Chroma & Achromos

Chroma & Achromos
Chapter 11: Realization


__ADS_3

"Baiklah, kalian lanjutkan penyelidikan ini dan beri tahu pengawal untuk mengetatkan penjagaan istana." Achromos memerintahkan tiga orang tim penyelidik di hadapannya untuk keluar dari ruangannya.


"Baik, Yang Mulia." Jawab tim penyelidik sambil keluar dari ruangan.


Achromos mengetuk-ngetukan jarinya dengan sedikit gelisah. Ada sesuatu yang janggal baginya. Informasi yang diberikan tim penyelidik tadi membuatnya menyadari sesuatu. Ia lalu menyambar buku kuno yang ada di atas mejanya. Tim penyelidik mengatakan mereka menemukan sesuatu yang berkaitan dengan Schatten di buku itu. Dengan sedikit tergesa-gesa, Achromos membaca kalimat demi kalimat yang ada di buku itu dengan seksama.


I.. Ini!! Tidak mungkin! Seru Achromos dalam hati setelah membaca satu kalimat yang ada di dalam buku tersebut. Jarinya mengepal erat dan tatapan matanya langsung berubah tajam.


"Cain," ujarnya pada Cain yang sedari tadi meminum tehnya di sofa.


"Iya, Yang Mulia?" Jawab Cain.


"Aku ingin kau menyelidiki sesuatu."


•••


"Jane, ayo kita pergi." Achromos tiba-tiba saja muncul saat Chroma sedang ditata rambutnya oleh Mysha di dalam kamar. Chroma segera meminta Mysha untuk berhenti lalu menengok.


"Pergi? Pergi ke mana, Yang Mulia?" Tanya Chroma.


"Ikut saja." Balas Achromos singkat.


Ya ampun.. raja ini semena-mena saja! Desis Chroma dalam hati.


Achromos mengulurkan tangannya yang diraih oleh Chroma dengan sedikit ragu.


"Mysha, aku pergi dulu." Ujar Chroma. Mysha langsung menundukkan badannya dalam-dalam.


"Te-tentu saja, Yang Mulia. Semoga hari Anda menyenangkan, Ratu Jane, Raja Achromos." Balas Mysha.


Achromos dan Chroma kemudian melangkah ke luar kamar. Dalam hati, Chroma bertanya-tanya kenapa Achromos tiba-tiba mengajaknya pergi. Hal ini sangat tidak wajar. Mungkinkah ada sesuatu yang direncanakan Achromos?


"Jane." Panggil Achromos—memecahkan lamunan Chroma.


"Iya, Yang Mulia?" Balas Chroma.


"Kalung, anting, atau gelang?" Tanya Achromos.


"Hah?" Balas Chroma lagi. "Maksud Yang Mulia?"


Achromos berdecak. Chroma memang benar-benar seperti Cain versi perempuan—dengan tingkatan yang lebih rendah tentunya.


"Kalung, anting, atau gelang??!" Achromos sedikit meninggikan suaranya karena kesal.


"Ka-kalung.. mungkin?" Jawab Chroma dengan ragu.


Raja bodoh ini benar-benar aneh hari ini. Apa dia salah makan?? Batin Chroma.


Achromos menghentikan langkahnya setelah sampai di depan sebuah rumah kaca yang cukup besar. Ia lalu menarik Chroma masuk.


Chroma langsung terkesiap melihat isi rumah kaca tersebut. Berbagai macam bunga warna-warni terlihat berkilauan diterpa sinar matahari. Bahkan di dalamnya juga terdapat berbagai jenis kupu-kupu cantik. Baru pertama kali Chroma melihat bunga yang begitu banyak dan berwarna-warni.


"Waaaah~ indah sekali!" Seru Chroma sambil membuka mulutnya dengan lebar.


Achromos hanya berdiri di sebelah Chroma sambil melipat tangannya. Ia memperhatikan gadis mungil yang sekarang sedang berlari kecil sambil mencium harum bunga-bunga yang ada di sana. Sesekali ia juga mengejar kupu-kupu yang berada di dekatnya. Hal itu juga cukup mirip dengan sifat Cain. Tanpa Achromos sadari, ia menyunggingkan senyuman tipis di sudut bibirnya.


"Yang Mulia!" Seru Chroma dari kejauhan. "Terima kasih!"


Achromos hanya terdiam tanpa membalas ucapan Chroma.


Hanya diajak ke rumah kaca saja ia berterima kasih? Padahal biasanya perempuan menginginkan berlian atau gaun. Ujar Achromos dalam hati.


"Jane." Panggilnya sambil mengisyaratkan Chroma untuk menghampirinya.


Chroma melangkah riang dengan senyum yang masih mengembang di wajahnya.

__ADS_1


"Ada apa, Yang Mulia?" Tanya Chroma.


"Tutup matamu." Perintah Achromos.


"Eh? Memangnya ada ap—"


"Tutup saja matamu!" Seru Achromos.


Dengan ragu, Chroma menutup matanya. Achromos lalu mengeluarkan sebuah kalung dari kantung bajunya.


