Cinta Berawal Dari Mimpi

Cinta Berawal Dari Mimpi
Episode 8


__ADS_3

Sudah beberapa kali Aldi mengajakku keluar tapi selalu saja ada halangan, entah itu karna hujan ataupun karna ada hal lain, hingga di hari minggu ini dengan ketidak sengajaan, aku dan Aldi bertemu di sebuah toko buku yang berada di pusat perbelanjaan. Dan kami memutuskan untuk sekalian jalan bersama.



Sepanjang jalan aku tidak berhenti tersenyum, karna jujur saja aku merasa bahagia hari ini, pertemuan yang tidak di rencanakan ini malah membuat hariku menyenangkan.



Sekarang kami berdua sedang berada di sebuah restoran yang letaknya tidak jauh dari pusat perbelanjaan setelah tadi kami sudah muter-muter dari satu toko ke toko lain dari mulai dari toko buku, asesoris, pakaian hingga melakukan photobox hingga akhirnya merasa lapar dan memutuskan untuk makan terlebih dahulu sebelum pulang.



"Anggap saja ini sebagai bayaran gagalnya ajakan aku beberpa hari lalu," ucap Aldi sambil tersenyum yang ku balas anggukan.



Selesai makan malam Aldi mengantarku pulang sampai depan apartemen.



"Makasih ya udah nganterin aku, dan makasih udah ngajak jalan-jalan juga." kataku sambil tersenyum, dan di balas anggukan oleh Aldi. aku berbalik dan berniat masuk kedalam, tapi tertahan karna tiba-tiba Aldi memelukku dari belakang yang tentunya membuat aku kaget dengan perlakuan tiba-tiba Aldi.



"Biarkan seperti ini sebentar saja," ucap Aldi, dan aku hanya tersenyum.



Sekitar sepuluh menit akhirnya Aldi melepaskan pelukannya dari pinggangku dan tersenyum kearahku sambil mengelus puncuk kepalaku lembut.



"Aku pulang dulu ya, kamu langsung tidur udah malem, jangan sampai bergadang gak baik buat kesehatan kamu," ucap Aldi tersenyum dan hanya ku jawab dengan anggukan.



Paginya aku kekampus seperti biasa dengan moodku yang sangat-sangat baik, karna perlakuan tiba-tiba Aldi semalam. aku menjadi senyum-senyum sendiri. katakanlah aku gila, aku tidak perduli yang penting sekarang aku bahagia.



Aku menghampiri kedua sahabatku yang sudah berada di dalam kelas dan menyapa mereka dengan riang dan senyuman lebar yang membuat kedua sahabatku saling menatap dan bergidik ngeri. mungkin mereka mengira aku beneran gila hari ini.



"Kamu sehat kan, Vin?" Tanya Fitria sambil menempelkan punggung tangannya di keningku.



"Kayaknya dia udah beneran gila deh Fit," kata Ayuni yang disetujui Fitria, memang dasar ya sahabat lucknat sahabat bahagia bukannya senang malah ngatain gila.



"Kalian berdua bukannya ikut senang malah ngatain aku gila, jahat banget," ucapku sambil memanyunkan bibirku.



"Ya mau gak kita anggap gila gimana , kamu datang-datang cengengesan gak jelas gitu, kenapa lagi kalo gak gila, kamu kan jomblo mana ada yang mau bikin kamu jadi senyum-senyum sendiri gini," kata Fitria mengata-ngatai.



Heran aku punya sahabat kaya mereka, gak bisa gitu ya biarin sahabatnya ini bahagia sebentar. seketika aku menyesal punya temen seperti mereka.



"Tau ah! Kalian ini gimana sih malah ngerusak mood aku aja, pokoknya aku marah sama kalian," kataku cemberut, dan kedua sahabatku malah tertawa keras yang membuat aku mendengus kesal.



Masih dengan muka aku yang cemberut aku lihat Aldi berjalan memasuki kelas dan tersenyum kearahku, yang ku balas dengan senyuman pula. senyumnya mengembalikan mood ku yang buruk gara-gara kedua sahabatku itu.



Heran melihat aku tersenyum kedua sahabatku berhenti tertawa dan mengikuti arah pandanganku dan mulai mencie-cie kan aku dan Aldi, "dasar pengganggu suasana mereka itu." dengusku dalam hati.



***

__ADS_1



"Kamu gak mau cerita gitu Vin sama kita?" Tanya Ayuni saat kita sudah berada di kantin. aku mengernyit bingung kearah mereka berdua, tidak mengerti dengan maksud dari pertanyaan mereka berdua. mengerti dengan kebingunganku akhirnya Fitria menjelaskan maksud dari pertanyaannya yang membuat aku senyum-senyum sendiri saat mengingat kejadian kemarin,



"Coba cerita sama kita-kita, jangan Cuma senyum-senyum sendiri kayak gitu," kata Fitria mulai kesal.



