
Aku kembali menjalani hari-hariku seorang diri, tanpa kak Rayhan dan tanpa Aldi. Semenjak diapartemen itu Aldi sudah tidak pernah lagi menghubungiku dan jika berpas-pasan dikoridor atau dimanapun dia sudah tidak pernah menyapaku bahkan tersenyumpun tidak. Melihat itu aku hanya bisa tersenyum miris.
Aku memang terlihat seolah baik-baik saja saat didepan semua orang, tapi percayalah disaat sendiri hanya menangis lah selalu aku lakukan. entah kenapa aku menjadi sangat cengeng akhir-akhir ini. Sekarang aku benar-benar kehilangan sosok aldi yang dulu. aku tau ini adalah pilihan yang aku berikan kepadanya, tapi aku tidak pernah tau bahwa merelakan akan sesakit ini.
'Al, apa kamu lebih bahagia bersamanya?'
'Apa kamu pernah merindukan aku, seperti aku yang selalu merindukan kamu?'
'Apakah rasa sayang kamu ke aku itu masih ada?'
'Aku merindukan kamu Al'
Disaat aku menangis itulah yang ada dalam pemikiranku. didepan kedua sahabatku aku memang masih bisa tertawa, mungkin kamu juga melihatnya Al. melihat bahwa aku baik-baik saja. tapi percayalah itu semua palsu, tertawa hanya caraku untuk menutupi kesedihanku, menutupi kerapuhanku. mengkin mereka yang melihatku, mereka berpikir bahwa aku kuat, aku tegar, tapi percayalah aku benar-benar lemah.
Jika biasanya aku sampai kekampus lebih awal, tapi kali ini aku sampai hampir berbarengan dengan datangnya dosen kekelas, aku memang sengaja, karna aku tidak ingin melihat kemesraan Aldi bersama Fania dipagi hari yang hanya akan membuat aku menangis kembali.
Saat aku masuk kedalam kelas aku mencoba melirik kearah tempat duduk Aldi sekilas tapi aku sama sekali tidak melihat Aldi disana. apa Aldi kesiangan, atau memang tidak masuk?, melihat kebingunganku dan mengerti dengan apa yang aku bingungkan Fitria akhirnya menyadarkan aku dari segala pemikiran itu
"Kenapa Vin? Cari Aldi?, dia gak masuk, sakit" kata Fitria memberi tau.
"Sakit?" tanyaku memastikan yang hanya di jawab anggukan oleh Fitria.
"Sakit apa? Kamu tau dari mana?" tanyaku lagi
"Dari Rudi, katanya dirumah sakit sekarang" jawab Fitri.
Mendengar itu semua aku menjadi tidak pokus pada materi yang saat ini sedang dosen terangkan, entah kenapa aku ingin segera kerumah sakit dan melihat langsung kondisi Aldi.
Selesainya kelas hari ini aku berniat menjenguk Aldi. Namun saat aku hendak keluar dari kelas aku melihat Fania sedang tertawa sambil bercanda bersama laki-laki yang aku tau itu adalah kakak tingkat. Aku hanya menggelengkan kepala, tidak mengerti kepada Fania, bukannya Aldi lagi sakit? Tapi bisa-bisanya dia malah asik sama laki-laki lain. Apa dia gak khawatir sama keadaan Aldi yang lagi sakit? aku jadi kasihan sama Aldi, aku tau Aldi sudah bener-bener sayang dan cinta sama Fania sampai-sampai Aldi ninggalin aku cuma demi dia.
Sebelum menuju ke rumah sakit aku mampir terlebih dahulu ke toko kue untuk membeli kue kesukaan Aldi, dan setelahnya baru aku pergi menuju kerumah sakit dengan menaiki taxi. Sesampainya di rumah sakit aku langsung berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit menuju ruangan dimana Aldi dirawat yang sudah diberitahu terlebih dahulu oleh Rudi saat masih dikampus tadi.
Sesampainya di depan ruangan Aldi aku melihat terlebih dahulu dari kaca memastikan bahwa itu kamar inap Aldi atau bukan. Dan saat aku mengintip dari kaca aku bisa melihat Aldi yang sedang berbaring di ranjang pasien dan dia tidak sendiri. disana juga ada Fania yang sedang menyuapi Aldi dan juga teman-teman Fania juga ada disana. aku bisa melihat raut bahagia di wajah Aldi saat sedang disuapai oleh Fania.
Aku berlari keluar dari rumah sakit dengan air mata yang sudah mengalir deras sedari tadi, dan untung saja ada taxi yang lewat sehingga aku tidak perlu menunggu terlebih dahulu. di dalam taxi aku masih menagis hingga membuat pak supir bingung.
