
Jam 09:25 aku sudah sampa di kampus sedangkan kelasku akan dimulai pukul 11:00 berarti masih ada waktu 1,5 jam lagi.
Kedua sahabatku pun belum datang karena aku memeng mengabari mereka saat aku sudah sampai ke kampus, jadi mungkin mereka masih siap-siap.
Aku pergi ketaman kampus, tempat yang selalu aku jadikan saat sendiri seperti ini, jujur aku masih memikirkan Aldi. aku memikirkan siapa yang akan Aldi pertahankan, aku atau Fania, siapa pun itu, siap gak siap aku harus siap.
Tidak mau terlalu memikirkan masalah itu aku kini mengambil novel dari dalam tasku dan membacanya sembari menunggu kedua sahabatku itu datang.
Tidak lama ponselku bergetar dan aku langsung melihat siapa yang menelpon, dan ternyata itu adalah kak Ray , tanpa menunggu lama lagi aku langsung menganggatnya.
"Hallo,"
"...."
"Iya aku udah di kampus Yang, kenapa?"
"..."
"Ok, nanti aku kabarin kamu."
"...."
"Iya, semangat ya ngerjain skripsinya, jangan terlalu kecapean dan jangan lupa makan dan istrahat,"
"...."
Tutt...
Ku tutup telpon dari kak Ray setelah mendengar jawabannya. Kak Ray memang laki-laki yang baik, dia perhatian, penyayang dan manis. Aku senyum-senyum sendiri mengingat perlakuan manis kak Ray hingga tepukan di punggungku mengagetkan aku, ternyata kedua sahabatku lah pelakunya, ku tatap judes kepada mereka karna kesal dan mereka hanya cengengesan saja tanpa ngerasa bersalah sama sekali.
"Kamu abis telponan sama siapa sih Vin, langsung senyum-senyum gitu?" Tanya Fitria
"Abis telponan sama kak Ray." Jawabku jujur
"Vin, kamu udah beneran cinta sama kak Ray?" kali ini Ayuni yang bertanya.
"Aku gak tau, aku nyaman sama kak Ray, tapi hati aku masih tetap bersama Aldi, aku sayang sama kak Ray tapi aku gak cinta sama kak Ray. aku tau aku jahat banget, tapi aku juga gak mau kayak gini. Kemarin Aldi datang keapartemenku.." ucap ku
"Mau ngapain?" Tanya Fitria. Akhirnya aku menceritakan semuanya kepada mereka. Aku bisa melihat kekesalan di wajah keduanya.
"Aku terpaksa ngasih pilihan itu sama dia, aku juga pengen di perjuangin. aku cape selama ini berjuang sendirian, dan dia asik dengan perempuan ini dan itu, sedangkan aku harus menanggung rasa sakit sendiri selama tiga tahun ini," ucapku panjang lebar dengan air mata yang sudah mengalir deras melewati pipiku.
Ayuni yang mengerti dengan perasaanku membawaku kedalam pelukannya dan ikut meneteskan air mata, meski tidak sederas air mataku. Fitria? Dia diam sambil menatapku antara kesal dan kasihan. Ayuni masih memelukku, dan kini aku sudah bisa lebih tenang, aku menghapus air mataku dan mencoba tersenyum, hanya untuk menguatkan hatiku sendiri.
Setelah acara cerita-cerita hingga akhirnya nangis-nangis, kami bertiga pergi menuju kantin karna selesai menangis perutku menjadi lapar dan haus.
Sesampainya dikantin aku melihat Aldi dan Fania sedang duduk berdua sambil suap-suapan. Melihat itu hatiku merasa sangat sakit. Tanpa aku sadari kini air mataku kembali terjatuh hanya karna melihat mereka.
__ADS_1
Fitria yang menyadari aku menangis segera membawaku pergi dari kantin, seakan tau apa yang aku rasakan kini Fitria dan Ayuni membawaku ketaman belakang yang memang lebih sepi, bahkan jarang ada orang yang datang ketaman ini. Fitria memelukku mencoba menenangkanku
"Udah Vin, jangan nangis lagi," ucap Fitria menenangkan.
