Cinta Berawal Dari Mimpi

Cinta Berawal Dari Mimpi
Episode 26


__ADS_3

Pagi-pagi aku sudah harus menghadap dosen diruangannya. aku malas sebenarnya karna dosenku yang satu ini selalu curhat tentang asmara bahkan dia selalu menyombongkan dirinya sendiri.


Tapi meskipun begitu aku sayang kepadanya, dia adalah dosen terbaik menurutku, dosen yang tidak terlalu banyak aturan dan dosen paling kekinian.


Setelah aku sampai diruangannya seperti biasa dia tidak akan langsung menanyakan tentang tugas kepadaku, tapi dia akan curhat.


Meskipun malas aku tetap mendengarkannya dan menanggapinya. Toh aku juga bisa sekalian curhat kepadanya.


Jangan salah dia tau segalanya tentang aku dan juga Aldi. dia juga dekat dengan Aldi sama seperti denganku.


Setelah selesai dengan sesi curhat-curhatan dengan bu dosen itu aku pun pamit untuk kekelas.


"Ok. Eh Vin, kamu tolong cari pacar kamu ya, suruh dia kesini." titahnya yang hanya ku angguki.


Setelah keluar dari ruangan bu dosen kesayanganku, aku pun pergi untuk mencari Aldi. di kelas gak ada, di kantin juga gak ada, dan aku memutuskan untuk pergi ketaman sambil menunggu kedua sahabatku, namun saat aku sampai disana, aku melihat pemandangan yang membuat hatiku nyeri.


Kulihat didepan sana Aldi dan Fania sedang bercanda dan tertawa bahagia, dengan posisi Aldi yang memeluk Fania dari belakang. Awalnya aku ingin lari dan menangis tapi niat itu aku urungkan. sekuat tenaga aku menahan air mataku agar tidak jatuh, dan menghampiri kedua orang itu,


"Maaf ganggu," ucapku sambil menepuk pelan bahu Aldi agar dia menengok kearahku, aku bisa melihat keterkejutan di wajahnya, dan senyuman meremehkan diwajah Fania, tapi aku masa bodo.

__ADS_1


"Aku pergi ya," ucap Fania kepada Aldi


"Gak perlu pergi disini aja, aku juga cuma mau nyampein pesan dari bu Ane doang kok," ucapku menahan kepergian Fania.


"Al, disuruh Bu Ane keruangannya." lanjutku lalu langsung pergi meninggalkan mereka berdua tanpa menunggu jawaban dari Aldi. Untuk hari ini aku gak mau nangis lagi.


Meskipun aku sakit melihat mereka berdua, tapi aku sadar diri perempuan itu masih menjadi ratu di hati Aldi, meskipun Aldi adalah pacarku saat ini, tapi itu hanya sekedar status. aku memiliki raganya tapi tidak dengan hatinya.


Setelah kejadian hari itu aku dan Aldi tidak saling bertegur sapa, entah siapa yang menghindar, karna jika aku berpas-pasan aku masih menampilkan senyum kearahnya, meskipun hanya senyuman tipis.


Setidaknya aku berusaha untuk bersikap biasa didepannya, meskipun sebenarnya hatiku terluka. aku hanya tersenyum, karna luka seperti ini sudah sering aku dapatkan sedari dulu.


Saat ini setatusku memang kekasih Aldi, dan untuk marahpun aku sudah berhak, tapi aku sebisa mungkin untuk mengasampingkan emosiku, bukan karna aku tak peduli tapi aku sadar diri hati Aldi masih sepenuhnya untuk Fania.


Pernah sekali aku berpaspasan dengan mereka berdua, aku hanya bisa tersenyum kecut saat ku lihat mereka berdua yang berjalan bergandengan tangan melewatiku begitu saja.


jika memang Aldi memilih untuk kembali bersama Fania lalu aku bisa apa? Gak ada yang bisa aku lakuin selain merelakannya. mungkin? Toh aku juga gak bisa maksa Aldi, karna itu hanya akan menyakiti perasaanku sendiri.


Hari ini aku pulang agak malam, karna sepulang darikampus aku dan kedua sahabatku memutuskan untuk main terlebih daluhu dirumah Fitria.

__ADS_1


Setelah turun dari taxi, aku berjalan menuju apartemenku dan betapa kagetnya aku saat sampai didepan pintu apartemen, aku mendapati Aldi yang tengah berdiri disana dengan kepala yang disendeerkan pada tembok.


