
Setelah beberapa minggu aku menghindar dari Aldi, jujur aku merasa kesepian. Serasa ada yang kurang dari hari-hariku. Aku pun sudah tidak pernah lagi menemani Aldi latihan basket dan tidak pernah lagi berkomunikasi, bahkan bertegur sapa pun tidak. Meskipun Aldi selalu berusaha menyapa bahkan mengajakku mengobrol, tapi aku selalu terus berusaha untuk menghindarinya.
Karna kuliah hari ini sudah selesai, aku berjalan disepanjang koridor kampus sendirian, karena kedua sahabatku sudah pulang terlebih dahulu.
Disaat aku berjalan aku melihat ada Aldi dan Rudi yang sedang mengobrol di koridor depan sana, aku ingin berbalik arah, tapi sialnya Aldi sudah melihatku lebih dulu dan berjalan kearahku dengan senyuman manisnya. Aku membuang napas untuk menetralkan detak jantungku yang kini berdetak lebih cepat, aku mencoba biasa saja hingga akhirnya Aldi berada di hadapanku.
"Vin kamu kenapa?" Tanyanya dengan lembut.
"Aku gak apa-apa kok, Al." bohongku.
"Gak usah ngehindarin aku lagi, Vin," ucap Aldi lagi yang hanya ku balas dengan anggukan.
"Aku memang udah punya kekasih Vin, tapi kamu masih Sahabat aku. aku mau, kamu punya seseorang yang bisa bahagiain kamu. aku gak mau jika cuma aku yang nemuin seseorang yang aku sayang tapi aku juga pengen kamu punya seseorang itu," kata Aldi panjang lebar.
"Iya Al, aku usahain," ucapku sambil tersenyum. Aldi tersenyum dan memelukku. Aku tersenyum dalam pelukannya dan membalas pelukan Aldi karena jujur aku merindukannya, aku merindukan pelukannya dan merindukan segala perlakuan manisnya terhadapku.
Sesampainya di apartemen aku merebahkan tubuhku disofa. Aku tersenyum mengingat tentang Aldi tadi.
Sedang asik dengan pikiranku sebuah deringan dari ponselku menyadarkanku, ku ambil ponsel yang berada di meja lalu melihat siapa yang berani mengganggu kesenanganku. Dan kulihat ternyata Fitria lah pengganggunya. dengan malas aku menggeser tombol hijau di layar ponselku.
"Hallo ada apa?" tanyaku dengan malas.
"...."
"Iya aku kerumah kamu, tiga puluh menit lagi,"
"...."
"Aku harus mandi dulu!"
"...."
"Iya gak lama," ucapku lalu mematikan sambungan telpon dari Fitria.
Aku bergegas mandi dan mengganti pakaianku, lalu langsung pergi kerumah Fitria dengan menggunakan bis, karna malas membawa sepeda motorku.
Sesampainya dirumah Fitria, aku mengetuk pintunya dan ternyata yang membukakan pintu adalah seorang pria tampan dan sepertinya usinya diatas ku. Aku tidak tau siapa dia karena aku memang belum pernah melihatnya.
"Permisi Fitrianya ada?" Tanyaku ramah.
"Ada kok, masuk saja," jawabnya tak kalah ramah. lalu aku masuk dan mendapati Fitria yang sedang mengobrol dengan seorang pria yang juga tidak aku ketahui siapa, mungkinkah pacar Fitria? Entahlah aku tak peduli.
"Udah sampai, Vin?" Tanyanya. Sudah jelas-jelas aku ada disini berarti aku udah sampai, tapi masih saja bertanya seperti itu.
"Terus kalo belum sampai, kenapa aku ada disini? pertanyaan kamu gak mutu banget sih," ucapku kesal. Sedangkan Fitria hanya cengengesan, dan kedua pria itu sedang menahan tawanya.
"Basa-basi doang Vin," ucap Fitria lagi.
"Gak ada yang nyuruh aku duduk nih?" tanyaku sambil melihat mereka satu persatu dengan wajah kesal.
"Biasanya gak disuruh juga udah duduk, kenapa sekarang harus disuruh dulu?" ucap Fitria judes.
"Ya, itukan beda lagi, sekarang harus jaga image," ucapku pada Fitria bercanda sambil melirik laki-laki yang tadi membukakan aku pintu sekilas lalu tersenyum kearahnya.