"Kenapa sesakit ini. Aku udah coba untuk gak lagi peduli padanya, aku udah coba melupakannya dan membuang semua perasaanku terhadapnya, tapi kenapa aku gak bisa! kenapa aku bisa sesayang ini sama dia? Kenapa?" racauku masih dengan tangis yang semakin deras.
"Aku udah jahat sama kak Ray, aku udah nyakitin dia, gak seharusnya aku nangisin laki-laki lain, tapi aku gak bisa. Aku harus apa Fit, Ay? Aku udah janji sama kak Ray untuk melupakan dia, aku udah janji untuk gak nyakitin perasaan dia, tapi aku gak bisa, Aldi terlalu sulit untuk aku lupakan. aku terlalu sayang sama dia, aku terlalu cinta sama dia, sampai aku rela dia sakitin selama ini," lanjutkku masih dengan isak tangis. Aku kecewa, kecewa pada diriku sendiri, entah kenapa aku bisa sampai seperti ini Cuma karna satu laki-laki yang bernama Aldiansyah Putra. Baru kali ini aku sangat menyayangi bahakan mencintai laki-laki sampai seperti ini.
Setelah merasa lebih tenang Fitria melepaskan pelukannya, dan mengusap sisa air mataku,
"Vin, kita tau kamu sangat mencintai Aldi, tapi kamu gak bisa kayak gini terus, kamu harus bangkit, Vin. Masih banyak laki-laik baik diluaran sana," ucap Ayuni sambil menepuk-nepuk pelan punggungku.
"Kemarin kamu kasih Aldi pilihankan?" Tanya Fitria dan aku mengangguk.
"Dia belum ada menghubungi kamu sama sekali?" tanyanya lagi, dan aku jawab dengan anggukan lagi.
"Itu berarti dia sudah mutusin buat mertahanin Fania dan mencoba ngelepas kamu. Fania yang Aldi pilih bukan kamu Vin," ucap Fitria menjelaskan.
Mendengar perkataan Fitria membuat air mataku kembali menetes. Apa benar Aldi sudah menentukan pilihannya? Apa benar Aldi melepaskanku demi perempuan itu? Apa aku bisa? Apa aku akan sanggup jika jauh dengan Aldi?.
"Jangan berpikir bahwa kamu tidak bisa tanpanya Vin, aku yakin kamu pasti bisa, kamu hanya butuh waktu," ucap Ayuni meyakinkan.
"Ingat Vin, jangan pernah memperlihatkan kelemahan kamu di depan mereka, itu hanya akan membuat Fania merasa menang. Dia akan memandang kamu rendah karena telah berhasil merebut dan memisahkan Aldi dari kamu. Aku yakin jika memang Aldi jodoh kamu, sejauh apapun dia pergi dia pasti tau caranya untuk kembali. kamu gak perlu sedih, buktiin sama mereka bahwa kamu bisa bahagia tanpa Aldi." Ayuni mencoba menenangkan dan meyakinkanku.
Mendengar masukan-masukan dari kedua sahabatku membuat aku mengembangkan senyumku, aku bersyukur mempunyai mereka, meskipun mereka orangnya pecicilan, tapi disaat seperti ini mereka bisa serius dan selalu memberikan masukan atas masalah yang sedang aku hadapi.
"Makasi ya, kalian memang sahabat terbaikku, aku akan berusaha untuk melupakannya, dan aku berharap semoga Aldi tidak akan menyesal nantinya," ucapku sambil tersenyum kepada kedua sahabatku.
Mau tidak mau aku mengijinkan mereka untuk menginap karna aku juga memang membutuhkan mereka untuk tidak terlalu memikirkan Aldi meski hanya sejenak tapi setidaknya aku masih bisa tertawa karna tingkah mereka.
Sebelum pulang keapartemenku kami bertiga mampir kesupermarket yang dekat untuk membeli bahan-bahan untuk memasak. Jangan lupakan mereka yang suka sekali makan, jadi aku memutuskan untuk berbelanja agak banyak, mulai dari sayuran, sosis, buah, daging dan juga bahan-bahan lain untuk membuat kue, mungkin dengan menyibukan diri membuat kue dan memasak untuk kedua sahabatku bisa mengurangi sejenak pemikiranku terhadap Aldi meskipun hanya untuk hari ini.
