
Achromos meneguk teh di atas mejanya dengan cepat hingga lidahnya terasa terbakar. Wajahnya terlihat pucat dan kepalanya terasa berdenyut sedari pagi. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi dengan kasar lalu menghela napas panjang-panjang. Saat itu, ia mendengar bunyi berdenting di atas lantai. Saat ia melirik sesaat, ia melihat sebuah kunci tergeletak.
"Kunci ini.. Chlari yang.."
Achromos langsung tersadar akan perkataan Chlari di saat terakhirnya. Tanpa basa-basi, tubuhnya langsung bergerak cepat melangkah menuju kamar Chlari. Di dalam hatinya, ada sedikit rasa takut yang mulai menggerogoti. Ia kembali teringat perkataan Chlari pada Cain.
Chroma berbahaya.... ya? Batin Achromos.
Tubuh tegap itu kemudian berhenti tepat di depan pintu kamar Chlari yang kini terlihat begitu sepi. Dengan tangan sedikit ragu, ia membuka pintu yang terasa dingin itu pelan-pelan.
Langkah pertamanya masuk ke kamar itu terdengar sedikit menggema. Kilauan kaca berwarna-warni di jendela membuat Achromos sedikit menyipitkan matanya. Ini pertama kalinya ia masuk ke kamar Chlari. Sebelumnya ia tak pernah berpikir bahwa ia akan menginjakkan kaki ke dalam kamar orang yang dulu paling ia benci itu. Mungkin karena itu Achromos merasa sedikit aneh.
Saat matanya mulai bisa melihat dengan cukup jelas, Achromos langsung termenung di tempatnya berdiri. Di sisi kirinya, sebuah lukisan besar terpampang dengan jelas. Lukisan itu berisi seorang anak laki-laki yang sedang berdiri di samping seorang anak laki-laki dengan tubuh lebih kecil. Di belakang kedua anak itu, seorang laki-laki tegap dan perempuan berparas lembut berdiri sambil memegang bahu keduanya.
"Ini..." Tenggorokan Achromos terasa tercekat. Ia tidak menyangka lukisan keluarganya yang ia kira telah lenyap dibakar oleh ayahnya masih tersisa. Dan lukisan itu dipasang di dinding kamar Chlari.
"Chlari...." Lirih Achromos kelu.
Setelah menarik napas panjang, Achromos kemudian melanjutkan langkahnya menuju laci meja yang ada di sudut ruangan. Dengan kunci di tangannya, ia membuka laci itu dengan perlahan.
"Buku?" Gumam Achromos saat melihat sebuah buku tergeletak di dalam laci tersebut.
Dengan rasa penasaran, Achromos bergegas membuka buku tersebut. Halaman pertama buku tersebut berisi sebuah kalimat pendek.
Teruntuk adikku, Achromos.
Buku ini akan memberitahumu semua yang ingin kau tahu. Kalau kau membaca buku ini, berarti aku sudah tidak ada di dunia ini lagi. Maafkan aku jika pada saat itu aku tidak bisa melindungimu.
- Chlari
Saat Achromos mulai membalikkan halaman selanjutnya, semua rahasia Chlari akhirnya mulai terkuak.
•••
Kisah ini menceritakan tentang seorang anak laki-laki yang terlahir sebagai Putera Mahkota di Kerajaan Chraz. Namanya Chlari. Semasa kecil, tak banyak yang bisa ia lakukan selain belajar hingga malam setiap hari karena tuntutannya untuk menjadi raja selanjutnya. Ia tak bisa menolak. Tak ada satu orang pun yang akan berada di pihaknya jika ia menentang titah sang raja, ayahnya sendiri. Tak ada satu orang pun, termasuk ibunya sendiri.
__ADS_1
Ibunya kini tak pernah memperhatikannya lagi. Ia sibuk mengurusi adik laki-lakinya yang bernama Achromos. Namun Chlari sama sekali tidak benci pada Achromos. Kebalikannya, ia justru sangat menyayanginya.
Di sela-sela waktu belajarnya yang padat, ia diam-diam menengok Achromos ketika ibunya sedang lengah. Meski mereka hanya bisa bertemu sepuluh sampai tiga puluh menit saja, itu cukup bagi Chlari. Chlari menganggap Achromos akan menjadi orang yang akan berada di pihaknya suatu saat nanti. Entah kenapa.
Lalu di suatu malam, hal yang akan mengubah hidup Chlari untuk selamanya terjadi. Ia tak sengaja menemukan sebuah buku dengan lambang Kerajaan Chraz tergambar dengan tinta merah di sampulnya. Di sisi buku tua tersebut, lambang-lambang tak dikenal ditorehkan dengan tinta hitam—membuat Chlari merasa buku tersebut begitu misterius. Ia menemukan buku itu di kamar ibunya saat hendak kembali ke kamarnya setelah menemui Achromos yang ada di sana. Rasa penasaran akhirnya membuat Chlari membawa pergi buku itu tanpa pikir panjang.