"Alah pencitraan banget sih Vin, jijik tau gak?" ucap Fitria dengan muka sok jijiknya.
Berhubung aku sudah pegal akhirnya aku duduk disamping Fitria, dan Fitria mengenalkan kedua laki-laki itu yang ternyata adalah teman Fitria. Aku baru tahu kalau ternyata Fitria punya teman yang lumayan tampan, dan aku tertarik pada laki-laki yang tadi membukakan pintu yang bernama Rayhan dia manis, aku suka. tapi tetap cintaku cuma buat Aldi seorang.
"Kak Rayhan udah kerja apa masih kuliah?" tanyaku pada kak Rayhan sedangkan Fitria dan laki-laki satunya lagi yang bernama Derry itu sedang mengobrol.
"Kuliah semester akhir, kalau kamu?"
"Aku sama kaya Fitria, baru semester empat," jawabku sambil tersenyum.
__ADS_1
"Fit, gak ada niatan ngasih aku minum gitu?" tanyaku kepada Fitria, karna daritadi dia hanya ngobrol sedangkan aku sudah kehausan.
"Ngambil aja sih sendiri, biasanya juga gitu," jawabnya judes.
"Tamu adalah raja. Ambilin kek, punya temen gak pengertian banget," ucapku tak kalah judes.
"Ya udah, biar aku yang ambilin," ucap kak Reyhan, lalu pergi kedapur.
"Kalian udah temenan lama, ya?" tanyaku pada teman Fitria yang satunya lagi.
"Lumayan lah, kita juga sering main kesini, tapi kok baru ketemu sama kamu sekarang ya Vin?" tannya kak Derry kepadaku.
"Ini minumannya, Nona," ucap Kak Rayhan memberikan minumannya kepadaku.
"Ok terima kasih pelayan," balasku dengan bercanda. lalu dia tersenyum dan kembali duduk di kursi yang berhadapan denganku. Aku meminum jus jeruk yang kak Rayhan bikin hingga habis tidak tersisa. Masa bodo dengan image, aku benar-benar haus.
Setelah habis aku meletakan gelas yang sudah kosong kemeja dan kulihat ketiga orang itu sedang menatapku tak percaya.
"Kenapa sih, ngeliatinnya pada kayak gitu?" tanyaku heran.
"Tadi aja bilangnya jaga image, tapi pas minum gak tau malu, kayak ikan yang kekeringan," cibir Fitria yang tidak aku pedulikan.
"Oh iya, pertanyaan kak Derry belum aku jawab ya? Mungkin belum jodoh, Kak makanya gak ketemu," ucapku asal. Mereka hanya tertawa mendengar jawabanku.
"Kamu lucu, Vin," ucap kak Rayhan sambil tersenyum kepadaku.
"Makasih, Kak, aku memang udah lucu dari lahir," jawabku asal.
"Akhirnya kamu balik lagi ke sifat kamu yang dulu, Vin, yang ke PDan dan juga nyebelin. tapi gak apa-apa deh, dari pada galau mulu," kata Fitria lalu memelukku, aku hanya tersenyum mengerti dengan maksud ucapan Fitria tadi, karena aku juga merasa bahwa akhir-akhir ini aku memang diam dan kadang menangis karna memikirkan Aldi.
Seketika aku ingat kembali kepada Aldi, dan aku ingat ketika Aldi menyuruhku mencari laki-laki lain, dan mungkin ini saatnya untuk aku membuka hatiku untuk pria lain, dan berhenti mengharapkan Aldi.
Jam sudah menunjukan pukul Sembilan malam dan aku baru saja pulang dari rumah Fitria dengan diantar oleh kak Rayhan. Entah kenapa aku merasa senang kenal dengannya, meskipun aku baru mengenalnya hari ini, tapi aku merasa sudah akrab dengannya. Dia orang yang ramah dan bisa membuat keadaan menjadi penuh tawa.
"Thanks ya, kak udah nganterin aku pulang," ucapku pada kak Rayhan saat sampai di depan apartemen tempat aku tinggal.
Pagi ini saat aku keluar dari apartemen untuk berangkat kekampus, aku dikagetkan oleh Aldi yang sudah berada didepanku dengan senyum manisnya.
