
Chroma menghirup udara di sekitarnya dalam-dalam dan menghela napas dengan panjang. Ia lalu menatap rambutnya yang kini berwarna perak berkilauan. Seharian ini, ia sudah berpikir keras untuk mencari tahu apa yang sebaiknya ia lakukan. Dan kini, ia sudah menetapkan hatinya.
Suara langkah kaki Achromos yang terasa berat semakin mendekat. Chroma meremas jarinya, merasakan kegelisahan yang luar biasa. Ia sendiri tidak tahu apakah keputusannya kali ini tepat atau tidak. Dan ia juga tidak tahu bagaimana reaksi Achromos nantinya.
Pintu akhirnya terbuka, memperlihatkan sosok Achromos yang memasang wajah yang tak bisa ditebak. Ia tidak mengatakan apa-apa dan hanya berjalan menuju lemari pakaian. Chroma sedikit terkejut melihat Achromos tidak bereaksi. Apa lampunya terlalu redup hingga ia tidak bisa melihat rambutnya?
Chroma menelan ludah. Rasa gelisahnya kini meningkat sepuluh kali lipat. Melihat wajah Achromos saja membuatnya sangat ingin menggali lubang dan bersembunyi.
Aku tidak boleh kabur! Aku sudah memutuskan! Batin Chroma meyakinkan diri.
Achromos yang kini sudah mengenakan pakaian tidur berjalan menghampiri tempat tidur. Tanpa membuka suara ia segera merebahkan diri dan memejamkan mata.
"A-Achromos!" Ujar Chroma akhirnya. Tenggorokannya terasa begitu kering.
"Apa?" Tanya Achromos setelah beberapa saat.
"Ada yang ingin aku bicarakan." Jawab Chroma.
Achromos membuka mata lalu menatap wajah Chroma yang terlihat gelisah. Ia melirik rambut Chroma dengan sedikit terkejut namun ia duduk di atas tempat tidur tanpa mengatakan apa pun.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Achromos.
Chroma kembali menelan ludah. Baru kali ini ia melakukan hal seperti ini. Wajar saja jika ia merasa gelisah luar biasa. Sampai-sampai tangannya terasa begitu dingin.
"Aku.. tidak tahu apa yang akan kau lalukan jika aku mengatakannya. Tapi aku akan tetap bicara." Tambah Chroma.
"Akan kudengar." Balas Achromos.
Chroma menghirup napas dalam-dalam dan menghelanya sekali lagi.
"Achromos, aku bukan Putri Jane. Namaku Chroma, dan aku sedang menjalankan misi untuk menyamar menjadi Jane. Tujuan dari misiku kali ini adalah untuk membunuhmu." Ujar Chroma dengan suara sedikit parau.
Achromos tak bersuara mendengar ucapan Chroma—membuat Chroma merasa luar biasa khawatir. Ia tidak bisa menebak apa yang akan dilakukan Achromos. Apa ia akan dipenggal? Ditenggelamkan ke laut? Atau disiksa sampai mati?
"Chroma, ya?" Gumam Achromos.
"I-iya!" Seru Chroma.
"Jadi begitu." Ujar Achromos.
Pantas saja ia tidak mau kupanggil Jane. Batinnya.
Chroma langsung terheran melihat reaksi Achromos. Kenapa ia tidak merasa terkejut? Atau marah? Kenapa ia hanya berkata seperti itu?
"Hanya itu?" Tanya Chroma.
"Memangnya kau ingin aku melakukan apa?" Tanya Achromos.
"Ta-tapi! Aku sudah menipumu! Aku juga menyembunyikan banyak hal darimu! Aku itu musuh! Kau tidak khawatir aku akan membunuhmu suatu waktu?? Bisa saja aku akan tetap menjalankan misiku, kan??" Seru Chroma tak mau percaya.
"Kalau kau memang berniat membunuhku, kau tidak akan repot-repot membongkar identitasmu, kan?" Kata Achromos.
"I-itu.." Chroma kehabisan kata-kata. Ia tidak menyangka Achromos memakluminya begitu saja. Padahal ia sudah menyiapkan hatinya dengan segala konsekuensi yang mungkin terjadi.
