
Hari ini tidak ada kegiatan yang harus aku lakukan di apartemen, kuliah juga libur, membuat aku sekarang bosan diruang tengah apartemenku, menonton televisi yang acara nya pun tidak ada yang seru. ditengah kebosananku, bel apartemenku berbunyi. dengan malas aku pergi untuk membukakkan pintu , dan betapa kagetnya aku melihat siapa tamu yang datang, dia orang yang aku rindukan kini datang menemuiku. aku ingin sekali memeluknya sekarang juga, mengatakan betapa rindunya aku kepadanya, tapi aku tak berani melakukannya, yang aku lakukan sekarang hanya terdiam menatapnya, hingga panggilannya menyadarkan aku dari keterdiamanku ini.
"Gak mau mempersilahkan aku masuk dulu gitu?" ucapnya menyadarkan aku bahwa kini kami masih berada di depan pintu apartemen, aku langsung saja menyuruh nya masuk.
"Mau minum apa?" tanyaku kepadanya
"Kayak biasanya aja. setiap aku kesini, kamu belum lupakan?" Tanya dia yang kujawab dengan anggukan lalu pergi kedapur untuk membuatkan Aldi minuman. Ya tamu yang datang itu Aldi orang yang setiap hari aku rindukan, orang yang setiap hari aku pikirkan meskipun aku sedang berada disamping pacarku, tapi tetap saja aku masih memikirkannya. aku tau aku jahat pada pacarku sendiri, tapi itu yang aku rasakan.
Setelah selesai membuat minuman untuk Aldi aku pun kembali keruang tamu untuk mengantarkan minuman Aldi sekaligus untuk menemuinya. aku ingin bertanya apa tujuannya kemari, tapi entah kenapa melutku seakan bisu, dan akhirnya aku hanya terdiam disampingnya.
Banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan kepada Aldi tapi tidak ada yang keluar satupun, begitupun dengan Aldi, dia pun masih terdiam. suasana canggung ini sudah berjalan selama tigapuluh menit, tidak ada yang membuka suara sedikitpun diantara kami berdua. Hingga akhirnya aku mendengar deheman Aldi lalu aku menengok kearahnya yang ternyata sedang memperhatikan aku.
"Vin, gimana kabar kamu?" tanyanya basa-basi
"Baik." jawabku singkat, dia hanya mengangguk dan kembali menatap layar televisi lagi, sedangkan aku masih saja menatapnya, seolah dialah objek yang menarik saat ini.
"Al.." panggilku, lalu Aldi menoleh kearahku
"Apa?" jawabnya sambil tersenyum, aku hanya menggeleng dan memalingkan wajahku kearah televisi.
"Kenapa kita jadi canggung gini, Vin?" tanyanya.
__ADS_1
"Gak tau," jawabku singkat.
"Aku pengen kayak dulu lagi Vin sama kamu," ucapnya, yang membuat aku terkaget.
"Maksud kamu?" tanyaku tidak paham dengan maksud perkataan Aldi.
"Aku tau kamu ngerti maksud aku Vin, jujur aku sangat merindukan kedekatan kita dulu, aku rindu di perhatiin kamu, di masakin sama kamu, aku merindukan semuanya tentang kamu Vin," ucapnya dengan pelan. Aku bisa lihat kejujuran dari matanya. Aku juga ingin berkata seperti itu, aku juga sama merindukannya tapi aku gak mau begitu saja termakan oleh omongannya, aku sudah susah payah untuk tidak peduli tentangnya, aku sudah susah payah untuk merelakannya dan aku sudah susah payah untuk melupakannya meskipun belum berhasil, tapi aku gak mau usahaku selama ini hancur begitu saja.
"Tapi semuanya kamu yang mulai Al, aku saat ini hanya mengikuti keinginan kamu, aku gak mau jatuh terlalu dalam lagi sama kamu Al. jika kamu ingin tau, dulu aku gak punya perasaan apa-apa sama kamu, bahkan aku gak suka sama sekali sama kamu, tapi setelah ..."
"...Mimpi itu hadir, entah kenapa perasaanku terhadap kamu jadi berubah, aku mulai menyukai kamu Al, aku tau ini konyol, tapi memang itu yang aku alami, itu yang aku rasakan, aku juga gak mau sebenarnya. Tapi aku gak bisa menyangkalnya...."
"... seolah memang mimpi itu adalah jalan yang tuhan beri untuk aku bersama kamu, aku sempat berpikir mungkin kamu jodohku, tapi aku sadar kamu hanya menganggap aku tidak lebih dari seorang sahabat. Aku sakit ngeliat kamu bersama perempuan lain, aku cemburu saat kamu bahagia bersama orang lain, bahkan aku iri kepada mereka yang dengan mudahnya memiliki hati kamu, sedangkan aku? Aku yang berjuang ingin memiliki kamu..."
"... Aku berjuang untuk mendapatkan hati kamu, tapi hingga saat ini hampir tiga tahun lamanya, aku tidak bisa memilikinya, bahkan sebesar apapun kesalahan kamu, aku dengan mudahnya bisa memaafkan kamu, aku tau aku bodoh, aku bodoh udah mencintai orang yang bahkan tidak mencintaiku selama ini." jelasku panjang lebar sambil menangis, aku sudah gak tahan dengan semua ini aku hanya ingin Aldi tau tentang perasaanku selama ini dengan sejelas-jelasnya.
