
Achromos mengalihkan pandangannya dari dokumen di tangannya dan mendapati Chroma tertidur. Entah sudah berapa lama ia tidak pernah melihat seorang perempuan tidur di depannya. Mungkin sejak kecil. Wajah terakhir yang ia ingat adalah wajah ibunya yang 'tertidur' untuk selamanya, dengan kepala yang terpisah dari tubuhnya. Mengingatnya saja sudah membuat Achromos merasa tidak enak.
Ia lalu bangkit dan duduk di sebelah Chroma, memperhatikan wajah gadis di hadapannya yang tertidur lelap. Cahaya matahari yang menembus lewat jendela membuat debu di udara terlihat menari-nari di sekitarnya. Gaun putih yang ia kenakan membuatnya terlihat seperti putri tidur. Yah, ia memang seorang putri yang sedang tidur, tapi bukan itu yang dimaksud Achromos.
Entah kenapa wajah Chroma terlihat begitu damai. Seperti seorang anak kecil tanpa dosa. Kulitnya putih merona tanpa bercak apa pun kecuali sebuah tahi lalat di bawah matanya. Rambutnya lurus dan mengilap. Bulu matanya panjang dan lentik. Tubuhnya terlihat semakin mungil dengan gaun yang mengembang, membuatnya seolah-olah tenggelam di dalamnya. Tanpa disadari, tangan Achromos menyentuh pipi Chroma. Ia merasakan kehangatan tubuh Chroma yang menandakan bahwa gadis ini benar-benar hidup.
Syukurlah, batinnya.
Chroma tiba-tiba memalingkan wajahnya, membuat Achromos terkejut dan langsung menarik tangannya. Ia lalu menyadari apa yang baru saja ia lakukan.
Aku.. Apa yang sedang kulakukan??
Achromos segera pergi dari sisi Chroma dan keluar dari ruang kerjanya. Ia lalu membanting sebuah guci yang terpajang di lorong.
"Yang Mulia, ada apa?" Seorang laki-laki berseragam militer berwarna putih muncul dari balik pintu ruangan di ujung lorong. Ia lalu menghampiri Achromos yang terlihat kehilangan ketenangannya.
"Cain," katanya dengan suara tertahan. "Usir perempuan itu dari istanaku sekarang juga!"
Cain menatap Achromos dengan tenang, lalu mengangguk tanpa bertanya lebih lanjut.
"Baik, Yang Mulia." Jawabnya.
*
Sepasang tangan menopang tubuh mungil Chroma dengan santai. Chroma merasakan tubuhnya direngkuh dengan lembut oleh seseorang, membuatnya perlahan membuka mata. Ia melihat seorang laki-laki berseragam militer berwarna putih dengan rambut berwarna emas sedang membopong tubuhnya.
"Astaga!!!" Serunya sambil melompat dari gendongan laki-laki itu setelah mencoba memproses apa yang sedang terjadi. Chroma menatapnya dengan pandangan curiga dan waspada—siap menyerang orang itu kapan saja.
Astaga! Buruk sekali!! Aku tertidur?? Sejak kapan aku jadi selengah ini?? Serunya dalam hati.
"Siapa kau? Kau mau apakan aku?" Tanya Chroma.
Laki-laki itu menatap Chroma dengan datar. Sesungguhnya ia malas menjelaskan semuanya pada Chroma, tapi mau tidak mau ia harus menjelaskannya.
"Namaku Cain.. adik laki-laki Raja Achromos." Jawabnya datar.
Chroma terkejut. Ia tidak pernah dengar apa pun soal Achromos memiliki seorang adik laki-laki—ia hanya pernag dengar Achromos punya kakak laki-laki bernama Chlari. Lagipula, warna rambut mereka berbeda—di Kerajaan Chraz, seluruh keluarga kerajaan berambut hitam legam.
"Ya.. tentu kau tidak percaya." Timpal Cain seolah-olah bisa membaca pikiran Chroma.
"Tidak," kata Chroma sambil menghilangkan tatapan waspadanya. "aku percaya."
Cain menatap Chroma, masih dengan tatapan datar. Ada jeda yang cukup lama—sekitar tiga menit—sehingga Chroma mulai merasa tidak nyaman. Cain masih menatap Chroma.
"Lalu," kata Chroma memecah keheningan. "bisa kau jelaskan kenapa kau tiba-tiba menggendongku?"
