
Siang ini aku berniat untuk menemui Aldi langsung karena dari kemarin Aldi tidak juga membalas pesanku.
Sesampainya aku di kampus aku langsung masuk ke kelas karena beberapa menit lagi dosen akan segera datang. ku lihat Aldi sudah duduk di bangkunya dan tersenyum kearahku saat aku masuk kekelas, ku abaikan Aldi dan langsung duduk di kursiku tidak lupa menyapa kedua sahabatku. Tidak lama dari itu dosen datang dan pelajaran pun dimulai.
"Baiklah anak-anak materi hari ini cukup, jangan lupa tugasnya di selesaikan dan seminggu lagi kumpulkan ke ruangan Bapak, terima kasih," ucap Pak Azrif selaku dosenku.
Setelah keluarnya Pak Azrif, aku cepat-cepat menghampiri Aldi yang sedang membereskan buku-bukunya.
"Al, nanti temuin aku jam dua siang di taman belakang kampus," ucapku lalu pergi begitu saja tanpa mendengar jawaban Aldi. Aku bisa melihat wajah kaget sekaligus bingung Aldi.
Jam baru menunjukan pukul satu siang, ada waktu satu jam lagi untuk aku bertemu dengan Aldi di taman nanti.
aku memutuskan untuk kekantin terlebih dahulu bersama kedua sahabatku.
"Vin mau pesan apa?" Tanya Fitria kepadaku
"Es teh manis hangat" jawabku asal
"Yang bener kali, Vin!" kata Fitria dengan wajah kesalnya.
"Hehe, Jus Mangga aja, Fit," ucapku yang diangguki Fitria, lalu dia pergi untuk memesan pesanan kami.
"Ay.." panggilku pada Ayuni
"kenapa Vin?"
"Gimana ya cara aku ngomong sama Aldi?" tanyaku pada Ayuni.
__ADS_1
"Ya ngomong tinggal ngomong aja, Vin, kayak yang gak pernah ngomong aja sih!"
"Maksud aku ngomongin tentang hubungan aku sama Aldi, Ay, aku bingung dari mana harus mulai ngomongnya."
"Maksudnya gimana sih, Vin?" Tanya Ayuni dengan wajah bingung.
"Aku mau memperjelas hubungan aku sama Aldi, Ay,"
"Kan kamu tau sendiri Vin, Aldi udah punya Fania sekarang."
"Iya aku tau Ay, makanya aku pengen memperjelas sama Aldi. Aku juga pengen bahagia Ay, meskipun gak sama Aldi."
"Ya udah kamu bilang aja sama Aldi, mau dibawa kemana hubungan kalian. kalau emang Aldi sayang sama kamu, aku yakin Aldi bakalan lebih milih kamu dari pada Fania," ucap Ayuni menasehati.
Tepat pukul dua siang aku sudah tiba di taman belakang kampus untuk bertemu dengan Aldi, tapi udah sepuluh menit Aldi belum juga datang.
Aku mengambil novel dari dalam tasku dan membacanya sambil menunggu Aldi datang. Aku melirik jam dipergelangan tanganku sudah pukul setengah tiga lebih, berarti sudah tiga puluh menit aku menunggu tapi Aldi belum juga datang.
"Vina, kamu melamun?" Tanya Aldi
"Ah.. eng-gak ko," jawabku terbata.
"Aku udah panggil kamu beberapa kali loh Vin, tapi kamu gak denger," ucap Aldi, aku diam.
"Tuh kan kamu malah ngelamun lagi, kenapa sih Vin? Sini cerita sama aku,"
Sebenarnya aku memikirkan harus dari mana aku mulai berbicara kepada Aldi, aku bingung, dan sebenarnya aku belum siap dengar jawaban Aldi nanti.
__ADS_1
Aku selalu berpikir apakah aku bisa tanpa Aldi, tapi jika begini terus Aldi tidak akan pernah menghargai perasaanku.
Aku menghela napas panjang sebelum akhirnya aku bicara.
"Al, aku mau tanya sebenarnya kita ini apa?" tanyaku pada Aldi langsung pada intinya.
"Maksud kamu?" tanyanya dengan wajah bingung.
"Maksud aku, kamu sayang gak sama aku?" tanyaku pada Aldi.
"Vin, dengar ya aku tuh sayang banget sama kamu, kamu sahabat terbaik buat aku Vin," ucapnya, aku memang sakit hati mendengar jawaban Aldi, 'sahabat' kata itu yang selalu Aldi ucapkan padaku. Tapi mau gimana lagi itu memang kenyataannya, aku memang sahabat Aldi kan?
"Oh cuma sahabat ya, hmm," gumamku agak kecewa.
"Maksud kamu apa sih?" tanyanya lagi.
"Al, kamu sadar gak, kamu udah nyakitin aku. kamu gak ngehargain perasaan aku, kamu tau aku suka sama kamu udah dari dulu, tapi kamu seolah gak peduli. Kamu bebas bisa dekat dengan perempuan-perempuan lain. Kamu bebas bisa pacaran sama perempuan lain, tapi aku? aku gak bisa Al !!" jelasku panjang lebar.
"Vin, tapi aku gak pernah ngelarang kamu deket sama laki-laki lain, aku gak pernah larang kamu pacaran sama laki-laki lain."
"Iya kamu emang gak pernah larang aku Al, tapi hati aku, dan perlakuan kamu ke aku yang buat aku gak pernah dekat dengan laki-laki lain." jelasku dengan mata berkaca-kaca
"Kamu egois Al, kamu cuma mentingin perasaan kamu aja, tapi kamu gak peduli sama perasaan aku. aku serasa jadi orang bodoh tau gak! aku pengen bahagia juga Al, meskipun gak sama kamu. jadi tolong lepasin aku!" Ucapku dengan air mata yang sudah turun dengan derasnya.
"Kamu emang gak ngegenggam aku, Al tapi sikaf kamu ngelakuin itu. aku udah mencoba untuk jauhin kamu, lupain kamu, tapi apa? Disaat aku udah ihklas kamu datang lagi memberi sejuta harapan sama aku, tapi disaat aku mulai nyaman lagi sama kamu, kamu pergi gitu aja. Kamu selalu minta maaf, dan dengan gampangnya aku maafin kamu, tapi kamu ulangi lagi, kamu gak ngertiin perasaan aku. Sekarang tolong lepasin aku, jika kamu memang gak mengingin kan aku. aku cape, Al. Aku pengen bahagia juga. bahagia seperti kamu sama Fania," jelasku panjang lebar masih dengan tangis.
"Maafin aku Vin. Maafin aku kalau aku emang udah nyakitin hati kamu, maafin aku kalau aku udah gak ngehargain perasaan kamu, aku tau aku salah. Aku gak mau kehilangan kamu Vin, aku sayang sama kamu. Sekarang aku pengen kamu cari laki-laki lain yang lebih baik dari aku, yang bisa ngehargain perasaan kamu. Yang tulus sayang sama kamu. Aku lepasin kamu Vin, maafin semua kelakuan aku, aku gak bermaksud buat kamu terluka kayak gini," ucap Aldi.
__ADS_1
Mendengar perkataan Aldi barusan aku bisa menyimpulkan bahwa Aldi memang tidak menginginkan aku, dan dia memilih melepaskan aku dari pada mempertahankan aku.
Berarti aku memang harus pergi dari kehidupan Aldi, sekarang aku udah tau jawabannya. aku hanya berharap semoga tidak ada penyesalan nantinya.