
Sekarang aku tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi jika ingin pulang bersama kak Ray, toh sekarang Aldi juga sudah melepaskanku. aku ingin membuktikan kepada Aldi, bahkan kepada semua orang bahwa aku juga bisa bahagia meski tidak bersama Aldi.
Aku akan buktikan juga kepada Fania bahwa aku bisa mendapatkan yang lebih dari Aldi, supaya dia tidak pernah merendahkanku lagi. Supaya aku tak disangka orang ketiga dalam hubungan mereka.
Sore ini aku sudah janjian bersama kak Ray untuk pulang bersama, dan aku menyuruh kak Ray untuk menjemputku di parkiran yang dekat dengan gedung kelasku dengan alasan bahwa aku sedang malas berjalan jauh, padahal aku sekalian berharap agar Aldi melihat kami.
Aku menunggu kak Ray dan tak lama dia datang tidak lupa senyuman manis yang dia selalu perlihatkan saat bertemu denganku.
Aku menaiki sepeda motor kak Ray lalu bergegas pergi dari parkiran. kak Ray menuntun tanganku untuk memeluk pinggangnya dan aku turuti, toh kak Ray juga sekarang sudah menjadi pacarku jadi gak ada salahnya kan aku memeluknya?
Sepanjang perjalanan aku dan kak Ray mengobrol dan tertawa bersama. Tidak sengaja aku melirik kaca spion dan ternyata dibelakangku ada Aldi yang sedang boncengan bersama Rudi, aku mengeratkan pelukanku di pinggang kak Ray, dan aku tertawa karena candaan kak Ray. untung saja kak Ray mengendarai motornya tidak terlalu kencang jadi kemungkinan Aldi akan mengenali aku dan melihat ekpresi bahagiaku.
Bukan maksud aku memanas-manasinya, tapi aku juga mau dia tau bahwa aku bisa tertawa meski bukan karena dia. aku hanya berharap semoga nanti dia menyesal telah menyia-nyiakan aku.
Aku masih asik dengan obrolanku dengan kak Ray meskipun sedang di motor tapi kita mengobrol dengan lancar. Aku bisa melihat Aldi yang mempercepat laju motornya dan aku hanya bisa tersenyum kecil melihatnya. aku berpikir apakah dia cemburu? tapi sepertinya tidak mungkin, dia hanya menganggapku sahabatnya dan lagi pula dia sudah memiliki pacar yang lebih cantik dan lebih segalanya dari aku. Jadi mana mungkin dia cemburu? itu tidak mungkin.
Sesampainya aku di apartemen, kak Ray pamit untuk pulang karena harus mulai menyicil skripsinya. Aku mengangguk dan memberikan semangat pada kak Rayhan. lalu setelah itu kak Ray pergi dan tidak lupa untuk mengelus-elus puncuk kepalaku. begitu manis, dan aku menyukai perlakuan manisnya itu. Aku masuk kedalam kamarku dan membaringkan tubuhku.
Aku masih kepikiran soal tadi saat Aldi melihat ku. Jujur aku masih berharap dia cemburu.
Aku pergi mandi dan setelahnya berjalan menuju dapur untuk memasak makan malam ini.
Setelah selesai makan dan mencuci piring kotor aku masuk kembali kekamarku dan ternyata ponselku berdering menandakan ada telpon yang masuk, dan setelah aku lihat ternyata dari kak Ray, tanpa menunggu lama aku langsung mengangkatnya.
Banyak yang ku bicarakan dengan kak Rayhan lewat telpon, sampai kami lupa waktu. aku melihat jam yang berada di atas nakas dan ternyata sudah pukul dua belas malam.
"Yang udah malam banget, besok aku kuliah pagi, udah dulu ya telponannya aku mau tidur takut besok kesiangan," ucapku hati-hati
"Iya gak apa-apa, kamu tidur aja. Aku juga udah ngantuk. kamu tidur nyenyak ya, jangan lupa baca do'a dulu, dan jangan lupa mimpiin aku ya. besok aku anterin kamu ke kampus. dah sayang, selamat tidur," ucap kak Ray dari sebrang telpon, aku tersenyum mendengar ucapannya.
Setelah aku mengucapkan selamat tidur juga kepada kak Ray aku langsung mematikan sambungan telpon dan bergegas untuk tidur.
Seperti yang dibilang kak Ray semalam, pagi ini kak Ray sudah berada di apartemen ku bahkan aku belum selesai siap-siap, tapi pacarku ini sudah datang saja. Aku jadi teringat Aldi, biasanya dia yang selalu menjemputku untuk ke kampus tapi sekarang bukan lagi. jujur aku merindukannya, tapi aku sadar bahwa aku sudah mempunyai kak Ray yang harus aku jaga perasaannya.
Setelah siap aku dan kak Ray sarapan terlebih dahulu karena kebetulan tadi aku sempat memasak terlebih dahulu, meskipun hanya nasi goreng, tapi aku senang karna kak Ray menyukai masakanku.
