Chroma & Achromos

Chroma & Achromos
Chapter 19: Aram's Victory


__ADS_3

Vhor membuka matanya lalu segera bangkit. Ia langsung meringis begitu merasakan nyeri di perutnya.


Benar juga, aku dikalahkan oleh Achromos. Batinnya.


Vhor menatap perutnya yang kini di perban lalu menyisir sekelilingnya. Ia berada di istana Chraz.


Kau terlalu naif, Achromos.


Mysha membuka pintu begitu saja dan tersentak melihat Vhor sudah sadar. Ia segera menghampiri Vhor dengan terburu-buru.


"Tu-Tuan, apa Anda baik-baik saja?!" Tanyanya panik.


"Iya. Lukaku sembuh dengan cepat." Jawab Vhor.


"Ta-tapi, lebih baik Anda istirahat dulu!" Seru Mysha.


"Di mana Achromos?" Tanya Vhor.


"Yang Mulia.. Yang Mulia.." Mysha terlihat begitu ragu untuk melanjutkan ucapannya.


"Tu-Tuan, maafkan kelancangan saya, tapi.. apakah Tuan bisa bertarung?"


"Hm? Bertarung? Kalau tidak bisa aku tidak mungkin menantang Achromos." Jawab Vhor. "Meski pun pada akhirnya aku kalah."


Tiba-tiba saja Mysha menggenggam tangan Vhor dengan erat. Ia menatap Vhor dengan tatapan nanar.


"Tuan, tolonglah Yang Mulia!" Katanya.


"Tolong?" Vhor menaikkan alisnya.


"I-iya! Saya tahu ini sangat tidak masuk akal karena Tuan sedang terluka. Ta-tapi saat ini, Yang Mulia pergi untuk menyelamatkan Pangeran Cain. Beliau pergi sendirian! Apa lagi beliau baru saja selesai berperang dan belum istirahat sama sekali.. Saya takut terjadi sesuatu pada Yang Mulia!" Seru Mysha.


"Menyelamatkan Cain? Ke mana?"


"Sa-saya tidak tahu.. Maafkan saya. Ta-tapi sepertinya ada hubungannya dengan Scha.. Schatten."


Vhor langsung memicingkan matanya mendengar kata Schatten. Ia merasa bodoh karena telah diperdaya oleh mereka. Ia juga merasa luar biasa menyesal karena tidak mampu menyelamatkan Jane.


"Aku mengerti." Ujar Vhor.


"Eh? Anda mau menolong Yang Mulia?" Tanya Mysha dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


"Jangan salah paham. Aku hanya ingin menghancurkan Schatten menjadi abu." Balas Vhor dingin.


"Terima kasih! Terima kasih, Tuan! Saya juga akan ikut bersama Tuan!" Ujar Mysha senang.


"Hah? Apa maksudmu?" Vhor mengerutkan alisnya.


"Ah? Saya sebenarnya perawat Yang Mulia sejak kecil. Sa-saya merasa sangat khawatir dengan keadaan beliau, karena itu saya mohon Tuan membiarkan saya ikut!!" Jawab Mysha.


Vhor tidak menanggapi dan segera bangkit dari duduknya.


"Kalau begitu ayo pergi." Ujarnya.


"Eh? Pe-pergi kemana, Tuan? Kita tidak tahu Yang Mulia pergi ke mana." Tanya Mysha dengan heran.


"Tidak usah khawatir." Kata Vhor. "Aku sangat tahu ke mana dia pergi."


•••


Achromos melesat membelah hutan yang menjadi perbatasan Chraz dengan kudanya hitamnya yang berlari dengan kecepatan tinggi. Sudah hampir seharian ia berpacu tanpa henti. Mau tidak mau ia harus berhenti sejenak dan membiarkan kudanya beristirahat sebentar lagi.


Achromos berdecak begitu merasa kasihan melihat kudanya kelelahan. Dengan terpaksa ia menghentikan kudanya di pinggir sebuah sungai kecil untuk membiarkannya minum. Ia turun dan mengikat kudanya pada sebatang pohon lalu terduduk di tanah. Ia membuka botol minum yang dibawanya dan meneguk isinya dengan cepat.


