Chroma & Achromos

Chroma & Achromos
Chapter 24: Going Home


__ADS_3

Chroma masih mencengkram jubah hitam Aram dengan kuat. Meski tubuh Aram sudah hilang tak bersisa, Chroma masih bersimpuh di tempatnya—menitikkan air mata yang tak kunjung berhenti. Semua mata menatap Chroma yang menangis begitu pilu. Mereka semua ikut menyaksikan potongan memori Aram, membuat lidah mereka terasa begitu kelu. Tidak ada yang pernah menyangka—bahkan anggota Schatten sekalipun—bahwa Aram telah berjuang demi Chroma selama ratusan tahun. Bahkan Achromos yang begitu mencintai Chroma merasa terkalahkan oleh Aram. Ia tidak yakin dirinya mampu mencintai seseorang sebegitu dalam dan tulus. Ia benar-benar merasa kalah hingga air matanya ikut menetes ke pipi.


"Aram.."


Jona menenggelamkan wajahnya ke pelukan Juna. Ia menangis tanpa ampun, merasakan rasa sakit yang begitu luar biasa. Juna dan Fen pun turut meneteskan air mata. Aram adalah pemimpin mereka, 'kepala' mereka. Dan kini mereka harus kehilangan sosok yang selama ini menjadi tumpuan mereka. Tidak ada lagi seringai Aram yang begitu khas. Tidak ada lagi senandung kecil Aram ketika ia sedang senang. Tidak ada lagi tatapan tajam Aram ketika ia marah. Tidak ada lagi kejahilan Aram yang menjengkelkan. Tidak ada lagi. Begitu mengingat itu semua, hati mereka langsung hancur berkeping-keping.


"Setelah ini.. kita harus kemana?" Lirih Juna sambil menengadah ke atas.


"Aku tidak tahu.." Jawab Fen sendu.


"Kenapa harus Aram??" Jona berseru di tengah tangisannya hingga membuat semua orang menengok. "Kenapa.. harus Aram?"


Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan Jona. Semua orang mengunci mulutnya. Itu adalah keputusan Aram sendiri. Ia telah merencanakan semuanya dengan baik. Yang tahu kenapa harus Aram yang mengorbankan dirinya, hanya diri Aram sendiri. Meski begitu, Chroma dan Achromos tetap saja menyalahkan diri mereka atas apa yang telah terjadi. Ini semua terlalu berat untuk mereka terima.


Chroma kemudian bangkit dan mengenakan jubah hitam Aram. Ia melangkahkan kaki kecilnya menuju Achromos yang masih terbaring.


"Achromos," ucapnya dengan suara parau. "kau baik-baik saja?"


Achromos menatap Chroma dengan matanya yang memerah akibat menangis. Ia lalu mulai menyadari ada sesuatu yang aneh. Ia langsung bangkit dan menatap lukanya yang kini hilang tak bersisa. Bahkan tubuhnya tidak terasa nyeri sedikit pun.


"Kenapa..?" Ujarnya kaget.


Chroma menatap Achromos dengan tatapan kosong. "Aram yang melakukannya."


"Eh?"


"Dia menggunakan Xerra untuk melenyapkan semua luka orang-orang yang ada di sini."


Achromos menatap Chroma dengan tatapan tak percaya. Bahkan di saat terakhirnya Aram masih sempat melakukan sesuatu bagi mereka semua.


Ini semua begitu menyakitkan, batinnya.


"Chroma.. ayo pulang." Achromos memperlihatkan senyumannya yang begitu sendu. Tangannya mengusap rambut perak Chroma dengan lembut.


"Ayo.. kita pulang."


•••


Vhor dan Mysha menatap pemandangan di hadapan mereka dengan terkejut. Mereka baru saja sampai dengan napas terengah-engah ketika beberapa orang keluar dari dalam sana. Mysha langsung menutup mulutnya begitu melihat Achromos menggendong Chlari di tangannya. Ia langsung menggeleng tak percaya.

__ADS_1


"Sial. Kita terlambat." Gerutu Vhor dengan kesal.


"Pangeran Chlari.." Ucap Mysha nyaris tercekat.


