
Sudah hampir lima hari aku mengabaikan setiap pesan yang Aldi kirim kepadaku, dan selama itu pula aku belajar mengabaikan apapun tentang Aldi, kedua sahabatku pun tidak pernah lagi membicarakan tentang laki-laki itu, dan aku sangat berterima kasih kepada mereka karna sudah mau membantu aku untuk melupakannya.
Aldi juga sudah masuk kampus dua hari yang lalu, dan disaat teman-teman yang lain menyambut kedatangannya, hanya aku yang tetap terdiam duduk dibangku aku sendiri tanpa sedikitpun menengok kearahnya. Aku bukan membencinya, tapi aku hanya sedang membangun tembok pertahananku agar tidak lagi terjatuh kedalamnya.
Aku duduk dibangku taman belakang kampus hanya untuk membaca novel dan menenangkan pikiran. Hingga sebuah tepukan pelan pada pundakku mengalihkan pandanganku. Aku menengok kebelakang untuk melihat siapa yang mencoba menggangguku. dengan wajah dingin aku melihat siapa orang itu dan ternyata itu adalah Aldi, orang yang sedang aku hindari.
Setelah tau bahwa orang itu adalah Aldi aku segera bangkit dan berniat untuk pergi tapi sebuah tangan menghentikan langkahku.
"Duduk." titahnya kepadaku. meskipun sudah mendengar perintahnya tapi aku tidak menghiraukannya, aku masih berada diposisi sebelumnya, yaitu berdiri. Hingga akhirnya Aldi menarik tubuhku hingga aku terduduk dipangkuannya. Merasa tidak nyaman dengan posisi itu aku langsung saja bangkit dan duduk di kursi bersebelahan dengannya. Lima menit tidak ada juga yang bersuara, hingga akhirnya Aldi menghela napas panjang dan mulai berbicara.
"Kamu kenapa ngehindarin aku?" Tanya nya kepadaku
"Gak apa-apa" jawabku singkat
"Selama tiga hari aku sakit, tapi kenapa kamu gak pernah jenguk aku, apa kamu udah gak peduli lagi sama aku? Apa kamu udah gak sayang lagi sama aku?" Tanya Aldi dengan suara tegasnya. Aku terdiam tidak mau menjawab semua yang ditanyakan Aldi, karna itu hanya akan membuat pertahanku runtuh. maka dari itu aku memilih diam dari pada harus menjawab dan ujung-ujung nya aku akan kembali menangis.
"Kenapa Vin, kenapa kamu gak jawab?, biasanya setiap aku sakit, kamu yang paling ngekhawatirin aku. Tapi kenapa sekarang kamu malah seolah-olah gak perduli sama sekali sama aku, kenapa!!!" aku hanya menghela napas mendengar ucapan Aldi.
Aku gak habis pikir, kenapa dia harus marah? harusnya dia bahagia karna aku sudah gak lagi mengganggunya. Dan apa dia lupa, bahkan aku sudah sempat menjenguknya meskipun tidak sampai masuk ke kamar inapnya.
"Hmm .. itu dulu Al, karena sekarang sudah ada yang gantiin posisi aku. Dia lebih berhak dari aku, dan aku juga gak mau mengganggu kamu dan dia. Aku liat kamu lebih bahagia sama dia sekarang. Jadi buat apa aku khawatirin kamu lagi, sudah ada Fania yang lebih khawatirin kamu dan lebih baik ngerawat kamu, dan sekarang aku udah gak dibutuhin lagi," ucapku panjang lebar.
Sesungguhnya saat ini aku sudah ingin menangis, tapi sekuat tenaga aku mencoba menahannya, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menangis lagi karna laki-laki di depanku ini.
"Aku masih butuh kamu, Vin. Meskipun Fania adalah pacarku, tapi kamu adalah sahabatku. Kalian berdua ada dihati aku, dan aku menyimpan kalian ditempatnya masing-masing. Namun sama spesialnya. Aku mohon jangan ngehindarin aku lagi, aku butuh kamu, aku kangen sama kamu, vin."