Aku harus cepat.. Batinnya sambil mengepalkan tangannya dengan erat.


Sinar matahari semakin menjadi gelap dan samar. Hari sudah menjelang malam dan Achromos bahkan belum sampai di batas akhir Kerajaan Chraz. Ia merutuk dengan kesal. Padahal setiap detik sangat berharga, tapi ia tidak bisa memaksakan kudanya untuk terus melaju. Ia hanya bisa berharap Chroma dan Cain baik-baik saja sampai ia datang.


Achromos mengelap keringatnya yang menetes. Kalau dipikir-pikir, apa yang sedang ia lakukan sama saja dengan bunuh diri. Ia pergi menuju markas musuh yang memiliki kekuatan di luar kemampuan manusia biasa sendirian. Apa lagi ia tidak tahu ada berapa jumlah mereka. Tapi itu semua nyaris tidak membuatnya gentar. Ia akan melakukan apa pun demi menyelamatkan Chroma dan Cain.

__ADS_1


Achromos bangkit lalu kembali menaiki kudanya. Ia memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanannya sampai matahari benar-benar terbenam.


•••


"Aram, apa kau yakin dengan ini semua?" Shienna—satu-satunya anggota perempuan Schatten—menggenggam tangan Aram dengan erat. Aram segera menepis tangan Shienna dan mendekati Chroma yang masih tertidur.


"Sudah sejauh ini, lalu kau ingin aku berhenti?" Tanya Aram sambil melirik pada Shienna—yang langsung merasa ngeri—dengan tajam.


"Tidak hanya Shienna, aku juga ingin menanyakan hal yang sama padamu, Aram." Sambar Fen.


Aram hanya menghela napas panjang melihat anggotanya merasa ragu dengan apa yang akan ia lakukan. Padahal mereka telah melakukan berbagai macam hal demi tercapainya hal ini, lalu sekarang mereka tidak yakin?


"Aku tidak berniat untuk berhenti, Shienna, Fen." Jawab Aram tegas.


Shienna dan Fen hanya bisa tutup mulut mendengar kemantapan hati Aram. Kalau Aram sudah sangat yakin dengan ini semua, mereka tentu akan menuruti perintahnya. Lagi pula, Aram bukan hanya seorang ketua. Bagi mereka semua, Aram adalah segalanya. Mereka akan melakukan apa saja demi Aram, bahkan mati sekali pun.


"Claist tou rhienn, Xerra." Bisik Aram sambil mengusap rambut Chroma.


Tak lama, Chroma membuka matanya dan mendapati sosok Aram sedang berdiri di sebelahnya sambil memainkan rambut perak Chroma. Chroma nyaris menjerit begitu melihat wajah Aram, namun lidahnya terasa begitu kelu sangking benci dan marahnya ia pada Aram.


"Oh, Chroma. Akhirnya kau bangun." Ujar Aram sambil menyeringai senang.


Aram mendekatkan wajahnya pada wajah Chroma hingga kini hanya berjarak beberapa senti saja. Chroma membuka matanya lebar-lebar begitu Aram mengecup keningnya. Ia merasa luar biasa jijik hingga ingin muntah. Ia sangat berharap ada pisau atau benda apa pun yang bisa ia gunakan untuk menusuk Aram saat itu juga.


"Kau!!" Geram Chroma akhirnya.


"Chroma, kau cantik sekali.." Ujar Aram sambil mengusap pipi Chroma.


Tak lama, seluruh anggota Schatten masuk ke dalam ruangan, membuat perhatian Chroma teralihkan. Namun Chroma terkejut bukan main begitu melihat seseorang yang seharusnya tidak ada di sana, membaur bersama kelima anggota Schatten lainnya.


"Cain??!!!" Jeritnya tak percaya.


Yang membuat Chroma luar biasa terkejut bukan hanya sosok Cain yang berada di sana, tapi juga bagaimana penampilan Cain saat ini. Ia mengenakan jubah hitam dan anting perak berbentuk mandala, layaknya seorang anggota Schatten.


