Chroma & Achromos

Chroma & Achromos
Chapter 20: Reinforcement


__ADS_3

Achromos berlutut di atas tanah sambil berusaha mencerna semua yang telah terjadi. Pedang di tangannya kini ia biarkan tergeletak di tanah. Matanya menatap Chroma lekat-lekat. Entah kenapa firasatnya begitu buruk. Ia merasa apa yang telah dilakukan Aram membahayakan nyawa Chroma, meski ia sendiri tidak mengerti itu apa.


"Aaaah!! Aku merasakannya!! Xerra! Aku merasakan kekuatan yang meluap di tubuhku! Hahahaha!!!" Aram kembali tergelak penuh kemenangan sambil menatap langit-langit ruangan. Ia kemudian melirik Achromos sambil menyeringai. Tangannya lalu meraih tubuh mungil Chroma yang tak berdaya dan menggendongnya.


"CHROMA!!" Seru Achromos panik. Ia segera bangkit dan meraih pedangnya, lalu berusaha mendekat. Namun seluruh anggota Schatten langsung menghadangnya.


"Kalau kau bisa mengalahkan mereka, aku akan berbaik hati mengembalikan ratumu." Ujar Aram sambil menghilang di kepulan asap hitam.


Seluruh anggota Schatten kemudian menatap Achromos yang mematung. Dengan refleks Achromos menodongkan pedangnya pada mereka. Matanya berkobar-kobar penuh amarah. Jona tersenyum sinis lalu membisikkan sesuatu pada Cain. Cain kemudian mengangguk dan melangkah mendekati Achromos.


"Kakak.." Ujar Cain.


"Cain!" Seru Achromos. Hatinya berdenyut tidak karuan.


"Matilah."


Tanpa aba-aba, Cain langsung menyerang Achromos dengan kekuatan penuh. Achromos menggeretakkan giginya dengan geram. Ia tidak mungkin bisa melawan Cain dengan sepenuh hati. Tidak mungkin. Cain adalah keluarga satu-satunya. Adik yang paling ia sayangi. Ia tidak mungkin tega menghunuskan pedangnya pada Cain.


"Cain, sadarlah!! Kenapa kau melakukan ini semua?!" Seru Achromos di tengah-tengah pertempuran.


Cain tidak menanggapi dan terus menyerang Achromos dengan membabi-buta. Chlari—yang sedari tadi menonton di sisi ruangan—menatap pertarungan itu tanpa ekspresi. Ia kemudian membalikkan badannya dan melangkah menjauh.


"Mau ke mana?" Tanya Jona sambil meliriknya tajam.


"Aku bosan. Tidak boleh kalau aku mau pergi mencari angin?" Balas Chlari sambil menatap Jona dengan senyuman.


"Ho.. Mencari angin?" Jona menghampiri Chlari dengan tatapan penuh curiga. "Kemana? Ke tempat Aram?"


"Astaga, Jona! Untuk apa aku ke tempat Aram? Saat ini dia pasti sedang menikmati waktunya bersama Chroma! Aku tidak mungkin merusak itu semua! Ingat, Aram adalah segalanya bagi kita, kan?" Tukas Chlari sambil menggelengkan kepalanya. Jona hanya berdecak sambil meninggalkan Chlari begitu saja. Ia merasa terlalu muak untuk berlama-lama bicara dengannya.


"Shienna, kau awasi Chier! Dia sangat mencurigakan!" Bisik Jona pada Shienna yang tengah fokus menonton pertarungan Cain dan Achromos. Shienna segera menatap Jona dengan malas.


"Kenapa harus aku? Lagi pula, siapa kau berani memerintahku?" Tanya Shienna dengan kesal.


"Aku curiga dia mengincar Aram!! Aku yakin Aram tidak akan terluka secara fisik, tapi kau mau Aram menangis karena dikhianati oleh Chier?? Aram itu punya hati yang sangat sensitif! Waktu itu saja saat Fen tidak sengaja membunuh anjing yang kebetulan ada di tempat pertarungan, Aram menangis semalaman setelah menguburkannya, kan?!" Desis Jona. Shienna kemudian terdiam dan terlihat berpikir.


