Cinta 5 Langkah

Cinta 5 Langkah
05


__ADS_3

sesampainya di kampung halaman pras dan langsung menuju rumah pras


semua keluarga dari pras sudah di hubungi oleh kakak pras dan semua nya sudah menunggu


hari sudah malam dan kemungkinan akan di kebumikan esok hari


semua tetangga sudah siap menyambut kedatangan jenazah Pras dan anaknya


semua orang tak menyangka karena baru 3 hari lalu pras pulang ke rumah ibu nya dan pagi tadi pamit balik ke tempat mertua dan akan kembali merantau


tapi sekarang malah akan pergi selamanya


para tetangga iba melihat keadaan lisa yang lemah dan bahkan sangat kacau


di tinggal sekaligus dua orang terpenting dalam hidupnya pasti tak tentu arah rasanya


"tutur berduka ya bu warni dan mbak lisa" ucap para tetangga yang datang


lisa dan ibu pras hanya diam dan menangis memandangi dua jenazah bapak dan anak di depan nya


"kamu makan dulu ya ber daritadi belum makan" ucap berlin ke adiknya


"gak nafsu makan mbak" jawab bery tetap menunduk


"makanlah roti sedikit " ucap berlin selanjutnya


berlin melangkah ke arah lisa dan langsung memeluk nya erat


dia ikut menangis merasakan kepedihan lisa


dia juga merasa bersalah atas hidup lisa karena yang menyebabkan semua nya adalah adik kandung nya walaupun itu secara tak sengaja


lisa memeluk balik berlin dan menumpahkan segala rasa yang ia rasakan


"menangislah dek .. bahu mbak selalu ada untukmu" ucap berlin sambil mengelus rambut lisa


"mulai sekarang kamu adik ku dan anggap aku kakakmu dek.. mbak minta maaf sebesar-besarnya sama adek atas kejadian ini dek" ucap berlin pelan


lisa diam tak menggubris dan hanya menangis


semalaman lisa hanya menangis tak ada henti nya

__ADS_1


keesokan hari nya


semua orang berangkat ke pemakaman untuk mengebumikan pras dan dean


setelah selesai di kebumikan hanya tersisa keluarga lisa , keluarga pras dan keluarga bery


"mas.. jadi maksud mu mau bersama dean itu seperti ini,kalo aku tahu kamu meminta itu dan akan pergi meninggalkan aku sendiri tak ku ijinkan kamu bersama dean mas" ucap lisa terduduk di pusara pras


"aku harus gimana mas setelah ini? apa aku bisa hidup tanpa kalian ? kenapa kamu jahat bawa anak kita juga mas ?" suara lisa menyayat hati semua orang yang ada disitu


"kamu janji sama aku akan bawa aku sama dean ke kota B ikut dengan mu tapi kenapa sekarang kamu malah pergi hanya berdua dengan dean mas,kenapa kamu gak ngajak aku sekalian?" ungkapan hati lisa benar-benar membuat semua orang menitikan air mata


"sudah lis,semua takdir kamu gak boleh ngomong begitu" ucap bapak lisa menenangkan


tiba-tiba kakak pras langsung menyambar omongan bapak lisa


"takdir kata bapak, bapak bilang takdir karena anak bapak masih hidup coba anak bapak yang mati apa bapak masih bilang ini takdir !" ucap mbak susi lantang


semua orang disitu diam mendengarkan perkataan mbak susi


"ini semua gara-gara anak bapak yang memaksa minta pulang padahal harusnya pras balik itu lusa tapi anak bapak ini yang maksa jadi kaya gini kan " ucapnya lagi


"kamu seneng kan lis, sekarang gak bakal berhubungan dengan keluarga ini lagi karena pras sudah mati! " cecar mbak susi ke lisa


"kenapa gak kamu aja yang mati lisa, kenapa harus Pras?" ungkap ibu Pras


"astaghfirullah bu ini semua sudah takdir yang sudah di garis sama Allah" jawab ibu lisa masih menghormati ibu pras sebagai besan


"bukan hanya ibu yang kehilangan,kami juga kehilangan bu ,saya sudah anggap pras sebagai anak saya sendiri" lanjut bapak lisa


"pembawa sial emang kamu lisa !" teriak mbak susi sambil menuding kearah lisa


lisa hanya menangis dan memeluk nisan suami dan anaknya


baginya perkataan keluarga suami nya tak sebanding dengan sakit nya kehilangan dua orang di hidup nya


"kalo kaya gini pras meninggal,lalu siapa yang bakal bantu aku buat bangun rumah , aku benci sama kamu lisa" ucap mbak susi lalu meninggalkan pemakaman


"yang sabar ya sayang..ada mbak dan keluarga mbak yang akan membantu adek" ucap berlin sambil memeluk lisa dari samping


"bu,pak .. sebaiknya kita selesaikan perkara ini dengan keluarga mas pras" ucap pak beno bapak bery dan berlin

__ADS_1


"iya pak " jawab pak iman bapak lisa


"udah ..ayo kita pulang dulu dek besok bisa kesini lagi ya" ucap mas Edward berjongkok di depan lisa dan istri nya


akhirnya semua meninggalkan pemakaman dan kembali ke rumah duka pras


"assalamualaikum" ucap keluarga lisa


ya hanya keluarga lisa karena keluarga bery non-muslim


"wa'alikumsalam " jawab orang yang ada di ruang tamu rumah pras


mereka semua duduk diatas tikar


hening.. tak ada satupun yang berbicara sampai akhirnya pak beno memulai pembicaraan


"ehm..maaf sebelumnya perkenalkan saya beno bapak dari bery dan mertua Edward "


"saya mewakili keluarga saya atas nama bery dan Edward memohon maaf sebesar-besarnya atas kejadian ini dan sudah di jelaskan dari awal oleh menantu saya,


saya sekeluarga turut berduka cita sedalam-dalamnya terutama untuk mbak lisa saya mohon maaf sebesar-besarnya ,saya disini ingin menyelesaikan masalah ini hingga kelar" ucap pak beno tenang


"untuk kelanjutan nya bagaimana ya pak? kami pihak korban ingin melaporkan kepada pihak berwajib untuk masalah ini" ucap yoko (kakak ipar pras/suami mbak susi)


"apa tidak bisa di selesaikan secara kekeluargaan mas?" tanya pak beno lagi


"keluarga kami sudah sangat bertanggung jawab sepenuhnya atas hal ini mas dan mbak ,tak ada niatan sedikitpun kami lari dari tanggung jawab dan kami pun tak ada niatan semua ini terjadi , ini semua di luar kendali kami mas" ucap pak beno menerangkan


"tapi anak anda membuat adik saya meninggal pak?" ucap mbak susi


"dan dia adalah tulang punggung untuk ibu saya karena bapak saya sudah meninggal sejak kami kecil ,jadi sekarang pras lah yang bertanggung jawab atas hidup ibu nya kalau pras sudah gak ada lalu ibu kami gimana pak ?" terang mbak susi panjang


"baiklah saya sekarang tanya kepada mbak lisa selaku pihak yang paling di rugikan atas kejadian ini , bagaimana mbak lisa ?" tanya teman pak beno yang seorang polisi


lisa hanya diam dengan tatapan kosong dan air mata yang mengalir deras di pipi nya


seperti tak ada gairah hidup lagi di diri wanita berumur 22 tahun itu


entah apa yang sekarang ada di pikiran nya


yang pasti dilihat dari luar dia amat menyedihkan dengan penampilan mata sembab dan kacau.

__ADS_1


"bagaimana mbak lisa?" tanya mas Edward


__ADS_2