
Achromos. Nama yang begitu cocok dan sesuai untuknya. Tidak berwarna, baik dirinya maupun hidupnya. Bola mata dan rambutnya yang berwarna hitam pekat dipadukan dengan pakaian yang serba hitam. Rezimnya yang luar biasa keji sudah mencabut nyawa ratusan, bahkan ribuan orang. Benar-benar pas jika ia disebut sebagai 'Raja Kegelapan'.
Chroma sempat menyelidiki target operasinya kali ini. Ia membunuh orang yang tidak patuh, sakit-sakitan, atau tidak sengaja berbuat kesalahan. Menurutnya mereka tidak berguna—tidak pantas hidup. Ia sama sekali tidak kenal ampun. Tapi Chroma tidak bisa komentar lebih. Toh, ia juga melakukan hal yang bisa dibilang buruk.
Achromos terlahir sebagai anak kedua dan seharusnya bukan dirinya yang menjadi raja saat ini. Namun kakak laki-lakinya, Chlari, memiliki kondisi kesehatan yang buruk sejak kecil. Karena hal itu, tahta kerajaan otomatis berpindah ke tangan Achromos.
Achromos kecil sudah dibebani dengan berbagai macam latihan dan pendidikan menjadi raja. Ia tidak punya waktu untuk bermain, setidaknya untuk menikmati masa kecilnya. Ayahnya—meski terlihat cukup ramah—adalah raja yang sangat otoriter. Ia tidak mau menerima kesalahan kecil yang dilakukan Achromos dan seluruh anggota keluarganya. Bahkan, ayahnya sendiri yang menjatuhkan hukuman mati bagi ibunya yang berselingkuh. Dan Achromos melihat dengan mata kepalanya sendiri ketika kepala ibunya dipenggal dengan pedang.
Pantas saja dia jadi sekejam itu, pikir Chroma.
Hidupnya yang cukup keras membuat Achromos menjadi raja yang tidak jauh beda dengan ayahnya, bahkan lebih kejam. Ia juga tidak pernah tersenyum sedikit pun. Chroma kadang bertanya kenapa ada orang-orang yang tidak bisa menikmati hidup dengan lebih baik, termasuk dirinya sendiri.
Padahal hidup hanya sekali, batinnya.
Chroma mengoleskan obat ke lehernya yang merah sambil meringis. Bekas tangan Achromos masih tersisa dengan jelas. Ia kemudian menutupinya dengan dekorasi leher. Setelah itu, ia langsung berkaca, merapikan gaunnya, menata diri, dan berjalan santai keluar dari toilet.
Leher Chroma masih terasa sedikit berdenyut. Kekuatan genggaman Achromos luar biasa besar. Pantas saja ia selalu memenangi peperangan, sebab ia luar biasa kuat. Tapi ia benar-benar cocok sekali dipanggil sebagai Raja Kegelapan. Laki-laki macam apa yang berani-beraninya mencekik seorang gadis—bahkan calon istrinya—dengan tenaga sekuat itu?? Meski bagi Chroma itu bukan apa-apa, tapi kalau gadis biasa yang dicekik, mungkin ia sudah menangis ketakutan.
Chroma menelan ludahnya sambil tersenyum—merasa tegang sekaligus menikmatinya. Misinya kali ini memang sedikit menyusahkan karena ia harus bertemu langsung dengan targetnya dan menyamar menjadi orang lain. Namun sudah lama ia tidak mendapat target operasi yang menantang seperti Achromos. Chroma jadi membayangkan apa yang ia akan lakukan untuk bisa menghabisi nyawa raja kejam itu. Apa Achromos akan berbalik meminta ampun padanya?
"Ini lebih menarik dari yang kuduga." Bisiknya senang.
•••
"Ini tehnya, Tuan Putri, Yang Mulia." Seorang pelayan menaruh dua cangkir teh di atas meja kemudian keluar dari ruangan.
__ADS_1
Chroma menatap Achromos yang sedang membaca dokumen dengan serius.
Hmph, ternyata dia benar-benar kerja, dengusnya dalam hati.
Achromos mendelik ke arah Chroma, merasakan tatapannya yang sedari tadi mengusik konsentrasinya. Begitu tatapan mata mereka beradu, Chroma langsung tersenyum manis.
