
Chroma membuka matanya yang terasa begitu berat. Kepalanya sakit tak terkira. Matanya yang buram perlahan mulai bisa melihat sekelilingnya. Saat matanya sudah dapat melihat dengan jelas dan kesadarannya mulai kembali, ia langsung tercenung. Ia terbaring di atas sebuah altar yang terlihat seperti altar persembahan. Kedua tangan dan kakinya terikat di akar pohon yang menempel di sana. Saat ia mencoba melepaskannya, akar itu sama sekali tidak bergerak. Ditambah lagi tubuhnya terasa begitu lemas, membuat tenaganya tidak cukup untuk bergerak banyak.
Ia lalu kembali memperhatikan tempat itu. Gelap. Pengap. Udaranya terasa lembap dan tidak nyaman. Dinding batunya yang terlihat begitu tua, dihiasi oleh lumut dan sarang laba-laba. Entah kenapa perasaan Chroma sangat tidak enak. Ia merasa pernah berada di sana sebelumnya. Tapi kapan? Dan kenapa ia tiba-tiba berada di tempat ini?
"Aku.. di mana?" Bisiknya pelan.
Seingatnya ia sedang mengobrol dengan Achromos di kamar, lalu tiba-tiba ia merasa sakit luar biasa. Setelah itu ia tidak ingat apa pun dan sudah berada di sini ketika membuka mata.
Aku ditangkap? Oleh siapa? Batinnya.
Suara langkah kaki terdengar mendekat. Chroma menelan ludah dengan susah payah. Kondisinya benar-benar lemah. Ia sudah yakin seratus persen ia akan mati sebentar lagi.
Saat si pemilik langkah muncul dari balik pintu, Chroma langsung membelalakkan matanya lebar-lebar. Ia terkejut bukan main.
"Oh, kau sudah sadar rupanya." Ujar orang itu sambil tersenyum.
"Kau.." Ucap Chroma tak percaya.
Orang itu mendekati Chroma dan mengusap pipinya. Chroma yang merasa jijik langsung memalingkan wajahnya dan menatapnya dengan tajam.
"Di mana aku?!" Seru Chroma.
"Di markas kami tentunya." Jawab orang itu sambil menunjukkan tato berbentuk mandala di lengannya.
DEG!!
Jantung Chroma langsung berdegup kencang begitu melihat lambang itu. Kemarahan dan kebenciannya kembali meluap sampai kepalanya terasa mau meledak.
"Kau.. Kenapa kau ada di sini??!" Pekik Chroma dengan geram.
"Kenapa? Tentu saja untuk menjagamu agar tidak kabur atau dicuri." Jawabnya. "Ups, kurasa bukan itu yang kau maksud."
"Jawab aku, Chlari!!!!" Seru Chroma sambil menatap Chlari dengan penuh amarah. Chlari hanya tersenyum seperti biasa.
"Tidak, Chroma. Di sini aku bukan Chlari." Ujarnya.
"Namaku Chier."
•••
"Aram, kau yakin tidak apa-apa menyuruh Chier menjaga Chroma?!" Tanya Jona.
"Hm? Hahaha, tenanglah. Dia tidak akan bisa berbuat macam-macam." Jawab Aram dengan santai. Tangannya masih asyik membalik lembar demi lembar buku yang ada di tangannya.
"Lagi pula aku sudah menyiapkan sesuatu untuknya kalau ia melakukan hal yang bodoh." Tambah Aram sambil menyeringai.
"Tapi dia kan—"
"Jona." Ujar Aram dengan tegas sambil mendelik tajam.
Jona segera menghentikan ucapannya.
"Lebih baik kau melanjutkan persiapan ini! Sebentar lagi upacaranya akan dilakukan!" Seru Fen sambil menarik Jona.
__ADS_1
"Cih!" Decak Jona dengan kesal.
"Jona, aku juga merasa curiga dengan Chier, tapi dia sudah mengkhianati adik-adiknya. Dia juga menangkap adiknya yang berambut emas itu dan menyiksanya hingga sekarat. Kurasa kalau sudah sampai begitu, dia tidak akan melakukan hal yang gegabah." Ujar Shienna sambil memperhatikan lingkaran sihir yang baru saja ia buat di atas kertas.
"Tidak, Shienna! Aku tahu dia merencanakan sesuatu! Lihat saja senyumannya yang memuakkan itu!" Tukas Jona.
"Jona, berisik!" Seru Aram.
"Cih! Iya, iya! Aku akan diam!" Timpal Jona dengan terpaksa.
"Ngomong-ngomong, di mana Juna?" Tanya Fen.
"Menjaga tikus. Tikus itu harus dijaga. Dia sangat berharga karena menyimpan informasi mengenai Xerros, meskipun sampai saat ini dia masih belum mau bicara." Jawab Shienna.
"Tikus itu keras kepala juga." Gumam Aram. "Yah, sebentar lagi juga dia akan datang dengan sendirinya."
"Benar, seperti tikus yang tergoda potongan keju di jebakan!" Timpal Jona sambil terkekeh.
"Jona, itu tidak lucu sama sekali." Ujar Fen dengan datar.
•••
"Kenapa kau menjadi anggota Schatten?!" Seru Chroma nyaris tercekat. Kalau saja tangannya tidak terikat, ia pasti sudah menancapkan pisaunya—atau apa pun yang ada di sana—ke jantung Chlari.
Lagi, Chlari hanya tersenyum.
"Kau tahu, hidupku begitu menyedihkan. Aku diturunkan dari tahta karena penyakitku. Dan kau tahu siapa yang membuat aku menjadi sakit? Ibuku! Ya, ibuku dan ibu Achromos yang kau cintai itu! Dia meracuniku saat kecil hingga aku terserang penyakit. Setelah itu dia sama sekali tidak pernah menjengukku. Aku tidak bisa pergi dari istana, dan aku selalu sendiri." Ujar Chlari. Senyuman itu masih tidak lepas dari wajahnya.