Setelah mengunci pintu kamarnya rapat-rapat, Chlari membuka buku itu dan mulai membacanya. Halaman pertama buku itu bertuliskan sebuah kalimat yang membuat Chlari mengerutkan alisnya.
Catatan Rahasia Kerajaan Chraz: Informasi Penting Mengenai Xerra
Judul itu sudah cukup membuat Chlari heran, namun yang membuatnya lebih tak mengerti lagi adalah sebuah catatan kecil di ujung bawah halaman.
Buku ini ditujukan untuk Pangeran ke-2 Kerajaan Chraz, Achromos.
•••
Chlari langsung menjatuhkan buku itu ke lantai begitu selesai membaca. Ia langsung terduduk lemas. Ia nyaris tidak bisa percaya isi buku tersebut, namun ia tahu buku itu bukanlah buku cerita fiksi. Buku itu adalah sebuah catatan mengenai Achromos yang begitu detil. Namun, hal tersebut begitu misterius. Buku tersebut terlihat begitu tua dan sepertinya dibuat puluhan atau ratusan tahun lalu. Jauh sebelum Achromos terlahir di dunia.
Saat ia baru saja akan mengembalikan buku itu, tiba-tiba saja ibunya mengetuk pintu dengan keras. Ia meneriakkan namanya dari balik pintu dan terdengar begitu murka. Chlari langsung bergidik dan bersembunyi di balik selimut. Ia merasa takut pada ibunya. Lagi pula, kenapa buku itu ada di kamar ibunya? Bukankah buku penting seperti itu seharusnya tersimpan rapat di dalam brankas kerajaan?
Saat itu, Chlari tidak akan pernah membayangkan bahwa ibunya sendiri akan mencekokinya dengan racun keesokkan paginya.
•••
Saat tubuh Chlari melemas dan ia mulai batuk darah, ibunya langsung bangkit dan berpura-pura panik. Ia memanggil pelayan sambil menangis hebat. Chlari menatap ibunya dengan hati teriris. Ia menangis dalam diam karena kesadarannya yang kian menipis.
Apa.. salahku.. Ibunda? Ucap Chlari dalam hati sebelum akhirnya kehilangan kesadarannya.
•••
Saat usia Achromos yang keenam tahun, tubuh Chlari menjadi lemah dan ia sudah tak bisa lagi menengok Achromos seperti dahulu. Ia bahkan sudah bukan Putera Mahkota lagi, namun ia tidak peduli dengan hal itu. Yang ia khawatirkan adalah Achromos. Setelah membaca buku itu, Chlari ingin sekali melindungi Achromos. Namun Chlari tidak bisa berkata-kata di depan Achromos. Entah kenapa lidahnya terasa kelu begitu ia berada di hadapan Achromos.
Sampai suatu ketika, Chlari yang merasa sedikit lebih sehat memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar. Saat itu, ia menemukan seorang pengawal yang terlihat sembunyi-sembunyi. Saat ia melihat siapa yang sedang diikuti oleh pengawal tersebut, ia menangkap sosok Achromos yang tengah berjalan riang. Dengan hati-hati, Chlari mengikuti si pengawal itu.
Begitu si pengawal berhenti melangkah, Chlari langsung terkejut menatap ibunya tengah tertawa dengan seorang laki-laki asing. Achromos langsung menghambur memeluk keduanya dengan senang. Ia lalu duduk sambil melahap kue yang diberikan oleh laki-laki itu, selagi ibunya dan laki-laki itu bergandengan tangan. Chlari yang terlalu terkejut tidak menyadari dirinya menggerakkan semak-semak di hadapannya terlalu kencang. Saat itu, Achromos beradu pandang dengannya. Dan saat itu juga, Chlari menyadari si pengawal beranjak dari tempatnya dengan cepat.
__ADS_1
Tanpa basa-basi, Chlari mengejar pengawal itu sekuat tenaga. Ia lalu berteriak menyuruhnya berhenti. Ia sangat tahu apa yang akan terjadi jika ayahnya tahu. Meski ibunya memperlakukannya dengan buruk, Chlari tetap menganggapnya ibu.
Namun apa daya, si pengawal berhasil memasuki ruangan ayahnya. Namun yang membuat Chlari seribu persen jauh lebih terkejut adalah perkataan ayahnya setelah itu.
"Kerja bagus. Segera siapkan hukuman mati untuk mereka berdua." Suara Braz terdengar samar di balik pintu kayu yang kokoh.
Chlari langsung mematung tak berdaya. Di dalam otaknya berputar berbagai macam hal yang mungkin terjadi. Dan lagi-lagi, ia kembali memikirkan bagaimana perasaan Achromos. Secara tidak langsung, Achromoslah yang memberi tahu si pengawal apa yang ibunya lakukan. Jika Achromos tahu, maka ia akan menyalahkan dirinya seumur hidup. Atau bahkan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Selain itu, jika ia mendengar apa yang baru saja Chlari dengar, tentu Achromos akan semakin hancur.