Achromos kemudian menatap kedua sosok itu tanpa ekspresi. Di belakangnya, Chroma dan Cain mengekor dengan ekspresi yang sama. Begitu juga dengan Sol yang berjalan tak jauh di dekat keduanya.


"Yang Mulia.." Ucap Mysha sambil menghampiri Achromos.


"Yang Mulia, kami sudah menyiapkan kereta kuda untuk Anda ketika kami datang." Ujar Ruu sambil membukakan pintu kereta kuda untuk Achromos. Achromos tak menggubris dan hanya masuk ke dalam kereta kuda, diikuti oleh Chroma dan Cain.


Mysha langsung menggenggam lengan Ruu dengan wajah tak karuan.


"Tuan Ruu, apa yang telah terjadi??"


"Semua sudah berakhir. Schatten tidak akan menyerang lagi. Hanya saja.." Ruu menunduk dan menatap Mysha dengan sedih. "Pangeran Chlari.. telah tiada."


Setelah Ruu memberi tahu itu semua, tidak ada lagi yang membuka mulut. Semua orang menaiki kudanya masing-masing dan melakukan perjalanan kembali ke Chraz, meninggalkan anggota Schatten yang masih berkabung di dalam kuil.


Malam itu, suara auman serigala yang menggema terdengar begitu memilukan. Seolah-olah mampu merasakan apa yang dirasakan oleh mereka semua saat ini.


•••


Achromos bangkit dari singgasananya, lalu menggenggam tongkat hitamnya dengan erat. Pandangannya menyisir seisi ruangan luas itu, menatap semua orang yang terlihat seperti laut hitam.


"Rakyatku yang kucintai," Ujarnya. "Hari ini, seluruh Kerajaan Chraz merasakan duka yang sebesar-besarnya—sedalam-dalamnya. Kerajaan kita telah kehilangan seorang pangeran, kakak, anak, dan bagian dari keluarga kita. Pangeran Pertama Kerajaan Chraz, Pangeran Chlari Vorein Chlanisch Chraz. Semoga jiwanya dapat kembali ke sisi Tuhan dengan tenang. Alasta rein di araste."


"Alasta rein di araste." Semua orang langsung mengikuti ucapan Achromos bersamaan, menimbulkan suara yang menggema di ruangan luas itu.


Achromos kembali duduk di singgasananya. Air mata bergulir jatuh ke pipinya.


"Benar-benar, Chlari, kau begitu kejam padaku. Alasta rein di araste. Semoga jiwamu bertemu dengan Sang Cahaya." Bisik Achromos.


Di sisinya, Cain berdiri dengan tatapan kosong. Betapa jiwanya yang masih muda dan rentan begitu terguncang atas kematian Chlari. Meski Aram melakukan itu semua demi Chroma dan Achromos, namun Cain tetap tidak terima Chlari harus menjadi korban. Ditambah lagi Chlari mati karena melindunginya. Semua ini terlalu menyakitkan hingga air mata tak lagi menetes dari matanya.


Cain kemudian melangkah maju dan menatap lautan manusia di hadapannya. Tubuhnya berbalik ke arah peti mati lalu tangannya bergerak mengeluarkan pedang dari pinggangnya. Ia kemudian berlutut di hadapan peti mati dan menaruh pedangnya di atas sana. Semua orang langsung terperangah, termasuk Achromos yang langsung bangkit karena terkejut.


"Cain, apa yang kau..??" Serunya.


Cain memberikan penghormatan pada Chlari kemudian menghadap Achromos. Ia melucuti pin emas dengan lambang pedang dan perisai yang melekat di seragam militernya lalu menyerahkannya pada Achromos.

__ADS_1


"Yang Mulia Raja Achromos, hamba memohon persetujuan Anda. Hamba, Cain Avareist Chlanisch Chraz, ksatria pertama dan pangeran ketiga Kerajaan Chraz, menyatakan mengundurkan diri dari jabatan sebagai ksatria dan keluar dari Divisi Militer Kerajaan Chraz." Cain berlutut di hadapan Achromos dengan pin emas di atas telapak tangannya.


