
Setelah kejadian di café waktu itu, aku langsung menghubungi Aldi menyuruhnya untuk kembali kepada Fania.
Aku tidak ingin menjadi alasan kandasnya hubungan mereka. Bukan berarti aku sudah tidak menyukainya lagi, tapi aku hanya tidak mau dicap sebagai orang jahat disini.
Aku juga menyuruhnya untuk tidak lagi membahas tentang aku yang menghindarinya. Karna aku tidak sepenuhnya menghindar. aku hanya sedikit menjaga jarak agar orang-orang tidak menganggap aku sebagai orang ketiga diantara Aldi dan Fania.
Seminggu setelah kembalinya lagi hubungan Aldi dan Fania aku selalu melihat raut bahagia di wajah Aldi. Melihat itu aku hanya bisa tersenyum tipis, antara bahagia dan miris. Bahkan selama dua tahun lebih aku bersama-sama dengan Aldi aku tidak pernah melihatnya sebahagia ini.
Aku hanya bisa berharap supaya kebahagiannya tidak hanya untuk sesaat. dan aku berharap semoga perasaan Fania sekarang sudah dapat menerima Aldi dengan tulus, tidak lagi karna merasa kasian seperti saat awal-awal dia menerima Aldi untuk menjadi kekasihnya.
Dan saat ini hubunganku dengan Aldi juga baik-baik saja, aku yang tidak lagi menghindarinya, namun juga tidak terlalu dekat dengannya hanya sekedar menyapa atau bertukar pesan seadanya. Tidak bisa dibilang dekat namun tidak juga bisa dibilang jauh.
Selama ini aku sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini meskipun perasaanku masih sama seperti dulu tapi aku mencoba untuk menyembunyikannya sebisa mungkin karena aku juga tidak mau membuat Aldi sedih apalagi membuatnya merasa bersalah.
Aldi juga sudah pernah membawa Fania kerumahnya untuk dikenalkan kepada orang tuanya. Aku yakin dia pasti sudah serius dengan hubungannya dengan Fania, dan jangan lupakan apapun yang akan dia lakukan untuk Fania, Aldi selalu menanyakan atau meminta pendapat terlebih dahulu kepadaku. jangan tanyakan lagi bagaimana perasaanku, yang jelas hatiku merasa teriris namun aku mencoba menguatkan diriku sendiri, sebisa mungkin aku tersenyum menanggapinya. berusaha tegar dengan semua yang terjadi.
Beberapa kali Aldi curhat kepadaku tentang Fania yang selalu bertukar pesan dengan beberapa laki-laki lain, namun aku selalu mengingatkannya untuk tidak terlalu memikirkan itu dan selalu untuk berpikir positif.
Meskipun aku tahu jika Fania memiliki kekasih selain Aldi, tapi aku tidak punya hak untuk mengatakannya kepada Aldi. aku hanya ingin dia tau dengan sendirinya tanpa harus aku yang memberi tahu. karna aku yakin dia juga tidak akan percaya. Jadi ya sudah mau bagaimana lagi selain membiarkannya.
Tapi aku juga memikirkan bagaimana reaksi Aldi nanti saat mengetahui semua itu, aku yakin dia pasti akan merasa sangat kecewa. Aku juga tidak menampik bahwa aku dan Aldi kadang suka jalan atau hanya sekedar main kerumahnya atau tidak main diapartemenku tanpa sepengetahuan Fania. tapi aku dan dia bertemu hanya untuk bercerita, yang pasti Aldi yang bercerita. bercerita tentang Fania.
Bahkan aku sudah merasa muak mendengarnya, aku juga berpikir bahwa mungkin Aldi lupa tentang aku yang menyukainya sehingga membuat Aldi bisa dengan santainya menceritakan tentang Fania kepadaku dan tidak memikirkan perasaanku yang terluka.
Hari minggu ini aku berniat untuk membersihkan apartemenku, karna kebetulan hari ini aku tidak memiliki acara apapun dan juga tidak ada tugas yang harus aku kerjakan.
Selesai dengan membersihkan apartemen dan juga membersihkan diriku sendiri aku berjalan menuju ruang tengah untuk sekedar bersantai sambil menonton televisi. namun suara bell apartemenku mengganggu acara bersantaiku kali ini.
Dengan malas aku berjalan untuk membukakan pintu, dan betapa kagetnya aku melihat keadaan seoarang Aldiansyah putra yang sangat kacau, rambut yang acak-acakan dan muka yang kusut dan ditekuk. Baru kali ini aku melihatnya seperti ini. Tanpa dipersilahkan Aldi masuk dan duduk di sofa yang tadi aku duduki.
"Kamu kenapa Al?" tanyaku penasaran, dia tidak menjawab dan malah memelukku dengan punggung yang bergerak naik turun. aku yakin dia menangis. aku bingung kenapa dia seperti ini.