"Aku mengerti." Jawab Shienna setelah menghela napas panjang. Ia lalu pergi menyusul Chlari yang telah menghilang entah kemana.


"Aku tidak akan membiarkanmu begitu saja, Chier!" Geram Jona. Matanya kemudian kembali menatap pertarungan kakak beradik yang terlihat berat sebelah itu.


Ya, Achromos terlihat begitu tertekan oleh Cain. Beberapa kali Cain nyaris berhasil menghunuskan pedangnya ke tubuh Achromos. Tentu saja itu karena Achromos tidak mau melawan Cain dengan sepenuh hati. Jona berdecak dengan malas. Pertarungan seperti ini sangat membosankan baginya.


"Tidak ada yang mau bergabung?" Tanya Jona.

__ADS_1


"Malas." Jawab Fen.


"Aku tidak minat." Timpal Juna.


"Kalau begitu aku saja yang ikutan!" Seru Jona sambil menyeringai senang. Ia segera melompat dan bergabung dalam pertarungan itu, membuat Achromos dan Cain terhenti sejenak.


"Halo, Achromos." Sapanya. "Mari bersenang-senang."


•••


Chlari melangkahkan kakinya sambil sesekali melirik ke arah belakang. Ia merasa seseorang sedang mengikutinya. Tanpa ragu ia menghentikan langkahnya lalu berbalik. Ia menatap sosok Shienna—yang tengah mengikutinya dengan malas—sambil menaikkan alisnya.


"Ada apa?" Tanya Chlari. "Pasti Jona yang menyuruhmu mengikutiku."


"Itu kau tahu." Balas Shienna. Chlari segera menghela napasnya.


"Sampai kapan dia akan mencurigaiku, sih? Aku kan sudah menjadi anggota sejak usiaku tiga belas tahun. Itu sudah dua belas tahun yang lalu, kan?" Desah Chlari.


"Salahmu sendiri punya tampang mencurigakan seperti itu." Timpal Shienna. Chlari segera mencubit pipi Shienna sambil tersenyum dengan kesal.


"Apa maksudmu, Shienna cebol?" Ujarnya geram.


"Hahi Hier," Ucap Shienna dengan serius—membuat Chlari melepaskan cubitannya lalu menatap Shienna penuh tanya. "kau benar-benar tidak akan mengkhianati Aram, kan?"


"Tentu saja!" Jawabnya. "Kau pikir aku akan setega itu pada Aram? Aram adalah segalanya bagi kita, kan? Dia yang telah menyelamatkan kita, aku tidak mungkin mengkhianatinya." Ujar Chlari sambil tersenyum simpul. Tangannya mengusap kepala Shienna dengan lembut.


Ya. Aram adalah penyelamat seluruh anggota Schatten. Mereka semua bisa hidup sampai saat ini karena ditolong oleh Aram. Itu sebabnya mereka begitu setia pada Aram, bahkan rela mengorbankan nyawa mereka.


"Kau harus bersumpah padaku, Chier." Ucap Shienna sambil menatap bola mata hitam Chlari dalam-dalam. Chlari terdiam sejenak sebelum membuka mulutnya.


"Aku bersumpah."


•••


Pertarungan dua lawan satu yang tengah berlangsung membuat Achromos nyaris tak bisa menghindari serangan yang datang bertubi-tubu. Tubuhnya kini dinodai dengan beberapa luka sayatan. Ia meneguk ludahnya dengan susah payah. Saat ini ia hanya melawan satu orang anggota Schatten dan Cain, tapi ia sudah merasa cukup kesulitan. Apa lagi Jona belum menggunakan kekuatan sihirnya dan hanya memakai pedangnya sedari tadi.


Apa aku akan mati hari ini? Batin Achromos. Ia segera menepis pikiran itu jauh-jauh dan kembali fokus pada pertarungan. Ia sudah bersumpah akan menyelamatkan Chroma dan Cain. Ia tidak boleh gentar hanya karena anggota Schatten begitu kuat.


Di saat Achromos kehilangan fokusnya untuk sesaat tadi, Jona tiba-tiba saja menyerang dengan sihirnya—membuat tubuh Achromos terpental membentur dinding dalam sekejap. Achromos terbatuk hingga memuncratkan darah. Tanpa memberi kesempatan bagi Achromos untuk bangkit, Cain langsung lanjut menyerang Achromos yang setengah mati berusaha menangkisnya.


