Chroma & Achromos

Chroma & Achromos
Chapter 3: A Bride-To-Be


__ADS_3

Chroma menatap kamar berukuran besar—yang menurutnya tidak masuk akal untuk satu orang—itu dengan sedikit takjub. Ia sudah sering masuk ke istana berbagai kerajaan, namun ia tidak pernah ditempatkan di kamar seperti ini. Tentu saja. Kamar ini adalah kamar khusus untuk ratu di Kerajaan Chraz, tentu ukuran dan dekorasinya jauh lebih mewah. Dan Chroma akan tinggal di sini mulai sekarang.


Chroma menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia merasa lelah. Selama berada di dekat Achromos ia harus berpura-pura menjadi putri yang anggun nan elegan. Otot wajahnya sudah lelah memaksakan senyuman.


"Hei,"


Sebuah suara membuat Chroma bergegas bangkit dan menengok ke arah pintu yang terbuka. Achromos sudah ada di sana dan menatap Chroma dengan tatapan datar.


"A-ada apa, Yang Mulia?" Tanya Chroma sedikit kaget.


Achromos menghampiri Chroma lalu menatap wajahnya lekat-lekat. Chroma menelan ludah. Entah kenapa firasatnya buruk. Achromos sepertinya akan melakukan sesuatu padanya, karena itu ia mencoba untuk tersenyum manis sebisa mungkin.


Achromos menatap gadis di hadapannya itu dengan curiga. Ia terlihat sedikit memaksakan senyumnya sejak pertama kali mereka bertemu. Setidaknya itu yang ia rasakan. Ia lalu menatap bola mata Chroma yang berkilauan.


Seperti kelereng berwarna emas, pikirnya.


Perlahan, seolah tersedot oleh kecantikan bola mata Chroma, Achromos mendekat. Chroma mundur satu langkah dan langsung tertahan oleh tempat tidur.


"A-ada apa, Yang Mulia? Apa aku melakukan kesalahan?" Tanya Chroma yang mulai merasa firasat buruknya semakin menjadi.


Achromos tidak menggubris dan semakin medekat. Tiba-tiba saja, ia memeluk Chroma dengan erat. Chroma melotot. Hubungannya dengan Achromos memang tidak bisa dibilang buruk, tapi hubungan mereka juga tidak baik. Setahu Chroma, mana ada laki-laki bangsawan yang tiba-tiba saja memeluk seorang gadis seperti Achromos! Apa lagi ini pertama kalinya Chroma dipeluk oleh laki-laki yang tidak terlalu ia kenal! Sungguh tidak tahu tata krama! Dengan refleks, Chroma langsung mendorong Achromos kuat-kuat dan menampar pipinya.


"DASAR KURANG AJAR!!" Seru Chroma.


Gadis itu merasa perasaannya begitu meluap-luap, membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Ia lalu menyerang Achromos dengan lincah, membuat Achromos terkejut dan menghindar dengan susah payah.


Achromos nyaris tidak percaya begitu melihat Chroma kalang kabut hanya karena sebuah pelukan. Lagi pula, putri kerajaan mana yang berteriak dengan kata kasar, menampar, lalu menyerang calon suaminya sendiri dengan teknik bela diri—yang entah bela diri apa—seperti seorang pemenang olimpiade? Kalau Achromos tidak menguasai bela diri juga, ia pasti tidak akan bisa menghindar dan sudah terkapar di lantai.


Chroma menghentikan serangannya sambil terengah-engah. Ia lalu mulai bisa berpikir jernih. Seketika itu juga wajahnya berubah pucat. Jantungnya berdegup kencang.


Astaga! Apa yang telah aku lakukan?? Pikirnya panik.


Ia lalu menatap ke lantai, tidak berani melihat Achromos di matanya. Ia bisa mendengar langkah kaki Achromos yang mendekat, lalu dalam sekejap Achromos sudah menggenggam tangannya kuat-kuat.


"Putri Jane," katanya pelan. "bisa kau jelaskan apa maksud semua ini?"