"Lagi pula, aku sebenarnya sudah menduganya." Ujar Achromos.
"Eh, maksudmu?" Tanya Chroma.
"Kau tahu, Cain sebenarnya penyelidik jenius. Ia kuminta untuk menyelidikimu karena Braz tiba-tiba saja meminta aku menikahimu. Aku merasa curiga dan akhirnya Cain menyelidiki Jane. Ia juga tahu kalau kau adalah Jane palsu karena saat kau diserang, Raja Hecca yang terkenal sangat protektif itu tidak melakukan apapun. Bahkan kstarianya juga tidak melakukan apa pun. Padahal Cain beberapa kali melihat kstaria Putri Jane berkeliaran di istana. Kedua, kau juga bertolak belakang dengan informasi mengenai Jane yang asli. Ketiga, saat Cain mengatakan kau beruban, ia memberitahuku kalau itu bukan uban, tapi rambut aslimu." Jelas Achromos.
"Kalau kau tahu.. kenapa kau tidak segera membunuhku??" Seru Chroma tak percaya.
"Awalnya aku memang berniat menangkapmu, tapi entah kenapa aku merasa dirimu yang sedang bersusah payah menjadi putri sangat menggemaskan hingga tanpa sadar aku tidak melakukan apa pun." Jawab Achromos.
"Tapi, tapi.. kenapa?" Ucap Chroma masih tetap tak percaya.
"Lagi pula, meskipun kau menyamar, apa benar semua yang kau lakukan itu pura-pura?" Tanya Achromos. "Apa saat kau merasa senang ketika melihat bunga di rumah kaca juga pura-pura? Atau saat kau merasa kaget saat kupeluk pertama kali? Atau saat kau mengatakan ucapanmu tadi pagi?"
Chroma merasa lidahnya kelu. Tenggorokannya mulai sakit menahan tangis.
"Chroma, katakan padaku. Apakah semua yang kau lakukan itu pura-pura? Apa tidak ada sedikit pun dirimu yang sebenarnya? Kalau kau tidak menjelaskannya, aku tidak akan mengerti." Tambah Achromos.
"Aku.. Aku tidak pura-pura." Jawab Chroma akhirnya.
"Bagaimana dengan ucapanmu tadi pagi?" Tanya Achromos.
Chroma terdiam untuk beberapa saat.
"Aku.. aku.. tidak pura-pura.." Ucap Chroma dengan suara yang sangat kecil. Bulir air mata menetes lagi dari matanya yang masih sedikit sembap.
Saat itu juga, Achromos menarik Chroma ke dalam pelukannya. Tubuh mungil itu bergetar sambil terisak.
"Chroma, kalau begitu.. tidak ada yang perlu dipermasalahkan, kan?" Ujar Achromos lembut. Chroma segera menggeleng tidak setuju.
"Kau tidak mengerti.." Lirihnya. "Ada satu lagi hal belum aku katakan."
"Apa?" Tanya Achromos.
"Cerita tentang apa yang terjadi tiga tahun lalu."
__ADS_1
•••
Tiga tahun yang lalu.
"Ash!!" Chroma menghambur dan memeluk Ash yang baru saja tiba di istana. Tawa renyahnya menggema di ruang luas itu. Ash hanya ikut terkekeh sambil menggendong tubuh Chroma dan mencium keningnya.
"Chroma, apa kau sehat? Maaf aku pergi cukup lama. Sebagai gantinya aku akan main denganmu sampai puas!" Ujar Ash senang.
Chroma langsung menyurutkan senyumnya dan mengerucutkan bibirnya.
"Loh? Kok cemberut?" Tanya Ash heran.
"Ash? Apa kau gila? Aku bukan anak kecil lagi! Aku sudah tiga belas tahun! Aku tidak butuh main denganmu!" Desis Chroma dengan kesal.
Tawa Ash langsung memecah.
"Ya, ampun! Aku sampai lupa! Mungkin ini karena kau selalu menggelayut padaku seperti anak monyet setiap aku pulang." Katanya dengan jenaka.
"Ash! Tolong jangan ungkit kebiasaanku! Itu semua karena kau yang mengajariku, kan?" Dengus Chroma sambil mencubit kedua pipi Ash.