"Apa.. apaan ini??" Suara Chroma nyaris tercekat. "Kenapa kau ada di sini, Cain???"


Cain hanya menatap Chroma dengan tatapan kosong dan dingin. Selama ini, meskipun Cain memiliki ekspresi yang datar, Chroma masih bisa merasakan berbagai macam emosi yang ia miliki. Namun saat ini, Chroma nyaris tidak bisa merasakan apa pun. Seolah-olah Cain adalah boneka tanpa jiwa.


"Wah, putriku yang cantik menangis." Kata Aram sambil mengusap jejak air mata di pipi Chroma.


"Jangan sentuh aku!!!" Jerit Chroma sambil menatapnya tajam. Aram hanya terkekeh.


"Tidak usah khawatir, Chroma. Sebentar lagi, pangeranmu akan datang menjemput." Aram kembali memperlihatkan seringainya yang membuat Chroma muak.


"Apa maksudmu?!" Desis Chroma.


"Hm.. Tapi sebelum itu, aku akan mengambil Xerra dulu!" Kata Aram riang.


"Xerra?? Apa itu??" Seru Chroma.


"Memangnya aku belum menjelaskan padamu, ya?" Ujar Aram sambil seolah-olah sedang berpikir. Ia lalu kembali menatap Chroma. "Akan kuberi tahu. Xerra adalah sebuah julukan bagi orang yang memiliki kekuatan cahaya, tapi Xerra juga bisa dibilang kekuatan itu sendiri."


"Kekuatan? Aku tidak mengerti!"


"Kau mau tahu kenapa aku mengincarmu, Chroma? Dan membunuh Ash-mu serta orang-orang di Ellios yang selalu menempel padamu seperti lalat? Karena kau adalah Xerra dan aku menginginkan kekuatannya!! Hahahaha!"


Aram tertawa menggelegar hingga membuat Chroma bergidik. Ia nyaris tidak mengerti apa yang dimaksud Aram dengan Xerra, namun ia tidak mempedulikan hal itu dan fokus pada kalimat lain yang ia ucapkan. Ia sekarang tahu kenapa Aram tidak membunuhnya tiga tahun lalu, kenapa Aram membantai seluruh Kerajaan Ellios, dan kenapa ia menculiknya ke sini. Ia sekarang semakin merasa bahwa Ash dan Leon mati karenanya.


Tidak. Ash dan Leon memang mati karenanya.


"Semuanya sudah kurencanakan dengan hati-hati sebelumnya. Kau pikir bagaimana caranya aku bisa menangkapmu yang seperti rubah ini dengan mudah? Semuanya adalah bagian dari rencanaku, Chroma. Ketika kau histeris setelah kematian Ash, kau berubah menjadi 'Chroma si rubah berbulu perak', pembunuh bayaran yang hanya akan menerima pekerjaan untuk membunuh orang-orang keji. Itu di luar dugaanku, tapi keputusanmu itu mempermudah rencanaku. Hahaha." Aram kembali berceloteh tanpa mempedulikan Chroma yang nyaris tak bisa mengikuti ucapannya.


"Karena itu, aku memutuskan untuk memberimu pekerjaan baru. Aku menelusup di Kerajaan Hecca dan menjadikan Shevo sebagai pionku sejak lama. Karena itulah kau mendapat pekerjaan di Kerajaan Chraz, itu bukan kebetulan. Braz juga sudah banyak membantuku dalam rencana ini, meskipun ia tidak tahu rencanaku dan bukan bagian dari Schatten. Ia tega membunuh istrinya, membantai orang-orang Chraz, dan membuat anaknya sendiri mendapat julukan 'Raja Kegelapan' hanya demi kesenangan! Aku bersyukur sekali orang itu adalah penikmat permainan, karena apa yang dia lakukan sangat membantu rencanaku! Lagi pula, dia menerima saran Chier untuk menikahkan Achromos dan Jane dengan mudah karena menurutnya itu menarik! Dia benar-benar menganggap ini semua sebagai permainan! Hahahaha!" Aram terdiam sejenak sambil menatap wajah Chroma yang tak karuan.