"Lalu?" Ujar Chroma geram. "Hanya karena itu kau menjadi anggota Schatten, hah??! Dasar cengeng!"
"Ternyata kau pun sama saja, Chroma." Katanya sambil berhenti tertawa dan menatap Chroma dengan nanar.
"Apa maksudmu?!" Tanya Chroma.
"Kau sama saja dengan mereka semua. Padahal kukira kau berbeda. Kukira kau akan mengerti apa yang aku rasakan." Jawabnya.
"Jangan harap aku mau mengerti anggota Schatten yang laknat sepertimu!" Tukas Chroma.
"Begitu, ya.." Chlari hanya tertunduk dengan wajah sedih. Namun dalam sekejap, ia langsung mendongak dan tertawa terbahak-bahak, membuat Chroma merasa luar biasa muak.
"Kenapa kau tertawa?!" Pekik Chroma.
"Hahahaha! Chroma, kau bahkan tidak tahu apa yang sedang terjadi!" Ujar Chlari.
"Apa.. maksudmu?" Tanya Chroma merasa sedikit takut. Chlari menyeringai.
"Apa yang terjadi di Chraz, ya? Bagaimana nasib Achromos, ya?" Ucap Chlari sambil memperlihatkan deretan giginya.
Chroma langsung menggeretakkan giginya kuat-kuat. Ingin sekali rasanya ia mengamuk dan mencincang Chlari dan seluruh anggota Schatten menjadi daging cacah.
"Apa yang kau lakukan pada Achromos??!!" Seru Chroma.
"Tenanglah, Chroma." Ujar Chlari santai. "Achromos tidak akan mati semudah itu... mungkin."
__ADS_1
"Aku tidak mengerti.." Lirih Chroma. "Kenapa kau melakukan ini semua?? Kau kakaknya, kan?!"
"Kau memang tidak akan mengerti, Chroma." Jawab Chlari.
Lagi, Chroma kembali menemukan kesedihan yang begitu mendalam di balik senyum Chlari. Tapi apakah alasan tadi yang membuatnya menjadi anggota Schatten? Hingga ia tega mengkhianati saudaranya sendiri?
Tiba-tiba saja Chlari mengeluarkan pedangnya dan menodongkannya tepat di depan leher Chroma. Kalau ia memajukannya sedikit saja, leher Chroma sudah berlubang saat itu juga.
"Kau mau membunuhku?" Tanya Chroma.
"Kalau bisa, aku ingin membunuhmu saat ini juga." Jawab Chlari sambil menatap Chroma dengan dingin.
"Kenapa tidak kau lakukan saja?" Pancing Chroma.
Chlari menurunkan pedangnya dan menyarungkannya kembali ke pinggang. Ia lalu berbalik dan duduk di kursi yang ada di sisi ruangan.
"Belum saatnya." Jawabnya pelan.
Chroma sama sekali tidak mengerti dengan ini semua. Ia tahu Schatten mengincarnya sejak dulu, tapi ia tidak tahu apa tujuan mereka. Kalau Chlari ingin membunuhnya, berarti tujuan Schatten memang untuk membunuhnya. Tapi kenapa mereka tidak melakukannya tiga tahun yang lalu? Kenapa mereka malah menghancurkan seisi Kerajaan Ellios dan bukannya langsung menghabisi nyawanya?
Jangan bilang hanya untuk bersenang-senang?! Pikir Chroma.
Chroma benar-benar frustrasi. Ia ingin mati saja rasanya. Gara-gara dirinya, entah sudah berapa orang yang mati dibunuh oleh Schatten. Apa lagi Chraz juga diserang. Bagaimana keadaan Achromos dan Cain?
Achromos.. Cain.. kalian harus baik-baik saja. Ujarnya dalam hati.
"Chier, Aram meminta kau yang menjaga si tikus." Juna tiba-tiba saja muncul tanpa suara sambil menyuruh Chlari pergi. Chlari hanya mengangguk dan keluar dari ruangan.
Juna menatap Chlari dengan tajam untuk sesaat lalu melirik ke arah Chroma.
"Kau!!!" Seru Chroma begitu melihat anting perak milik Juna.
"Kau mengingatku?" Tanya Juna.
"Aku.. Aku akan membunuhmu!!! Aku bersumpah!!!!!" Jerit Chroma nyaris lepas kendali.
Juna berjalan dengan langkah santai lalu menatap Chroma dalam-dalam. Ia berhenti di sebelah Chroma dan mendekatkan wajahnya.
"Asverira dio Xerra." Bisik Juna tepat di depan telinga Chroma.
Tiba-tiba saja, Chroma mulai kehilangan kesadarannya lagi. Cahaya merah muncul dari tubuhnya hingga ia merasa seperti melepuh. Ia menjerit keras sebelum akhirnya menutup mata.
"Tidurlah dulu, Wahai Xerra. Belum saatnya kau bangun." Bisik Juna sambil mengusap pipi Chroma dengan lembut.
•••
Chlari menatap Cain yang terlihat mengenaskan dengan tatapan tak bisa ditebak. Cain balas menatap Chlari sambil setengah mati mencoba untuk tetap sadar. Matanya terasa begitu berat dan seluruh tubuhnya begitu nyeri.
"Kak.. Chlar.." Lirihnya pelan.
Chlari langsung menempatkan telunjuknya di depan bibir, mengisyaratkan agar Cain tidak bersuara.
"Diamlah, Cain." Bisiknya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Sebentar lagi akan dimulai."
———