Chroma menelan ludah. Pikirannya kusut tidak karuan. Baru kali ini ia melakukan kesalahan fatal saat bekerja. Padahal biasanya ia selalu melakukan pekerjaannya dengan tenang dan penuh percaya diri. Tapi apa daya, Chroma juga seorang manusia. Dan pelukan tadi adalah pelukan pertamanya dengan orang tak dikenal—ia tidak selengah itu sampai pernah dipeluk seseorang, dan kali ini pengecualian karena ia terpaksa menjadi lengah.


"Ya-Yang Mulia! Maafkan aku! Aku sebenarnya adalah seorang putri yang sangat menyukai olahraga. Aku juga memaksa ayahku untuk belajar bela diri sejak kecil. Aku tidak bermaksud menipu Anda, Yang Mulia. Mohon maafkan aku." Ujar Chroma dengan nada menyedihkan.


Achromos merasa tidak yakin dengan jawaban Chroma, namun ia tetap melepaskan genggamannya.


"Putri Jane, kau besok akan jadi istriku, jadi kau harus terbiasa dengan hal-hal seperti tadi." Katanya datar.


Chroma hanya mengangguk-angguk tanpa melihat ke arahnya. Achromos mengangkat wajah Chroma, merasa kesal karena Chroma tidak mau menatapnya.

__ADS_1


"Kalau aku sedang bicara, kau harus melihat mataku." Perintahnya dengan kesal.


"Baik, Yang Mulia." Ujar Chroma pasrah.


"Dan kau tidak usah pura-pura menjadi anggun di depanku. Tidak cocok dengan wajahmu yang beringas seperti bocah ini." Timpal Achromos.


HAH?? TIDAK SOPAN SEKALI ORANG INI!! Seru Chroma dalam hati.


"Ehm.. Aku tidak berpura-pura, Yang Mulia. Aku hanya lebih suka bela diri dibandingkan dansa." Jawab Chroma menahan diri.


Achromos hanya terdiam dengan tatapan datar.


"Oke. Terserah kau saja." Katanya sambil pergi dari kamar.


Chroma menghela napasnya dengan panjang. Ia sudah melakukan kesalahan yang cukup fatal. Ia bisa dipecat atau dihukum mati jika saja penyamarannya terbongkar.


Sebaiknya aku tidak melaporkan hal ini pada si pengawal. Bisa runyam nantinya, batin Chroma.


"Ehm." Sebuah suara membuat Chroma menengok ke sudut ruangan.


Seseorang berseragam biru terlihat bersandar di dinding sambil melipat kedua tangannya—menatap Chroma dengan tatapan meminta penjelasan.


Oh, Tuhan. Batin Chroma.


Saat itu ia benar-benar ingin lari dari sana, tidak peduli bagaimana kelanjutan misinya dan sebesar apa pun imbalannya. Baginya hal ini akan sangat merepotkan.


•••


Seorang gadis bermata biru laut dan rambut coklat muda berombak menatap ke luar jendela kamarnya sambil menghela napas. Di pikirannya muncul berbagai macam hal yang rumit, membuat kepalanya pusing.


Sebagai seorang putri kerajaan, hidupnya tidak semudah kebanyakan orang. Ia harus menjadi putri ideal yang anggun dan harus mampu mengurus urusan kerajaan. Ia nyaris tidak bisa pergi dari istana, membuatnya seperti burung dalam sangkar.


Hari-harinya yang monoton tiba-tiba dikejutkan dengan permintaan dari Kerajaan Chraz, kerajaan yang sangat kejam dan kuat. Permintaan itu adalah lamaran dari Raja Chraz untuk menikah dengan putri Kerajaan Hecca. Ya. Menikah dengan dirinya.


Hal ini langsung membuat geger seisi istana, terutama ayahnya yang sangat protektif. Ia khawatir dengan nasib Jane jika Jane menikah dengan Achromos, namun ia juga khawatir kerajaannya akan dibabat habis oleh Raja Kegelapan itu.


Karena itulah, ayahnya menutuskan untuk memanggil Chroma. Rubah berbulu perak itu selalu menyelesaikan pekerjaannya tanpa cela—cepat dan efisien—namun pekerjaannya kali ini membutuhkan waktu dan kemampuan yang lebih banyak. Ia harus berpura-pura menjadi Jane dan menikah dengan Achromos.


