ia lalu menemukan sosok Chlari yang menatap mereka dengan terkejut. Setelah itu, Chlari langsung berlari.
"Achromos, ada apa?" Tanya Kellia yang tidak menyadari kehadiran Chlari.
Achromos menjatuhkan kue di tangannya dan segera berlari mengejar Chlari.
•••
Achromos sampai di depan pintu ruangan ayahnya dan menemukan Chlari berdiri di sana. Chlari terlihat menunduk. Achromos merasa begitu marah dan segera mendorong tubuh Chlari hingga terjatuh. Baru saja ia akan berteriak memarahi Chlari, suara Kellia dan Vhell membuatnya menengok. Mereka berdua ditarik paksa oleh beberapa pengawal kerajaan. Achromos segera berlari menghampiri mereka dan mencoba melepaskan Kellia dan Vhell.
"Lepaskan mereka!!! Lepaskan!!!" Seru Achromos.
"Maaf, Pangeran Achromos. Kami mendapat perintah dari Raja untuk membawa mereka ke tahanan." Ujar salah seorang pengawal.
Seorang pengawal segera menahan tubuh mungil Achromos yang belum cukup kuat untuk melawan mereka. Achromos memberontak sekuat tenaga dan mengulurkan tangannya. Air matanya bertumpahan.
"Ibunda!!! Ibunda!!! Paman Vhell!! Hentikan!!! Jangan bawa mereka!!!" Seru Achromos.
"Achromos! Achromos!" Kellia menitikkan air matanya sambil mengulurkan tangannya yang semakin menjauh dari Achromos. Vhell juga menangis. Ia memberontak dan menyerang pengawal yang menahan Kellia. Kellia terlepas dan segera berlari menghampiri Achromos. Namun, pengawal yang lain datang membantu dan segera menangkap Kellia.
"Ibunda!!! Paman Vhell!! Ibunda!! IBUNDAAA!!!!!" Achromos berteriak hingga tenggorokannya sakit sambil mencoba meraih sosok Kellia yang semakin menjauh. Tangan kecilnya bergetar hebat. Ia tahu apa yang akan terjadi pada Kellia dan Vhell. Ia tahu bagaimana karakter ayahnya, Braz. Raja yang terkenal karena bisa membunuh siapa pun sambil tersenyum. Achromos langsung melepaskan diri dan menghampiri Chlari yang masih terduduk di lantai. Ia menggenggam kerah baju Chlari dan membuatnya berdiri.
"Kau puas? KAU PUAS SEKARANG??!!" Seru Achromos.
"Kau telah menghancurkan segalanya!! Kenapa kau memberi tahu Ayahanda?? KENAPA??!!!" Achromos meninju wajah Chlari sekuat yang ia bisa hingga Chlari kembali tersungkur ke lantai.
Dengan sedikit terhuyung, Chlari bangkit. Ia lalu menatap Achromos sambil memegang pipinya yang memerah. Ia menatap Achromos untuk beberapa saat, lalu ia menyeringai. Mata Achromos membesar begitu melihat Chlari tersenyum. Ia menggeretakkan giginya. Kemarahannya begitu bergolak, membuat kepalanya seperti mau meledak.
"Chlari.. AKU TIDAK AKAN PERNAH MEMAAFKANMU!!!"
•••
Hari itu, awan mendung menutupi Kerajaan Chraz. Suara petir mulai bergemuruh di langit yang kelam. Braz muncul dari dalam istana dan melangkah ke tengah lapangan. Di sana, Kellia dan Vhell terduduk dengan tangan dan kaki yang dirantai. Mereka berdua babak belur, hasil dari penyiksaan yang dilakukan Braz semalam. Rakyat Chraz berkerumun mengelilingi lapangan. Mereka semua terheran-heran melihat ratu mereka diperlakukan sedemikian rupa.
"Rakyat Chraz yang kucintai, saat ini di depan mata kalian, ada dua orang pengkhianat yang telah menodai nama Kerajaan Agung Chraz. Mereka adalah Ratu kalian, Kellia, dan seorang pengantar surat yang bernama Vhell. Mereka telah mengingkari sumpah atas nama Kerajaan Agung Chraz dan aku, Raja ke-14 Kerajaan Chraz, akan menghukum mereka dengan hukuman yang setimpal." Braz mengeluarkan pedangnya setelah selesai berbicara dan menghampiri kedua orang yang sudah terlihat pasrah tersebut.
"IBUNDA!! IBUNDAAA!!" Seluruh rakyat langsung menengok dan melihat Achromos yang menangis dan berteriak di sisi lapangan. Dua orang pengawal kerajaan menahannya sekuat tenaga.
"HENTIKAN!! AYAHANDA!! JANGAN BUNUH IBUNDA!!! KUMOHON!!" Seru Achromos.
