
"Diundur?" Tanya Chroma. Vhor mengangguk sambil melipat tangannya di dadanya.
"Sekitar dua bulan. Selama itu kau harus bisa menjalani peranmu dengan baik." Ujar Vhor sambil menatap Chroma dengan tajam.
Chroma mendelik. Ia baru saja memikirkan liburannya ke Kerajaan Mollis, bersantai di padang bunga sambil menatap langit. Sekarang ia harus merelakan liburan itu tertunda selama dua bulan.
"Kenapa diundur?" tanya Chroma.
"Tidak perlu bertanya, cukup lakukan saja tugasmu dengan baik. Yang Mulia Raja sudah memberimu uang muka yang banyak, jangan sampai aku mengambilnya kembali hanya karena kau protes." balas Vhor.
Chroma langsung memutar bola matanya mendengar ucapan penuda itu.
"Memangnya siapa yang mau protes?? Aku hanya bertanya." ucap Chroma dengan malas.
Vhor tak menggubris dan hanya terdiam sambil menatap Chroma.
"Lalu?" Tanya Chroma.
"Lalu apa?" Timpal Vhor.
"Untuk apa lagi kau ada di kamarku, bodoh??" Ujar Chroma sambil mendorong Vhor keluar dari kamarnya.
"Jangan kembali lagi!" Seru Chroma sambil menutup pintu dengan kencang.
"Dasar gadis yang tidak anggun!" Gerutu Vhor sambil pergi menjauh dari kamar Chroma.
Sementara itu, Chroma terdiam sambil bersandar di pintu yang baru saja ia tutup. Ia lalu menghela napas panjang. Dua bulan adalah waktu yang terlalu lama baginya untuk menjalankan misi. Waktu terlama yang pernah ia habiskan untuk sebuah misi hanya dua minggu—itu pun karena ia harus mencari targetnya yang pintar sekali bersembunyi. Namun kali ini, ia mau tidak mau harus berinteraksi dengan targetnya selama dua bulan, dan selama itu pula ia harus bisa menyembunyikan identitasnya. Apa ia bisa?
__ADS_1
"Kurasa ini akan jadi misi paling menyusahkan." Bisiknya.
•••
Chroma menatap gadis yang mengenakan gaun pengantin putih menjuntai di pantulan cermin. Ia menahan sesaknya gaun pengantin—yang lebih sesak dari gaun biasa—yang membuatnya ingin muntah. Ia lalu memperhatikan wajahnya yang terlihat manis dengan riasan. Meski begitu, Chroma merasa dirinya terlihat seperti seorang badut.
Namun, yang menjadi pikirannya saat ini bukanlah penampilannya, melainkan misinya yang tertunda. Chroma harus berpura-pura menjadi Jane dan menjadi istri Achromos selama dua bulan, sedangkan Chroma hanya tahu satu atau dua hal tentang tata krama kerajaan. Kalau sampai Achromos membongkar identitasnya, bukankah nanti ia yang akan dihukum mati oleh raja kejam itu? Baru kali ini Chroma merasa cemas dalam menjalankan misinya.
"Mm, maaf, bisakah kalian tinggalkan aku sendiri dulu? Aku ingin menenangkan hati karena aku sedikit cemas." Pinta Chroma pada para pelayan yang ada di ruangan itu.
"Baiklah, Tuan Putri. Tapi 10 menit lagi upacara akan segera dimulai. Kami harus memastikan Tuan Putri tidak terlambat." Ujar salah seorang pelayan. Chroma mengangguk dan para pelayan tersebut kemudian meninggalkan ruangan satu per satu.
Chroma berjalan menuju sudut ruangan dan duduk di sofa. Ia lalu berteriak sambil menutup wajahnya dengan bantal. Ada hal yang baru saja terpikirkan oleh Chroma saat ini. Dan hal itu tidak terpikirkan sebelumnya oleh Chroma karena seharusnya misinya berakhir hari ini.
Aku.. akan jadi istri Achromos?? Istri? Astaga! Kenapa aku baru menyadarinya sekarang? Bagaimana kalau Achromos ingin.. Aaarrrghhh!! Aku harus mencari alasan untuk menghindari hal itu! Aku akan melindungi diriku sendiri! Batin Chroma.
