
"Achromos, aku.."
Tok tok tok
Suara ketukan pintu menghentikan Chroma yang baru saja angkat bicara.
"Yang Mulia, dokter Ghoz telah tiba." Ujar seorang pengawal dari balik pintu.
"Masuk." Jawab Achromos.
Dokter Ghoz masuk ke dalam ruangan dengan keringat di tubuhnya dan napasnya yang tersengal-sengal. Jelas sekali terlihat bahwa ia berlari dengan tergesa-gesa.
"Yang Mulia, izinkan saya memeriksa Ratu Jane." Pinta dokter Ghoz. Achromos hanya mengangguk pelan.
Setelah memeriksa keadaan Chroma, dokter Ghoz terlihat cukup gelisah. Ia menggerak-gerakan tangannya dan melemparkan pandangannya ke sembarang tempat.
"Ya-Yang Mulia, maafkan hamba, tapi keadaan Ratu Jane.." Ujarnya ragu. "mulai memburuk."
"Apa maksudmu?" Tanya Achromos dengan tatapan tajam. Dokter Ghoz mengelap keringatnya dengan sapu tangan.
"Se-sepertinya lukanya sedikit membengkak. Yang Mulia, apakah Anda beberapa hari ini merasa sakit di perut Anda?" Tanya dokter Ghoz sambil beralih pada Chroma.
"Iya." Jawab Chroma dengan dahi yang berkerut.
"Apa jantung Anda juga berdebar-debar?" Tanya dokter Ghoz lagi.
Eh?
Chroma terdiam mendengar pertanyaan dokter Ghoz. Selama ini, apa ia berdebar karena menyukai Achromos atau...?
Chroma mengangguk dengan sedikit ragu.
"Benar, sepertinya ada sedikit racun yang tersisa. Saya akan membuatkan obatnya untuk Anda, Yang Mulia." Tukas dokter Ghoz sambil merapikan barang-barangnya.
"Dokter," Panggil Chroma.
"Iya, Yang Mulia?" Jawab dokter Ghoz.
"Jadi, jantungku yang berdebar-debar dan perutku yang sakit karena ada racun yang tersisa?" Tanya Chroma.
"Iya, Yang Mulia. Biasanya orang juga mengalami demam. Saat saya cek, temperatur tubuh Anda memang sedikit tinggi, Yang Mulia." Jelasnya lagi.
Chroma hanya mengangguk mempersilakan dokter Ghoz untuk pergi. Ia langsung menghela napasnya dengan lega, merasa beruntung ia tidak melanjutkan kalimatnya tadi.
Ternyata, bukan cinta, ya? Hahaha, tentu saja! Aku tidak mungkin jatuh cinta pada raja bodoh ini! Batin Chroma.
"Jane?" Panggil Achromos.
Chroma kembali terdiam. Dokter Ghoz mampu menjelaskan jantungnya yang berdebar dan perutnya yang sakit, tapi ia tidak bisa menjelaskan rasa sakit ketika Achromos memanggilnya Jane. Sakit itu bukan di perut atau jantungnya. Lalu, di mana?
Chroma memejamkan matanya dengan erat, berusaha mengalihkan pikirannya pada hal lain. Akan sangat menyusahkan kalau ia terlalu memikirkan hal tidak penting seperti cinta. Ia harus fokus pada misinya.
Misi? Benar juga. Ia di sini untuk menjalankan misinya. Apa jadinya kalau ia sampai jatuh cinta pada targetnya? Bisa-bisa ia menelantarkan misinya dan berakhir dengan kepala yang terlepas dari tubuhnya. Chroma yakin Vhor mampu membunuhnya dengan mudah mengingat kemampuannya yang hebat itu. Ditambah lagi kondisinya saat ini sedang tidak baik, membuatnya nyaris tidak mungkin bisa lari dengan selamat dari situasi terburuk yang mungkin terjadi.
Tangan dingin yang menyentuh keningnya menyadarkan lamunan Chroma. Lagi, ada sesuatu yang berdenyut.
"Jane, kau tidak apa-apa?" Tanya Achromos.
"Aku tidak apa-apa." Jawab Chroma datar.
"Tadi, apa yang ingin kau katakan?" Tanya Achromos lagi.
"Tadi? Kapan?"
"Sebelum dokter Ghoz sampai."
"Entahlah, aku sudah lupa."