Untung saja aku beli kalung. Ujarnya dalam hati.


Baru saja Achromos hendak memakaikannya di leher Chroma, ia menyadari sebuah kalung yang sudah melekat di sana. Kalung perak itu memiliki liontin berbentuk bulan sabit dengan ukiran yang begitu cantik. Achromos yang melihatnya langsung memasukkan kembali kalung yang ia pegang ke dalam kantung bajunya.


"Yang Mulia? Apa aku sudah boleh buka mata?" Tanya Chroma.


Achromos terdiam. Ia tidak tahu kalau Chroma sudah memiliki kalung.


Apa aku harus menyuruhnya untuk melepasnya? Tapi aku sudah terlanjur menyuruhnya menutup mata! Seru Achromos dalam hati.


"Kalungmu.. kau beli di mana?" Tanya Achromos setelah susah payah memikirkan pertanyaan yang ingin ia ajukan. Chroma membuka matanya dan langsung memegang kalung yang ia kenakan.


"Ah, ini.." Chroma tidak melanjutkan ucapannya dan menatap kalung itu dengan tatapan nanar. Achromos langsung memahaminya. Ada sesuatu di balik kalung itu.


"Kau diberi oleh seseorang?" Tebak Achromos.


"Ini.. diberikan oleh orang yang sangat berharga bagiku." Jawab Chroma. Tangan mungilnya memegang kalung itu dengan erat. Achromos tahu tanpa perlu Chroma mengatakannya—kalung itu diberi oleh orang yang sangat dicintainya. Tapi, siapa?


"Jane, siapa Ash?" Tanya Achromos tanpa basa-basi. Ia teringat saat Chroma baru saja diserang dan menggumamkan nama itu dalam keadaan setengah sadar.


Mata Chroma melebar mendengar nama itu disebut. Pasalnya, ia merasa tidak pernah menceritakan apa pun mengenai Ash. Chroma langsung melepaskan tangannya dari kalung perak itu dan melemparkan pandangannya ke sembarang tempat.


Apa yang harus aku katakan?? Seru Chroma dalam hati.


"Ash.." Ucap Chroma akhirnya. "Ash adalah.."


"Siapa?" Achromos kembali menekan Chroma untuk menjawab.


"Ash.. Ash adalah.. ci.."


"Ci?"


Ci? Cinta? Cinta pertamanya? Cium? Orang yang pernah menciumnya? Ci? Ci apa? Achromos berseru dalam hati, tidak sabar mendengar lanjutan ucapan Chroma.


"Ci.. cihuahuaku yang sudah mati." Jawab Chroma.


Achromos terdiam sejenak, mencoba mencerna perkataan Chroma baik-baik.


"Ci.. huahua? Anjing?" Tanya Achromos memastikan. Chroma mengangguk-angguk mengiyakan.


Apa dia percaya? Oh Tuhan, aku tidak bisa memikirkan alasan lain!! Batin Chroma dengan panik.


"Lalu.. kalungmu kau dapat dari siapa?" Tanya Achromos.


"Ini? Aku.. aku dapat dari mendiang ibuku." Jawab Chroma asal.


Achromos kembali terdiam sejenak. Kecurigaannya belum sepenuhnya hilang. Ia yakin Ash adalah manusia. Kalau tidak, mana mungkin Chroma yang sekarat menggumamkan nama anjingnya? Sedikit tidak masuk akal.


Achromos menatap Chroma yang terlihat biasa saja. Mungkin ia merasa Achromos mempercayai perkataannya. Achromos kini menyadari, mereka berdua sama-sama tidak tahu menahu mengenai satu sama lain. Bahkan Chroma masih belum percaya padanya setelah sebulan menikah dengannya. Buktinya ia masih tidak bisa jujur padanya.


Yah, bukan salahnya juga tidak percaya padaku. Batin Achromos.


"Jane, aku percaya padamu." Ujar Achromos tiba-tiba. Matanya menatap lurus ke bola mata emas Chroma yang sejernih kaca.


"Karena itu, aku ingin kau berjanji."

__ADS_1


"Janji apa, Yang Mulia?" Balas Chroma.


"Berjanjilah, kau tidak akan pernah mengkhianatiku."


Jantung Chroma lagi-lagi berdetak dengan tidak biasa. Mata sehitam langit malam milik Achromos terasa seperti menyedot tubuhnya hingga lemas. Tiba-tiba saja, ia merasakan sakit luar biasa di perutnya dan langsung meremasnya sambil sedikit membungkuk. Bekas lukanya terasa perih dan panas hingga berdenyut.


"Jane, ada apa?" Tanya Achromos sambil memegang bahu Chroma. Chroma menggenggam erat lengan Achromos dengan tangannya yang bergetar.


"Aku.. tidak apa-apa, Yang Mulia." Ucap Chroma sambil menegakkan tubuhnya. Ia menyunggingkan senyumnya lalu melepaskan tangannya dari lengan Achromos.


"Kau yakin? Aku akan antar kau ke kamar." Tanpa menunggu respon Chroma, Achromos segera meraih tangan Chroma dan menariknya menuju kamar mereka.