Mendengar perkataan Aldi barusan aku sudah tidak bisa menahan air mataku lagi, aku kembali menangis gara-gara orang yang sama, entah aku harus bagai mana sekarang. disatu sisi aku juga merindukan dia, aku ingin kembali dekat dengannya, tapi disisi lain aku juga gak mau merasakan sakit yang sama.
'tuhan aku harus bagai mana, aku menyayanginya, aku mencintainya dan aku juga tak ingin kehilangannya'
"Maafin aku Al, aku gak bisa kayak dulu lagi, aku mohon kamu ngertiin aku," ucapku lemah.
"Kamu bilang kamu sayang sama aku, kamu cinta sama aku, tapi apa? Bahkan kamu malah akan ninggalin aku Vin! Dulu kamu gak permasalahin ini, saat aku pacaran sama Riska dan yang lainnya kamu fine-fine aja, kenapa sekarang kamu kayak gini?" Tanyanya kesal.
"Al, kamu tau selama ini aku yang berjuang sendiri. aku dari dulu menahan sakit, aku cape Al, jangan paksa aku untuk bertahan lagi, karena hampir dua tahun aku bertahan dan berjuang demi kamu. Ada saatnya yang berjuang akan lelah lalu menyerah karena perjuangannya tak juga membuahkan hasil. jadi biarkan aku menyerah Al, aku udah cape. Jangan paksa aku untuk bertahan lagi. Aku pergi, semoga kamu bahagia sama dia, dan jangan cari aku lagi, anggap kita gak pernah kenal sebelumnya." Ucapku panjang lebar, lalu pergi meninggalkan Aldi yang masih duduk menunduk di kursi taman.
Aku pergi ketoilet untuk membenahi penampilanku yang sudah acak-acakan karna habis menangis tadi. untung saja mataku tidak bengkak dan merah jadi orang-orang tidak akan mengira jika aku sudah menangis.
Setelah dari toilet aku pergi kekelas untuk mengikuti kelas selanjutnya. Selama dosen menerangkan materi aku berusaha untuk lebih pokus dan coba melupakan apa yang terjadi tadi.
Setelah pulang dari kampus aku langsung mengerjakan tugas yang dosen berikan. aku sengaja mengerjakannya dari awal agar tidak terlalu larut dalam kesedihanku.
__ADS_1
Setelah selesai mengerjakan tugas aku pergi kedapur untuk mengambil air minum dan juga cemilan lalu kembali kekamar dan membaca novel yang belum selesai aku baca.
Ddreettt.... Ddrettt
Getaran diponselku mengalihkan pandangan ku dari novel yang sedang kubaca, ku ambil ponselku dan membuka pesan yang baru saja masuk, setelah melihat siapa pengirimnya aku hanya bisa menghela napas, awalnya aku ingin mengabaikan pesan tersebut tapi rasa penasaranku lebih besar untuk membacanya.
From: Aldi
Aku akan memutuskan Fania demi kamu,
jika itu bisa bikin kamu gak ngehindarin aku lagi
Setelah membaca pesan dari Aldi ada perasaan sakit dihatiku, aku tahu harusnya aku bahagia, tapi entahlah aku malah lebih merasa sedih dan miris.
To: Aldi
Kamu gak usah lakuin itu, Al.
itu hanya akan menyakiti diri kamu sendiri.
Lagi pula aku gak berharap itu sama kamu,
Kamu gak perlu mutusin dia cuma gara-gara aku, aku juga gak mau orang-orang menganggap aku sebagai perusak hubungan kamu sama dia.
From: Aldi
Gak apa-apa Vin, asalkan kamu gak lagi ngehindarin aku.
biarkan aku yang berkorban untuk kamu kali ini. Aku tau pengorbanan kamu selama ini sudah banyak buat aku.
