
Chroma membuka matanya pelan dan mendapati dirinya berada di dalam pelukan Achromos. Kemarin, ia lepas kendali begitu menemukan lambang mandala di perutnya. Setelah itu ia hanya mengingat apa yang terjadi dengan samar. Tapi ia tahu, ia telah memperlihatkan dirinya yang lain di depan Achromos. Dirinya yang selama ini ia pendam semenjak kejadian tiga tahun lalu.
Chroma kembali meneteskan air mata mengingat kejadian itu. Rindunya pada Ash semakin tak terkira. Ia kembali teringat kata-kata Ash saat itu.
Chroma, kau harus bahagia.
Tapi bagaimana caranya ia bisa bahagia? Schatten telah menghancurkan segalanya. Dan saat ini, mereka akan menghancurkan hidupnya untuk yang kedua kali. Haruskah ia menerima takdir seperti ini?
Achromos yang sedang tertidur akhirnya terbangun mendengar suara isak tangis Chroma.
"Ja—" Achromos segera menghentikan ucapannya. "Ada apa?" Sambungnya.
Chroma hanya menggeleng tanpa menjawab. Achromos menatap Chroma sejenak dan tidak bertanya lagi padanya. Ia hanya mengelus kepalanya dengan lembut sambil sesekali mengecup pucuk kepala Chroma.
Tangisan Chroma semakin menjadi. Kebaikan Achromos membuat hatinya semakin perih. Kali ini ia tidak ragu lagi. Ia mencintai Achromos. Tapi keraguan yang hilang itu justru membuat hati Chroma kian meradang.
"Achromos.." Lirih Chroma.
"Hm?" Tanya Achromos. Tangannya masih mengusap kepala Chroma dengan lembut.
"Aku takut.." Ucap Chroma.
"Takut? Kenapa kau takut?" Tanya Achromos.
"Aku takut.. kau akan meninggalkanku sendiri." Ujar Chroma.
Achromos terdiam mendengar ucapan Chroma. Terlalu banyak yang ia tidak ketahui mengenai Chroma. Apa yang membuatnya meledak seperti kemarin? Apa yang membuatnya menangis saat ini? Apa hubungannya dengan Schatten? Kenapa ia tidak mau menceritakannnya Pertanyaan-pertanyaan seperti itu muncul bertubi-tubi ke dalam otaknya, namun tak satu pun yang berhasil meluncur dari bibirnya.
"Kenapa kau berpikir seperti itu?" Tanya Achromos akhirnya.
"Karena.. mereka akan datang.. Schatten.." Jawab Chroma.
"Aku akan melindungimu dari Schatten, kau tidak perlu khawatir." Balas Achromos.
"Bukan itu yang aku khawatirkan! Aku tidak peduli apa pun yang terjadi padaku! Aku.. aku hanya tidak mau kau terluka! Aku tidak mau ditinggalkan sendirian lagi! Aku tidak mau melihat orang yang aku sayangi pergi!" Seru Chroma sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.
Achromos langsung terpaku mendengar ucapan Chroma. Ia merasa kupingnya salah dengar.
Eh? Barusan.. dia bilang apa? Ucap Achromos dalam hati.
"Kau.. berkata serius?" Tanya Achromos memastikan.
"Tentu saja aku serius! Kau pikir aku sedang bercanda?!" Desis Chroma.
"Bahwa kau tidak ingin aku terluka?"
"Iya!"
"Bahwa kau tidak ingin ditinggalkan sendiri?"
"Iya!"
__ADS_1
"Bahwa kau menyayangiku?"
"Iy—"
Wajah Chroma seketika itu juga langsung berubah menjadi tomat masak. Ia langsung bangkit dan melepaskan diri dari pelukan Achromos. Hatinya serasa mau meledak. Ingin sekali ia bersembunyi di lubang atau lari ke ujung dunia saat itu juga. Tanpa sengaja ia mengutarakan perasaannya!
Lubang! Mana lubang!!! Aku ingin sembunyi!!! Batinnya panik.
Saat Chroma berbalik untuk lari, tangan Achromos segera menggapai lengannya.
"Ja— tidak, aku harus memanggilmu apa?" Tanya Achromos.
Astaga! Dia memikirkan hal itu?? Di saat seperti ini?? Itu tidak penting, kan?! Yang lebih penting, di mana lubaaang?!! Seru Chroma dalam hati.
"Chro.. C-Chro saja!" Jawab Chroma asal.
"Kalau begitu.. Chro, jangan pergi." Ujar Achromos dengan suaranya yang berat dan bening.
Duar!!
Rasanya seperti ada yang meledak di hati Chroma. Matanya berputar-putar seperti pusaran air dan pikirannya sudah berkelana entah ke mana. Jiwanya juga sudah meninggalkan tubuhnya sebagian.
"Chro, tatap aku." Ucap Achromos lagi.
Curang! Curang! Ini pelanggaran! Aku tidak bisa! Oh, Tuhan tolong buatkan lubang untuk aku sembunyi!!! Pekik Chroma dalam hati.
"Chro.." Panggil Achromos.
"Chro, apa aku boleh menganggap apa yang kau katakan itu benar?" Tanya Achromos sambil menatap bola mata emas Chroma dalam-dalam.
Chroma langsung tak berkutik. Tidak, lebih tepatnya mati di tempat. Ia tak mampu mengatakan apa pun. Tiba-tiba saja bulir-bulir air mata mengalir begitu saja, dan ia kembali terisak.