Chroma kembali merasakan degup jantung yang tidak biasa. Kali ini ia yakin seratus persen dirinya sakit. Namun ia sama sekali tidak bisa menebak penyakit apa yang sedang dideritanya.


Apa ini sindrom Achromos? Batin Chroma heran. Debaran jantung ini hanya terjadi ketika ia bersama Achromos.


Eh, tunggu. Sewaktu bersama Chlari jantungku juga berdegup aneh. Pikir Chroma lagi.


Chroma mengerutkan keningnya karena merasa frustrasi. Baginya, ini pertama kali ia merasakan rasa sakit yang aneh ini. Ia berharap rasa sakit ini bisa segera hilang—dari perut dan jantungnya.


•••


Achromos duduk di tepi tempat tidur setelah menyuruh Chroma untuk merebahkan diri di sana. Ia sudah memanggil dokter Ghoz yang akan datang sekitar sepuluh menit lagi. Mata hitamnya menatap wajah Chroma yang terlihat sedang berpikir keras.


"Kau sedang memikirkan apa? Keningmu sampai berkerut." Achromos menyentuh dahi Chroma yang mengkerut dengan telunjuknya. Chroma langsung terbuyar dari lamunannya dan segera menatap Achromos.


"Bukan apa-apa, Yang Mulia." Jawab Chroma.


Kali ini, giliran dahi Achromos yang mengkerut. Entah sudah berapa kali Chroma menjawab 'bukan apa-apa' atau 'tidak apa-apa' ketika ditanya olehnya. Kenapa gadis mungil ini begitu sulit mengatakan semuanya pada dirinya? Achromos langsung mencubit kedua pipi Chroma.


"Jane, aku ingin membalas yang tadi." Tukasnya.


"Hang hadi? Aha ihu?" Tanya Chroma. Achromos melepaskan cubitannya dan memegang kedua pipi Chroma pelan. Ia lalu mendekatkan wajahnya pada Chroma. Mata Chroma langsung melebar dan membulat.


Oi!! Oi!! Tunggu dulu!! Apa ini? Apa yang akan dia lakukan?? Astaga!! Tuhan!! Aku harus bagaimana?? Chroma berseru di dalam hati dengan kepalanya yang berputar-putar. Hatinya terasa mau meledak seketika itu juga. Mukanya langsung berubah menjadi kepiting rebus. Jantungnya semakin tidak karuan.


Mata Achromos yang hitam terasa seperti sebuah lubang hitam yang mampu menyedot apa pun—atau siapa pun—yang ada dalam jarak pandangnya. Tak terkecuali Chroma. Situasi yang tidak pernah ia alami ini membuat otaknya kacau hingga tidak bisa berpikir. Ia bahkan sudah tidak mampu untuk mengatakan apa-apa di dalam hatinya. Ia hanya menatap ke mata hitam indah milik Achromos yang kini jaraknya hanya lima sentimeter dari matanya. Wajah keduanya semakin mendekat hingga dahi mereka bersentuhan. Hanya suara debaran jantung yang terdengar di tengah ruangan yang hening itu. Perlahan, Chroma memejamkan matanya.


"Jane.."


Hanya dengan satu kata itu saja, otak Chroma kembali bekerja dengan baik. Ia segera membuka mata dan memalingkan wajahnya—membuat Achromos langsung mengangkat tubuhnya dari posisi membungkuk. Hati Chroma terasa begitu sakit mendengar nama itu disebut. Ia merasa seperti sebilah pedang ditusukkan tanpa basa-basi ke dadanya.


Ah..


Aku mengerti sekarang..


Aku bukan sakit..


Aku..


jatuh cinta pada raja bodoh ini.


Chroma menutup wajah dengan kedua tangannya. Entah kenapa air mata mengalir begitu saja dari matanya. Ia baru menyadari bahwa ia jatuh cinta pada Achromos, entah sejak kapan. Namun ia juga sadar bahwa saat ini ia adalah 'Jane'. Dan orang yang Achromos ajak bicara selama ini bukan dirinya, tapi 'Jane'. Tangan yang Achromos genggam, dahi yang ia sentuh, pipi yang ia cubit, semuanya milik 'Jane'.


Chroma meringkuk di atas tempat tidur, membuat Achromos kebingungan. Achromos langsung memegang kedua tangan Chroma dan membuka wajahnya. Ia terkejut melihat air mata yang membanjiri pipi Chroma.


"Jane, ada apa? Apa aku salah? Apa kau takut? Maafkan aku! Aku tidak akan mengulanginya lagi!" Achromos terlihat begitu khawatir dan bersalah, merasa dirinyalah penyebab Chroma menangis. Kenyataannya, memang dirinya yang membuat Chroma menangis.


Mendengar nama 'Jane' kembali disebut, hati Chroma bertambah hancur.


"Achromos.." Panggil Chroma. Achromos mempererat genggamannya mendengar ucapan Chroma. Baru kali ini Chroma menyebut namanya. Ia lalu kembali tersadar dan menatap Chroma yang kembali membuka mulutnya.


"Aku.. "


———

__ADS_1


__ADS_2