Setelah ku ceritakan kejadian kemarin kepada kedua sahabatku yang sudah kuduga akan seperti itu reaksinya, mereka pasti tak percaya dengan apa yang aku ceritakan barusan, aku menghela napas sebelum akhirnya berbicara,



"Kalau kalian gak percaya ya udah gak apa-apa," kataku malas.



"Duh akhirnya ya setelah sekian lama kamu galau-galauan gak jelas karna melihat dia bareng perempuan lain akhirnya sekarang di respon juga," ucap Ayuni dan aku hanya senyum-senyum mendengarnya.



"Kayaknya bentar lagi bakalan ada yang ngelepas masa jomblonya deh," kata Fitria yang membuat aku mengernyitkan kening, bingung dengan kata yang Fitria ucapkan 'melepas masa jomblo' siapa kira-kira apakah Ayuni, kayaknya sih. tebakku dalam hati.



"Wah siapa-siapa yang bakal ngelepas masa jomblo, kasih tau aku dong, kamu ya Ay?" tanyaku pada Ayuni dengan muka polos.



"Jangan sok polos kamu, Vin orang kamu sendiri yang bakal ngelepas masa jomblonya, kan sekarang Aldi udah ngerespon kamu, kalian juga udah makin dekat, udah berani peluk-peluk, itu berarti dia juga suka sama kamu Vin," kata Fitria yang di angguki Ayuni. Pipiku menghangat mendengar perkataan Fitria barusan, pasti sekarang pipiku udah merah banget. Aku senyum-senyum malu dan mengaminkan perkataan Fitria barusan dalam hati. semoga saja.



***



Ini sudah pukul tiga sore dan kelas sudah berakhir setengah jam yang lalu, tapi aku masih berada di parkiran karna sepeda motorku ban-nya bocor. sedangkan kedua sahabatku sudah pulang dari tadi, aku bingung pulang gimana, kalau pulang naik bis terus sepeda motorku gimana? Kalo ditinggal disini takutnya hilang. Tapi masa aku harus dorong, tempat tambal kan jauh, apes banget aku hari ini.




"Bannya bocor?" tanya seseorang disampingku yang aku jawab dengan anggukan.



"Yaudah ayok pulang bareng aku aja." ajak dia.



"Terus sepeda motor aku gimana?" tanyaku kepada Aldi. ya lelaki yang barusan mengagetkanku adalah Aldiansyah Putra. dia diam lalu mengambil ponsel dari dalam saku celananya dan menelpon seseorang menyuruhnya datang keparkiran menghampiri kami.



Setelah menunggu kurang lebih lima menit datang seseorang yang sepertinya orang yang di telpon oleh Aldi tadi. Dia adalah Rudi sahabat Aldi sekaligus teman sesejurusan denganku dan Aldi.



"Rud lo gak bawa kendaraankan?" Tanya Aldi kepada Rudi yang di angguki oleh Rudi. aku yang belum tau maksud Aldi hanya diam memperhatikan mereka.



"Lo bawa motor Vina aja ya sekalian bawa ke tempat tambal, bannya bocor," kata Aldi lagi.



"Terus nanti motornya dianterin kemana?"Tanya Rudi.



"Nanti gue sms-in alamatnya. Gue jalan dulu sekalian nganterin Vina pulang," ucap Aldi yang diiyakan oleh Rudi. Akupun lalu memberikan kunci sepeda motorku kepada Rudi dan tidak lupa mengucapkan terima kasih karna sudah merepotkannya sebelum berlalu pergi bersama Aldi.



****

__ADS_1



Aku kira Aldi akan mengantarkan aku langsung pulang tapi ternyata Aldi malah mengajakku kerumahnya. jujur aku deg-degan banget, aku kira di rumah nya gak ada orang tapi ternyata ada kakak dan mamanya Aldi.



Aku tersenyum dan memperkenalkan diri pada mereka berusaha tenang, tapi nyatanya aku gugup berada di situasi ini, baru pertama kali aku di ajak kerumah laki-laki dan dikenalkan pada keluarganya.



Tidak butuh waktu lama untuk aku mengakrabkan diri di keluarga ini, karna kak Aldo, kakak dari Aldi yang selalu bisa mencairkan suasana membuat aku merasa seperti sudah mengenalnya lama. padahal kita baru bertemu hari ini, asik mengobrol dengan kak Aldo tidak terasa ternyata hari sudah mulai gelap,



"Kak saya pamit pulang dulu, karna hari sudah malam," pamitku pada kak Aldo.



"Oh iya, Vin silahkan, sering-sering main kesini ya," ucap kak Aldo ramah yang ku balas anggukan. aku tersenyum kearah kak Aldo sebelum pergi bersama Aldi.