Aku mengelus pelan punggungnya sekedar untuk menenangkannya. Dan setelah merasa Aldi sudah tenang aku kembali menanyakan alasan kenapa dia seperti ini, hingga Aldi membuang napas panjang sebelum iya mulai memceritakan penyebab dia seperti ini .
"Aku gak nyangka Vin, dia bakalan sejahat ini sama aku. Aku gak pernah memaksa dia untuk menerima aku. Kenapa disaat aku udah sesayang ini sama dia aku baru mengetahui jika dia menerimaku karna kasihan, aku kira dia benar-benar tulus sama aku, tapi nyatanya aku salah," ucapnya dengan air mata yang menetes.
"Kamu tahu dari mana Al?" tanyaku penasaran.
"Aku tau saat aku mengecek ponselnya tadi, dan aku juga membaca pesan-pesan yang masuk yang ada diponselnya dan itu hampir semua dari laki-laki dan asal kamu tau ada salah satunya adalah kekasih dia."
"Kamu tahu dari mana kalau salah satunya adalah kekasihnya, kamu jangan dulu berpikir negativ seperti itu Al, siapa tau itu cuma temannya," ucapku memcoba memberi pengertian
"Bagaimana aku bisa berpikir itu adalah temannya, kalau laki-laki itu sendiri yang bilang bahwa dia adalah kekasihnya," ucapnya dengan nada marah.
Aku hanya menghela napas tidak berniat membalas perkataan Aldi, karna sungguh aku juga merasa kecewa kepada Fania. Aku gak pernah membayangkan ini terjadi dan melihat keadaan. Aldi yang seperti ini membuat hatiku sakit.
"Baguslah kalau kamu sudah tau semuanya." ucapku pelan, namun masih bisa didengar oleh Aldi hingga membuatnya mengerutkan dahi bingung.
"Maksud kamu?" tanyanya bingung.
"Aku udah tau dari lama sebenarnya, sejak kamu baru berpacaran dengannya,"
__ADS_1
"Kenapa kamu gak kasih tau aku?"
"Aku gak mau merusak kebahagian kamu Al. Dan aku yakin kamu juga gak akan percaya sama apa yang aku ucapkan, maka dari itu aku memilih diam dan membiarkan kamu mengetahui dengan sendirinya, dan melihat keadaan kamu yang seperti ini membuat aku menyesal telah membiarkan kamu sama dia. Ini alasan aku gak menyukai Fania karna dia tidak sebaik yang terlihat." jelasku panjang lebar.
Jika waktu itu aku tidak ingin menjadi perusak dihubungan antara Aldi dan Fania tapi untuk sekarang ijinkan aku untuk menjadi orang jahat disini.
Saat melihat Aldi terluka seperti kemarin aku tidak bisa menerimanya seakan aku juga merasakan kesakit hatian yang sedang dia rasakan.
Aku tau aku memang tidak lebih baik dari Fania, tapi jika dia sudah melukai perasaan Aldi maka jangan salahkan aku jika disaat itu pula aku akan berusaha untuk merebut Aldi darinya meskipun dengan cara licik sekalipun.
Aku tidak akan pernah mengalah lagi untuk sekarang. Jika kemarin-kemarin aku tidak ingin menjadi alasan mereka berpisah maka kali ini silahkan libatkan aku atas berpisahnya hubungan Aldi dan Fania.
Pukul 08 : 15 aku sudah berada dikampus lebih tepatnya ditaman. Seperti biasa aku membaca novel selagi menunggu kelasku tiba.
Sekitar sepuluh menit lagi kelas akan dimulai. aku berjalan menyusuri koridor menuju kelas dan saat aku akan memasuki kelas aku melihat Fania yang juga akan menuju kelas yang sama denganku.
Aku menunggunya hingga iya kini berjalan untuk masuk kekelas namun aku mencegahnya, aku melihat raut bingung di wajahnya, membuat aku mengembangkan senyumku, tapi bukan senyum ramah melainkan senyum sinis. ku dekatkan wajahku kearah telinganya dan berbisik.
"Kamu melukai hati dia, maka jangan salahkan aku jika aku merebutnya darimu," bisikku tepat ditelinga Fania. aku melihat wajah Fania yang kini memerah menahan kesal namun aku tidak memperdulikannya.
Aku berjalan menuju tempat dudukku dan aku sempatkan melirik kearah Aldi yang sedang menatapku bingung, aku hanya tersenyum kepadanya.
Aku tau jika Aldi dan Fania belum mengakhiri hubungan mereka berdua dan juga belum menyelesaikan masalahnya.
Aku sadar kok bahwa Aldi masih sangat mencintai dan menyayangi Fania, tapi mungkin dia terlalu kecewa hingga membuat Aldi mau tidak mau harus melakukan ini.