"Eh? Sejak kapan aku mengajarimu begitu? Bukannya dulu kau yang menangis saat aku tinggal dan segera memelukku saat aku pulang?" Goda Ash.
"Itu.. itu kan dulu!" Seru Chroma. Ash hanya kembali terkekeh sambil mengecup pipi Chroma pelan, membuat Chroma segera menjitak kepala Ash.
"Hubungan kalian berdua sama sekali tidak berubah, ya.." Leon yang sedari tadi hanya diam memperhatikan tingkah mereka akhirnya angkat bicara.
"Haha! Bilang saja kau iri, Leon! Akui saja!" Goda Chroma dengan senang.
"Siapa yang iri, Nona.." Jawab Leon dengan malas.
Ash hanya terkekeh sesaat, namun setelah itu raut wajahnya sedikit berubah.
"Chroma, kau sebaiknya tidak berkeliaran ke luar istana dulu untuk beberapa saat ini. Aku akan menemanimu agar kau tidak bosan." Katanya sambil menurunkan Chroma.
"Kenapa?" Tanya Chroma.
Ash hanya tersenyum tipis tanpa menjawab pertanyaan Chroma.
"Leon, aku akan tidur dengan Chroma malam ini, jadi tolong jangan biarkan ada yang masuk seenaknya." Ujar Ash santai.
"Ya-Ya-Yang Mulia! Tunggu dulu! Ke-kenapa Anda memerintahkan hal seperti itu??" Tanya Leon dengan wajah memerah. Ash hanya menaikkan alisnya dengan bingung.
"Memangnya kenapa kalau aku ingin tidur dengan adikku sendiri? Lagi pula aku sudah tidak bertemu dengannya selama sebulan! Aku tidak mau ada yang mengganggu waktuku dengan Chroma yang sangat berharga!" Tukasnya sambil memeluk Chroma dengan erat. "Iya, kan, Chroma-ku?"
"Hmph! Kalau kau memang sesayang itu padaku, akan kuizinkan!" Timpal Chroma.
"Lihat, Leon! Chroma saja mengizinkanku! Kenapa kau malah bertanya lagi?" Tanya Ash.
"Hah?" Tanya Ash dan Chroma bersamaan.
Leon hanya menggeleng sambil tersenyum simpul. Memang jika orang lain melihat mereka, mereka benar-benar terlihat seperti adik kakak. Namun bagi dirinya yang mengetahui situasi mereka, membiarkan mereka tidur bersama cukup membuatnya was-was. Tapi kekhawatirannya sepertinya sia-sia. Mereka adalah keluarga yang sesungguhnya.
•••
"Chroma, jangan pernah keluar dari sini! Ingat itu! Tunggu sampai aku kembali!" Seru Ash sambil mengunci pintu lemari pakaian di kamarnya tanpa menunggu respon dari Chroma.
Chroma meringkuk dengan kebingungan dan ketakutan di dalam lemari. Suara tebasan dan dentingan pedang terdengar dari luar. Apa yang sebenarnya terjadi? Tiba-tiba saja Ash menggendong dirinya yang sedang tidur ke dalam lemari dan menguncinya di dalam.
"Ash.." Bisiknya dengan khawatir.
Tak lama, suara ledakan dan teriakan terdengar. Chroma langsung merasa takut dan luar biasa khawatir dengan keadaan istana. Tanpa pikir panjang, ia mendobrak pintu lemari dan berlari keluar.
Chroma langsung mematung begitu ia melangkahkan kakinya keluar kamar.
Pemandangan yang ia lihat begitu mengerikan. Seluruh orang yang ia kenal, para pelayan, pengawal, dan tentara kerajaan bergeletakkan tak bernyawa. Tak jauh dari sana, ia mendengar suara teriakan Ash.
"Ash.. Ash!!!" Dengan air mata yang bertumpahan keluar, Chroma berlari semampu yang ia bisa. Ia mencari, mencari, dan terus mencari Ash. Namun yang ia temui justru tubuh Leon yang terkapar tanpa nyawa.
"Le.. on?" Panggi Chroma pelan. Ia menghampiri tubuh Leon dan mengguncangnya pelan.
