
Dari saat kejadian di taman belakan itu aku mencoba menjaga jarak dari Aldi. aku gak mau jika terus menerus dekat dengannya. perasaanku akan semakin bertambah dalam kepada Aldi, mungkin dengan menjaga jarak sedikit demi sedikit aku bisa melepaskannya dan melupakannya.
Aku memang tidak sepenuhnya menjauh dari Aldi, selama ini Aldi pun masih sering mengirimiku pesan singkat bahkan menelponku, aku juga masih membalas pesannya namun tidak sampai seperti dulu. jika Aldi ingin mengajak berangkat atau pulang bareng pun aku berusaha menolaknya dengan berbagai alasan. untung saja berhasil.
Tapi pagi ini keberuntungan tidak sedang berpihak padaku. saat aku keluar dari apartemen aku berniat akan pergi kekampus, aku lihat Aldi dengan motor sport-nya sudah ada di depanku dan tersenyum kearahku, aku menghela napas pelan dan menghampirinya.
Jujur aku rindu kepadanya, aku ingin memeluknya saat ini juga, tapi keputusanku untuk menghindarinya sudah bulat, aku tidak ingin terlalu berharap lagi sekarang.
"Ayo naik, " ucapnya sembari memberikan helm kepadaku, aku masih diam dan menatap Aldi dan helm yang masih Aldi pegang bergantian, aku masih ragu, aku ingin menolaknya lagi tapi alasan apa yang harus aku buat kali ini.
Aldi mendekat kearahku dan memakaikan helm yang dari tadi dia pegang kepadaku, aku diam mematung atas apa yang di lakukan Aldi barusan. mataku masih menatapnya, bingung dengan sikap Aldi yang malah semakin manis terhadapku, kalau terus menerus seperti ini bagaimana aku bisa move on darinya.
"Sudah tidak usah menghindariku lagi, ayo naik kita berangkat," ucapnya lagi. aku hanya mengangguk dan naik keatas motor sportnya tanpa mengucapkan apa-apa.
Tidak ada obrolan seperti dulu yang sering kita lakukan saat di perjalanan. sampai di parkiran kampus, aku yang berniat akan pergi ditahan oleh Aldi. aku menatap bingung kearah Aldi bergantian kearah tanganku yang di pegang Aldi.
Aku mencoba untuk melepaskan tanganku dari genggaman tangan Aldi tapi tidak bisa, Aldi malah mempererat pegangannya. aku hanya menghela napas pasrah dan ikut lanjut berjalan dengan Aldi yang masih menggandeng tanganku.
Sama seperti tadi saat di perjalanan menuju kampus hingga sekarang sudah akan menuju kelas tidak ada yang mau membuka suara, aku yang sibuk dengan pikiranku dan Aldi yang entah kenapa tidak ingin juga membuka suara. entah apa yang sedang Aldi pikirkan sekarang. entah dia sedang marah atau apa, karna yang kulihat kini wajahnya datar dan dingin.
Sesampainya didepan kelas aku dan Aldi menjadi pusat perhatian teman-teman sekelasku, aku memang sering jalan berdua dengan Aldi tapi untuk bergandengan baru kali ini, mungkin dari itu makanya semua yang ada di kelas menatap kami berdua. aku yang merasa tidak nyaman langsung melepaskan tanganku secara paksa hingga gandengan kami terlepas, Aldi menapku heran tapi aku tidak perduli.
Kelas menjadi sunyi saat ini. aku berjalan menuju mejaku tapi baru dua langkah aku berjalan, lagi-lagi Aldi menahan tanganku. Aku diam tidak berniat melepaskannya dan tidak juga untuk menatapnya.
kami masih berada di dalam kelas tepatnya didepan papan tulis, dan semua orang yang berada diruangan ini terdiam seakan mereka sedang menonton drama korea secara live.
Tidak tahan dengan keadaan seperti ini aku pun berbalik kearah Aldi yang masih tetap memegang pergelangan tanganku, aku mencoba setenang mungkin sekarang.
"Lepasin Al, aku mau duduk," kataku datar
"Kamu kenapa sih Vin, menghindar terus. Aku ada salah?" tanyanya kepadaku. aku menghela napas kasar sebelum menjawab lagi.
"Aku gak ngehindar, dan kamu gak punya salah," jawabku masih dengan muka datar.
"Tapi aku ngerasa kalo kamu menghindar dari aku beberapa hari ini," ucapnya lagi. Sekuat tenaga aku menahan air mataku yang ingin keluar dari tadi.
"Mungkin itu cuma perasan kamu saja Al, aku gak ngehindarin kamu, aku Cuma lagi sibuk aja akhir-akhir ini," jawabku berusaha setenang mungkin.
Aldi mulai melonggarkan genggamannya dari tanganku dan aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Aku langsung melepaskan genggamannya dan berjalan menuju mejaku, tapi Aldi masih tetap di posisi yang sama seperti tadi hanya pandangannya saja yang mengikuti kemana aku pergi.
"Udah selesai belum nih dramanya, gue kebelet nih pengen ke toilet," ucap Arya memecah keheningan.
__ADS_1
Soktak Aldi berjalan kearah mejanya dan sekilas kulihat dia menatapku tapi aku acuhkan.
"Yah udahan, padahal lagi tegang-tegangnya"
"Kaku banget lo, Al, padahal kalo suka tembak aja kali"
"Greget gue liat kalian berdua."
"Apa kalian berdua udah jadian ya, dan sekarang lagi berantem"
"PJ bisa kali, Al, Vin."