"Tujuanku memberimu pekerjaan di Chraz hanya satu, membuatmu lengah dan menyerangmu hingga kau tidak berdaya seperti sekarang. Karena kalau kau menyamar menjadi Jane, tentu kau harus berpura-pura menjadi putri anggun dan melemahkan pertahananmu. Setelah itu aku tinggal memanfaatkan Hecca untuk menyerang Chraz agar perhatian Achromos teralihkan dan menangkapmu dengan mudah. Cerdik, bukan?"


Chroma benar-benar tak berkutik mendengar perkataan Aram. Apa yang baru saja ia dengar membuat perasaannya kalut. Jadi, selama ini mereka semua benar-benar menari di atas telapak tangan Aram? Nyaris semua yang ia lakukan adalah hal yang diinginkan Aram? Layaknya sebuah boneka yang dimainkan dengan benang olehnya dari balik panggung?


"Daaaaan, aku begitu menginginkan Xerra, kekuatan yang bisa melenyapkan apa pun ke dalam cahaya." Lanjut Aram. "Apa pun, Chroma."

__ADS_1


Chroma—yang sedang berusaha memahami semuanya—langsung memucat begitu Aram kembali menyeringai. Kilatan penuh kebencian terpampang jelas di bola matanya yang semerah darah. Ia sangat yakin Aram memiliki niat busuk jika ia sampai mendapatkan Xerra.


"Untuk apa?? Untuk apa kau melakukan ini semua?? Kenapa kau menginginkan Xerra?!" Pekik Chroma.


"Hm.. Menurutmu untuk apa? Hahaha." Balas Aram. "Kurasa aku punya cukup banyak alasan untuk melenyapkan seisi Pulau Xan."


Chroma menatap Aram dengan wajah penuh teror. Ia nyaris tidak bisa memproses apa yang baru saja dikatakan oleh Aram. Melenyapkan seisi Pulau Xan? Ia pasti gila! Pulau Xan adalah salah satu pulau terbesar di dunia yang di atasnya berdiri lima kerajaan besar dan beberapa puluh kerajaan kecil. Kalau sampai Aram melenyapkan semuanya, entah berapa ratus juta nyawa akan melayang di tangannya.


"Jangan.. bercanda.." Ujar Chroma dengan susah payah karena lidahnya nyaris tercekat.


Aram tak menggubris Chroma dan hanya menyeringai penuh makna. Tangannya lalu menyentuh perut Chroma, tepat di lambang mandala yang berwarna merah pekat itu.


"Apa yang akan kau lakukan??" Seru Chroma panik. Tubuhnya berusaha meronta sebisa mungkin, namun ia nyaris tidak bisa bergerak akibat akar pohon sialan itu.


Dengan cepat dan kuat, Aram menekan lambang itu dengan jemarinya, membuat Chroma menjerit kesakitan. Ia segera membuat lingkaran sihir di atas Chroma dengan tangan yang satunya dan melafalkan mantra tak dikenal. Seluruh anggota Schatten langsung mengelilingi Chroma dan membentuk lingkaran dengan kedua tangannya lalu ikut melafalkan mantra itu berulang kali.


"Ascherin Klau Siacho.."


"Anobis kroin lasch oprius.."


"Schailus protis kenior satus.."


"Trou schalein amnais mori du Xerra.."


"Sollei di artires schatten omne sinnoaris.."


Tiba-tiba saja, suara langkah kaki yang tengah berlari terdengar mendekat. Seluruh anggota Schatten tidak mempedulikan hal itu dan tetap melanjutkan ritualnya.


"Chroma!!"


Achromos membuka pintu di hadapannya dengan keras lalu mendapati beberapa sosok berjubah hitam tengah berdiri melingkari sebuah pendaran cahaya perak di tengah ruangan yang sangat luas itu sambil mengucapkan sesuatu yang terdengar seperti mantra.


Schatten!! Dugaan Cain benar!! Batin Achromos.