Cain menatap Chroma dengan tatapan enggan bicara, namun akhirnya ia buka suara.
"Aku diminta oleh Raja Achromos untuk mengusirmu dari istana. Tapi karena kau sedang tertidur pulas.. aku tidak ingin membangunkanmu.. jadi aku bermaksud menggendongmu sampai ke Kerajaan Hecca."
Chroma melongo mendengar perkataan Cain.
Menggendongku sampai ke Kerajaan Hecca? Tidak salah? Batinnya.
"Menggendongku sampai kereta kuda, maksudmu?" Tanya Chroma, mencoba mengonfirmasi dugaannya.
__ADS_1
"Ah.." Cain terdiam sejenak. Ia terlihat sedang berpikir. "Aku baru ingat ada kereta kuda."
Chroma kembali dibuat melongo oleh jawaban Cain. Ia jadi semakin tidak yakin Cain adalah adik dari Achromos. Achromos si Raja Kegelapan itu! Sangat tidak mirip!
"Lalu kau bermaksud menggendongku sampai ke Kerajaan Hecca dengan berjalan kaki??" Suara Chroma sedikit menggema di lorong luas itu.
"Iya.." Jawab Cain dengan datar.
"Kau tahu seberapa jauh jarak antara Kerajaan Chraz dan Hecca?"
"Iya.."
"Dan kau berpikiran untuk berjalan kaki ke sana sambil menggendongku?"
"Kau tidak berat."
Chroma benar-benar tidak percaya dengan laki-laki yang ada di hadapannya itu. Makhluk apa dia sebenarnya? Sejujurnya Chroma ingin memukulnya satu atau dua kali karena seenaknya saja menggendongnya, tapi entah kenapa keinginannya surut begitu mendengar jawaban yang keluar dari mulut Cain.
"Bukan itu masalahnya.. Ah, sudahlah!" Kata Chroma.
"Lalu?" Tanya Cain.
"Lalu apa?"
"Kau mau kugendong atau naik kereta kuda?" Dari wajah Cain, terlihat bahwa ia bertanya dengan serius. Chroma terdiam sejenak, menahan perasaannya yang campur aduk.
"Kereta kuda!" Serunya.
•••
Laju kereta kuda perlahan melambat dan akhirnya berhenti di depan istana. Chroma turun dengan cepat dan melepas sepatu hak tingginya yang menyusahkan. Ia lalu berjalan menuju kamarnya.
"Achromos dan Cain, ya?" Bisiknya pelan.
Tiba-tiba, sekelebat memori samar muncul di kepalanya. Ia langsung berhenti melangkah. Entah kenapa nama Achromos dan Cain terasa begitu familier, padahal sebelumnya ia merasa biasa saja. Aneh.
Chroma kembali berusaha mengingat-ingat sesuatu mengenai Achromos dan Cain, tapi tidak bisa. Mungkin hanya perasaanku saja, pikirnya. Ia lalu kembali berjalan dan memasuki kamarnya.
Tok tok tok
Suara ketukan di pintu membuat Chroma yang sedang melepaskan gaunnya cepat-cepat menyambar baju yang ada di atas tempat tidur. Setelah mengenakan bajunya, ia segera membuka pintu.
"Nona Chroma," si pemilik suara terlihat begitu rapi dengan pakaian pengawal yang terlihat sedikit berbeda—lebih mewah dengan warna biru laut—dari pakaian pengawal lain. Pasti pengawal pribadi raja, batin Chroma.
"Ada apa?" Tanya Chroma.
"Yang Mulia Raja meminta Anda menemuinya." Kata si pengawal.
Chroma berdecak. Ia malas berbasa-basi dengan raja dan harus mengatakan setiap kalimat dengan hormat, formal, dan kaku. Tapi ia tidak punya pilihan lain. Ia menghela napas panjang.
"Oke." Jawabnya singkat.
Chroma mengikuti langkah si pengawal yang lebar-lebar dengan malas. Kaki kecilnya tidak mampu menyamakan langkah dengan si pengawal yang tinggi.
Dasar tidak peka, umpat Chroma.
__ADS_1
Si pengawal kemudian berhenti di depan sebuah pintu yang luar biasa mewah dan mengetuknya. Tinggi pintu itu tidak masuk akal bagi Chroma. Toh, tidak mungkin ada manusia yang tingginya tiga meter.
"Yang Mulia, Nona Chroma telah tiba." Kata si pengawal.
