Chroma & Achromos

Chroma & Achromos
Chapter 6: Restless


__ADS_3

Achromos menggerakan pena di tangannya dengan begitu cepat. Tumpukan dokumen di atas mejanya seolah-olah tidak kunjung habis. Ia lalu menggeretakkan giginya dengan kesal. Di saat seperti ini, pekerjaannya justru malah menumpuk. Padahal isi kepala Achromos sejak ia bangun tadi pagi adalah bagaimana perkembangan penyelidikan kasus penyerangan Chroma.


CTAK!!


Tanpa sengaja, Achromos mematahkan pena yang ia gunakan. Ia sudah tak tahan lagi menahan kesal. Ia lalu bangkit dari duduknya, ingin segera menghampiri tim penyelidik yang ia buat sejak empat hari yang lalu.


"Raja Achromos." Cain yang sedari tadi berdiri di samping Achromos tanpa bergeming akhirnya membuka suara.


Achromos menatap Cain dengan tajam. Ia tahu persis apa yang dimaksud oleh Cain tanpa harus mendengar Cain berbicara panjang lebar. Ia mendengus lalu kembali duduk di kursinya. Cain mengeluarkan pena dari kantung bajunya dan menaruhnya di atas meja. Ia kemudian kembali berdiri di samping Achromos.


"Ck!" Dengan sangat ogah-ogahan, Achromos akhirnya kembali mengguratkan pena di atas dokumen-dokumen tersebut.


Setelah beberapa lama, Achromos akhirnya mulai bisa menenangkan pikirannya.


"Cain," ujarnya tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen di hadapannya. "Bagaimana kondisi Jane?"


Cain terdiam sejenak mendengar pertanyaan Achromos, berusaha mengingat-ingat bagaimana kondisi Chroma saat ia menjenguknya tadi pagi.


"Hm.." Gumamnya. "Masih sama seperti kemarin."


"Hoo.." Jawab Achromos datar.


"Tapi.." Tambah Cain. "Kata dokter.. ada racun di tubuhnya.. Jadi tidak tahu kapan bisa bangun."


Achromos langsung menghentikan pena yang ada di genggamannya dan menatap Cain dengan tajam.


"Sejak kapan kau tahu informasi ini?" Tanyanya.


Cain kembali terdiam lalu terlihat seperti sedang berpikir.


"Mungkin.. kemarin?" Jawabnya.


Achromos merasakan rasa kesalnya kembali memuncak. Cain yang memang tulalit ini tidak pernah gagal membuat dirinya ingin meremas kepala Cain. Tapi tentu saja hal itu tidak pernah ia lakukan. Cain adalah pengawal dan ksatria pribadinya yang paling ia percaya. Selain itu, Cain adalah adiknya—walaupun berbeda ibu.


Achromos menghela napas panjang lalu menatap langit-langit. Entah kenapa ia jadi merasa sedikit khawatir dengan nasib Chroma. Menyadari hal itu, ia langsung menggelengkan kepalanya dan kembali beralih pada dokumen-dokumen itu.


Tidak perlu memikirkan bocah itu, tidak perlu. Ucapnya dalam hati.


Meski berpikir seperti itu, sesekali ia menghentikan pekerjaannya, lalu kembali menggelengkan kepalanya dan kembali mengerjakan dokumen yang tidak mungkin selesai dalam satu hari itu.


Cain menatap kakaknya yang tidak terlihat seperti biasanya itu lekat-lekat. Matanya terlihat berbinar-binar, seperti seorang anak kecil yang sedang melihat mainan baru.


Menarik.. Batinnya.


•••

__ADS_1


"Jadi, kalian sudah dapat informasi apa?" Tanya Achromos pada tiga orang laki-laki tegap berseragam militer di hadapannya. Setelah tiga hari berkutat dengan dokumennya, akhirnya ia bisa fokus pada kasus penyerangan Chroma.


"Lapor Yang Mulia, kami menemukan jenis panah yang digunakan untuk menyerang Tuan Putri Jane—"


"Ratu." Ujar Achromos tegas.


"Ehm, maaf maksud saya Ratu Jane. Panah itu berasal dari organisasi misterius yang tidak diketahui motif dan keberadaannya. Mereka sering menyerang anggota kerajaan atau bangsawan tanpa alasan yang jelas, dan mereka selalu menggunakan panah dengan ukiran mandala tersebut." Tukas salah satu dari mereka.


"Organisasi misterius?" Tanya Achromos sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Iya, Yang Mulia. Organisasi itu terkenal seperti hantu, mereka menyerang tanpa terlihat wujudnya. Namun mereka selalu menggunakan panah dengan ukiran yang sama. Orang-orang menyebut mereka sebagai Schatten."


"Kenapa kau bisa yakin itu organisasi? Bisa saja hanya satu orang kan?" Tanya Achromos lagi.


"Pada awalnya, kami juga menduga demikian, Yang Mulia. Namun ada kejadian yang tidak biasa di mana sepuluh bangsawan dari Kerajaan Bhel diserang dalam waktu bersamaan, padahal kediaman mereka terpaut jarak yang sangat jauh."


"Hm.." Achromos kemudian menatap panah di tangannya lalu menggenggamnya erat-erat.


"Cari tahu tentang organisasi ini sampai kalian bisa mengetahui lokasinya." Ujarnya singkat sambil berbalik pergi.


Ketiga laki-laki itu membungkuk ke arah Achromos yang kemudian menghilang di balik pintu.