Braz hanya menatap Achromos tanpa ekspresi untuk beberapa detik lalu kembali menatap Kellia dan Vhell. Kellia tersedu melihat Achromos yang begitu putus asa berusaha menolongnya. Ia menggenggam tangan Vhell erat-erat, membuat Braz menatapnya dengan tajam.
__ADS_1
"Braz.. kau tahu kenapa aku lebih memilih Vhell dari pada kau? Karena Vhell menyayangiku dan menyayangi Achromos sepenuh hati. Berbeda dengan kau yang hanya memikirkan kekuasaanmu saja." Ujar Kellia sambil menatap Braz dengan tatapan bersimpati. "Kau tidak akan pernah bahagia, Braz."
Suara tawa Braz menggelegar, membuat perhatian rakyat kembali tertuju ke tengah lapangan.
"Oh, Kellia. Aku tidak butuh kebahagiaan." Timpalnya sambil masih sedikit tertawa.
"Aku menemukan hal yang lebih baik dari kebahagiaan,"
"Kekuasaan." Bisiknya.
SRAAAT!!!!
Dua buah kepala menggelinding di tanah dengan sekali tebas. Achromos terbelalak melihat apa yang terjadi di depannya. Darah segar menyebar dengan cepat. Tetesan air hujan menetes satu per satu dari langit, membasuh lapangan yang kini berwarna merah pekat. Achromos merasakan lututnya lemas seperti tak bertulang. Ia terduduk di tanah. Matanya menatap kepala Kellia yang kini terpisah sekitar dua meter dari tubuhnya. Mata Kellia terpejam dengan sisa air mata yang masih membekas.
"Ibunda.." Bisik Achromos tidak percaya.
Braz menatap dua tubuh tak bernyawa di hadapannya sambil tersenyum puas. Ia kembali menyarungkan pedangnya ke pinggang dan melenggang santai kembali ke istana. Chlari—yang juga melihat dari sisi lapangan—mengikuti ayahnya dan masuk ke istana. Ia tersenyum sambil melirik Achromos yang menatap mereka dengan penuh kebencian.
"Tidak akan kumaafkan.. TIDAK AKAN KUMAAFKAAN!!! IBLISS!! IBLISS!!! KALIAN BERDUA ADALAH IBLIS!!!!"
Achromos memukul tanah dengan sekuat tenaga. Di dalam hatinya, ia bersumpah akan membunuh mereka berdua suatu hari nanti.
•••
Chroma menatap Achromos dengan tatapan sedikit terkejut. Ia tidak menyangka Chlari melakukan apa yang dikatakan oleh Achromos. Tapi kemungkinan itu tentu saja ada. Manusia adalah makhluk yang lemah. Mereka dapat dengan mudah dikuasai oleh emosinya sendiri. Mungkin di bawah alam sadarnya, Chlari membenci Achromos dan ibunya.
"Jangan berwajah seperti itu." Ucap Achromos sambil mencubit pipi Chroma.
"Hehangnya ahu herwahah seherti aha?" Tanya Chroma. Achromos tertawa kecil melihat wajah Chroma yang melebar ke samping.
Jantung Chroma berdegup kencang sesaat tadi. Baru kali ini ia melihat Achromos tertawa. Biasanya ia memasang wajah sebal setiap saat, dengan alis yang selalu mengkerut. Chroma akui wajah Achromos memang tampan. Hanya saja ekspresinya yang selalu terlihat marah membuat semua orang takut. Andai saja ia bisa tersenyum seperti saat ini setiap saat, pasti gadis-gadis langsung mengerubunginya seperti lalat.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanya Achromos yang wajahnya telah kembali ke sedia kala. Ia melepaskan cubitannya.
"Yang Mulia," ujar Chroma. "Anda harusnya lebih sering tersenyum."
"Apa maksudmu?" Tanya Achromos.
"Yang Mulia terlihat lebih tampan kalau tersenyum." Timpal Chroma.
Achromos merasa terkejut dan langsung memalingkan wajahnya yang memerah. Baru kali ini ia dipuji, apa lagi oleh seorang perempuan.
Achromos tersipu? Raja Kegelapan itu? Pfft!! Chroma berusaha sekuat tenaga untuk menahan tawanya.
"Yang Mulia, aku izin kembali ke kamar lebih dulu." Ujar Chroma sambil memberi hormat lalu melangkah pergi.
"Ada apa denganku?" Bisik Achromos sambil menutup wajahnya dengan tangan.
"Yang Mulia." Cain muncul dengan tiba-tiba entah dari mana, membuat Achromos menghela napas karena merasa begitu lelah dengan ini semua.
"Ada apa, Cain?" Tanyanya.
"Tim penyelidik.. menemukan petunjuk." Jawab Cain.
Achromos langsung mengerutkan alisnya dan menatap Cain dengan serius. Ia kemudian melangkah cepat menuju ruang kerjanya.
———
__ADS_1