"Jane, jawab aku dengan serius." Pinta Achromos.
"Aku serius."
"Lalu, kenapa kau menangis?"
"Karena perutku sakit. Maaf, aku sedang tidak ingin bicara dengan siapa pun." Chroma memalingkan wajahnya dan menatap keluar jendela.
__ADS_1
Achromos terdiam. Ia merasa Chroma berubah dengan begitu cepat. Apa ini semua karena kejadian tadi? Tapi apa hal seperti tadi bisa mengubah orang secepat itu?
Achromos mengepalkan tangannya dengan frustrasi. Ia sama sekali tidak mengerti Chroma. Apa yang ada di dalam pikirannya seolah ditutupi kabut tebal. Padahal ia baru saja memutuskan untuk mengenal Chroma dengan lebih baik. Ia ingin mereka menjadi lebih dekat, tapi usahanya seperti ditolak mentah-mentah oleh gadis ini.
"Kenapa?" Gumamnya pelan.
Chroma yang samar-samar mendengar suara Achromos menengok dan menemukannya menunduk dengan wajah terluka. Chroma kembali merasakan rasa sakit itu. Sejujurnya ia tidak mau mengatakan hal seperti tadi. Tapi jika ia berpura-pura menjadi perempuan yang manis dan bersikap layaknya seorang istri, ia takut ia akan tenggelam dalam ilusi sementara dan berakhir jatuh cinta pada Achromos—atau... jatuh cinta lebih dalam?
Maafkan aku, Achromos. Ucap Chroma dalam hati dengan mata yang berkaca-kaca.
Tok tok tok!
"Pe-permisi, Yang Mulia! Saya datang membawakan makanan." Suara Mysha yang canggung dari balik pintu berhasil membuat air mata yang nyaris jatuh ke pipi Chroma berhenti.
Achromos bangkit dan keluar dari ruangan setelah mempersilakan Mysha untuk masuk. Mysha membungkukkan badannya lalu mendorong troli makanan menuju tempat tidur.
"Ya-Yang Mulia, apakah Anda baik-baik saja?" Tanya Mysha dengan raut khawatir. Chroma tersenyum sambil mengangguk.
"Syukurlah! Saya sangat khawatir saat mendengar Anda sakit." Timpal Mysha sambil tersenyum.
Mysha membantu Chroma duduk di tempat tidur lalu menyuapinya dengan bubur yang ia bawa. Ia lalu tak sengaja melihat sebuah kalung tergeletak di lantai.
"Yang Mulia, apa ini kalung Anda?" Tanya Mysha sambil memberikannya pada Chroma.
Chroma mengambil kalung itu lalu menatapnya. Kalung itu berliontin batu berwarna biru yang sangat cantik. Jelas sekali kalung itu bukan miliknya. Lalu milik siapa?
Chroma langsung teringat saat mereka berada di rumah kaca. Achromos sempat memintanya tutup mata, namun ia tidak melakukan apa pun dan malah bertanya mengenai kalungnya.
Jangan-jangan.. Pikir Chroma.
Chroma menggenggam kalung itu dengan erat. Ia merasa senang sekaligus sedih. Perasaannya begitu campur aduk.
"Mysha, kenapa Yang Mulia memperlakukanku dengan baik?" Tanya Chroma tiba-tiba.
"E-eh?" Mysha menghentikan tangannya yang baru saja menyendokkan bubur dari mangkuk yang ia pegang. "Maksud Yang Mulia?"
"Kenapa Baginda Raja memperlakukanku dengan baik?" Tanya Chroma lagi.
"Te-tentu saja karena Anda istrinya!" Seru Mysha. "...mungkin."
"Tapi, bukankan dia disebut Raja Kegelapan oleh orang-orang? Dia sudah membunuh banyak orang dan sangat dingin, bukan?" Ungkap Chroma.
"M-m-maafkan hamba, Yang Mulia!! Hamba telah lancang!! Tolong hukum hamba seberat-beratnya!!" Seru Mysha.
"Tidak apa-apa, Mysha. Aku tidak marah." Ujar Chroma. "Tapi bisa kau jelaskan apa maksudmu berkata seperti itu?"
Mysha menegakkan tubuhnya lalu memainkan jemarinya dengan sedikit gelisah.
"Ya-Yang Mulia Achromos.. sama sekali bukan Raja Kegelapan..."