Aku melihat kearahnya dan segera membuka pintu apartemenku lalu menyuruh Aldi untuk masuk. Aku pergi kekamarku untuk menyimpan tas dan juga mengganti pakaianku, setelah itu aku pergi kedapur untuk mengambil minuman dan cemilan untuk aku dan juga Aldi.


Ku hampiri Aldi di ruang tengah dan ikut duduk disampingnya, tidak ada pembicaraan diantara kami berdua, hanya suara televisi yang ada diruangan ini hingga suara deheman dari Aldi yang terdengar, mengalihkan pandanganku dari televisi


"Vin, maafin aku soal kejadian ditaman itu," ucapnya membuka pembicaraan. Aku tak menjawab tetap pokus memandang wajah Aldi, melihat ekspresinya dan menunggu kelanjutan ucapan laki-laki itu.


"Waktu itu aku diajak Fania ketaman, dia cuma minta maaf sama aku soal kejadian waktu itu. dia ngerasa bersalah dan ingin memperbaiki kesalahannya. dia gak minta balikan sama aku, tapi dia Cuma minta untuk aku gak benci sama dia, dia pengen putus secara baik-baik dan waktu itu aku iya-in. dari saat itu kita berdua memutuskan untuk temenan." ucapnya menjelaskan. Aku masih diam dan dia menghela napas sebelum melanjutkan ucapannya.


"Maaf waktu itu kamu liat aku meluk dia, aku terlalu kebawa suasana. Waktu itu aku pernah janji sama kamu, untuk belajar mencintai kamu. Tapi maaf aku malah ngecewain kamu. aku tahu kamu pesti marah dan kecewa sama aku, tapi aku gak bisa bohongin perasaan aku sendiri bahwa aku masih sangat menyayangi dia, dan kamu tau kan gak mudah untuk aku bisa lupain dia gitu aja." lanjutnya sambil menatapku, aku tersenyum kearahnya dan menepuk pelan bahunya.


"Jujur sebenarnya aku pengen marah, bahkan aku pengen nampar kamu saat itu juga, tapi aku tahan, aku sadar diri sama posisi aku, aku memang udah menjadi pacar kamu, tapi itu hanya sekedar status.." Aku melihat kearahnya namun dia menunduk.


"Sedangkan hati kamu masih milik dia, bukan aku. Aku juga sadar kok, kamu cuma terpaksa pacaran sama aku, lebih tepatnya hanya sekedar rasa kasihan dan bersalah kamu aja. Aku gak mau maksa kamu untuk tetap stay sama aku. Jangan paksain diri kamu Al, karna itu hanya akan nyakitin hati kamu. Lepasin aku mungpung kita belum jauh melangkah. Kejar cinta dan kebahagian kamu, jangan nyiksa diri kamu sendiri karna masih tetap bersama aku," ucapku panjang lebar, aku lihat Aldi hanya menunduk.


ku elus pipinya agar melihat kearahku, aku tersenyum kearahnya seolah memberi tahu lewat senyuman bahwa aku baik-baik saja. meskipun kenyataannya tidak seperti itu. Tapi aku berusaha untuk tegar, aku gak mau dia terbebani olehku.


"Jangan mikirin perasaan aku, cukup aku lihat kamu bahagia aja aku udah bahagia Al," ucapku tulus.

__ADS_1


"Vin, aku tau kamu tulus, tapi aku juga tau jauh didalam hati kamu juga terluka. Maafin aku yang sudah terlalu dalam melukai hati dan perasaan kamu. Aku tau, aku telambat menyadarinya. Vin, jangan pernah lagi nyuruh aku untuk pergi dari kamu, aku udah janji untuk mencintai kamu, dan saat ini aku lagi belajar. aku janji bakalan lupain dia," ucapnya.


"Al, aku gak akan nyuruh kamu untuk lupain dia, aku gak akan maksa kamu untuk jauhin dia karna aku yakin jika memang kamu sungguh-sungguh sama aku, perasaan kamu terhadap dia akan hilang dengan sendirinya" ucapku lalu tersenyum kearahnya. Aldi memelukku erat sambil terus mengucapkan kata maaf dan terima kasih, aku hanya tresenyum mendengarnya dan membalas pelukan Aldi tak kalah erat.


__ADS_2