"Ca.. in!!" Seru Achromos sambil meringis. "Buka matamu!!"


Tak ada perubahan ekspresi dari Cain yang tetap menyerang Achromos membabi buta. Achromos menahan perih di hatinya yang terasa begitu menyengat. Kenapa ia bisa membiarkan ini semua terjadi? Kalau saja ia tidak meminta Cain menyelidiki klan Chroma, semua tidak akan berakhir seperti ini.

__ADS_1


"Cain.." Lirihnya nyaris tercekat.


Cain dan Jona menyerang Achromos bergantian tanpa ampun. Tubuh Achromos yang terasa begitu nyeri karena beberapa tulangnya yang patah akibat terpental tadi membuatnya sulit bergerak. Di dalam kesengitan pertarungan itu, tiba-tiba saja Jona melafalkan mantra yang membuat tubuh Achromos tak bisa bergerak. Ia menyeringai penuh kemenangan lalu membisikkan sesuatu pada Cain. Cain lalu menatap Achromos dengan kosong dan melesat dengan cepat hingga akhirnya...


JLEB!!


Suara pedang yang menusuk terdengar keras di ruangan yang kini hening itu. Achromos menatap Cain dengan tatapan tak percaya. Ia terbatuk hebat. Darah mengucur tanpa basa-basi dari perutnya yang kini dihiasi dengan sebilah pedang. Di sela-sela keterkejutannya, ia melihat sesuatu yang nyaris membuatnya tercekat.


Bulir-bulir bening menetes bergantian dari bola mata Cain yang terlihat kosong, membasahi pipinya dengan cuma-cuma. Ekspresinya nyaris tidak mengalami perubahan apa pun, namun saat ini ia menangis.


"Ca.. in.." Lirih Achromos.


"Kak.. Achro.." Bisik Cain dengan terbata-bata. Tangannya lalu mencabut pedang yang menancap di perut Achromos dengan kasar. Setelah itu, tangannya langsung terangkat ke atas, mengacungkan pedangnya dan bersiap menebas kepala Achromos. "Ma..af.."


Achromos meneteskan air matanya melihat Cain. Ia tahu Cain tidak akan mengkhianatinya. Semua ini karena Schatten. Mereka telah melakukan sesuatu pada Cain hingga ia menjadi seperti sekarang. Achromos kemudian menatap Cain dengan sendu. Tubuhnya sudah lemah dan tak berdaya. Ia tidak akan bisa menangkis serangan ini.


"Maafkan.. aku juga.. Cain.." Ucap Achromos sambil tersenyum getir. Air mata yang mengalir di pipi Cain kian menjadi.


Tak lama kemudian, Cain mengayunkan pedangnya sekuat tenaga, membuat Achromos menutup matanya dengan pasrah.


KLANG!!


Achromos membuka matanya begitu serangan yang ia antisipasi tidak kunjung terjadi dan yang terdengar malah suara pedang yang berdenting. Matanya membulat begitu melihat sesosok laki-laki berambut merah tengah menangkis serangan Cain dengan pedangnya. Laki-laki itu menoleh pada Achromos sambil tersenyum.


"Yo, Achromos." Ujarnya.


"K-Kau?!" Ujar Achromos terkesiap.


Tak lama kemudian, dua orang laki-laki lain melangkah masuk ke dalam ruangan, membuat Achromos semakin terperangah.


"Lihatlah kondisimu sekarang, Achromos. Begitu menyedihkan." Ujar salah seorang di antara laki-laki yang baru masuk.


Si rambut merah segera terkekeh. "Tidak usah khawatir," Katanya.


"kami akan membereskannya untukmu."


•••


Aram mengusap-usap rambut perak Chroma yang tak berdaya layaknya mengusap rambut boneka di sebuah kamar yang dihiasi bentuk mandala di dindingnya. Api lilin yang redup membuat suasana ruangan menjadi remang. Ia lalu menatap wajah Chroma yang terpejam dengan seringai senang.


"Mari kita lihat.." Gumamnya sambil tersenyum.


"apakah pertunjukan ini berakhir bahagia? Atau.."

__ADS_1


———


__ADS_2