__ADS_1
Selesai makan aku dan kak Ray bergegas pergi karena jam sudah menunjukan pukul tujuh, sedangkan kelasku mulai pukul setengah delapan, meskipun apartemenku dekat dengan kampus tapi aku tidak mau kesiangan, setidaknya jika berangkat sedikit lebih awal aku dapat beristirahat sejenak sebelum dosen datang. Padahal hari ini kak Ray tidak ada kelas tapi dia rela bangun pagi hanya untuk mengantarkan aku.
Setelah sampai parkiran aku turun dan menyerahkan helm yang tadi ku pakai. melihat rambutku yang sedikit berantakan kak Ray turun dari motornya dan merapihkan rambutku. aku sempat kaget, tapi tidak lama aku tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada kak Rayhan, dan pamit untuk kekelas.
"Hati-hati ya, jangan nakal, belajar yang pinter. dan nanti hubungi aku kalau sudah selesai kelasnya." itulah beberapa pesan yang kak Ray katakana sebelum akhirnya dia pergi dan aku langsung pergi juga kekelas untuk mengikuti kelas hari ini.
Saat aku masuk kedalam kelas aku bisa lihat kedua sahabatku sedah duduk di tempatnya masing-masing, aku juga lihat Aldi yang sedanga asik mengobrol bersama Fania, pacarnya. Aku masih dengan senyum menghampiri kedua sahabatku dan duduk di kursi yang biasa aku tempati.
"Kayaknya lagi bahagia kamu Vin?" Tanya Ayuni saat aku sudah duduk dikursiku, aku hanya tersenyum sebagai jawaban atas pertanyaan Ayuni.
"Iya lah senang dia kan udah jadian sama kak Rayhan," jawab Fitria mewakiliku.
"Yang benar, Vin? Wah selamat ya, semoga langgeng," ucap Ayuni memberi selamat.
Setelah mengobrol-ngobrol dengan kedua sahabatku tidak lama dosen datang dan aku mengikuti materi hari ini dengan perasaan senang. Entahlah sepertinya perlakuan kak Ray tadi pagi membuat moodku bagus hari ini.
Saat ini aku dan kedua sahabatku akan mampir ke café depan kampus terlebih dahulu sambil membahas tugas yang tadi di berikan oleh dosen. aku dan kedua sahabatku memang bukan tipe orang yang selalu menunda-nunda tugas, jadi aku dan kedua sahabatku selalu mengerjakannya bersama setelah kelas selesai. Saat aku akan keluar dari kelas tanganku ada yang menahan, dan saat ku lihat ternyata itu Aldi. aku dan kedua sahabatku memang selalu keluar terakhir dan aku memang tidak menyadari keberadaan Aldi sama sekali, karena aku mengira di kelas hanya ada aku dan kedua sahabatku, tapi ternyata Aldi dan Rudi masih ada dikelas entah sedang apa.
Aku mencoba melepaskan pegangan Aldi beberapa kali tapi tidak berhasil dan kali ini aku memilih diam sambil melihat kearahnya meminta penjelasan atas apa yang iya lakukan saat ini.
Aldi mendekat kearahku hingga posisinya seperti Aldi sedang memeluk pinggangku dari depan, karena tangannya memang seperti melingkar di pinggangku, padahal tidak karena aku tahan dengan tanganku, aku tidak mau jatuh kembali kepada perlakuan Aldi. aku mau menjaga perasaan kak Ray yang sekarang sudah menjadi pacarku. Setelah terdiam beberapa menit akhirnya Aldi berbicara
"Yang di motor nganter kamu pulang, pacar kamu?" tanyanya lagi seakan mengertu kebingunganku.
"Teman." jawabku singkat.
"Teman apa teman?" tanyanya memastikan.
"Jujur aja Vin, dia pacar kamu kan?" desaknya.
"Dia temenku,"
"Teman hidup," lanjutku lalu tersenyum kearahnya.
"Selamat ya, semoga langgeng. Aku berharap dia gak akan nyakitin kamu seperti aku. semoga dia lebih baik dari aku, dan semoga dia menyayangi kamu lebih dari aku yang menyanyangi kamu. aku Cuma berdo'a semoga kamu bahagia sama dia, dan jangan lupa kenalin dia sama aku ya," ucapnya dengan serius.
"Aku udah cerita tentang kamu sama dia, dia juga sudah tau perasaan aku ke kamu. dia orang yang baik, dia mau bantu aku buat lupain kamu, dia juga menerima masa lalu aku. Dia menerima aku apa adanya. Aku seneng bisa kenal dia. Dia ramah dan manis, dia juga pengertian dan dewasa." Ucapku menceritakan tentang kak Ray kepada Aldi.
__ADS_1
"Semoga lain kali aku bisa bertemu dan bisa mengobrol dengannya. Semoga kamu bahagia ya, Vin, dan aku berharap semoga kita masih bisa berteman baik, meskipun gak seperti dulu lagi." Ucap Aldi, dan hanya aku angguki.
Setelah mengobrol banyak dengan Aldi aku segera pamit untuk pergi karena kedua sahabatku pasti sudah menunggu.