"Yang Mulia, bagaimana kalau tehnya diminum lebih dulu? Anda sudah bekerja satu jam tanpa henti, lebih baik Anda istirahat." Katanya.
Achromos menatap Chroma dengan tatapan datar. Ia merasa perempuan ini begitu aneh. Ia sudah hampir membunuhnya beberapa hari yang lalu, tapi ia masih berada di istananya—di hadapannya. Dan ia tersenyum. Padahal biasanya semua orang yang hampir ia bunuh selalu lari ketakutan.
Ia memperhatikan gadis di hadapannya itu dengan seksama. Tubuhnya begitu mungil untuk usianya yang sudah 18 tahun. Rambutnya berwarna coklat muda mengilap. Tapi bukan itu yang menarik perhatiannya. Bola matanya. Ia baru menyadari bola mata Chroma saat mencekiknya tadi. Bola mata itu berwarna emas dan berkilauan. Ia tidak pernah melihat bola mata secantik itu.
Achromos berdeham lalu menaruh dokumennya dengan kasar di atas meja. Ia lalu meraih cangkir teh dan meminum isinya dengan sekali teguk. Chroma tersenyum sambil menyeruput teh pelan-pelan.
"Oi!" Kata Achromos sambil menaruh cangkir dengan kasar lalu menatap Chroma yang sedang berusaha setengah mati untuk meminum teh dengan anggun.
"Kau," Achromos memicingkan matanya. Entah kenapa Chroma gelisah, takut penyamarannya terbongkar. "Lipstikmu luntur."
Chroma menatap Achromos dengan wajah tidak percaya. Ia lalu menaruh cangkir ke meja dengan kesal. Entah kenapa sejak tadi Achromos selalu membuatnya kesal bukan main.
Apa-apaan laki-laki ini??? Dia sama sekali tidak punya sopan santun! Batin Chroma kesal.
"Yah," kata Chroma sambil tersenyum dengan rasa kesal di hatinya. "Aku juga terkadang ingin terlihat natural."
"Hoo.." Ujar Achromos sangsi. Ia lalu membenarkan posisi duduknya—yang bersender santai ke sofa—dan menegakkan punggungnya.
__ADS_1
"Hei, aku ingin bertanya." Katanya sambil menatap Chroma dengan serius.
"Bertanya apa?" Tanya Chroma, tidak menyangka kalimat itu muncul dari bibir Achromos.
"Dari mana kau dapatkan bola mata itu?"
"Bola mata? Ini.." Chroma terdiam sejenak. Ia merasa bingung. Bola mata emas adalah sesuatu yang sangat langka. Ada satu klan yang terkenal dengan bola mata emas yang menjadi ciri khasnya, tapi mereka nyaris punah dan tidak pernah ditemukan lagi. Tidak mungkin Chroma bilang ia bagian dari klan itu, karena keluarga Kerajaan Hecca tidak ada yang berasal dari klan tersebut.
"Apa?" Tanya Achromos tidak sabar.
"Aku tidak tahu. Kedua orang tuaku tidak ada yang berbola mata emas. Mungkin dari leluhurku." Jawab Chroma asal.
"Hm.." Achromos menatap mata Chroma dalam-dalam, membuat Chroma merasa sedikit risih.
"Kenapa?" Tanya Chroma.
"Tidak." Jawab Achromos datar. Ia lalu kembali mengambil dokumen yang ada di atas meja dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Setelah itu, mereka berdua—Chroma lebih tepatnya—terdiam hingga sore hari. Ia benar-benar tidak dipedulikan sama sekali, seolah-olah ia hanya udara yang tidak terlihat.
Oh, Tuhan. Kenapa ada orang semenyebalkan ini? Pikirnya.
Chroma lalu meneguk tetes terakhir yang ada di cangkir tehnya lalu duduk bersandar. Ia merasa sangat mengantuk. Untuk pergi ke Kerajaan Chraz ia harus bangun pagi-pagi sekali untuk bersiap-siap dan harus langsung menemui Achromos. Jarak dari Kerajaan Hecca ke Kerajaan Chraz juga cukup jauh. Ia masih merasa lelah karena perjalanan jauh itu. Selain itu, ruangan Achromos dikelilingi jendela yang sangat besar, membuat cahaya matahari sore menembus dan membuat udara menjadi hangat.
Tak lama, mata Chroma perlahan mulai terpejam.
__ADS_1
———