Sebenarnya aku ingin membantu mereka kembali, tapi aku urungkan niatku. aku masih tetap untuk bertahan dan memperjuangkan Aldi kembali meski aku harus menjadi orang ketiga, dan aku gak peduli kepada orang-orang yang mengatakan bahwa aku mengambil kesempatan dalam kesempitan, karna mereka tidak tahu apa yang terjadi, dan mereka tidak tahu apa yang aku rasakan.
Mereka hanya bisa menilai tanpa mencari tahu kebenarannya. Aku juga tidak peduli mereka menganggap aku orang jahat disini. karna yang sebenarnya orang jahat disini bukanlah aku. Aku yang menjalani hidup ku, jadi aku tidak butuh orang-orang yang hanya bisa mengomentari hidupku tanpa tau bagaimana hidupku yang sebenarnya.
Aku tidak peduli meskipun Aldi menjadikan aku sebagai pelampiasan sakit hatinya, karna aku yakin suatu saat Aldi akan memandangku.
Aku tahu jika aku terlalu percaya diri, tapi aku yakin bahwa Aldi memang sudah ditakdirkan untukku namun tuhan sengaja mempermainkannya terlebih dahulu agar cerita ini menjadi lebih menarik dan membuat kita merasakan apa itu kehilangan, kekecewaan, kesedihan dan penyesalan agar kita bisa lebih menghargai satu sama lain.
Aku dan Aldi sedang berada ditaman belakang kampus, mengobrol sesekali bercanda dan tertawa. Kini aku merasa bahwa Aldi yang dulu kini telah kembali, namun ditengah tawa kita ada perempuan yang menghampiri kita berdua dengan wajah merah menahan kesal. aku hanya diam mendengarkan perdebatan kedua orang itu, tidak berniat untuk mencampuri urusan mereka.
"Kamu mau apalagi sih?" Tanya Aldi datar.
" Al, dulu aku memang terpaksa nerima kamu.." ucap Fania
"Jujur juga ternyata" ucap Aldi masih dengan wajah datarnya.
"Aku belum selesai bicara, Al. Aku emang nerima kamu karena kasihan saat itu, tapi sekarang aku udah benar-benar sayang sama kamu. aku gak mau kehilangan kamu, aku gak mau pisah sama kamu. Maafin aku," ucap Fania yang kini sudah menangis. Aku melihat Aldi terdiam. Aku tahu dia juga tidak mau kehilangan Fania dan aku yakin dilubuk hatinya pasti menyimpan kerinduan yang besar untuk Fania.
Aldi menatap kearahku seakan meminta pendapat kepadaku namun aku hanya membuang muka kearah lain. aku gak mau mengalah lagi kali ini, biarkan aku menjadi orang yang egois yang mementingkan kebahagianku saja, tapi dia juga harus tahu bahwa selama ini aku sudah berbaik hati membiarkannya bahagia diatas lukaku. jadi biarkan sekarang aku untuk egois dan mementingkan kebahgianku sendiri meski harus mengorbankan kebahagian orang yang sangat aku cintai. Karna aku yakin cinta akan datang seiring berjalannya waktu, hanya saja aku yang harus bersabar menunggu cinta itu datang pada diri Aldi untukku.
Semenjak hari itu Aldi dan Fania sudah resmi putus. Namun entah kenapa saat mendengar secara langsung dari orangnya bahwa Aldi lebih memilih untuk berpisah dengan Fania dan memilihku, aku tidak merasa bahagia, aku malah merasa bersalah, entah bersalah karna apa, aku sendiripun tidak tau. Aku hanya menjalani apa yang ada sekarang.
__ADS_1
Tentang Aldi? Sekarang dia lebih meluangkan waktunya untuk aku, seperti dulu dia menjemput dan mengantarku kemanapun. dulu aku bahagia dengan perlakuan manisnya tapi untuk sekarang aku tidak sebahagia dulu saat mendapatkan perlakuan manisnya itu.
Aku tau Aldi masih belajar mencintaiku, aku tau hatinya masih untuk Fania. Dan mungkin karna itu lah aku tidak merasa bahagia dengan perlakuan manisnya. Ingin aku kembali melepaskannya demi kebahagian dia, tapi hati kecilku seperti berbisik untuk tetap mempertahankannya.
Siang ini Aldi bilang akan keapartemenku, dan sekarang aku sedang membuat cheesecake kesukaaan Aldi, aku ingin berusaha menjadi yang terbaik untuk Aldi supaya dia bisa membuka hatinya untukku, memandangku sebagai seorang kekasih bukan lagi seorang sahabat.
Baru saja aku selesai membuat cheesecake, suara bell apartemen berbunyi, dan sudah bisa ku tebak bahwa yang datang itu pasti Aldi. Saat ku membukakan pintu, kulihat Aldi yang yang kini tersenyum, meskipun senyumannya tidak selebar saat dia bersama Fania, tapi aku bersyukur karna dia tidak membenciku.