Benar saja saat aku keluar kelas aku melihat kedua sahabatku sedang duduk di kursi panjang depan kelas dengan wajah yang kesal, aku menghampiri mereka berdua dengan senyum tanpa dosa, yang dibalas dengan tatapan sinis dari mereka berdua. aku tau mereka pasti kesal menungguku.
"Udah sih gak usah kesel gitu, aku minta maaf kalau udah buat kalian menunggu lama, tapi kan aku gak nyuruh, aku kira tadi kalian sudah pergi ke café terlebih dahulu" ucapku mencoba membujuk mereka agar tidak kesal lagi.
"Kamu ngapain aja sih, Vin sama Aldi? ingat Vin kamu udah punya pacar! Kamu harus hargain perasaan pacar kamu, aku tau kamu sayang banget sama Aldi, tapi jangan gini Vin, sama aja kamu ngehianatin kak Ray," ucap Fitria panjang lebar. Aku mengerti kekhawatiran mereka berdua, tapi mereka juga kan belum tau apa yang aku bicarakan bersama Aldi.
Tidak mau kedua sahabatku salah paham Akhirnya aku menceritakan semua yang aku dan Aldi bicarakan, dan akhirnya merekan mengerti, hingga akhirnya kita sampai di café.
"Vin, kayaknya Aldi cemburu deh," kata Ayuni
"Masa?" jawabku singkat seakan tak peduli
"Iya coba aja kalian pikir, Aldi gak mungkin bicara seperti itu dan menanyakan siapa kak Ray kalau dia gak cemburu. Aku yakin ada sedikit perasaan sakit saat melihat kamu dengan laki-laki lain. Kalau Aldi memang hanya menganggap kamu sahabatnya aja, dia gak akan mau susah-susah menanyakan siapa yang mengantarmu pulang" kata Ayuni panjang lebar.
"Mungkin itu hanya sekedar rasa ingin tau biasa saja, Ay. Gak mungkin dia cemburu," kataku mencoba tidak terlalu memikirkan apa yang dibicarakan Ayuni.
Jam sudah menunjukan pukul empat sore, aku dan kedua sahabatku berniat untuk pulang dan melanjutkan tugas besok, sebelumnya aku sudah mengirim pesan kepada kak Ray untuk menjemputku dan Fitria di café depan kampus, dan kak Ray menyetujuinya, dan akan datang bersama kak Derry.
Sekitar tiga puluh menit menunggu akhirnya pacarku datang juga. tidak lupa dengan kak Derry yang mengikuti dari belakang. ngomong-ngomong Ayuni sudah pulang dari lima belas menit lalu jadi sekarang tinggal aku dan Fitria.
"Mau langsung pulang apa main dulu, Yang?" Tanya kak Ray kepadaku.
"Gimana Fit?" tanyaku kepada Fitria, meminta pendapat.
"Gimana kak ?" Tanya Fania kepada kak Derry.
"Gimana Ray?" Tanya kak Derry kepada kak Rayhan. Mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut kak Derry, kak Ray langsung saja memukul kepala kak Derry lumayang keras membuat kak Derry meringis kesakitan. Aku dan Fitria hanya tertawa melihat perkelahian kecil dua laki-laki yang berada di hadapan kami itu.
Setelah perdebatan kecil tadi antara kak Ray dan kak Derry akhirnya kami memutuskan untuk pergi menonton di bioskop terlebih dahulu. dan saat kami sampai di mall kini giliran aku dan Fitria yang cekcok berdebat menentukan film apa yang akan kami tonton, aku yang ingin menonton film horror dan Fitria yang ingin menonton film romac-komedi, sedangkan kedua laki-laki yang memperhatikan kita dari tadi hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Karna aku dan Fitria tidak juga ada yang mau mengalah akhirnya kak Ray yang memutuskan untuk menentukan filmnya dan menyuruh kami untuk menunggu di kursi yang sudah disediakan. sedangkan kak Derry pergi untuk membeli popcorn dan minuman untuk kami.
Setelah menunggu sekitar sepuluh menit akhirnya kak Derry dan kak Ray kembali bersamaan. Kak Ray duduk disamping aku dan kak Derry duduk di sebelah Fitria pintu bioskop memang baru akan dibuka lima belas menit lagi, tapi kami berempat memutuskan untuk menunggu di sini agar tidak terlalu jauh dan tidak akan ketinggalan filmnya.
Kak Ray terus menggenggam tanganku, sambil sesekali memainkan jari-jari tanganku, entah apa manfaatnya tapi sedari awal kak Ray sangat senang memainkan jariku. Setelah menunggu lima belas menit akhirnya kami berempatpun masuk kedalam bioskop dan duduk di bangku masing-masing sesuai tiket yang sudah kak Ray atur tadi saat masih diluar.
__ADS_1
Aku sangat menikmati filmnya begitupun juga dengan kak Ray, entah sadar atau tidak kak Ray menuntun kepalaku untuk bersandar dibahunya, dan itu sangat nyaman apa lagi dengan tangan kak Ray yang mengusap-ngusap lembut puncuk kepalaku, menambah kenyamanan dan kesan romantis.