Cinta Berawal Dari Mimpi

Cinta Berawal Dari Mimpi
Episode 20


__ADS_3

Hubunganku dengan kak Ray sudah berjalan selama dua bulan , dan selama ini hubunganku dengan Aldi masih baik-baik saja, kita masih berteman meskipun tidak seperti dulu lagi, kalau ditanya apa aku masih mengharapkan Aldi jawabannya adalah masih, jika ditanya aku rindu Aldi, jawabannya adalah iya.


Aku belum bisa melepaskan Aldi sepenuhnya, meskipun aku sudah memiliki kak Rayhan, tapi tetap saja hatiku masih tetap milik Aldi seutuhnya. Aku tau, aku sudah jahat kepada pacarku sendiri, tapi aku juga tidak bisa membohongi perasaanku sendiri, aku masih menginginkan Aldi, dan aku juga masih mengharapkannya. Hampir setiap hari pun aku dan Aldi masih sering bertukar pesan, meskipun di kampus kami tidak terlalu dekat, karna aku juga harus menjaga perasaan Fania, aku memang sudah tau kelakuan Fania dibelakang Aldi, tapi aku diam saja, aku tidak berniat mengadu pada Aldi, biarkan dia tau dengan sendirinya.


Jika kalian bertanya kenapa aku bisa tau kelakuan Fania di belakang Aldi, itu karna banyak orang yang memberi tau kepadaku, karna anak-anak kelas ku memang banyak yang tidak menyukainya. Meskipun Fania ramah dan sangat cantik, tapi kelakuannya lah yang membuat anak-anak kelas tidak menyukainya.


Hari ini kelasku masuk siang pukul sepuluh, seperti biasa aku diantar oleh kak Ray sampai parkiran. Aku memang sengaja berangkat lebih pagi karna sudah janjian bersama kedua sahabatku untuk menyelesaikan tugas yang dua hari lagi harus dikumpulkan.


Saat aku hendak turun dari motor kak Ray, aku bisa melihat Fania yang baru saja datang dengan dibonceng oleh laki-laki tapi bukan Aldi, entah siapa karna aku juga baru melihatnya. Aku merhatikan kearah dua orang itu yang lumayang agak jauh dari tempat aku berdiri, tapi masih bisa terlihat. Aku yakin Fania tidak melihat keberadaanku. Aku bisa melihat Fania tertawa bersama laki-laki itu yang sedang mengacak-ngacak rambut Fania dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya sedang memegang pergelangan tangan Fania. 'Pasangan yang romantis' gumamku dalam hati.


Seperti biasa setelah turun dari motor kak Ray selalu merapihkan dulu rambutku yang sedikit berantakan karna tertiup angin saat di perjalanan tadi.


"Belajar yang bener ya sayang," ucap kak Ray dan aku mengangguk sambil tersenyum.


"Jangan nakal, nanti kalau udah selesai kelasnya kabarin aku ya?" katanya lagi dan aku kembali mengangguk dan tersenyum, kak Ray memang selalu berkata seperti itu setiap hari, tapi aku tidak pernah bosan mendengarnya.


Setelah kak Ray pergi aku pun pergi ke kantin untuk menemui kedua sahabatku yang mungkin sudah menunggu. Sesampainya di kantin aku lihat baru ada Fitria disana sedangkan Ayuni baru datang setelah lima menit aku duduk disamping Fitria.


"Sorry telat ya, aku?" Tanya Ayuni kepada kami berdua, aku dan Fitria.


"Gak kok, aku juga baru datang," jawabku kepada Ayuni.


"Iya menurut kamu emang gak terlambat karena kamu baru datang, tapi aku udah disini dari tigapuluh menit yang lalu, dan kalian berdua itu udah terlambat banget," ucap Fitria dengan kesal.


"Eh Vin, kamu tau gak?" Tanya Ayuni kepadaku.


"Enggak!" jawab aku dan Fitria barengan


"Aku belum selesai, barusan diparkiran aku lihat Fania sama laki-laki lain lagi mesra-mesraan," kata Ayuni menjelaskan.


"Aku tau," ucapku singkat.


"Laporin Vin sama Aldi, kasian tau Aldi di khinatin pacarnya sendiri," Ucap Fitria mengompori.


"Gak ah, biarin Aldi tau sendiri, aku gak mau nanti disangka mau ngerusak hubungan mereka, udah biarin aja, sekarang kita selesaikan aja tugasnya," ucapku kepada kedua sahabatku.


Setelah selesai dengan tugas aku dan kedua sahabatku pergi untuk kekelas karna sekitar sepuluh menit lagi kelas sudah akan dimulai. Aku berjalan menyusuri koridor untuk menuju kelas, dan bisa kulihat dari arah depan Aldi baru saja datang, dan aku yakin bahwa Aldi pasti tidak tahu kejadian tadi pagi, karna memang tadi parkiran masih sepi.