"Bawa dia masuk." Ujar suara berat di balik pintu.
Perlahan, pintu besar itu terbuka. Cahaya terang menusuk mata Chroma. Ia bisa melihat lampu-lampu mewah dari kristal yang menyala dengan terang. Ia lalu mengikuti si pengawal dan masuk ke dalam ruangan. Si pengawal menundukkan kepalanya ke arah pria tua yang duduk di singgasana, lalu berdiri di sebelahnya.
Chroma berdiri di hadapan pria tua itu dengan malas. Ia hanya menggunakan bajunya sehari-hari—baju putih lengan panjang dan celana pendek putih. Ia merasa berdandan itu tidak penting, tidak peduli saat bertemu dengan raja sekalipun.
"Nona Chroma," ucap suara yang terdengar serak dan berat itu. "terima kasih sudah menerima tawaran kami."
Basa-basi ini lagi, batin Chroma.
"Tentu, Yang Mulia." Balas Chroma sambil tersenyum.
"Bagaimana pertemuanmu dengan Achromos?" tanyanya.
"Ya, baik. Ia menungguku dan mencekikku sampai hampir mati, lalu aku diusir dari istana." Jawab Chroma datar.
Sang raja dan pengawalnya melotot mendengar Chroma bicara dengan wajah datar.
"La-lalu? Bagaimana lanjutannya?" Tanya raja dengan cemas, merasa bersyukur bukan putrinya yang ada di posisi Chroma.
"Ya, seperti yang bisa Anda lihat, Yang Mulia. Aku masih hidup." Timpal Chroma.
"Nona Chroma, kau tahu tugasmu, bukan?" Tanya sang raja dengan ragu.
"Tentu, Yang Mulia. Aku akan menjalankan tugasku dengan baik. Aku tidak pernah gagal dan tidak akan pernah gagal." Ujar Chroma pasti.
Raja berdeham dan menyandarkan punggungnya ke singgasana.
"Baiklah, mulai sekarang kau harus melaporkan apa pun yang terjadi dengan Achromos pada pengawalku, Vhor. Sekarang kau boleh pergi." Pinta raja.
"Dengan senang hati, Yang Mulia." Chroma menunduk lalu meninggalkan ruangan menyilaukan itu dengan tenang.
"Vhor, aku ingin kau mengawasinya dengan baik." Ujar raja itu pada Vhor.
"Baik, Yang Mulia." Jawab Vhor dengan tegas.
•••
Chroma keluar dari ruangan raja dengan langkah kecilnya dengan terburu-buru. Ia merasa sang raja memiliki maksud lain di balik misinya kali ini.
"Bapak tua itu membuat perasaanku tidak enak." Bisiknya.
Raja Kerajaan Hecca ke-9, Shevo, adalah satu-satunya raja yang tidak memiliki darah kerajaan. Istrinya, Ratu Hecca ke-15 lah yang merupakan keturunan langsung dari raja ke-8. Shevo hanya berasal dari kalangan rakyat biasa, yang kebetulan bertemu dengan sang ratu di festival musim semi ketika sang ratu kabur dari istana. Sang ratu sedang dimintai koin emas oleh sekelompok bandit sebelum akhirnya ditolong oleh Shevo. Sang ratu jatuh cinta dan akhirnya menikahinya 18 tahun yang lalu. Namun saat usia Jane 5 tahun, sang ratu meninggal dunia karena sakit hingga akhirnya tahta kerajaan jatuh ke tangan Shevo.
Hal yang janggal bagi Chroma adalah kematian sang ratu yang bertepatan dengan hari saat Jane hilang ingatan. Ya, Jane—menurut informasi yang didapat oleh Chroma melalui investigasi—hilang ingatan setelah kematian mendadak ibunya. Sang raja saat itu sedang berada di luar kerajaan, sehingga alibinya sempurna. Lalu, apa yang terjadi pada Jane hingga ia hilang ingatan? Sang raja mengumumkan pada rakyatnya bahwa Jane hilang ingatan karena syok atas kematian ibunya.
Tapi, apa benar begitu? Batin Chroma.
Ah, sudahlah! Tugasku hanya satu, aku tidak perlu mengurusi hal lain. Menyusahkan saja, timpalnya lagi.
Chroma kemudian segera memasuki kamarnya dan menutup pintu rapat-rapat.
__ADS_1
———