Achromos mempercepat langkahnya menuju perpustakaan. Entah kenapa ia merasa familier dengan ukiran yang ada di panah yang ia pegang. Siapa tahu ia bisa mendapatkan petunjuk dari buku-buku dan dokumen-dokumen yang ada di sana.


"Ada apa, Cain?" Tanya Achromos.


Cain keluar dari balik pintu lalu berdiri di hadapan kakaknya itu. Ia lalu memberi hormat.


"Yang Mulia," katanya pelan. "Putri Jane.."


"Ratu." Potong Achromos.


Cain menatap Achromos sejenak, lalu matanya kembali berbinar. Achromos yang melihatnya langsung bergidik.


Kenapa dia menatapku seperti itu? Pikirnya.


"Ah," ujar Cain—tersadar bahwa ia harus menyampaikan sesuatu pada Achromos. "Ratu Jane.."


"Kenapa dengan Jane?" Tanya Achromos tidak sabar.


"Kondisinya.. memburuk." Tukas Cain.


Achromos terdiam. Ia merasa bingung. Di dalam hatinya ia sangat percaya bahwa ia tidak akan pernah merasa khawatir pada orang lain, tapi jauh di dasar hatinya ia merasa sedikit khawatir dengan keadaan Chroma. Ia menggerak-gerakan kakinya dengan resah.


Mata Cain kembali berbinar. Kakaknya yang sangat dingin itu tidak pernah terlihat seresah ini. Baginya, ini adalah hal baru yang sangat menarik.

__ADS_1


Achromos mendelik ke arah Cain, merasa dirinya sedang ditatap. Ia langsung bergidik ketika kembali melihat tatapan Cain yang berbinar. Ia lalu cepat-cepat melengos pergi dari tempatnya berdiri.


Cain.. lama-lama membuatku takut, ujarnya dalam hati.


Cain menatap sosok Achromos yang semakin menjauh dengan mata yang masih berbinar.


Menarik.. Batinnya.


*


Achromos berjalan di lorong kastil timur dengan was-was. Ia sangat tidak ingin berpapasan dengan Chlari lagi. Setelah sampai di depan kamar Chroma, ia bergegas masuk dan menutup pintunya.


"Ah, Yang Mulia." Dokter Ghoz dan beberapa pengawal yang ada di dalam memberi hormat pada Achromos.


Achromos menghampiri Chroma yang masih tak sadarkan diri. Napasnya terlihat tersengal-sengal dan keringat mengucur dengan deras. Achromos kemudian duduk di samping tempat tidur dan menatap dokter Ghoz—meminta penjelasan.


"Yang Mulia, saya mohon maaf karena saya tidak menyadari ada racun di dalam tubuh Ratu Jane. Racun ini baru bereaksi sekitar satu minggu setelah masuk ke dalam tubuh. Saya belum pernah menemukan gejala seperti ini sebelumnya, saya mohon maaf, Yang Mulia." Ujar dokter Ghoz sambil menundukkan kepalanya kepada rajanya itu.


"Apa ada penawarnya?" Tanya Achromos.


Dokter Ghoz terdiam dengan gelisah. Tangannya ia genggam erat-erat dan pandangan matanya berlarian kesana-kemari. Ia lalu menelan ludahnya.


"Mo-mohon ampun, Yang Mulia. Saya benar-benar tidak tahu racun jenis apa yang ada pada tubuh Ratu Jane. Saya juga belum bisa menemukan penawarnya jika saya tidak punya sampel racunnya." Ungkap dokter Ghoz dengan hati-hati.


Achromos melemparkan anak panah yang ia pegang sedari tadi ke arah dokter Ghoz, membuat dokter itu menangkapnya dengan kikuk.


"Itu panah yang dipakai untuk menyerang Jane. Periksa mata panahnya, mungkin saja ada racun yang tersisa. Buat penawarnya secepat mungkin." Perintah Achromos.


"Baik, Yang Mulia." Balas dokter Ghoz sambil menunduk.


"Ya-Yang Mulia." Panggil dokter Ghoz dengan ragu. Achromos menengok ke arah dokter Ghoz yang kembali terlihat sangat gelisah.


"Saya khawatir.. Ratu Jane tidak akan bertahan lama jika tidak segera diberikan penawar. Tapi proses membuat penawar racun membutuhkan waktu yang lama, jadi.."


Achromos menatap dokter Ghoz dengan tajam lalu segera menarik kerah bajunya dengan kasar.


"Kalau begitu, kenapa kau tidak menyelesaikannya dalam satu hari?" Tanya Achromos dengan tatapan yang luar biasa mengerikan. Dokter Ghoz bergidik dan tangannya melemah, membuat anak panah yang ia pegang terjatuh ke lantai. Kaki dan tangannya bergetar hebat.


Achromos melepaskan kerah baju sang dokter lalu bangkit dari duduknya. Ia menatap dokter Ghoz dalam-dalam.


"Kalau sampai terjadi sesuatu dengan Jane.." Katanya sambil memegang kepala dokter Ghoz dengan keras. "kepalamu akan kupajang di pintu istana."


Achromos kemudian melangkah pergi, meninggalkan dokter Ghoz yang langsung terjatuh ke lantai karena merasa tak berdaya, seolah-olah separuh usianya sudah habis setelah berhadapan dengan raja kegelapan itu.


———

__ADS_1


__ADS_2