Aku berjalan sendiri karena tadi aku sempat mampir ketoilet sebentar sedangkan Fitria dan Ayuni aku suruh kekelas terlebih dahulu, aku berjalan mensejajarkan langkahku dengan Aldi dan menepuk pelan punggunggnya


"Sabar ya Al," ucapku pelan lalu pergi dan masuk kelas terlebih dahulu, bisa kulihat wajah bingung Aldi, tapi aku tak menghiraukannya.


Saat dosen sudah keluar dari kelas, Ayuni pun pamit untuk pulang terlebih dahulu karna sudah membuat janji dengan Rudi, aku bisa lihat Ayuni yang berjalan mengghampiri Rudi, dan sudah jelas melewati Aldi yang duduk tidak jauh dari Rudi berdiri.


Setelah Ayuni dan Rudi pergi kini dikelas tinggal tersisa aku, Fitria dan Aldi, karna aku dan Fitria memang sedang menunggu kak Ray dan juga kak Derry. Setelah mendapat balasan dari kak Ray aku dan Fitria segera pergi keluar untuk menemui kak Derry dan kak Ray di parkiran.di depan pintu aku bertemu dengan Aldi, dia menahan langkahku menbuat aku dan Fitria berhenti melangkah.

__ADS_1


"Vin, maksud kamu tadi bilang sabar, sabar untuk apa?" tanyanya hati-hati.


"Gak apa-apa kok Al, aku cuma pengen bilang gitu aja," ucap ku bohong.


"Gak mungkin, soalnya tadi Ayuni sama Riska juga bilang gitu sama aku." Tanyanya lagi


"Haha aku gak berhak bilang Al, biar kamu tau sendiri aja." jawabku lagi.


"Apa ada hubungannya dengan Fania?" tanyanya memastikan


"Mungkin," jawabku singkat lalu pergi dengan Fitria, membiarkan Aldi sendiri dengan kebingungannya.


Saat aku dan Fitria sampai di parkiran sudah bisa kulihan dua laki-laki itu sedang menunggu kami, aku hampiri pacarku begitu juga dengan Fitria, Fitria memang belum pacaran dengan kak Derry, entah apa alasannya padahal aku yakin kak Derry sebenarnya menyukai Fitria, tapi aku tidak tau dengan Fitrianya sendiri.


Aku tersenyum kearah pacarku lalu aku memeluknya berniat membuat dua orang itu iri, aku memang seperti ini didepan mereka berdua, aku senang menjahili mereka, dan seolah mengerti kak Ray pun selalu menanggapi candaanku yang berniat untuk membuat mereka berdua semakin iri, dan kesal.


"Gak usah mesra-mesraan disini juga kali Ray," ucap kak Derry dengan wajah kesal,


"Suka-suka gue sama pacar gue dong," jawab kak Ray.


"Hargai jomblo pleas," ucap Fitria yang juga merasa kesal.


"Makanya cepet jadian kalian, aku tau kalian punya perasaan satu sama lain, udah jadian aja, aku kasih tau frienzone itu gak enak, bikin sakit hati, tapi gak bisa marah bisanya cuma nangis," ucapku serius.


"Iya tahu kok yang pengalaman di frienzonenin selama bertahun-tahun." sindir Fitria namun tidak aku tanggapi.


"Aku mandi dulu sebentar ya," ucapku kepada tiga orang itu. Tanpa menunggu jawaban dari mereka aku langsung pergi kekamarku untuk mandi dan mengganti pakaian.


Setelah selesai aku kembali ke ruang tamu dan melihat ketiga orang itu sedang tertawa bersama entah apa yang mereka sedang bicarakan. Aku hampiri dan duduk di samping kak Ray.


"Kalian laper gak?" tanyaku kepada mereka


"Banget." jawab Fitria cepat.


"Ya kamu mah kapan gak lapernya Fit, makan banyak tapi masih aja kurus," ledekku kepada Fitria, yang ditertawakan oleh kami.


"Coba periksa deh Fit ke dokter, kali aja kamu cacingan makanya gak gemuk-gemuk." ledek kak Derry yang membuat Fitria kesal dan memukuli dada kak Derry, kami semua tertawa.


"Udah-udah, kasian tuh Pipitnya nanti nangis" ucapku masih dengan tawa. Fitria yang so-soan ngambek langsung dipeluk oleh kak Derry. Aku heran dengan mereka berdua kenapa gak pacaran aja, padahal udah lengket banget kaya gitu.


"Ya udah kalau gitu aku masak dulu ya buat kita makan," ucapku kepada mereka lalu bergegas pergi menuju dapur.


"Vin ada yang harus dibantu gak?" Tanya Fitria yang tiba-tiba sudah berada disampingku yang sedang memotong sayuran.


"Tumben mau bantu, biasanya juga kalau disuruh ogah-ogahan," ucapku meledek Fitria, yang diledek hanya cengengesan. Setelah beberapa lama memasak akhirnya kegiatan memasakku selesai dengan bantuan Fitria.

__ADS_1


"Fit, panggilin mereka gih," suruhku.


"Kamu aja, Vin aku udah pengen makan nih laper tau," ucap Fitria sambil mencomot sosis yang kumasak tadi.


"Panggil mereka atau kamu gak boleh makan ?" Ancamku kepadanya yang membuat dia akhirnya pergi meskipun dengan muka yang cemberut.