"Leon.. bangun, Leon.. Jangan pura-pura tidur.." Ujarnya.
"Leon! Leon!! LEON!!!"
Chroma terduduk di lantai dengan lemas. Ia tidak bisa mempercayai apa yang terjadi. Semuanya terjadi begitu cepat. Ia tidak mau percaya. Sebagian hatinya masih berharap ini semua hanya mimpi buruk.
"Oh! Akhirnya aku menemukanmu!"
Chroma menatap sosok berjubah hitam yang dalam sekejap sudah berdiri di hadapannya. Sosok itu melangkah mendekatinya sambil menyeringai.
"Sulit sekali untuk menemuimu! Sudah kuduga, si kepala perak itu memang anggota Klan Artemis, sulit sekali untuk dikalahkan. Dia bahkan berhasil mengendus rencana kami untuk menangkapmu. Ditambah lagi dia keras kepala, sudah kutusuk berulang kali, masih saja melawan." Ujar orang itu dengan santai.
DEG!!
Mendengar orang itu menyebut 'kepala perak', Chroma langsung bangkit berdiri.
"Apa.. yang kau lakukan pada Ash?" Tanya Chroma.
"Hm? Ash? Oh, si kepala perak itu? Jadi itu namanya? Haha, aku hanya bermain dengannya sebentar!" Jawabnya.
__ADS_1
Tiba-tiba saja, Chroma melesat dan menyerang orang itu dengan pisaunya. Namun orang itu masih bisa menghindar, meskipun pipinya tersayat dan tudung yang menutupi kepalanya kini robek—memperlihatkan wajahnya yang berkulit pucat.
"Ups! Hampir saja!" Katanya santai.
"DI MANA ASH?!!" Jerit Chroma sambil menatapnya dengan tajam.
"Aduh, sepertinya aku sudah membuat macan terbangun." Katanya sambil terkekeh pelan.
"JAWAB AKU! ATAU AKU AKAN MEMBUNUHMU!!" Seru Chroma lagi.
Orang itu mundur beberapa langkah.
"Tunggu dulu. Jangan mengamuk dulu! Aku akan kesulitan melawanmu. Kau kan mantan pembunuh bayaran paling kuat di Kerajaan Ellios, bisa-bisa aku benar-benar mati." Ujarnya.
Tanpa basa-basi, Chroma langsung melesat dan kembali menyerangnya dengan kecepatan tinggi. Orang itu menangkis pisau Chroma dengan pedangnya beberapa kali, namun ia semakin terdorong ke belakang.
"Wowow! Sabar dulu! Nanti aku benar-benar terbunuh!" Seru orang itu sambil terus menangkis serangan Chroma yang terasa semakin berat dan cepat.
Gawat! Aku bisa mati betulan kalau begini terus! Batinnya sedikit panik.
Chroma terus menyerang orang itu tanpa ampun. Ia benar-benar sudah dibutakan oleh rasa marah dan benci. Ash adalah orang yang paling berharga di hidupnya, dan juga orang-orang di Kerajaan Ellios. Mereka memberikan Chroma rumah yang begitu hangat. Mereka menerima Chroma apa adanya. Dan kini semuanya dimusnahkan begitu saja dalam waktu beberapa menit. Chroma bersumpah tidak akan mengampuni siapa pun yang melakukannya.
JLEB!!
Setelah pertarungan yang sangat sengit, akhirnya pisau Chroma berhasil ia tancapkan ke perut orang itu, membuat darah segar mengalir begitu saja.
"Sial.." Lirih orang itu sambil tersenyum.
"Chroma.. kau tidak mengerti." Katanya.
"Aku tidak mau mengerti." Jawab Chroma sambil memutar pisaunya dan membuat orang itu memuntahkan darah yang pekat.
Tiba-tiba saja, dua orang laki-laki yang juga mengenakan jubah hitam muncul dan menarik orang itu, membuat pisau Chroma terlepas dari tubuhnya dengan mudah.
"Kenapa kau malah hampir mati?" Tanya salah seorang di antara keduanya. Orang itu menyeringai.
"Dia kuat sekali, jangan membuatnya mengamuk." Kata orang itu.