"Ayo berangkat," ajak Aldi. Tanpa menunggu lama aku naik kemotor Aldi dan langsung berangkat menuju kampus.
Aku senang karna hari ini bisa berangkat bersama lagi dengan Aldi, tapi hati kecilku merasa tidak enak, aku takut menyakiti perasaan Fania, dan aku takut Fania melihat aku berangkat bareng bersama Aldi, meskipun Fania mengijinkan, tapi aku tetap saja merasa tidak enak. Aku gak mau dibilang perusak hubungan orang.
Sepanjang perjalanan aku merasa was-was karna takut Fania melihat ku dengan Aldi, hingga sampai di parkiran kampus aku baru bisa bernapas lega. Ku tengok kanan kiri memastikan bahwa tidak ada keberadaan Fania disini dan aku pamit kepada Aldi untuk kekelas terlebih dahulu, dan untung saja Aldi mengijinkan.
Sesampainya dikelas aku langsung menghampiri kedua sahabatku dan duduk di bangku yang biasa aku duduki. Dengan napas yang masih terengah aku menyapa kedua sahabatku.
"Kamu kenapa, Vin, abis dikejar Anjing?" Tanya Fitria dengan heran.
"Gak kok, aku emang abis lari-lari, takut keburu ada dosen," jawabku beralasan.
"Masih ada waktu sepuluh menit lagi kali, Vin, tenang aja," ucap Ayuni yang baru saja melihat kearah jam yang berada di pergelangan tanagannya. Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Setelah itu aku mengeluarkan novel dari dalam tas dan membacanya sebentar sambil menunggu dosenku datang.
Aku berada dicafe depan kampus bersama kedua sahabatku, sambil menunggu jam kuliah selanjutnya.
"Vin, kemari saat aku di toilet aku tidak sengaja mendengar percakapan Fania bersama Cella. Dan kamu tau, Vin, Fania cerita sama Cella kalau dia nerima Aldi itu karena kasihan, tega banget kan?" ucap Fitria.
"Iya aku tau, Fit, waktu itu juga Fania pernah bilang sama aku, kalau dia nerima Aldi Cuma karna kasian, Aldi udah beberapa kali menyatakan perasaannya kepada Fania tapi gak pernah Fania terima, dan waktu kemarin Aldi menyatakannya lagi Fania baru nerima dia, makanya dia ngizinin aku deket terus sama Aldi." Jelasku panjang lebar.
"Tapi, Vin kalau saran aku, sebaiknya kamu jaga jarak dari Aldi." kini Ayuni yang berkata.
__ADS_1
"Iya aku juga emang jaga jarak sama Aldi, karena aku juga gak mau dianggap perusak oleh orang lain. Meskipun Fania nerima Aldi karna kasihan, tapi aku yakin suatu saat Fania bakalan sayang dan cinta sama Aldi," jawabku
Setelah kurang lebih dua jam mengobrol-ngobrol bersama kedua sahabatku akhirnya kita kembali kekampus untuk mengikuti mata kuliah selanjutnya. Dan saat sampai dikelas aku terkejut sekaligus sakit hati karna melihat Aldi dan Fania yang sedang tertawa bahagia dengan keadaan Fania yang berada dipelukan Aldi. Apa ini yang namanya 'menerima karena kasihan'? Aku hanya tersenyum kecut lalu berjalan melawati dua orang itu dan duduk di mejaku bersama kedua sahabatku. Aku bisa melihat dari sudut mataku Aldi yang tersenyum manis kearahku, tapi Fania memberikan senyuman sinis dan seakan meremehkanku. Iya aku tau dia berhasil merebut Aldiku.
Aku duduk dan mengabaikan mereka berdua yang sedang asik bermesraan itu, berpura-pura baik-baik saja padahal hatiku sudah sangat sakit dan aku ingin menangis sekarang juga, tapi aku berusaha untuk tidak terlihat lemah didepan mereka. Melihat keadaanku yang seperti ini Ayuni dan Fitria terus menerus menepuk-nepuk pelan punggungguku berniat menenangkanku dan menguatkanku, aku tersenyum kepada kedua sahabatku, meyakinkan mereka bahwa aku tidak apa-apa. meskipun sebenarnya aku sedang kenapa-napa. Dan untungnya tidak lama dosen pun datang dan memulai memberi materi hari ini.