To: Aldi
Aku gak butuh kasihan dari kamu, Al.
lanjutin aja hidup kamu sama dia, aku tau kamu sangat mencintainya.
Jangan pernah mengorbankan kebahagian dan cinta kamu cuma untuk aku,
itu hanya akan membuat aku merasa bersalah. Aku tau hati kamu cuma untuk dia bukan untuk aku. Jadi jangan pernah untuk memaksakan diri kamu.
Setelah membalas pesan dari Aldi aku memutuskan untuk menyimpan ponselku dan tidak berniat membalas pesan darinya lagi.
__ADS_1
Aku akui aku memang ingin memiliki Aldi, tapi jika dia mengorbankan perasaan dan kebahagiannya demi aku, aku gak mau dan itu gak akan membuat aku bahagia.
Hari ini tidak ada jadwal kuliah dan membuatku bosan, akhirnya aku memutuskan untuk menghubungi kedua sahabatku dan mengajak mereka berdua untuk sekedar jalan-jalan menghilangkan penat, dan untung saja mereka menyetujuinya.
Setelah selesai mendapat persetujuan dari mereka aku bergegas mandi dan bersiap-siap untuk pergi.
Aku baru saja sampai di mall dan belum terlihat keberadaan kedua sahabatku.
Sudah sekitar sepuluh menit aku menunggu mereka berdua tapi belum juga terlihat batang hidungnya.
Akhirnya ku memutuskan untuk menunggu didalam café yang ada didalam mall dan mengirim pesan kepada mereka untuk memberi tahukan lokasi tempat aku menunggu.
Saat aku baru saja duduk ada perempuan yang menghampiriku, dan asal kalian tahu, perempuan itu adalah Fania. aku gak tahu apa tujuan dia menghampiriku yang jelas sekarang perasaanku menjadi tidak enak.
"Hai Vin," sapanya, yang hanyaku balas dengan senyum.
Sebenarnya aku malas menanggapi perempuan ini. Awalnya aku kira dia emang benar-benar baik dan ramah, tapi ternyata kesan awal saja yang baik.
"Kebetulan ketemu disini," ucapnya dingin.
"Kenapa?" tanyaku tak kalah dingin.
"Kamu tau Aldi mutusin aku semalam?"
"Aku gak tau, dan aku juga gak mau tahu."
"Tapi sayangnya kamu harus tahu Vin," ucapnya sinis.
"Kenapa?" tanyaku bingung.
"Karena, alasan dia putusin aku adalah kamu!"
"Kenapa aku?"
"Mana aku tahu. Tapi yang jelas dia mutusin aku gara-gara kamu! Aku tau kamu udah sahabatan lama sama dia, apa kamu gak liat dia udah bahagia sama aku. kenapa harus kamu rusak sih Vin. Apa jangan-jangan kamu suka sama dia?" tuduhnya kepadaku. aku terdiam.
"Diam berarti iya. aku sudah menduganya dari awal. Kamu cinta sama dia kan, Vin? tapi sayangnya dia cintanya sama aku. Aku tahu kamu pasti sakit banget kan karna cinta kamu gak terbalaskan. Kamu gak rela kan aku sama Aldi, sampai kamu pake cara licik untuk dapetin Aldi." lanjutnya yang membuat aku emosi karna perkataannya.
"Aku memang menyukainya, tapi aku gak pernah punya niatan untuk merebutnya. Dia emang bilang kepadaku akan memutuskanmu demi aku, tapi aku menolaknya. Aku gak pernah mau jadi alasan untuk kalian berpisah. Dan jangan pernah bawa-bawa aku kedalam hubungan kalian," ucapku lalu pergi meninggalkan café. Dan untung saja saat baru saja aku keluar dari dalam café itu kedua sahabatkupun baru saja akan masuk. Tanpa bicara apa-apa aku langsung saja menarik mereka berdua menjauh dari café.
__ADS_1