Cinta Berawal Dari Mimpi

Cinta Berawal Dari Mimpi
Chapter 12


__ADS_3

Setelah mendatangi rumah Aldi beberapa hari yang lalu dan mengetahui kenyataan bahwa Aldi pergi ke Malaysia bertemu dengan orang tua Raina, aku tidak lagi banyak bicara kepada orang lain bahkan kepada kedua sahabatku. aku lebih suka diam di kamar tanpa melakukan apapun.


Mungkin ini sudah jalan tuhan untuk aku berhenti mengharapkan Aldi. Mulai saat ini aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan berusaha untuk melepaskan Aldi dan mencoba untuk menghapuskan perasaan ini terhadapnya. Aku tidak mau berlarut dalam kesedihan. selama ini aku terlalu banyak berharap.


Dua minggu Aldi tidak masuk kuliah, dan aku mulai terbiasa tanpa kehadirannya. semoga ini awal yang baik. dengan ketidak adaannya Aldi setidaknya sedikit lebih membantu aku untuk melupakannya.


Semoga saja Aldi tidak kembali lagi kesini dan kembali meruntuhkan pertahananku. Sekarang aku sudah sedikit terbiasa tanpanya, dan aku mohon jangan kamu muncul lagi di hadapanku karna itu hanya akan membuat aku kembali goyah.


Ku keluarkan novel dari dalam tasku dan membacanya. Kedua sahabatku telah pergi ke kantin untuk membeli minuman. Sekitar sepuluh menit akhirnya mereka kembali dan Fitria memberikan satu cup lemon tea kesukaanku. aku menerimanya dan tidak lupa untuk mengucapkan terima kasih.


Aku kembali membaca novelku sembari mendengarkan pembicaraan antara Ayuni dan Fitria yang sesekali aku pun ikut dalam pembicaraan mereka, sesekali juga aku meminum lemon tea yang Fitria belikan ketika satu suara mengagetkanku.


"Vina I miss you!" teriakan yang membuat aku tersedak minuman yang kebetulan saat itu sedangku minum. aku melirik kearah asal suara dan kulihat di depan pintu kelasku ada Aldi yang sedang tersenyum kearahku.


Ku akui aku merindukannya, tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa Aku akan melupakannya.


Bukan hanya aku yang terkejut dengan teriakan dan kehadiran Aldi tapi kedua sahabatku dan semua yang ada di dalam ruangan ini pun terkejut. Fitria dan Ayuni mengelus-ngelus pelan punggungku. Aku mengabaikan teriakan dan senyuman Aldi lalu kembali melanjutkan membaca novel yang barusan tertunda gara-gara teriakan Aldi.


Dia bilang dia merindukan aku. sama aku juga merindukannya. Kulirik kearah Aldi sekilas, aku bisa melihat senyum manis Aldi yang sedang berlari-lari kecil kearahku, aku msih mengabaikannya hingga sekarang Aldi sudah berada di hadapanku.


Aku ingin memeluknya sekarang juga tapi ku urungkan keinginanku itu dan masih terus terdiam mengabaikan panggilan-panggilan Aldi. Merasa risih dengan pandangan Aldi kearahku, akhirnya aku mendongakan wajahku dan menatap kearah Aldi, aku ingin menangis tapi aku coba tahan sekuat tenaga agar air mata itu tidak keluar dari persembunyiannya.


"Kamu gak rindu aku Vin?" Tanya Aldi.


Aku ingin berteriak didepan wajahnya saat ini juga bahwa aku sangan merindukan dirinya. Tapi lagi-lagi aku hanya bisa mengucapkan itu dalam hati.


Aku masih mempertahankan muka datar dan dingin kepadanya. aku tidak ingin pertahananku yang sudah ku bangun selama Aldi tidak ada hancur begitu saja hanya karna satu kata 'RINDU' yang keluar dari mulutnya. Aku masih diam menatap mata Aldi yang juga sedang menatapku.


"Iya deh, maafin aku karna pergi gak bilang-bilang kamu. Aku di kasih tau kak Aldo kalau kamu nyari aku sampe rumah. maafin aku yah?" ucapnya sambil mengelus lembut pipiku dengan jarinya. Hangat, itulah yang aku rasakan saat ini, tapi aku cepat-cepat menepis tangan Aldi yang sedang mengelus pipiku, sebenarnya aku tidak mau itu cepat berakhir tapi aku juga gak mau luluh dengan mudah cuma karena sikapnya yang manis seperti ini. Aku ingin dia tahu bahwa dia tidak bisa semudah itu mempermainkan perasaan aku sekarang.


Sudah cukup aku berjuang sendiri selama ini, menahan sakit hati karenanya. Sedangkan dia bebas sesuka hati bahagia bersama perempuan lain, meskipun itu dengan kekasihnya sendiri. Tapi ini tidak adil bagiku,dia selalu memperlakukanku manis selayaknya seorang kekasih, sehingga tidak ada laki-laki yang berani mendekatiku gara-gara Aldi yang selalu berada disampingku.