•••
Achromos menatap wajah ayahnya dengan tidak percaya. Ia merasa kupingnya salah dengar. Tiba-tiba saja Braz memanggil Achromos ke ruangannya dan mengatakan ia akan turun dari tahtanya dan memberikannya pada Achromos.
"Apa Anda serius, Yang Mulia?" Tanya Achromos.
Braz hanya tersenyum sambil mengangguk. Bisa dipastikan Braz merencanakan sesuatu di balik ini semua. Tapi, untuk apa ia memberikan tahtanya yang sangat ia sayangi melebihi keluarganya itu?
"Kenapa?" Tanya Achromos meminta penjelasan.
"Karena.. aku bosan?" Jawab Braz dengan enteng.
Achromos menggeretakkan giginya dengan geram. Ia tahu persis Braz tidak sedang bercanda. Baginya kerajaan hanyalah bagian dari permainan yang ia mainkan. Achromos yakin Braz sedang mempermainkan dirinya saat ini, tapi kesempatan seperti ini tidak datang dua kali. Sejak hari itu, Achromos bersumpah akan merebut tahta kerajaan dari tangan Braz dan akan membuat Kerajaan Chraz terlepas dari rezim kejamnya.
Ya, hari itu. Hari di mana Achromos bersumpah akan membunuh Braz dan Chlari suatu hari nanti. Hari di mana ia kehilangan segalanya—ibunya, Vhell, dan kehidupan normalnya. Kini Achromos diberikan jalan secara cuma-cuma untuk membalas apa yang terjadi hari itu.
"Baiklah. Aku terima tawaranmu."
•••
"Apa.. katamu?" Tanya Achromos tidak percaya. Ia segera berlari menuju ruangan Braz. Napasnya memburu dan amarahnya memuncak sampai ke ubun-ubun. Ia nyaris meledak saat itu juga ketika mendengar apa yang terjadi.
Penduduk sebuah desa telah dibantai habis-habisan. Seluruhnya. Tidak peduli mereka laki-laki, perempuan, tua, muda, bahkan anak-anak. Dan yang membuat Achromos hampir meledak adalah ketika mengetahui pembantaian itu dilakukan oleh tentara kerajaan. Ditambah lagi, mereka mengatakan semua itu adalah perintah dari raja. Achromos tidak pernah sekali pun memerintahkan hal seperti itu. Satu-satunya orang yang bisa melakukan hal itu selain dirinya adalah Braz.
Achromos mencengkram dadanya erat. Ia merasa sesak. Air matanya nyaris keluar. Ia tidak percaya orang seperti Braz adalah ayahnya. Ia tidak percaya di dalam dirinya mengalir darah dari orang seperti Braz. Kenapa ia bisa sekejam itu? Achromos berlari dengan frustrasi. Ia segera membuka pintu dengan kasar ketika tiba di ruangan Braz.
__ADS_1
"Oh, Achromos." Ucap Braz yang tengah duduk santai di atas kursi sambil tersenyum.
Achromos menghampiri Braz dan langsung menggebrak meja.
"APA YANG TELAH KAU LAKUKAN???!!!" Seru Achromos hingga tenggorokannya sakit.
"Ada apa denganmu? Baru datang sudah berteriak." Ujar Braz sambil menutup kupingnya.
"JAWAB AKU, BRAZ!!!" Pekik Achromos.
"Apa yang telah aku lakukan? Hm.. Aku hanya menyingkirkan sesuatu yang tidak berguna." Jawabnya.
Achromos kembali menggeretakkan giginya. Ia nyaris hilang kendali. Kalau saja ia membawa pedangnya, detik itu juga ia pasti sudah menyayat leher Braz.
"Apa.. maksudmu tidak berguna?" Tanya Achromos menahan amarahnya.
"Hm.. Karena mereka menolak untuk pindah? Aku berencana membuat taman di lahan itu." Jawab Braz.
Achromos menganga tidak percaya. Alasan Braz sangat tidak masuk akal baginya.
"Hanya.. karena itu?" Gumamnya.
"Iya." Jawab Braz sambil tersenyum.
Achromos menggenggam tangannya erat-erat. Ia merasa apa yang terjadi kali ini kesalahannya. Ia baru berusia dua belas tahun, dan ia masih tidak punya kekuasaan yang cukup meski pun ia raja. Posisi raja yang sebenarnya masih diduduki oleh manusia rendah di hadapannya. Ia telah menjadi boneka yang dimainkan oleh Braz dari balik panggung.