Chroma tidak mengerti apa yang terjadi, namun ia kembali melanjutkan serangannya, membuat dua orang yang baru datang itu berusaha menghindar. Samar-samar, Chroma melihat anting perak berbentuk mandala di telinga mereka.
"Ini semakin berbahaya! Lebih baik kita kembali dulu!" Seru salah satunya.
"Chroma.. aku akan kembali.." Ujar orang itu sambil menyeringai.
Tiba-tiba saja, mereka semua berubah menjadi asap hitam dan lenyap dari hadapan Chroma.
Chroma terkesiap sesaat namun langsung menggeretakkan giginya dengan geram. Ia melemparkan pisaunya ke lantai dengan kasar.
"Sial! SIAL!! SIAAAL!!" Jeritnya.
"Chro.. ma.." Sebuah suara samar membuat Chroma tersadar dari amarahnya dan segera berlari menuju ke sumber suara.
"Ash!" Chroma langsung berlutut begitu menemukan Ash yang tergeletak bergelimang darah.
"Ash.. Ash.. Apa yang harus aku lakukan?" Ujar Chroma sambil terisak.
Pikirannya begitu kusut. Ia sama sekali tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Kondisi Ash terlihat begitu mengenaskan. Ia merasa putus asa. Memanggil dokter kerajaan pun tidak mungkin karena seisi istana sudah habis dibantai. Apa lagi api mulai berkobar di mana-mana.
"Chro.. ma.. maafkan aku.." Lirih Ash sambil mengusap pipi Chroma pelan, menorehkan noda darah yang pekat di sana. Napasnya terlihat semakin lambat dan berat. Chroma segera meraih tangannya dan menggenggamnya dengan erat.
"Kenapa Ash minta maaf?" Tanyanya.
Ash memperlihatkan senyuman hangatnya yang sangat khas.
"Aku.. gagal melindungimu.. Aku.. tidak bisa menepati janjiku.." Ujarnya.
Chroma menggeleng.
"Tidak! Ash.. jangan katakan hal seperti itu! Kau masih akan menemaniku kan, Ash? Kau tidak akan meninggalkanku sendirian, kan??" Sangkal Chroma sambil menatap Ash dengan nanar.
"Chro.. ma.. aku.. tidak bisa.. Kau harus.. pergi.. Tempat ini.. akan hancur.." Suara Ash terdengar semakin pelan dan parau.
"Ash! Aku tidak mau pergi! Aku akan tetap di sini!" Seru Chroma tak setuju.
"Chroma.. kau adalah.. adikku.. yang paling aku sayangi.. di dunia ini.. Untuk.. yang terakhir kalinya.. apa kau tidak bisa.. menuruti.. perkataan kakakmu ini?" Tanya Ash.
"Ash.. Ash.. Ini semua salahku! Mereka mengincarku, kan?? Ini semua salahku!! Maafkan aku!! Maafkan aku!!" Pekik Chroma.
Lagi, Ash memperlihatkan senyuman khasnya yang kini bercampur dengan kesedihan mendalam. Tangannya yang melemah, mencoba mempererat genggamannya.
"Chroma.. berjanjilah.. kau.. tidak akan.. membunuh lagi.. Kau.. sudah cukup.. men..deri..ta.. K..au.. ha..r..us.. ba..ha..gia.."
Kilauan mata Ash terlihat semakin meredup. Napasnya terlihat semakin samar.
"Ak..u.. me..nya..yang..imu.. sam..pai.. ka..pan.. pu..n.."
Kata-kata terakhir Ash terdengar begitu saru di tengah kobaran api yang membara. Tangan kurusnya kini tak lagi balas menggenggam tangan Chroma. Chroma berseru memanggil nama Ash berkali-kali, memohonnya untuk membuka mata hingga tenggorokannya sakit. Ia mengutuk siapa pun yang bisa disalahkan, dirinya, orang-orang berjubah hitam itu, bahkan para dewa. Namun sebanyak apa pun ia memohon dan mengutuk, mata yang kini terpejam itu tidak pernah terbuka lagi.
Malam itu, di Istana Kerajaan Ellios, hanya suara api yang berkobar dan teriakan putus asa seorang perempuan yang terdengar.
__ADS_1
———