Mata kuliah hari ini sudah selesai, aku dan kedua sahabatku berniat untuk pulang bersama dan mampir ke café langganan kami bertiga. Tapi baru saja kami bertiga sampai di parkiran untuk mengambil kendaraan masing-masing, sebuah suara yang sudah sangat ku hapal membuat langkahku berhenti.


Ayuni dan Fitria menengok kebelakang melihat siapa yang memanggilku, tapi tidak dengan aku yang hanya terdiam dan tidak berniat untung menghadap kebelakang, ku dengar suara langkah yang semakin mendekat, dan kurasaan tepukan dari Ayuni dan bisikan dari Fitria yang menyuruhku untuk menyelesaikan masalahku dengan Aldi terlebih dahulu, aku hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Vin, kamu kenapa sih jadi beda banget sama aku?" Tanya Aldi

__ADS_1


"Gak apa-apa kok aku biasa aja, mungkin itu cuma perasaan kamu aja," elakku mencoba sebiasa mungkin.


"Kamu makin ngejauh dari aku Vin, aku punya salah sama kamu?" tanyanya lagi.


"Ya, kamu salah Al, kamu salah udah mainin perasaan aku." Inginnya aku berteriak seperti itu, tapi aku gak sanggup, aku hanya bisa mengatakan itu dalam hati.


"Gak kok, aku gak ngejauh dari kamu," jawabku sambil tersenyum, lebih tepat nya fake smile.


"Dua minggu lalu Raina datang kesini nemuin aku. Dan aku yakin kamu pasti liat aku sama Raina saat di parkiran, karena waktu itu aku emang ngajak kamu pulang bareng kan?" aku mengangguk dan menunggu kelanjutan cerita Aldi.


Kini kami berdua tidak lagi berada di parkiran tapi sudah duduk di bangku taman depan kampus.


"Raina cerita sama aku kalau dia di jodohin sama orang tuanya. Dan selama dua minggu disana aku mencoba bicara sama orangtua Raina, tapi orangtua Raina tetap gak bakal ngebatalin perjodohannya, dan Akhirnya aku mutusin buat pisah sama Raina, dan ngebiarin Raina nikah sama laki-laki pilihan orang tuanya," jelas Aldi panjang lebar. Aku merasa kasihan pada Raina dan Aldi. mereka harus terpaksa pisah karna perjodohan, padahal mereka berdua saling mencintai. Aku hanya menepuk bahu Aldi untuk menenangkannya.


Ada perasaan senang dalam hatiku mendengar Aldi dan Raina putus, tapi aku juga merasa sedih melihat Aldi yang sedih seperti ini, aku tahu Aldi sangat menyayangi Raina.


Setelah mendengar cerita Aldi tadi aku langsung pergi menuju café yang dimana kedua sahabatku menunggu sedari tadi. Kurang lebih satu jam aku dan Aldi mengobrol, lebih tepatnya Aldi bercerita. aku bisa menangkap raut wajah Aldi yang sedih saat bercerita tentang Raina tadi.


Meskipun mereka sudah putus, bukan berarti aku bisa lebih punya kesempatan untuk mendapatkan Aldi, karna sedikitpun Aldi tidak pernah mempunyai perasaan lebih terhadapku. Dia hanya menganggapku sahabat dan itu tidak akan pernah berubah.


"Gimana Vin?" Tanya Fitria


"Tidak bisakah kalian membiarkan aku duduk dan minum terlebih dahulu" kataku kesal dengan kekepon sahabatku satu ini.


"Hehe silahkan duduk tuan putri, dan ini minumanmu, sudah aku pesankan" ucap Fitria sembari menyodorkan aku minuman. Aku menghela napas panjang lalu menceritakan semuanya kepada mereka berdua.


"Berarti ini kesempatan kamu untuk menggantikan posisi Raina di hati Aldi Vin," ucap Fitria lagi. Lagi-lagi aku menghela napas


"Meskipun mereka sudah putus, aku tetap gak punya kesempatan untuk menggantikan Raina di hati Aldi, dia hanya menganggapku sahabatnya, dan itu tidak akan pernah berubah," jelasku pada mereka.


"Udah lah, Vin cari yang baru aja, jangan nunggu dia terus, aku gak tega sama kamu," kali ini Ayuni yang bicara. Aku hanya tersenyum dan mengangguk.


Sepulangnya dari cafe, kulihat ada Aldi yang sudah berdiri didepan pintu Apartemenku. segera kuhampiri Aldi yang sedang tersenyum manis kearahku. Aku gak tau harus balas tersenyum atau masih menampilkan muka datar seperti tadi pagi kepada Aldi, aku takut Aldi mengira aku bahagia karna putusnya hubungan Aldi dan Raina. Padahal aku saja bingung harus bagaimana bersikap kepadanya.


"Baru pulang? Abis dari mana?"