Setelah sampai ditempat tujuan dan setelah aku memberikan ongkos aku langsung turun dan berlari kedalam rumab, lebih tepatnya adalah rumah Ayuni. Aku mengetuk pintu rumah Ayuni dan tidak lama pintu dibuka oleh Ayuni sendiri. Aku langsung memeluk Ayuni dengan tangis yang masih belum reda.
"Kamu kenapa Vin, kok datang-datang nangis kayak gini?" Tanya Ayuni dengan wajah bingungnya. Aku hanya menggelag kan kepala sebagai jawaban.
"Yaudah masuk yuk," ajak Ayuni
__ADS_1
"kamu kenapa datang-datang nangis gini?" Tanya Ayuni. Aku menghela napas panjang sebelum akhirnya aku mulai cerita kepada Ayuni.
"Tadi aku niatnya mau jenguk Aldi, karna aku liat Fania lagi asik sama laki-laki lain, aku kira dia gak peduliin Aldi yang lagi sakit, makanya aku mutusin buat kerumah sakit dan aku mampir dulu ke toko roti, buat beli kue kesukaan dia ..." ucapku
"Tapi saat aku mau masuk keruangan rawat dia, disana ada Fania lagi nyuapin Aldi, bukan cuma Fania, tapi teman-teman Fania juga ada disana, mereka lagi asik becanda dan tertawa, begitupun juga Aldi yang terlihat bahagia banget. Dan itu gak memungkinkan buat aku masuk kesana, kamu ngertikan perasaan aku? hati aku sakit Ay, dulu aku yang ada di posisi itu, dulu aku yang selalu rawat dia disaat sakit, tapi sekarang aku gak bisa lakuin itu. Sudah ada orang lain yang gantiin aku. Aku pengen rawat dia kaya dulu disaat dia sakit, tapi sekarang aku gak bisa apa-apa" lanjutku menceritakan kejadian dirumah sakit tadi dengan tangis yang semakin deras
"Dan saat itu juga aku buang kue buat dia," lanjutku lagi. Setelah menceritakan itu semua kepada Ayuni, aku merasa lebih tenang sekarang, tangisku juga sudah melai mereda, gak tau kenapa jika sudah menyangkut dengan Aldi aku menjadi lemah dan cengeng kayak gini.
"Kamu yang sabar ya Vin" kata Ayuni menenangkan
"Apa ini artinya aku harus benar-benar menyerah, Ay?" tanyaku pada Ayuni
"Vin jika memang dia yang terbaik, aku yakin sejauh apapun dia pergi, dia pasti tau caranya untuk kembali" kata Ayuni yang aku angguki.
Hari sudah malam dan aku juga sudah merasa lebih tenang sekarang. Aku pamit pulang kepada Ayuni.
Sesampainya aku diapartemen aku segera masuk kamar dan mandi lalu mengerjakan tugas kampus. ditengah kesibukanku dengan tugas yang sedang aku kerjakan tiba-tiba ponselku bergetas menandakan ada sebuah pesan yang masuk. Aku mengabaikannya dan melanjutkan sisa tugasku.
Setelah selesai mengerjakan tugas aku langsung membaringkan tubuhku, lelah dan pusing, mungkin efek dari nangis tadi.
Aku ambil ponselku, dan membuka pesan yang tadi masuk, saat kulihat ternyata itu adalah pesan dari Aldi. Ku buka pesan dari Aldi dan membacanya
Setelah mendengar itu dari Ayuni, jujur aku menangis.
maafin aku udah nyakitin kamu
Setelah membaca pesan dari Aldi air mataku kembali mengalir, aku membaca berulang kali pesan yang Aldi kirim. Aku gak tau kalau Ayuni bakalan memeberi tahukan itu kepada Aldi, ada rasa senang, namun ada juga rasa sedih yang aku rasakan saat membaca pesan darinya.
Aku ingin sekali menemui Aldi, aku pengen ngerawat dia saat sakit seperti ini, dulu saat Aldi sakit pasti aku yang rawat dia dan nemenin dia disampingnya, tapi sekarang sudah ada Fania yang lebih berhak, sudah ada Fania yang merawat dia, dan aku sudah tidak dibutuhkan lagi, aku hanya bisa berdo'a untuk kesembuhannya.
Sebelum pergi ke kampus aku lebih dulu pergi kerumah Ayuni, biar sekalian nanti kekampus berangkat bareng. Aku juga ingin bertanya tentang apa saja yang dia katakana kepada Aldi. Sesampainya didepan rumah Ayuni ku ketuk pintunya dan ibunya yang membuka pintu.
"Pagi tante, apa Ayu nya ada?" tanyaku.