Achromos menghela napas sambil tersenyum tipis. Ia mempertemukan dahi mereka sesaat lalu mengusap kepala Chroma.
"Maaf, aku tidak akan memaksamu menjawab." Katanya pelan.
Ia langsung bangkit dan berjalan gontai menuju pintu. Saat tangannya meraih gagang pintu, tiba-tiba ia terdiam.
"Chro.. kalau apa yang kau katakan benar, aku merasa sangat senang." Ucapnya sambil menengok ke arah Chroma dengan senyuman yang terlihat sedih.
Chroma yang sedang terisak langsung menghentikan tangisannya. Ia mematung sambil melihat sosok Achromos yang kemudian menghilang di balik pintu.
"Apa yang harus aku lakukan?" Gumamnya dengan lirih.
•••
Seseorang dengan jubah hitam berjalan di lorong gelap yang terbuat dari marmer itu, membuat hentakan sepatunya terdengar sedikit menggema. Senyum tipis mengembang di wajahnya. Dalam dua puluh empat jam, sesuatu yang sudah lama ia tunggu akan dimulai. Semuanya berjalan sesuai dengan rencananya.
Ia menghentikan langkah kakinya di depan pintu yang terbuka lebar. Tiga orang laki-laki dan seorang perempuan yang sedang duduk menunggunya langsung menengok. Ia lalu melenggang masuk dan ikut duduk di depan meja bundar itu.
"Aram, lama sekali kau." Ujar laki-laki berambut dan bermata coklat yang duduk di bangku sebelah Aram.
__ADS_1
"Juna, dengar dulu! Aku punya kabar baik." Balas Aram.
"Kami sudah datang dari jam enam tepat, sedangkan kau baru datang sekarang? Kau terlambat dua jam! Wajar saja kalau kami kesal!" Protes laki-laki dengan wajah yang sangat mirip dengan Juna. Hanya tahi lalat di bawah bibirnya yang membedakan mereka.
"Jona, sabar. Sudah kubilang aku punya kabar baik." Ujar Aram lagi.
"Ya, sudah! Jadi, apa kabar baikmu?" Tanya Jona tidak sabar. Senyuman Aram kembali mengembang.
"Loh, mana Chier?" Tanya Aram begitu menyadari ketidakhadiran salah seorang dari mereka.
"Sedang membersihkan hama." Tukas Shienna.
"Hm.. ada juga tikus yang berhasil sampai ke sini. Lumayan." Komentar Aram. "Tapi sayang sekali umurnya pendek."
"Lalu? Apa kabar baikmu?" Tanya Fen sambil memainkan rambut hitamnya.
Aram langsung menyeringai.
"Haha! Kita berhasil! Sebentar lagi, dua puluh empat jam lagi, semuanya akan dimulai!" Seru Aram dengan senang.
"Hoo, kau berhasil mengaktifkannya? Sejak kapan?" Tanya Juna.
"Hm.. Kapan, ya? Mungkin sekitar dua belas jam yang lalu? Atau lebih? Entahlah, aku lupa!" Jawab Aram santai.
"Yang benar saja, Aram! Kau harus lebih serius! Nyawa kita semua dipertaruhkan demi melakukan rencana ini!" Pekik Jona.
"Jona, Jona, harusnya kau mencontoh kakak kembarmu sedikit! Lihat Juna, dia begitu tenang dan.. datar? Tidak seperti kau yang berisik!"
Jona membuang mukanya dengan kesal. Beradu mulut dengan Aram hanya akan memperpanjang pertemuan mereka yang seharusnya berlangsung cepat ini. Sudah tidak ada waktu lagi bagi mereka untuk berbincang santai, karena rencana mereka sudah dimulai. Papan catur telah dibuka dan semua pion sudah berada di tempatnya masing-masing—tinggal menunggu bagaimana mereka menggerakkannya hingga mencapai skak mat.
"Sudahlah, Aram. Sekarang katakan, siapa target selanjutnya?" Tanya Shienna dengan tenang.
Aram tersenyum senang sambil menjilat bibirnya. Kilatan nafsu membunuh tercetak jelas di matanya. Sambil memperlihatkan giginya yang rapi, ia membisikkan sebuah nama yang akan meninggalkan dunia ini sebentar lagi.
•••
Juna melangkah tanpa suara dengan mengenakan tudung hitamnya. Anting perak berbentuk mandalanya berkilauan diterangi sinar bulan purnama yang menggantung di langit. Ia menghela napas lalu menatap langit yang kelam di atasnya.
"Sebentar lagi." Bisiknya. "Aku harus cepat."
Dengan cepat, ia melesat melewati hutan gelap yang hanya diterangi sinar bulan, seolah-olah ia memiliki mata burung hantu yang dapat melihat dalam gelap. Jubah hitamnya berkibar-kibar, terbawa angin dingin yang menusuk tulang.
Dalam waktu sekejap, ia sudah sampai di depan sebuah kerajaan yang terletak di selatan Pulau Xan.
Kerajaan Hecca.
"Aram, kadang-kadang kau menyuruhku melakukan hal yang luar biasa." Bisiknya pelan.
Tak lama, tubuh tegapnya memudar dan menghilang tanpa jejak di tengah kegelapan malam.
———
__ADS_1