"Iya, dari café kumpul sama Ayuni juga Fitria," jawabku jujur, dia hanya mengangguk tanda mengerti. Setelah itu diam lagi.

__ADS_1


"Gak mau bukain pintunya dan nyuruh aku masuk gitu?" Tanya dia yang menyadarkan lamunanku. Ku ambil kunci dari dalam tasku dan membuka pintunya lalu menyuruh Aldi untuk masuk kedalam.


"Mau minum apa?" tanyaku kepada Aldi yang sudah duduk di kursi dan menyalakan televisi.


"Gak usah, nanti biar aku ambil sendiri aja," jawabnya yang hanya ku jawab dengan anggukan. Aku duduk di sebelah Aldi yang masih sibuk mencari siaran yang seru, dan akhirnya dia berhenti pada saat menampilkan siaran naruto kesukaannya. Suasana masih canggung menurutku, karna biasanya memang aku yang selalu banyak bicara jika Aldi sedang main kesini atau saat kami sedang berdua, tapi kali ini tidak ada satupun pembicaraan yang keluar dari aku maupun Aldi.


"Al, aku ke kamar dulu ya, mau mandi sebentar," kataku hati-hati, Aldi hanya mengangguk sebagai jawaban, aku pun langsung pergi kekamar.


Sekarang aku berada didapur untuk memasak makan malamku dan Aldi, karna sepertinya Aldi juga belum berniat untuk pulang. Biasanya kalau aku sedang masak seperti ini Aldi selalu menghampiriku, meskipun dia Cuma akan merecokiku memasak, meskipun aku terkadang kesal tapi sekarang aku merasa sepi, aku bingug dengan sikaf Aldi hari ini, apa mungkin dia masih sedih karna putusnya sama Raina, atau ada hal lain yang membuat Aldi seperti ini.


Selesan masak aku pergi keruang tengah untuk menghampiri Aldi, ku lihat ternyata Aldi sedang tertidur di kursi, aku gak tega membangunkannya, tapi ini juga udah saatnya makan malam, dan aku yakin Aldi pasti belum makan dari tadi.


Ku hampiri Aldi dan ku bangunkan dia, Aldi bukan tipe yang susah dibangunkan, karna secape dan senyenyak apapun dia tidur pergerakan sekecil apapun dia akan peka dan langsung bangun, tapi sayangnya, dia gak sepeka itu sama perasaanku.


"Bangun yuk, makan dulu?" ucapku dan diangguki olehnya, dengan kesadaran yang belum sepenuhnya Aldi pergi ke kamar mandi yang berada di kamarku, karna memang di kamarku lah satu-satunya kamar mandi, makanya aku gak pernah ajak orang lain ke kosku, Cuma Aldi dan kedua sahabatku saja, jadi aku tidak masalah jika mereka masuk kamarku, karna mereka udah jadi bagian terpenting dalam hidupku, dan udah ku anggap sebagai keluargaku sendiri.


Tidak lama Aldi menghampiriku ke dapur dan duduk di kursi sebelahku. Ini memang bukan pertama kalinya kita makan berdua di apartementku, tapi tidak pernah sesunyi ini Aldi hanya pokus dengan makanannya begitupun dengan aku.


Selelas dengan makan malam kami, seperti biasa Aldi selalu yang mencuci piring-piring kotor bekas kami makan, aku hanya memperhatikannya yang sedang pokus dengan cuciannya, masih tidak ada yang membuka suara, aku yang sudah tidak tahan dengan keadaan canggung ini memikirkan apa yang harus aku bicarakan nanti.


Entah berapa lama aku melamun hingga aku gak sadar bahwa Aldi sudah berdiri di depanku, aku yang masih terduduk dikursi mendongakan kepalaku untuk melihat kearah mata Aldi, lama kita saling pandang hingga akhirnya aku memutuskan kontak mata kami karna jujur aku merasa gugup.


"Mau sampai kapan kaya gini" ucap Aldi yang membuat aku merasa bingung dengan maksud ucapannya, ku melihat kearahnya seakan bertanya "apa".


"Aku pegel loh, Vin berdiri gini terus,"


"Kalau pegel duduk dong, siapa suruh berdiri," jawabku dengan ketus.


"Ya, kamu ngapain masih disitu?" tanyanya lagi yang membuat aku mendengus sebal lalu berdiri.


"Kursi lain kan masih banyak, kenapa harus yang aku dudukin sih," jawabku kesal.


"Siapa juga yang mau duduk di kursi kamu."


"Ya terus?"


"Gak peka banget sih. Maksud aku tuh gak duduk di dapur tapi di ruang tengah," ucapnya lagi yang membuat aku misuh-misuh, padahal bilang kek dari tadi suruh pindah atau apa kek, ini malah diem berdiri doang. Gimana aku ngerti, bilang aku gak peka gak sadar apa dirinya ju gak peka. Tanpa memperpanjang lagi aku langsung berjalan dengan kesal menuju ruang tamu dengan muka cemberut.

__ADS_1


__ADS_2