Mata kuliah hari ini sudah selesai beberapa menit yang lalu, dan kedua sahabatku sudah pulang terlebih dulu. Kini hanya ada aku Aldi dan Fania yang berada dalam kelas. Aku belum berniat beranjak dari tempatku dan masih asik dengan novelku yang belum selesai aku baca. Hingga satu suara mengalihkan aktivitasku.
"Vin, kenapa belum pulang?" Tanya Aldi kepadaku.
"Gak apa-apa masih pengen disini aja," ucapku seadanya.
"Kamu ada janji mau pulang bareng Aldi ya Vin?" Tanya Fania.
"Ah enggak kok, Fan, aku gak pulang bareng Aldi," jawabku.
"Kalau kamu udah ada janji pulang bareng Aldi gak apa-apa kali Vin, kalian pulang bareng aja kan biasanya juga bareng," ucap Fania sok ramah dan sok baik.
"Gak kok, Fan beneran deh, aku juga lagi nunggu temen ini," ucapku berbohong.
"Oh gitu, yaudah deh aku sama Aldi duluan ya, Vin," pamit Fania yang hanya aku angguki.
Setelah mereka berdua pergi aku benar-benar menangis sekarang, aku merasa belum rela jika Aldi bersama perempuan lain.
Dulu aku selalu jadi prioritasnya, tapi sekarang tidak lagi. Berkali-kali aku mencoba mengiklaskan Aldi tapi hati kecilku selalu menolak. Entah kenapa disaat aku sudah berniat untuk menjauh tapi Aldi malah selalu mendekat, dan disaat aku mulai terbiasa lagi dengannya, aku merasa nyaman lagi, merasa Aldi kembali memprioritaskan aku, membuat aku yakin untuk tetap bertahan dengannya, disitu Aldi mulai menjauh lagi. Dan aku merasa kembali kehilangannya.
Hampir setiap hari aku menangis karenanya, atau mungkin karena kebodohanku sendiri yang terlalu besar mengharapkannya, sehingga membuat aku merasakan kekecewaan yang amat besar juga.
Aku berjalan menyusuri koridor kampus menuju gerbang utama kampus dan segera naik angkutan umum untuk sampai di Apartemen. Aku ingin segera mengistirahatkan tubuhku dan juga mengistirahatkan pikiranku.
Sesampainya di Apartemen ponselku berdering menandakan ada sebuah pesan masuk. Ku ambil ponselku dari dalam tas dan melihat siapa yang mengirimku pesan.
From: Kak Rayhan
Hai Vin, apa kamu sudah pulang dari kampus?
To: Kak Rayhan
Udah kak, baru saja sampai.
From: Kak Rayhan
Kirain belum pulang, tadinya kakak mau jemput kamu.
To: Kak Rayhan
Kakak telat ngabarinnya,
From: : Kak Rayhan
Ya sudah besok kakak jemput ya?
To: kak Rayhan
Ok, jangan telat
Kalau telat aku marah.
From: Kak Rayhan
Haha :D siap tuan putri.
Aku merasa senang dengan hadirnya kak Rayhan, meskipun hanya sebuah pesan tapi itu cukup untuk aku melupakan Aldi meskipun hanya sejenak. Aku tahu, aku belum kenal lama dengan kak Rayhan, tapi jujur aku merasa nyaman dengannya. Aku gak perlu jaim-jaim jika bersama dengannya, aku memang baru dua kali bertemu dan mengobrol denganya tapi aku tidak merasa canggung menceritakan tentang kehidupanku bahkan bercerita tentang Aldi sekalipun.
__ADS_1
Kak Rayhan adalah sosok laki-laki yang hangat dan mengerti aku, dia juga selalu mendengarkan keluh kesahku dan selalu memberiku nasehat dan masukan untuk masalahku. Mengingatnya saja sudah membuat aku tersenyum sendiri.
Haruskah aku mencoba membuka hati untuk pria lain, dan berhenti mengharapkan Aldi? Entahlah sekarang biarkan waktu yang menjawabnya, karna aku percaya jika memang Aldi adalah jodohku aku yakin sejauh apapun dia pergi pasti akan kembali lagi.