Setelah sampai diapartemen, aku langsung menuju dapur untuk menyimpan belanjaanku dengan dibantu oleh kedua sahabatku, lalu pergi menuju kamar untuk mengganti pakaian dan kembali kedapur untuk memasak untuk kedua sahabat terbaikku.
Kulihat kedua sahabatku sedang sibuk didapur membereskan belanjaan yang kami beli tadi kedalam kulkas.
"Tumben," ledekku kepada mereka.
"Iya nih lagi ada ilham sama kita jadi kita inisiatif buat beresin, kasian nanti kamu kecapea Vin, makanya kita bantu." Ucap Fitria.
"Pasti ada maunya?" tebakku, lalu dapat cengiran dari mereka berdua. Udah ketebak sih, aku juga hapal sama mereka, mereka gak bakal mau cape-cape bantuin kalau lagi gak ada maunya.
"Kamu langsung masak aja Vin, kita yang beresin supaya cepet kelar dan cepet makan," ucap Ayuni yang lalu diangguki oleh Fitria.
tuhkan bener, pasti ada maunya. Aku hanya memandang kesal mereka dan segera mengambil bahan-bahan untuk dimasak.
__ADS_1
Selesai masak dan makan kami bertiga mengobrol diruang tamu untuk menonton dan mengobrol-ngobrol random hingga aku kembali terdiam, memikirkan yang selama ini aku pikirkan, gak aku gak lagi mikirin Aldi, tapi kali ini aku memikirkan kak Rayhan, aku sungguh binggung harus bersikaf seperti apa kepadanya. Aku tidak mau terlalu dalam menyakiti hatinya. Aku gak mau menjadikan dia sebagai pelarian kesakit hatianku terhadap Aldi. Kak Ray terlalu baik untukku. Kak Ray berhak mendapatkan perempuan yang lebih baik, bukan perempuan seperti aku yang masih mengharapkan dan masih sering menangisi laki-laki lain,
" Vin..." panggilan dari Ayuni menyadarkan lamunanku
"Kenapa?" tanyaku
"Kenpa ngelamun terus, masih mikirin yang tadi?" Tanya Ayuni lagi, aku menggeleng sebagai jawaban.
"Terus?" kini Fitria lah yang bersuara. Aku diam lalu menghela napas panjang sebelum akhirnya aku berbicara,
"Aku bingung.." ucapku pelan
"Bingung kenapa?"
"Entahlah, sepertinya aku bakalan mutusin kak Ray,"kataku penuh keraguan.
"Kenapa?" Tanya Fitria tak percaya
"Kak Rayhan terlalu baik buat aku, sedangkan aku? Malah menyakiti perasaan dia aja. Kalian tau kan aku masih banget mengharapkan Aldi, bahkan disaat aku bersama kak Ray aku masih saja memikirkannya dan menangisinya. Aku berasa jadi orang paling jahat tau gak! Aku tau kak Ray gak mempersalahkan ini semua, tapi coba kalian pikir hati siapa yang gak sakit jika pacarnya pasih memikirkan dan mengharapkan orang lain, jika aku berada diposisi itu pun aku pasti akan sangat sakit!" jelasku panang lebar.
"Jalau kamu mutusin kak Ray apa itu tidak menyakiti perasaannya, coba kamu pikirin lagi baik-baik Vin,"
"Tapi jika kak Ray masih bersamaku bahkan aku lebih menyakiti perasaannya, aku yakin kak Ray pasti mengerti. Aku gak mau terlalu dalam menyakiti perasaan laki-laki sebaik kak Rayhan" jelasku lagi dengan air mata yang sudah mengalir. Kedua sahabatku memelukku bersamaan.
"Apapun keputusan kamu, kita berdua akan selalu mendukung kamu Vin" ucap Ayuni yang juga diangguki oleh Fitria. Aku tersenyum kepada kedua sahabatku lalu memeluk mereka, aku beruntung memiliki sahabat seperti mereka.
Meskipun mereka lebih banyak bikin kesal dan menyebalkan, tapi disaat seperti ini mereka berdua akan berubah menjadi dewasa dan bisa berkata bijak. Hari ini aku mengajak kak Ray bertemu, ya aku berniat menggakhiri hubunganku dengannya hari ini, aku tidak ingin terlalu lama menyakiti perasaannya, maka dari itu aku lebih memilih melepaskannya, karna aku juga tidak yakin bisa melupakan Aldi secepat itu.