"Cain.. kau.." Achromos nyaris tak bisa mengatakan apa-apa. Ia sama sekali tidak menyangka Cain akan mengundurkan diri sebagai ksatria dan keluar dari divisi militer. Keputusannya itu benar-benar gila dan tiba-tiba. Seluruh rakyat Chraz tahu betapa sulitnya menjadi kstaria kerajaan, apa lagi ksatria pertama. Cain saja menghabiskan waktu lima tahun untuk bisa berada di posisinya saat ini, meski itu sudah termasuk luar biasa sebab biasanya ksatria pertama baru terpilih setelah sepuluh tahun tergabung di divisi militer.


Ratusan pasang mata yang ada di ruangan itu masih tertuju pada sosok kakak beradik yang berada di tengah ruangan. Semuanya terlalu terkejut untuk bereaksi.


"Pangeran Cain!" Kuu berbisik dengan tatapan tak percaya.


Cain adalah ketua dari para ksatria kerajaan termasuk dirinya, Fuu, dan Ruu. Ia adalah ketua yang luar biasa. Ia memiliki kemampuan analisis dan bertarung yang tidak terkalahkan. Salah satu alasan kenapa Kerajaan Chraz mampu memperluas wilayahnya adalah karena strategi yang dicetuskan oleh Cain. Begitu efisien dan efektif. Padahal Cain adalah seseorang yang biasanya selalu berpikir dengan kepala dingin, namun saat ini ia nyaris tidak bisa mengerti keputusannya yang sangat gila itu. Kematian Chlari—dan semua hal yang telah terjadi—benar-benar membuatnya terpukul hingga ke sumsum tulang.


"Cain, pikirkan kembali pernyataanmu." Suara Achromos terdengar begitu berat dan serius di tengah suasana hening itu.


Cain tak menjawab dan masih bertahan di posisinya. Achromos ingin sekali rasanya melempar mahkotanya yang terasa berat, membuang tongkat kerajaannya, dan memaki Cain saat itu juga, tapi apa daya rakyatnya tengah menyaksikan itu semua. Dengan berat hati hingga membuatnya menghela napas, Achromos meraih pin emas dari tangan Cain dan kembali duduk di singgasananya.


"Untuk saat ini, biar aku yang menyimpannya. Aku akan memikirkan permintaanmu itu. Ingat, kau belum resmi mundur dari jabatanmu." Ucap Achromos.


Cain bangkit lalu mengangguk pelan. Ia kemudian melangkah pergi meninggalkan ruangan. Achromos mengusap pangkal hidungnya dengan letih. Terlalu banyak hal yang harus ia urus, padahal ia masih berkabung atas kepergian Chlari dan Aram. Ditambah lagi Chroma tidak mau makan sejak kembali ke Chraz.


Aku benar-benar ingin kabur saja rasanya. Batin Achromos.


Tapi apa lagi yang bisa ia lakukan. Ia adalah seorang raja, dan ia memiliki tugas serta tanggung jawab yang harus ia jalani. Saat ini ia hanya bisa berharap semua masalah yang ada dapat terselesaikan dengan segera.


•••


Chroma duduk di sisi jendela dengan pakaian yang sama saat ia tiba di Chraz. Ia masih mengenakan jubah hitam Aram yang sudah terlihat lusuh. Matanya sedari tadi terpaku pada bulan purnama yang menggantung di langit kelam tanpa bintang.


"Aram.. aku akan menemuimu." Bisiknya pelan.


•••


Malam itu, Achromos kembali ke kamar dengan wajah letih. Upacara pemakaman Chlari berlangsung sehari penuh dan ia harus mengenakan mahkota kerajaan yang beratnya bukan main. Saat ia masuk ke dalam kamar, ia langsung menyadari Chroma tidak ada di sana. Yang ada hanya secarik kertas putih di atas tempat tidur yang berbunyi,


Aku memutuskan untuk pergi. Jangan cari aku, Achromos. Aku tidak akan kembali. -C


Achromos meremas kertas itu dengan keras lalu bergegas berlari keluar ruangan.


"Chroma!"


———

__ADS_1


__ADS_2