"Eh Vina, ada kok di kamarnya, Vina langsung kekamarnya saja ya" ucap ibunya Ayu mempersilahkan. Aku berjalan menuju kamar Ayuni dan langsung masuk kedalam kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Loh Vin udah datang ternyata," kata Ayuni kaget. Aku tak menjawab dan lebih memilih duduk di tepi ranjang.
"Ay kamu bilang apa saja sama Aldi?" tanyaku langsung
__ADS_1
"Kemarin pas kamu pulang Rudi ngajakin aku kerumah sakit ngejenguk Aldi, terus pas sampe sana dia nanyain kamu. katanya, Vina gak tau kalau dia sakit. Dan Rudi jawab kalau kamu tau dan udah Rudi kasih tau ruang rawat dia...
"Terus Aldi bilang kenapa kamu gak jenguk dia. Yaudah aku bilang aja sama Aldi kalau sebenar kamu kesana, dan aku bilang aja semuanya sama dia. Dan kamu tau Vin selesai aku menceritakan semua itu sama Aldi, dia langsung diem dan aku bisa liat kalau dia nangis, meskipun air matanya cuma beberapa tetes doang, tapi dia nangis dan kayaknya ngerasa bersalah sama kamu," jelas Ayuni panjang lebar.
"Iya semalem juga dia ngirim pesan sama aku dan dia bilang kalau dia nangis, tapi aku gak percaya, karna aku kira itu Cuma akal-akalannya dia saja" kataku pada Ayuni.
Sesampainya dikelas Aku dan Ayuni duduk di bangku masing-masing, dan tidak lupa aku melirik sekilas kearah dimana biasa Aldi duduk, aku menghela napas karna ternyata Aldi belum masuk hari ini.
Aku ingin menjenguknya tapi aku takut kejadian seperti kemarin lagi, aku sadar aku gak akan pernah bisa bersaing dengan Fania. jadi wajar saja jika Aldi lebih memilih dia dari pada aku.
Aku tidak semangat mengikuti kelas hari ini. aku terus saja kepikiran dengan kondisi Aldi saat ini. Meskipun aku bisa mengiriminya pesan untuk menanyakan keadaannya, tapi aku tidak berani, aku tidak ingin terlalu menunjukan kepedulianku dan kekhawatiranku kepadanya, karna aku juga gak mau jika Fania mengetahuinya dan malah menganggapku sebagai orang ketiga dihubungan mereka.
Kelas pertama sudah selesai dan kini aku tinggal menunggu jam kedua pada pukul tiga sore nanti.
Masih ada waktu sekitar satu setengah jam lagi, dan aku memutuskan untuk ke kantin bersama kedua sahabatku dan juga bersama Rudi.
"Kamu mau pesan apa Vin?" Tanya Fitria
"Jus alpukat," jawabku singkat
"Vin kamu gak mau gitu jenguk Aldi," Tanya Rudi kepadaku, aku hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Kenapa?" Tanya Rudi lagi
"Buat apa? Toh sekarang udah ada Fania yang bakal rawat dia, aku udah gak bakal dibutuhin lagi. aku juga bukan siapa-siapanya kan, jadi buat apa?" jawabku sok cuek.
"Seenggaknya kamu jenguk sebagai temannya vin, pasti Aldi senang dijenguk sama kamu" ucap Ayuni, mencoba membujuk.
"Gak Ay, aku gak mau jenguk karena disana pasti bakal ada Fania, dan aku gak mau melihat itu, melihat kemesraan mereka berdua. Aku sakit, dan aku gak mau kembali terjatuh untuk yang kesekian kalinya. Aku gak mau peduli lagi sama dia!" ucapku
"Gak ada salahnya kamu mencoba sekali lagi peduli sama dia, Vin. Aku yakin dia juga punya perasaan yang sama, tapi hanya saja dia belum menyadarinya," ucap Rudi.
"Aku gak mau terlalu berharap lagi Rud, cukup dari dulu aku berjuang sendiri dan sakit sendiri," ucapku lagi, dan mereka bertiga terdiam.
"Aku memang mencintainya, bahkan sangat. Tapi jika seperti ini terus aku juga tidak mau, ada saatnya aku lelah dan menyerah." lanjutku lagi, lalu pergi meninggalkan mereka, aku hanya ingin pulang dan menangis untuk saat ini.
Sampai didalam apartemen aku benar-benar langsung menangis, tidak lagi aku memikirkan kuliah hari ini yang mungkin sudah akan dimulai beberapa menit lagi.
Dan saat ini biarkan aku menangis sepuas yang aku mau, karna untuk besok dan seterusnya aku berjanji kepada diriku sendiri untuk tidak lagi menangis, bahkan untuk mengeluarkan air mata setetespun untuk laki-laki itu. Aku akan membuktikan bahwa aku bisa melupakannya.
__ADS_1