"Wihh kayaknya enak nih," ucap kak Derry yang langsung duduk di kursi meja makan di susul kak Ray dari belakangnya dan duduk dikursi yang berhadapan dengan kak Derry, sedangkan Fitria, jangan ditanya, bahkan dia sekarang udah ngambil nasi untuk dirinya sendiri. Aku yang duduk disamping kak Ray segera mengambil piring dan menyendokan nasi beserta lauknya untuk kak Rayhan.


"Yang mau sama apa?" tanyaku pada kak Rayhan.


"Sama ayam dan kangkung aja Yang," jawab kak Ray, dan langsung aku ambilkan dan memberikannya kepada kak Ray.


"Fit, kamu gak mau ngambilin buat aku nih, Vina aja ngambilin buat Ray?" ucap kak Derry kepada Fitria dengan nada manja. Aku dan kak Ray hanya memperhatikan mereka sambil memakan makanan kami masing-masing, tapi piring kak Derry belum juga terisi apa-apa.


"Gak ah, kakak ambil sendiri aja, kakak kan juga punya tangan." jawab Fitria tanpa menatap kak Derry dan masih asik dengan makanannya.


"Kan jauh Yang, ambilin dong," ucap kak Derry dengan manjanya lagi. Akhirnya Fitria mengambilkannya juga meskipun mulutnya tidak henti menggerutu.


Aku dan kak Ray hanya tertawa melihat mereka. Dan tidak sadar sedari tadi aku makan di suapi oleh kak Ray hingga nasi yang dipiring kak Rayhan habis, sedangkan piring punyaku masih penuh.


"Kak tambah lagi ya nasinya" ucapku pada kak Ray.


"Gak usah, kakak makan punya kamu aja, sekalian nyuapin kamu," ucap kak Ray, dan langsung mengambil piring punyaku dan lanjut menyuapiku lagi.


Fitria dan kak Derry sudah pulang terlebih dahulu, karna hari juga memang sudah sore. Disini tinggal aku dan kak Ray sedang menonton televisi dengan posisi aku menyender dipundaknya dan kak Ray yang mengelus lembut rambutku, nyaman, itulah yang aku rasakan.


Tapi disaat seperti ini pun aku masih saja memikirkan Aldi, aku merindukan perlakuan manis Aldi, merindukan senyumnya, dan merindukan segalanya tentang Aldi, dulu Aldi yang selalu seperti ini, dulu pundak Aldi yang selalu menjadi sandaranku, tapi sekarang bukan Aldi melainkan kak Rayhan.


Mengingat semua tentang Aldi membuat aku ingin menangis, tapi aku mencoba sekuat tenaga untuk menahan air mataku, aku gak mau menangis depan kak Ray apalagi menangis karna mengingat Aldi, aku tidak mau menyakiti perasaan kak Rayhan.


"Yang..." panggil kak Ray menyadarkan aku dari lamunan ku tentang Aldi. Aku menengok kearahnya, dan kulihat dia tersenyum tanpa mengucapkan apa-apa, aku masih saja melihatnya dengan bingung, hingga wajah kak Ray semakin dekat dengan wajahku, hingga aku melihat kak Ray memejamkan matanya dan semakin mendekatkan wajahnya kearahku, hingga akhirnya


Cuupp....


Kak Ray mencium bibirku. Awalnya aku kaget karena ini baru pertama kalinya kak Ray lakukan selama tiga bulan ini pacaran denganku. Setelah melepaskan ciumannya kak Ray tersenyum dan meminta maaf kepadaku karena sudah lancang menciumku, aku hanya mengangguk, dan tersenyum tipis sebagai jawaban. Jujur aku masih syokk dengan apa yang kak Ray lakukan barusan, seolah mengerti dengan aku yang terlihat masih kaget kak Ray akhirnya memelukku dan meminta maaf berulang kali, menyesali dirinya yang telah lancang menciumku.


Jam 21:15 kak Ray pamit untuk pulang karna hari juga memang sudah malam, aku mengantarkan kak Ray hingga depan pintu apartemenku.


"Yang, sekali lagi maafin aku ya soal yang tadi, aku bener-bener gak bermaksud.." ucap kak Ray dengan penuh penyesalan.


"Udah aku maafin kok, Yang, udah ya jangan ngerasa bersalah gitu, kamukan nyium pacar kamu sendiri bukan orang lain," ucapku.


"Udah malam kamu pulangnya hati-hati ya, jangan kebut-kebutan bawa motornya, sampai rumah langsung mandi dan tidur ok." lanjutku sambil tersenyum dan di angguki olehnya.


"Ya udah aku pulang dulu ya, kamu juga tidur, besok gak kuliah kan?" tanyanya yang ku jawab dengan gelengan tanda bahwa besok memang gak ada kelas.

__ADS_1


Setelah berpamitan dan mengelus puncuk kepalaku kak Ray pergi, dan setelah tidak terlihat lagi baru aku masuk kedalam apartemenku, untuk tidur, karena memang hari ini aku sangat lelah.


__ADS_2