Ia segera mengeluarkan pedangnya dan membuat ancang-ancang siap menyerang. Saat Achromos melangkah mendekat, tiba-tiba saja pendaran cahaya itu berubah menjadi pilar cahaya keperakan yang menjulang. Jeritan suara Chroma terdengar menggema, membuat Achromos akhirnya menyadari Chromalah yang berada di tengah orang-orang itu. Tubuh mungilnya meronta menahan pedih di atas altar dengan kedua tangan dan kaki yang terikat, dan seorang laki-laki berambut putih pucat tengah menyentuh perutnya.


Achromos tidak mengerti apa yang sedang terjadi, namun ia segera menarik salah satu orang berjubah hitam itu dengan kasar.


"Hentikan!!" Serunya kencang.


Jona—yang matanya terbuka karena seseorang menarik bahunya—langsung menatap Achromos dengan kesal.


"Ah! Kau mengganggu!" Protes Jona sambil membalikan badannya.


Achromos melangkah untuk mendekati Chroma, namun Jona segera menghadangnya dengan tangan.


"Lawan dulu aku, raja bodoh." Ujar Jona dengan tatapan dingin.


Achromos berdecak. Mau tidak mau ia harus melawan laki-laki ini kalau mau menyelamatkan Chroma. Tidak, ia harus melawan seluruh anggota Schatten jika ingin menyelamatkannya. Achromos mundur beberapa langkah sambil menatap Jona penuh waspada.


"Hm.. Sepertinya akan cukup sulit. Bagaimana jika aku dibantu dengan satu orang?" Ucap Jona sambil menyeringai. Tangannya kemudian menarik salah seorang berjubah hitam yang tengah melafalkan mantra lalu membuatnya berbalik dan berdiri di sebelahnya.


"Cain??!!" Mata Achromos nyaris keluar begitu melihat sosok Cain menatapnya tanpa ekspresi. Ia mengenakan jubah hitam dan anting perak berbentuk mandala. "Apa maksud ini semua??!!"


"Hahahahahaha!!" Jona tertawa puas melihat wajah Achromos yang terlihat seperti baru saja melihat hantu.


"Cain, jawab aku!!!" Jerit Achromos.


Cain tak menjawab Achromos dan malah mengeluarkan pedang dari pinggangnya. Achromos nyaris tidak percaya dengan apa yang ia saksikan. Tangannya bergetar tidak karuan, membuat pedang di tangannya nyaris jatuh.


Tidak! Ini tidak mungkin!! Cain tidak mungkin.. Sangkalnya dalam hati.


Suara jeritan Chroma kian memekakkan telinga begitu pilar cahaya itu seolah tersedot ke dalam tubuh Aram. Aram meringis keras begitu cahaya itu masuk ke dalam tubuhnya. Tak lama kemudian, cahaya keperakan itu lenyap tanpa jejak, dan teriakan Chroma berakhir tak bersisa. Aram menyentuh perutnya yang terasa perih bukan main lalu menyeka darah yang keluar dari mulutnya. Apa yang dilakukannya adalah sebuah taruhan, karena memasukkan Xerra ke dalam tubuhnya hampir sama dengan bunuh diri jika tidak hati-hati. Aram bahkan sempat terbatuk dan oleng untuk beberapa saat, namun setelah itu ia kembali berdiri tegak dan tertawa terbahak-bahak dengan puas.


"Akhirnya!!! AKHIRNYAA!!! HAHAHAHAHA!!!" Serunya dalam kesenangan.


Seluruh anggota Schatten—termasuk Jona dan Cain yang sedang menghadapi Achromos—langsung berlutut menghadap Aram. Achromos kembali dikejutkan begitu melihat sosok Chlari berada di antara mereka, namun otaknya jauh lebih dipenuhi dengan berbagai pertanyaan mengenai apa yang sedang terjadi.


"Selamat, Aram." Ucap seluruh anggota Schatten bersamaan. Mereka semua terlihat senang karena Aram berhasil memenangkan permainan ini. Aram pun langsung menyunggingkan seringai penuh kemenangan.

__ADS_1


"Akhirnya.. aku mendapatkan Xerra!!"


———


__ADS_2