"Semoga ini semua segera berakhir." Gumamnya.
*
Di sebuah altar yang begitu mewah, karpet berwarna merah sudah tergelar di sepanjang jalan dari pintu ruangan menuju altar. Hiasan berkelap-kelip dengan bunga warna-warni terpasang di setiap sudut. Suara piano mulai berdenting memainkan lagu-lagu bermelodi lembut sebagai hiburan untuk tamu yang sudah hadir.
Chroma berdiri di luar pintu masuk ruangan ditemani oleh dua orang bridesmaid yang membantu mengangkat gaunnya yang panjang. Ia menarik napas pelan-pelan dan berusaha untuk tetap tenang. Ia sudah membayangkan dirinya harus terus berpura-pura menjadi Jane dan mengenakan gaun yang menyusahkan selama dua bulan.
Oh, Tuhan. Segeralah berakhir. Batin Chroma.
Bunyi terompet menjadi sinyal bagi Chroma untuk memasuki ruangan. Pintu megah di hadapannya perlahan terbuka, dan semua tamu undangan berdiri dan bertepuk tangan. Dentingan piano bergema memainkan lagu pernikahan dari Kerajaan Chraz. Chroma melangkah dengan langkahnya yang kecil dan pasti. Ia sesekali menatap tamu undangan yang terlihat begitu borjuis dengan pakaian dan aksesoris super mewah serta senyum palsu yang selalu terpasang.
__ADS_1
Dasar kaum aristokrat munafik, batinnya.
Di depan altar, Achromos sudah berdiri menunggu Chroma. Ia mengenakan tuxedo hitam dengan hiasan bunga putih di kantungnya. Rambutnya yang biasanya ia biarkan menjuntai kali ini ia ikat ke belakang, membuatnya terlihat lebih rapi dari biasanya. Bola matanya yang hitam pekat menatap Chroma yang semakin mendekat dengan tatapan yang dingin seperti biasa.
Tidak bisakah orang ini berpura-pura senyum? Harusnya dia bersyukur aku mau menikahinya meskipun hanya pura-pura! Dasar pria berkantung mata hitam! Batin Chroma sedikit jengkel.
Ketika tiba di depan altar, Chroma kemudian meraih uluran tangan Achromos yang terlihat ogah-ogahan. Mereka berdua kemudian menghadap ke arah shazar—pendeta di Kerajaan Chraz—yang berdiri di belakang altar. Sang shazar kemudian mengeluarkan dua buah pedang di mana yang satu diukir dengan lambang Kerajaan Chraz dan yang satunya diukir dengan lambang Kerajaan Hecca.
"Achromos Vheist Chlanisch Chraz, apakah Anda bersedia memberikan seluruh hati dan hidup Anda kepada Jane Freith Verroxa Hecca untuk selamanya dan bersumpah atas nama Kerajaan Chraz?" Tanya sang pendeta. Achromos terdiam sejenak, membuat tamu undangan yang menyaksikan merasa sedikit heran.
"Ya." Jawabnya singkat. Wajah lega bisa terlihat di wajah Raja Braz yang duduk di singgasananya.
"Jane Freith Verroxa Hecca, apakah Anda bersedia memberikan seluruh hati dan hidup Anda kepada Achromos Vheist Branisch Chraz untuk selamanya dan bersumpah atas nama kerajaan Hecca?" Tanya sang pendeta kepada Chroma.
"Ya." Jawab Chroma pasti.
"Kedua pengantin dipersilakan untuk duduk ke singgasana." Ujar sang shazar.
Baru saja Chroma hendak melangkah, sesuatu yang luar biasa terjadi. Suara lesatan benda terdengar menggema diikuti dengan suara riuh tamu undangan. Mereka semua berhamburan mencoba keluar dari dalam gedung secepat mungkin.
Chroma mematung di tempatnya tanpa bisa berkata apa-apa. Misinya, bayarannya, liburannya, semua tidak lagi dipikirkan oleh Chroma. Satu-satunya hal yang dipikirkan oleh Chroma saat ini adalah..
darah.
Dari sudut matanya yang tidak bisa fokus di tengah kepanikan itu, Chroma bisa melihat cairan merah pekat itu menetes ke lantai.
———
__ADS_1