Di tengah perdebatan batin yang sengit, tiba-tiba saja Chlari disadarkan oleh teriakan Achromos. Secara spontan, ia akhirnya memutuskan untuk melakukan sesuatu. Menjadikan dirinya sendiri sebagai kambing hitam. Tanpa pikir panjang, Chlari segera tersenyum sambil menatap Achromos. Ia berharap Achromos akan mempersepsikan senyumannya sebagai senyuman kemenangan.
Dan, benar saja. Achromos—yang tidak menyadari kehadiran si pengawal dan hanya melihat Chlari—langsung menganggap Chlari yang telah melaporkan ibunya. Tatapan kebencian yang dilontarkan Achromos langsung menusuk hati Chlari bertubi-tubi, membuatnya merasa hancur luar biasa. Tapi tidak apa-apa. Ini semua lebih baik.
Setelah kejadian itu, arah dan tujuan hidup Chlari berubah sepenuhnya. Ia rela menjadi tokoh antagonis di hidup Achromos jika itu bisa membuatnya tidak terluka. Ia selalu menyunggingkan senyum yang sama untuk menyembunyikan berbagai macam perasaan yang ia rasakan. Bahkan sampai akhir hayatnya.
•••
Ada satu hal yang benar-benar harus Chlari lakukan apa pun yang terjadi: menyelamatkan Achromos dari Xerra.
Setelah membaca buku misterius itu, Chlari menemukan fakta bahwa buku itu meramalkan apa yang akan terjadi pada Achromos. Ia sendiri tidak mengerti kenapa Achromos menjadi "anak dalam ramalan" yang disebut di dalam buku itu. Kenapa Achromos?
Cerita yang paling ia ingat dari buku tersebut adalah kemunculan Xerra dan kekacauan yang terjadi setelahnya. Xerra, dan Klan Artemis, bukan manusia biasa. Mereka adalah manusia yang diberikan kekuatan oleh Agioz, sosok yang masih menjadi misteri hingga saat ini. Dan Xerra memiliki kekuatan yang terlampau dahsyat untuk seorang manusia. Xerra adalah makhluk yang telah "melewati" manusia, namun tidak sampai mencapai titik seperti Agioz. Karena kekuatannya itu, Xerra dianggap sebagai orang yang sangat diberkati Agioz, dan Agioz sangat menyayangi Xerra. Siapa pun yang berani mencintai Xerra setulus hati akan berhadapan langsung dengan Agioz dan ia lah yang akan menentukan siapa yang boleh menjadi pasangan Xerra. Namun, ada satu orang yang tidak akan pernah boleh menjadi pasangan Xerra sampai kapan pun, yaitu Xerros.
Xerros adalah sebutan untuk menyebut separuh jiwa Xerra. Setiap kali Xerra telahir, maka seorang anak laki-laki yang bertolak belakang dengan Xerra akan menjadi Xerros. Dalam hal ini, Achromos adalah Xerros bagi Chroma. Dan ini bukanlah hal yang baik. Agioz telah mengumandangkan kutukannya: jika seorang Xerra dan Xerros saling mencintai, maka salah satu dari mereka akan mati!
Setelah membaca hal itu, Chlari langsung tahu bahwa Achromos akan berada dalam bahaya jika bertemu dengan Xerra. Karena itu ia berusaha menyelamatkan Achromos semampu yang ia bisa, hingga akhirnya ia bertemu dengan Aram dan menjadi bagian dari Schatten.
Saat itu, Chlari tidak tahu bahwa Aram justru ingin mempersatukan Chroma dan Achromos. Hingga akhirnya ia terpaksa memilih jalan untuk membunuh Chroma saat Aram sudah mengambil Xerra dari Chroma. Namun, sejujurnya ia ragu dengan keputusannya itu hingga ia pergi meninggalkan dunia sebelum sempat melakukannya. Dan ia bahkan tidak sempat menjelaskannya pada Achromos. Chlari telah mengantisipasi kemungkinan tersebut dan telah menyiapkan catatan harian di dalam laci mejanya, berharap Achromos akan tersadar dan menjauhi Chroma demi kebaikan mereka berdua.
•••
Tak ada kata-kata yang mampu muncul di kepala Achromos. Kakinya yang terasa lemas akhirnya menyerah dan membuatnya terduduk di lantai. Kepalanya menggeleng pelan sambil memegang buku itu dengan sedikit bergetar. Terlalu banyak rahasia Chlari yang ada di dalam buku itu, membuat Achromos merasa menyesal, kaget, sedih, frustrasi, dan marah sekaligus.
Kali ini Achromos yang benar-benar ingin mati. Ia seperti hidup dalam dunia semu yang sedikit damai yang diciptakan oleh Chlari. Semua kepahitan dan keburukan yang terjadi seperti disembunyikan oleh kakaknya itu.
"Kenapa.. hanya demi aku.. ?" Gumam Achromos akhirnya.
__ADS_1
Setetes bulir bening jatuh ke atas lantai marmer yang dingin, menandakan ruangan hening itu kini diisi oleh suara isakan kecil dari seorang raja yang terduduk di lantai dengan bahu bergetar.
———