"Vin, maaf ..." ucap Aldi pelan
"Kamu mungkin gak akan percaya dengan apa yang aku ucapkan barusan, itu terserah kamu. Aku juga gak berharap banyak sama kamu Al, aku tau kamu udah menemukan kebahagian kamu bersama Fania,dan aku gak mau merusaknya. Dari dulu aku ingin menyerah, karena aku tau perjuangan aku akan sia-sia, tapi mimpi itu kembali lagi seolah memperingati aku untuk terus bertahan..."
"... dan hingga saat itu aku bertahan dengan semua rasa sakit yang aku rasakan ketika melihat kamu bersama dengan Fania, hingga akhirnya aku berhenti berharap, dan bertahan, setelah kamu menyuruh aku untuk mencari laki-laki lain. Dan disana lah aku mulai berpikir mungkin ini yang terbaik untuk aku dan juga kamu. Tapi maaf jika sampai saat ini aku belum bisa sepenuhnya ngelupain kamu, Al. Maaf jika sampai saat ini aku masih saja berharap sama kamu, tapi kamu gak perlu cemas Al, aku gak bakalan ngerusak kebahagian kamu sama Fania, aku juga akan berusaha untuk melepaskan kamu seutuhnya." lanjutku dengan isak tangis yang memang sudah tidak bisa lagi kutahan. Mungkin memang ini lah waktunya aku menyerah, dan melupakan segalanya tentang Aldi.
__ADS_1
"Vin, aku mohon jangan lupain aku. Aku tau kamu sangat kecewa sama aku, maaf aku udah nyakitin hati kamu selama ini, aku gak mau kehilangan kamu Vin," ucap Aldi.
"Aku bukannya gak mau pacaran sama kamu, aku cuma takut jika suatu saat nanti kita putus kita malah jauh, dan aku gak mau itu terjadi. Pacaran itu pasti ada putusnya Vin makanya aku lebih memilih untuk sahabatan, karena sahabatan gak akan ada kata putus." lanjut Aldi lagi. Aku menghela napas panjang sebelum akhirnya bekata.
"Al aku tau itu, dengan begini malah aku yang tersakiti, disaat kamu bersama perempuan lain, apa yang bisa aku lakuin, aku hanya bisa diam menyimpan kesakitan ini sendiri, aku ingin marah tapi aku gak berhak, cemburu pun aku gak bisa karena aku cuma sahabat kamu aja. Gak selamanya bersahabat akan selalu bersama, sahabat juga akan rusak oleh salah satu atau malah karena keduanya. Sahabatan juga akan menjauhkan kita satu sama lain, apa lagi disaat salah satu dari kita mempunyai pasangan. Saat kamu udah punya pacar, kamu ngelupain aku gitu aja, kamu asik dengan orang lain, sedangkan aku disini cuma nunggu kamu tanpa melakukan apa-apa. Bukan aku lagi yang menjadi prioritas utama kamu, bahkan kamu lebih mementingkan pacar kamu dibandingkan sahabat kamu. Dan memang sebagai pacar lah yang lebih berhak atas kamu, aku yang sahabat kamu tidak berhak atas diri kamu, aku hanya bisa untuk mendukung dan mendo'akan kamu bahagia." Jelasku panjang lebar.
"Tapi aku sayang sama kamu Vin!" ucap Aldi tegas
"Dan kamu juga sayang dia Al!" ucapku tak kalah tegas. Aldi terdiam dan menundukan kepalanya.
"Aku gak mau kehilangan kamu Vin," ucapnya pelan.
"Dan apakah kamu mau ninggalin dia demi aku?" tanyaku kepada Aldi. Aldi terdiam.
"Kamu gak mau kehilangan aku, dan kamu juga gak mau untuk ninggalin dia, kamu egois Al! Kamu gak bisa bertahan dengan keduanya. Mau gak mau, suka gak suka kamu harus memilih Al, aku gak maksa kamu buat milih aku, aku juga gak mau ngerusak kebahagian kamu sama Fania. Sekarang kamu pulang ya udah malam. Aku gak maksa kamu buat selalu stay sama aku. Ikuti apa kata hati kamu, jika memang kamu lebih memilih Fania, aku hanya minta sama kamu supaya kamu gak nyakitin dia, dan gak ngecewain dia. Cukup aku aja yang ngerasain sakit ini, jangan sampe orang lain ngerasain juga, karena dia gak akan sanggup," ucapku panjang lebar dengan sisa-sisa isak tangisku.
"Ya sudah aku pulang, Vin." pamitnya kepadaku yang kujawab dengan anggukan dan mengantarkan Aldi hingga depan pintu apartemen.
Aldi menatapku lalu mendekatiku dan mencium keningku lama sebelum akhirnya dia pergi. Aku masuk kedalam kamarku dan akhirnya tangisku pecah. Aku berharap ini adalah tangisan terakhir. Tangisan terakhir tentang Aldi.
Apapun yang nanti Aldi putuskan aku harus siap menerimanya, Meskipun itu menyakitkan, tapi jika Aldi memang ditakdirkan bukan untukku, aku bisa apa?, Karna aku yakin tuhan pasti telah mempersiapkan seseorang yang lebih baik dari Aldi untukku.
__ADS_1