"Braz, aku akan membalasmu suatu hari nanti." Ujar Achromos sambil pergi meninggalkan ruangan. Braz tersenyum sinis sambil bertopang dagu.
"Aku menantikannya." Gumamnya.
•••
"Se-setelah itu, terjadi beberapa pembantaian lagi yang dilakukan oleh tentara kerajaan. Yang Mulia sudah berusaha semampunya untuk mencegah hal itu, tapi sampai dua tahun yang lalu, hal itu masih berlanjut. Ditambah lagi, ketika Yang Mulia berusaha menghentikan tentara kerajaan, beliau dianggap turut serta dalam pembantaian itu. Meski beliau sudah berusaha untuk menjelaskan bahwa mereka salah paham, tapi tidak ada yang percaya. Itu sebabnya beliau disebut sebagai Raja Kegelapan. Karena berbagai macam hal, beliau jadi sulit mengendalikan emosinya dan mudah marah. Beliau juga terkadang sulit mengendalikan kekuatannya. Itu juga yang membuat orang-orang bertambah yakin bahwa Yang Mulia adalah raja yang kejam." Ungkap Mysha.
Chroma terpaku mendengar cerita Mysha. Ia masih tidak bisa mencerna apa yang baru saja ia ketahui. Ia merasa begitu malu. Ia menganggap Achromos melakukan hal tersebut, tanpa mencari tahu lebih lanjut. Pantas saja Achromos begitu baik padanya. Itu semua karena ia memang baik hati. Ia bukanlah Raja Kegelapan seperti yang orang-orang bilang.
"Lalu kenapa di awal Yang Mulia terlihat seperti membenciku?" Tanya Chroma.
"I-itu.. itu karena tiba-tiba saja Yang Mulia Braz memerintah Yang Mulia Achromos untuk menikah dengan Anda. Yang Mulia jadi merasa curiga dengan Anda.." Jawab Mysha
Hm.. Begitu? Pantas. Ucap Chroma dalam hati.
"La-lalu, dua tahun yang lalu, beliau akhirnya bisa memegang kendali atas seluruh tentara kerajaan. Akhirnya pembantaian itu bisa berhenti. Ta-tapi.. tetap saja di mata rakyat Chraz, Yang Mulia adalah raja yang kejam. Bahkan seluruh pelayan dan pengawal kerajaan mempercayai hal itu." Lanjut Mysha.
Seluruh pelayan? Batin Chroma.
"Lalu, kenapa kau bisa tahu ini semua, Mysha?" Tanyanya.
"A-ah! A-aku.. aku.. " Mysha segera melemparkan pandangannya ke sembarang arah dan menggerakkan jemarinya dengan gelisah. Wajahnya merona merah.
Mysha? Jangan-jangan..
"Kau ada hubungan apa dengan Yang Mulia?" Tanya Chroma.
"Hu-hubungan?! Ma-maksud Anda, Yang Mulia? H-hamba hanya seorang pelayan! Tidak lebih!" Seru Mysha sambil melambaikan tangannya.
Chroma menatap Mysha dengan tatapan kosong. Rasa berdenyut itu kembali datang, membuatnya merasa tidak nyaman. Ia langsung merebahkan tubuhnya kembali.
"Mysha, aku sudah kenyang. Tolong keluar." Pinta Chroma.
"Ya-Yang Mulia, tapi Anda baru makan sedikit.." Balas Mysha.
"Kumohon." Ucap Chroma sambil menatap lurus ke arah Mysha.
Mysha segera menaruh mangkuk bubur yang masih tersisa banyak itu ke atas troli, lalu mendorongnya keluar kamar.
"Yang Mulia," ujar Mysha sambil menghentikan langkahnya di ambang pintu. "saya rasa, Yang Mulia harus bersyukur."
Mysha mengatakan selamat tidur dan tersenyum pada Chroma dengan raut wajah sedih sebelum meninggalkan ruangan.
"Apa.. itu?" Bisik Chroma. "Apa yang bisa aku syukuri.. dari semua ini?"
Chroma menutup wajah dengan kedua tangannya sambil menangis. Semuanya tidak penting lagi bagi Chroma. Di dalam hatinya ia telah memutuskan.
Ia akan berhenti dari misinya dan menghilang dari hidup Achromos.
__ADS_1
Selamanya.
———