"Al, aku buatin cheesecake nih buat kamu" kataku memberikan cheesecake kepadanya.
"Woahhh enak nih, makasih ya sayang," ucapnya senang , lalu mencium pipiku singkat. Aku yang terkejut dengan tindakannya yang tiba-tiba itu hanya mampu terdiam, dan aku bisa merasakan pipiku yang sedikit menghangat, aku yakin pipiku pasti merah saat ini.
"Kamu kenapa kok diem aja," ucapnya menyadarkan lamunanku.
"Ah, a- aku gak apa-apa kok." jawabku terbata. Aldi hanya tersenyum dan melanjutkan memakan kuenya. Aldi gak akan bisa di ganggu sudah berurusan dengan cheesecake, makanya aku lebih memilih memainkan ponselku.
"Vin, maafin aku," ucapnya pelan. Aku diam, bingung dengan apa yang dimaksud Aldi barusan.
"Maafin aku belum bisa membuka hati aku untuk kamu. Tapi aku akan belajar mencintai kamu dari mulai sekarang, tolong bantu aku," lanjutnya, membuat aku mengerti kemana arah pembicaraannya.
"Al kalau kamu gak bisa, gak usah dipaksain, aku gak akan maksa kamu. Aku memang cinta sama kamu, tapi cinta juga gak harus memiliki kan. Aku tau kamu sayang sama dia, aku gak apa-apa kalau kamu pengen kembali lagi sama dia," ucapku panjang lebar, dan tersenyum di akhir. Berusaha terlihat setegar mungkin.
"Gak, Vin. Aku udah mutusin untuk tetap sama kamu, dulu kamu udah banyak berkorban untuk aku, kamu berjuang untuk aku, biarkan sekarang aku yang memperjuangkan kamu. Sekarang aku memang belum mencintai kamu, tapi suatu saat nanti aku pasti akan mencintai kamu. aku minta agar kamu bersabar dan bantu aku untuk belajar mencintai kamu." Ucapnya tulus dan membawaku kedalam pelukannya, membuat aku terharu dan meneteskan air mata. Aku mengangguk dan tersenyum kearahnya.
Malam ini Aldi mengajakku pergi keluar, namun tidak pergi berdua melainkan bersama dengan Rudi dan juga Ayuni. Disepanjang perjalanan Aldi terus menggenggam tanganku yang sedang melingkar di pinggangnya. Dan ku sandarkan kepalaku dipunggungnya, dan jujur ini sangat nyaman.
Motor berhenti di sebuah warung pinggir jalan, dan ternyata Rudi dan Ayuni sudah sampai lebih dulu. Selagi Aldi memarkirkan motornya aku pergi menghampiri Ayuni yang sedang duduk disebuah bangku yang memang sudah disediakan.
"Mau jagung bakar gak?" Tanya Rudi kepada kami berdua yang ku jawab hanya dengan anggukan. Setelah itu Rudi dan Aldi pergi untuk memesan jagung bakar untuk kami.
"Vin gimana?" Tanya Ayuni yang membuat aku bingung.
"Apanya?"
"Kamu sama Aldi,"
"Gak gimana-gimana, Aldi juga belum bisa buka hatinya buat aku. Aku agak maksa sih sebenarnya, aku juga udah bilang agar dia gak perlu maksain. Tapi kemarin dia bilang, bahwa dia akan belajar mencintai aku dan minta aku untuk bantu dia." Jelasku panjang lebar.
"Sekarang kamu cuma harus sabar Vin, aku yakin suatu saat nanti dia juga akan memebalas perasaan kamu," ucap Ayuni sambil mengelus pelan punggungku. Dan aku hanya mengangguk.
"Jagung bakarnya udah jadi," ucap Rudi riang, dan membagikan jagung bakarnya satu persatu kepada masih-masing.
"Al, jangan sampe tuh dilepas lagi," ucap Rudi kepada Aldi
"Tenang bro nanti gua iket dia biar gak bisa lepas lagi," jawab Aldi lalu mengelus –elus puncuk kepalaku lembut.
"Kamu pikir aku kambing diiket-iket segala!" ucapku ketus dan mereka bertiga tertawa.
Setelah mengobrol dan tertawa bersama kami berempat memutuskan untuk pulang, karna hari juga sudah semakin malam.
Di sepanjang perjalanan menuju apartement tidak ada percakapan yang keluar dari kami masing-masing, keadaan menjadi sepi dan canggung, sebenarnya aku ingin menanyakan sesuatu kepadanya tapi aku tidak punya keberanian.
Sesampainya diapartement Aldi langsung pamit untuk pulang, tidak lupa untuk mengelus lembut rambutku.
__ADS_1