Aku suah berada ditaman yang biasa aku kunjungi bersama kak Rayhan. Aku mengajak kak Ray bertemu pukul 10:30 dan sekarang masih pukul 10:15 berarti masih ada waktu limabelas menit untuk aku memikirkan mulai dari mana aku bicara bersamanya.
Ditengah asik dengan pikiranku sebuah pelukan dari belakang menyadarkan aku, dan sudah bisa kupastikan itu adalah kak Rayhan. Ku balikan tubuhku menghadapnya dan tersenyum kearahnya. Aku mengajak kak Ray duduk dibangku yang disediakan ditaman ini. Aku memeluk kak Ray erat sambil menenggelamkan wajahku kedalam dada bidangnya, hangat, itulah yang aku rasakan saat dalam pelukannya. Ini mungkin pelukan terakhir dari kak Ray, aku pasti akan merindukan pelukan ini, aku pasti akan merindukan sosok hangat kak Ray, merindukan senyumnya dan merindukan segala tentangnya.
"Sayang kenapa kamu nangis?" Tanya kak Ray panik.
"Maafin aku," ucapku pelan masih dalam pelukannya
"Kenapa kamu minta maaf? Dan kenapa kamu nangis gini, kamu masih mikirin dia? Kamu masih sayang sama dia?" Tanya kak Ray lembut.
"Maaf aku udah nyakitin perasaan kamu, maafin aku udah buat kamu kecewa," ucapku sambil sesenggukan
"Sekarang kamu tenangin diri kamu dulu ya, jangan nangis, udah itu baru kamu bicara," ucap kak Ray lembut, sambil mengusap pelang rambutku mencoba menenangkanku. Aku mengangguk dalam pelukan kak Ray. Setelah merasa lebih tenang aku melepaskan pelukan dari kak Ray dan mulai bicara,
"Kak maaf aku gak bisa ngelupain dia, maafin aku yang masih selalu saja memikirkan dan nangisi dia didepan kakak, kakak terlalu baik buat aku sakitin, maafin aku yang gak bisa jaga perasaan kakak, aku gak mau terlalu dalam nyakitin perasaan kakak, aku tau kakak pasti sakit hati saat aku nangisin laki-laki lain apa lagi setatus kakak adalah pacar aku, maafin aku kak," ucapku panjang lebar dengan air mata yang kembali mengalir.
"Sekarang aku mau ngelepasin kakak, bukan karena aku gak sayang sama kakak tapi aku gak bisa untuk janji bisa ngelupain dia, aku gak mau terus-terusan nyakitin perasaan kakak, aku tau aku jahat, maafin aku." lanjutku
"Jangan benci aku kak, aku juga gak mau ngelepas kakak tapi ku akan lebih jahat jika kakak masih sama aku sedangkan aku masih memikirkan dan menangisi laki-laki lain depan kakak, mungkin ini yang terbaik. Aku yakin kakak bisa dapetin perempuan yang lebih segalanya dari aku, aku minta maaf udah bikin kakak kecewa" lanjutku lagi dengan tangis yang semakin deras.
__ADS_1
Kak Ray membawaku dalam pelukannya, dan aku membalas pelukannya. Aku yakin ini adalah pelukan terakhir, pelukan perpisahan antara aku dan kak Ray, aku tau aku pasti akan menyesal. tapi ini yang terbaik. Aku tau aku bodoh telah menyia-nyiakan laki-laki baik seperti kak Rayhan, tapi aku mencoba untuk ihklas.
Setelah mengakhiri hubunganku dengan kak rayhan , aku merasa sedikit lega tapi juga merasa sedih. Lega karna aku tidak akan merasa bersalah lagi karna telah melukai perasaan kak rayhan, dan sedih karna aku kehilangan sosok laki-laki yang baik seperti kak rayhan. Aku hanya berharap semoga kak rayhan mendapatkan kebahagiannya dan begitupun juga aku yang mendapatkan kebahagianku tanpa bayang-bayang seorang Aldiansyah Putra.