Itulah beberapa ucapan temen-temen Aldi dan juga yang lainnya. Aku mengabaikan ocehen-ocehan tidak jelas mereka dan mencoba pokus membaca buku yang saat ini berada di depanku.
Aku berjalan kearah parkiran dimana letak motor sport Aldi terparkir, karna tadi Aldi sempat mengirim pesan untuk pulang bersamanya. aku sengaja tidak keparkiran bareng bersama Aldi karna aku ingin ke toilet terlebih dahulu.
Aku berjalan santai menuju pakiran. tiba-tiba aku berhenti saat aku melihat dua orang yang berada di tengah parkiran sedang berpelukan.
Aldi dan Raina. Ya orang itu adalah mereka, air mataku mengalir tanpa bisa kutahan lagi. Raina berada disini dan mungkin Aldi sudah tidak membutuhkanku lagi. aku pergi menuju gerbang utama kampusku, dan tidak berniat untuk menghampiri Aldi dan Raina yang sedang melepas rindu.
Aku membaringkan tubuhku diatas empuknya ranjang, ku lirik hanponeku, berharap Aldi akan menghubungiku tapi kenyataan memang selalu menyakitkan.
Tidak ada satupun pesan dari Aldi. tidakkah dia menyadari bahwa aku tidak menghampirinya untuk pulang bersama seperti ajakannya tadi, atau kah dia memang sudah melupakan keberadaanku karna sudah ada Raina.
Bahkan dia tahu bagaimana perasaanku tapi tidakkah dia menghargai perasaanku ini. aku tau dia hanya menganggapku sahabatnya, sahabat yang selalu dia datangi disaat dia membutuhkan.
Ku nyalakan radio dari hanponeku hanya untuk meramaikan kesunyian ini, dan etah kebetulan atau apa aku merasa lagu ini memang cocok untukku.
Kita teman dekat
sudah saling percaya
cerita tentang kamu
sudah menjadi makananku
Putus lagi nyambung lagi
ribut lagi baik lagi
__ADS_1
kau menangis di pundaku
di pelukanku.
Maafkan aku jadi suka sama kamu
awalnya baik lama-lama kucemburu
maafkan aku yang mengharapkan cintamu
bila belum saatnya kusabar menunggu
bila masih bersama kutunggu kau putus
Apa iya aku harus nunggu mereka putus? Aku tidak mau berharap terlalu tinggi sekarang. mereka sudah saling serius, kemungkinan mereka putus itu sangat tipis, aku tidak ingin terlalu berharap, karna itu hanya akan membut aku semakin sakit.
Andai dulu aku tidak bertemu dengannya, mungkin tidak akan seperti ini jadinya. andai mimpi itu tidak hadir mungkin perasaanku tidak akan seperti ini kepadanya.
haruskah aku menyalahkan mimpi itu? jika tidak lalu aku harus menyalahkan siapa? takdir, atau diriku sendiri, atau Aldi yang harus aku salahkan karna telalah mengombang-ambingkan hati dan perasaanku.
Tuhan jika memang dia adalah jodoh yang kau takdirkan untukku dekatkanlah iya padaku, tapi jika dia bukan jodoh yang kau ridhoi untukku, ku mohon hapuskan perasaan ini dariku. Itulah doaku kali ini, karna aku bingung dengan diriku sendiri. haruskah aku berhenti berharap atau aku harus tetap bertahan.
Seminggu sudah berlalu dan Aldi tidak pernah menghubungiku. akupun tidak melihatnya di kampus. aku bertanya kepada Rudi teman dekat Aldi tapi dia juga tidak mengetahui keberadaan Aldi. aku khawatir sekaligus rindu kepadanya.
Aku sudah mencoba menghubunginya tapi tidak pernah diangkat. hari ini sepulang kampus aku berniat mendatangi rumahnya. aku hanya ingin memastikan apakah Aldi ada di rumahnya atau tidak, jika memang Aldi pergi, aku ingin tau Aldi pergi kemana. Aku takut terjadi sesuatu kepada Aldi.
Setelah mata kuliah selesai aku cepat-cepat pergi tanpa menghiraukan panggilan dari kedua sahabatku. Aku hanya ingin pergi kerumah Aldi memastikan bahwa Aldi tidak kenapa-kenapa.
Selama perjalanan aku sudah membayangkan hal-hal buruk terhadap Aldi. aku tidak bisa berpikir jernih sekarang. Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam lebih akhirnya aku sampai dirumahnya.
Ku ketuk pintu rumah Aldi dan terdengan suara seseorang yang membuka pintu. aku berharap semoga itu Aldi, tapi ternyata keberuntungan tidak sedang berpihak padaku. Kulihat kak Aldo yang membukakan pintu untukku dan menyuruhku masuk.
"Tumben kamu kesini sendiri Vin, ada apa?" Tanya kak Aldo, mungkin dia bingung dengan kehadiranku yang tiba-tiba karna biasanya aku kesini pasti selalu diajak Aldi.
"Aku mau cari Aldi kak, apa dia ada dirumah?" tanyaku langsung.
"Loh Aldi gak pamit sama kamu Vin? Aldi kan seminggu lalu pergi ke Malaysia bareng Raina." aku terdiam antara terkejut dan kecewa. Padahal aku sudah menghawatirkannya sampai-sampai aku memberanikan diri datang kesini.
"Kakak kira Aldi sama Raina pamit dulu kekamu Vin, soalnya waktu Aldi membawa Raina kesini untuk minta izin pergi ke Malaysia Raina sempat ngajak Aldi ketemu kamu dulu," ucapkak Aldo lagi, aku masih terdiam tidak menjawab ucapan kak Aldo.
__ADS_1