Aldi mengantarkan aku pulang hingga depan Apartemenku seperti kemarin, lagi dan lagi Aldi memelukku secara tiba-tiba yang membuat aku sedikit kaget, setelahnya aku pun tersenyum dan membalas pelukannya.



"Sedari tadi aku ingin memelukmu, tapi aku malu karna ada Kak Aldo," ucapnya pelan.



Aku terkekeh pelan mendengar ucapannya. Sekitar kurang lebih sepuluh menit Aldi baru melepaskan pelukannya dariku dan pamit untuk pulang. Aku mengerutkan dahi bingung karna baru beberapa langkah Aldi berhenti dan menghadap kearahku,



"Kenapa?" tanyaku bingung, Aldi diam tidak menjawab yang membuat aku semakin bingung, lalu dia berjalan mendekat ke arahku dan mencium keningku singkat lalu pergi meninggalkan aku yang masih mematung di tempat tidak percaya dengan apa yang Aldi lakukan barusan. setelah sadar dari kekagetanku, aku tersenyum dan masuk kekamarku untuk istirahat dan menetralkan detak jantungku yang lebih cepat dari biasanya gara-gara perlakuan Aldi yang tiba-tiba itu.



***



Setelah kejadian Aldi mengajak aku ke rumahnya, aku semakin dekat dengannya, hampir setiap hari Aldi selalu mengantarkan aku pulang, dan kadang menjemput aku untuk pergi ke kampus bersama. Tapi status ku bersamanya tidak pernah berubah, masih seperti dulu hanya sebatas teman. tapi sekarang lebih dari sekedar teman biasa namun menjurus ke teman tapi mesra. kasih sayangnya, perhatiannya, dan kekhawatirannya yang dia berikan membuat aku merasa special.



Aku senang meskipun status dari kami tidak berubah tapi setidaknya sekarang aku lebih bisa dekat dengannya. Aku juga tidak lupa bahwa Aldi masih memiliki kekasih, meskipun berada jauh di Negara lain.



Kadang aku berpikir apakah ini termasuk penghianatan kepada Raina? tapi aku tidak pacaran, aku hanya berteman, apakah aku tidak akan menyakiti Raina jika dia tau kedekatan Aldi dan aku seperti ini? "maafkan aku Rai, tapi aku mencintainya" ucapku dalam hati.



Hari ke hari aku dan Aldi semakin dekat, hampir setiap hari minggu Aldi mengajakku jalan untuk menonton atau hanya sekedar main kerumahnya.



Bukan hanya dekat dengan Aldi saja tapi kini aku pun sudah mulai dekat dengan keluarga besarnya. Pernah sekali aku bertemu dengan sodaranya yang di luar kota, dan bertanya apakah aku kekasihnya yang pernah sempat dibicarakan atau bukan, dan kalian harus tahu Aldi menjawab bahwa dia bertemu aku di pinggir jalan, karna kasihan dia jadi mengajakku. aku tidak sakit hati dengan jawaban Aldi aku tau dia hanya bercanda dan aku tidak mau mempermasalahkannya.



Aku juga baru tau ternyata keluarga Aldi sudah mengetahui tentang hubungannya dengan Raina. itu wajar menurutku jika keluarga Aldi mengetahui Raina mengingat Aldi yang sangat mencintai Raina, sudah pasti Aldi mengenalkan pada keluarganya. Tapi kenyataan itu tidak membuat aku minder karna setatusku yang hanya sekedar teman, karna keluarga Aldi pun tidak mempermasalahkan setatusku dengan Aldi.



Hampir setiap hari bersama aku menjadi terbiasa dengan sifat dan kelakuan Aldi yang memang suka menggoda perempuan. tidak satu dua orang yang di buat baper olehnya. terkadang aku pun baper dengan kelakuannya yang manis kepadaku, wanita mana yang akan biasa-biasa saja jika ada pria yang memperlakukannya dengan manis?



Jujur rasanya aku ingin sekali jadi orang egois untuk memiliki Aldi sepenuhnya tanpa ada orang lain di hatinya, tapi aku tidak setega itu. meskipun aku ingin, tapi aku masih bisa menghargai perasaan Raina yang bersetatus sebagai kekesihnya.



Kadang aku juga bertukar kabar dengan Raina, memberi nasihat atau apapun untuk membantu kelancaran hubungannya dengan Aldi, bukan hanya Raina yang mengadu, tapi Aldi pun sering mengadu atau bercerita tentang bagaimana hubungannya dengan Raina. sakit sih tapi aku tidak peduli dengan perasaanku, aku hanya mendengarkannya dan kadang memberi masukan untuk mereka, aku berlaga seperti tidak apa-apa tapi jauh di dalam hati ku, aku sakit, bahkan sangat sakit.


__ADS_1


__ADS_2