Jane merasa ide ayahnya gila, karena jika Achromos tahu yang sebenarnya, Kerajaan Hecca pasti hancur jadi tanah. Entah apa yang akan dilakukan Achromos pada dirinya dan ayahnya. Memikirkannya saja sudah membuat Jane merinding.


"Achromos.. mengapa kamu begitu kejam?" Bisiknya.


Baru-baru ini Jane juga mendengar kabar bahwa Vhor ikut pergi ke Kerajaan Chraz. Ia diperintah oleh ayahnya untuk mengawasi kerja Chroma. Jane merasa semakin was-was. Apa yang ada di pikiran Achromos jika tiba-tiba Vhor tertangkap basah menyusup ke istananya?


Semua hal ini membuat Jane sakit kepala sejak kemarin. Lagipula, ia semakin takut karena sebentar lagi misi Chroma akan berakhir. Tapi, apa Chroma akan berhasil?

__ADS_1


"Dewa Yang Agung, lindungilah orang-orang yang aku sayang.." Gumamnya pelan.


•••


Chroma terdiam di hadapan Vhor yang masih berdiri sambil melipat kedua tangannya. Ia merasa biasa saja—setelah sempat terkejut dengan kehadiran Vhor. Dipecat atau jadi tahanan mati adalah pilihan terakhir yang bisa ia dapat. Tentu ia sudah siap dengan segala kemungkinan buruk yang bisa terjadi. Dan ia tidak pernah gagal untuk lari dari semua itu, satu kali pun.


"Nona Chroma, tidak, Putri Jane," kata Vhor sambil mendekat. "tolong beri saya penjelasan."


"Tidak ada." Jawab Chroma. "Seperti yang kau lihat, penyamaranku tidak terbongkar, hanya nyaris."


"Lalu?" Tanya Vhor.


"Tidak ada. Aku akan meneruskan misi ini sampai selesai. Atau kau mau melaporkan pada Raja Hecca? Silakan saja, aku tidak peduli." Jawab Chroma.


"Kau yakin?" Tanya Vhor sangsi.


"Tentu." Jawab Chroma santai.


Vhor terdiam melihat Chroma—yang tadinya terlihat kaget—kini terlihat begitu tenang dan percaya diri. Tentu. Julukannya sebagai rubah memang cocok untuknya karena ia selalu berhasil lari dan lepas dari kekacauan. Vhor menghela napas. Ia tidak bisa seenaknya membuat misi ini jadi berantakan, sebab Putri Jane dan Raja Hecca beserta kerajaan yang akan menjadi taruhannya.


"Baiklah, aku tidak akan melaporkanmu." Kata Vhor.


Chroma sedikit terkejut mendengar jawaban Vhor. Dalam hati ia merasa sedikit senang karena berhasil meyakinkannya.


"Ehm. Oke." Ujarnya.


Mereka berdua terdiam beberapa saat. Keheningan itu terasa begitu canggung. Chroma lalu kembali berpikir bagaimana cara Vhor bisa masuk. Hawa keberadaannya benar-benar tak terasa olehnya. Chroma sangat yakin Vhor bukan pengawal pribadi raja biasa. Buktinya Vhor bisa berada di kamar itu dan melihat semua yang terjadi tanpa disadari oleh dirinya maupun Achromos.


Tunggu.


Melihat semua?


Tiba-tiba Chroma tersadar bahwa Vhor melihat semua yang terjadi dengan Achromos dari awal—termasuk pelukan itu tentunya.


"Astaga!" Serunya. "Dasar penguntit!!! Tukang intip!!"


Vhor terbelalak kaget mendengar Chroma tiba-tiba berseru dan mendorong tubuhnya menuju pintu.


"Hei, hei! Apa-apaan ini??" Tanyanya.


"Laki-laki tidak sopan!! Tidak adakah laki-laki normal di hidupku???" Seru Chroma sambil mendorong Vhor keluar dari kamarnya.


"Pergi kau dasar mesum!!" Chroma membanting pintu kamarnya tepat di depan wajah Vhor yang kebingungan.


"Misteri.." Ucap Vhor pelan. "Apa semua perempuan seperti ini?"

__ADS_1


———


__ADS_2