
Chroma menatap ruangan gelap itu dengan tatapan kosong. Entah sudah berapa lama ia berada di sana. Kedua tangan dan kakinya dirantai. Chroma menatap tangan mungilnya yang kotor dan penuh luka. Ia sudah tidak peduli lagi dengan apa pun. Satu-satunya hal yang ia inginkan adalah keluar dari tempat itu, tapi berapa kali pun ia mencoba, tetap saja ia tidak bisa kabur.
Seorang pria paruh baya muncul dari balik pintu dan melepaskan rantai yang ada di tangan dan kaki Chroma.
"Oi, saatnya bekerja." Katanya pada Chroma.
Chroma bangkit lalu berjalan perlahan mengikuti pria itu tanpa mengeluarkan suara apa pun.
•••
Chroma menatap sosok yang berada tidak terlalu jauh darinya itu dengan terkejut. Laki-laki itu mengenakan baju kerajaan yang terlihat begitu mewah. Ia menaiki kuda berwarna putih yang indah. Tapi bukan itu yang membuat Chroma terkejut. Rambutnya. Laki-laki itu memiliki rambut berwarna perak panjang yang dikuncir dengan rapi. Dari tempatnya berdiri, Chroma bisa menangkap sekilas bola mata berwarna emas.
*Dia.. siap*a? Batin Chroma.
PLAK!!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Chroma dengan kasar. Ia lalu menengok dan mendapati pria paruh baya itu menatapnya dengan tajam.
"Kalau kau mau bebas, kau harus melakukannya." Bisiknya pada Chroma.
Chroma menunduk. Ia lalu kembali menunjukkan tatapan dingin dan kosong. Baginya, rambut perak dan mata emas itu tidak ada artinya. Sama saja. Ia tetap harus menjalani tugasnya. Chroma terus mengulang pikiran itu dalam hati. Perlahan Chroma menghampiri laki-laki itu lalu menengadahkan tangannya.
"Beri aku makan, Tuan." Pintanya. Laki-laki itu menatap Chroma dengan sedikit terkejut. Baju dan tubuh Chroma terlihat begitu kotor dan tidak terawat. Ia juga penuh dengan luka. Namun, laki-laki itu jauh lebih terkejut ketika melihat rambut perak dan bola mata emas Chroma. Ia segera turun dari kudanya dan menatap Chroma dengan tatapan seperti ingin menangis.
"Namamu.. siapa?" Tanyanya lirih.
"Chroma." Jawab Chroma dengan datar.
"Yang Mulia Ash, siapa bocah itu?" Tanya seorang laki-laki yang menunggangi kuda coklat di sisi Ash sedari tadi. Ia lalu ikut turun dari kudanya dan terkejut melihat rambut dan bola mata Chroma.
"Yang Mulia, jangan-jangan anak ini.." Ucapnya kaget.
"Leon, sepertinya aku menemukannya." Ujar Ash sambil menatap Leon.
"Keluargaku."
Keluarga? Batin Chroma. Ia lalu tertawa kecil dalam hati.
Apa itu keluarga? Hanya drama murahan yang dimainkan oleh orang-orang yang tidak bisa sendiri. Pikirnya lagi.
"Chroma, usiamu berapa sekarang?" Tanya Ash sambil memegang bahu Chroma pelan.
"Sepuluh." Jawab Chroma. "Beri aku makan, Tuan." Pinta Chroma lagi.
"Makan? Baiklah. Leon, ambilkan roti dari tasku! Cepat!" Perintahnya pada Leon. Leon segera menuruti permintaan tuannya itu.
"Chroma, kau tinggal dengan siapa saat ini? Kalau kau tidak punya rumah, bagaimana jika kau ikut denganku?" Tanya Ash sambil tersenyum.
__ADS_1
Chroma terkejut. Tiba-tiba hatinya jadi bimbang. Senyuman Ash terlihat begitu hangat. Ia yakin jika ia tinggal dengan Ash, ia pasti bahagia. Tapi, ia sangat takut. Ia tidak bisa lepas dari tempat itu. Ia sudah melakukan hal yang tidak bisa dimaafkan. Apakah ia masih pantas untuk tinggal bersama Ash dan menjadi bahagia?
Tidak mungkin. Batin Chroma. Ia kembali menatap Ash dengan tatapan dingin.
Srat!
Suara sayatan berbunyi di tengah keramaian pasar. Chroma terbelalak. Ia menyerang Ash dengan begitu cepat. Akan tetapi, Ash dengan jauh lebih cepat menghentikan serangan Chroma dan menyayat pohon di sebelahnya dengan pisau yang Chroma gunakan.
"Yang Mulia!" Seru Leon sambil menghampiri Ash.
Ash menatap Chroma dengan dingin sambil tetap menggenggam tangannya. Ia lalu mendekatkan wajahnya pada Chroma yang terlihat panik dan terkejut. Baru kali ini ia gagal dalam melakukan pekerjaannya. Chroma berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan genggaman Ash yang begitu erat.
"Chroma," ujar Ash pelan. "Kenapa kau melakukan hal ini?"
Chroma menatap Ash dengan bingung. Ia sendiri tidak tahu alasannya kenapa ia harus membunuh Ash. Selama ini ia hanya melakukan apa yang diminta tanpa bertanya.
Tiba-tiba, tangan Ash mengusap kepala Chroma dengan lembut. Chroma terkejut. Ia melihat Ash menatapnya dengan wajah yang terlihat terluka. Chroma bisa merasakan hatinya begitu sakit. Bulir-bulir air mata mulai menetes dari matanya.
"Maafkan.. aku.." Lirih Chroma sambil terisak.
Sementara itu, pria paruh baya yang sedari tadi melihat semuanya berdecak. Ia lalu menghampiri mereka dengan cepat dan menarik tangan Chroma.
"Aaah! Maafkan hamba, Yang Mulia! Budak hamba ini sangat liar! Ia sering mencuri pisau dari dapur untuk menyerang orang dan mengambil hartanya! Maafkan hamba!" Ujar laki-lali itu sambil menunduk.
Seketika itu juga, wajah Chroma terlihat pucat. Ia tahu pasti apa yang akan terjadi jika ia kembali ke tempat itu. Ia menatap Ash dengan penuh harap, mencoba mengirimkan pesan bisu bahwa semua yang dikatakan orang itu bohong. Ash menatap Chroma, lalu tersenyum lembut.
Dengan cepat, sebuah pedang menembus tubuh laki-laki paruh baya itu dan mencabut nyawanya. Ash menarik pedangnya, membersihkan darah yang menempel, lalu menaruhnya kembali ke dalam sarungnya. Orang-orang yang berada di sekitar langsung riuh dan berlarian dari sana. Ash kemudian menghampiri Chroma dan memeluknya dengan erat—tidak peduli bajunya yang mewah itu langsung kotor begitu terkena tubuh Chroma.
"Ayo kita pulang." Bisiknya pada Chroma.
Chroma sedikit terkejut melihat semua yang terjadi, namun ia segera balas memeluk Ash dengan erat. Air matanya kembali mengucur dengan deras. Entah sudah berapa lama, Chroma menginginkan ini semua.
Saat itu, Chroma akhirnya memiliki sesuatu yang berarti dalam hidupnya.
Keluarga.
•••
Chroma membuka matanya dan menatap langit-langit ruangan yang terlihat begitu tinggi itu dengan datar. Ia lalu mengusap tetesan air mata yang masih ada di pipinya.
"Mimpi.. ya?" Bisiknya.
"Oh." Chroma langsung menengok begitu mendengar suara yang sudah tidak begitu asing lagi di telinganya. "Kau sudah sadar." Ujarnya.
"Cain?" Ujar Chroma sedikit heran. Chroma mencoba bangkit lalu merasakan nyeri luar biasa di tubuhnya. Ia kemudian mulai mengingat-ingat apa yang telah terjadi.
Oh iya, aku diserang saat upacara pernikahan kemarin. Pikirnya. Tapi kenapa Cain ada di sini?
__ADS_1
Cain menatap Chroma—yang masih terlihat heran—dengan datar. Ia lalu kembali mengalihkan pandangannya. Tangannya sedang memegang cangkir teh yang sesekali ia seruput isinya. Kakinya ia silangkan dan ia terlihat sedang menikmati pemandangan di luar jendela.
O-orang ini.. benar-benar punya 'arus hidup' sendiri.. Pikir Chroma sedikit takjub.
Slurrpp
Di tengah keheningan ruangan itu, Cain masih menyeruput tehnya sesekali. Ia benar-benar tidak melontarkan kalimat lain selain kalimat yang pertama kali ia ucapkan ketika Chroma sadar.
"A-anu.. Pangeran Cain?" Ucap Chroma pelan. Cain—yang sedang menatap ke luar jendela—beralih menatap Chroma.
Hening.
Cain benar-benar hanya menatap Chroma, menunggu Chroma mengatakan sesuatu. Chroma menghela napas. Entah kenapa umurnya terasa seperti berkurang sepuluh tahun jika berbicara dengan Cain.
"Berapa lama aku tidak sadarkan diri?" Tanya Chroma akhirnya.
Cain menatap Chroma beberapa saat, lalu menaruh cangkir tehnya ke atas meja.
"Dua minggu." Jawab Cain.
Mata Chroma langsung melotot mendengar jawaban Cain.
Dua minggu?? Lama sekali! Kukira aku hanya tidak sadar selama satu hari! Aneh sekali! Batin Chroma sedikit panik.
"Katanya," lanjut Cain. "Ada racun di panah itu.. Jadi, kau tidak sadarkan diri cukup lama."
Pantas saja.
Chroma lalu kembali merebahkan diri. Tubuhnya masih cukup lemah untuk duduk terlalu lama. Ditambah lagi rasa nyeri yang luar biasa masih hinggap di tubuhnya.
"Raja Achromos," timpal Cain. "khawatir."
"Hah?" Tanya Chroma.
"Raja Achromos. Dia khawatir." Jawab Cain.
Chroma terdiam sejenak, berusaha memahami apa maksud Cain memberi tahu hal itu.
"La-lalu?" Tanya Chroma lagi.
Cain menatap Chroma dengan datar, lalu bangkit dari duduknya.
"Aku akan beri tahu Raja Achromos." Katanya sambil menghilang dari ruangan, meninggalkan Chroma yang masih tercenung kebingungan.
"Benar-benar tidak bisa dipercaya dia adik Achromos." Bisik Chroma sambil menggelengkan kepalanya.
———
__ADS_1