Cinta Berawal Dari Mimpi

Cinta Berawal Dari Mimpi
Episode 5


__ADS_3

Aku sedang menunggu kedua sahabatku sambil memanikan ponselku di sebuah bangku yang dekat dengan parkiran khusus sepeda motor.



Tidak lama aku mendengar suara Fitria yang memanggilku dengan suaranya yang amat sangat berisik itu, kadang aku malu punya sahabat seperti Fitria tapi mau bagaimana lagi inilah persahabatan kami yang apa adanya, meskipun malu-maluin tapi aku sayang dia.



Dari kejauhan aku melihat dua orang yang sedang mengobrol di bangku depan kelas yang akan aku dan kedua sahabatku itu masuki sedang asyik bermesraan.



Melihat itu entah kenapa aku merasa tidak suka, hatiku sakit. Apakah aku menyukai dia? Aku segera menepis pemikiran itu semua, aku harus sadar kalau dia sudah memiliki pasangan. aku tidak ingin di cap sebagai perusak di hubungan mereka.



Aku berjalan sambil menunduk karna tidak ingin melihat mereka berdua, ya siapa lagi kalau buka pasangan yang paling manis dan selalu romantis itu jika bukan Aldiansyah dan Raina.



Dekat semakin dekat dan dadaku semangin berdetak dengan kencang, aku melewati mereka masih dengan kepala menunduk, aku tidak kuat melihat kemesraan mereka, apakah aku cemburu? entahlah aku juga belum yakin dengan perasaanku yang sebenarnya. Aku memasuki kelasku sembari menghela napas lega.



Ayuni dan Fitria yang menyadarinya melihatku heran dan mencoba mencari jawaban atas tingkah ku dan bertanya ada apa namun aku hanya menggeleng dan tersenyum kepada mereka dan segera menuju ke mejaku untuk menghindari pertnyaan-pertanyaan mereka yang mungkin akan membuat aku bingung untuk menjawbnya. untuk saat ini aku belum siap untuk menceritakan semuanya kepada sahabatku.



***



Mata kuliahku sudah selesai dari beberapa menit yang lalu namun aku dan kedua sahabatku belum berniat untuk beranjak dari tempat kami masing-masing.



Aku ingin sekali menceritakan semuanya kepada sahabatku. aku ingin meminta pendapat mereka tentang keputusan apa yang harus aku ambil.

__ADS_1



Namun Aku bingung harus mulai dari mana menceritakan ini semua kepada mereka berdua, aku takut terlalu berharap kepadanya apa lagi sekarang dia telah memiliki kekasih, dan aku bisa lihat dari matanya kalau dia memang benar-benar mencintai kekasihnya.



Haruskah aku merusak hubungan dan kebahagian mereka? Haruskah aku menjadi orang jahatnya disini? Berbagai pertanyaan kini memenuhi pikiranku, aku bisa gila jika terus-terusan seperti ini. Ingin aku berteriak sekencang-kencangnya saat ini.



Fitria pamit pulang terlebih dahulu karna baru saja mendapati pesan dari kekasihnya bahwa dia sudah menunggu. Kini tinggal aku dan Ayuni yang tersisa, kami memutuskan untuk pergi ke café depan kampus untuk hanya sekedar meminum coffe.



Setelah aku pikir-pikir aku memutuskan untuk menceritakan tentang masalahku kepada Ayuni karna aku yakin Ayuni tidak akan membocorkannya kepada siapapun termasuk kepada Aldiansyah Putra yang menjadi penyebab masalah yang menjadi pikiranku



Aku dengan ragu menceritakan semuanya kepada Ayuni dari mulai mimpi itu hingga perasaan anehku sekarang jika melihat kebersamaan Aldi dan Raina, aku berharap semoga Ayuni tidak menertawakanku.




"Ku rasa kamu mulai menyukainya deh, Vin. Beberapa kali aku melihat wajah murungmu ketika melihat Aldi dan Raina sedang bersama. Aku yakin itu kamu sedang cemburu, dan untuk soal mimpi itu, terdengar konyol sebenarnya, tapi aku rasa kamu harus mencoba memperjuangkannya, siapa tau suatu saat nanti mimpi itu akan menjadi indah." Jawab Ayuni panjang lebar.



***



Aku sudah sampai ke apartemen beberapa menit yang lalu dan memutuskan untuk mandi terlebih dahulu lalu mengerjakan tugas kemarin yang belum aku selesaikan.



Jam sudah menunjukan pukul 23:45 dan aku masih juga belum bisa tidur, aku terus menerus kepikiran dengan apa yang tadi sore Ayuni katakan, aku bingung haruskah aku memperjuangkan dan mempertahankan-nya , akankah aku sanggup, dan apakah Aldi juga akan membalas perasaanku ini.

__ADS_1



***



Aku dan kedua temanku berada di kantin untuk sarapan sambil menunggu jam kuliah yang baru akan di mulai sekitar satu jam lagi. Tengah asik mengobrol tak sengaja aku melihat dua insan yang baru saja datang dan duduk tepat di depan meja yang aku duduki, siapa lagi kalo bukan Aldi dan Raina.



Mau tak mau apa yang mereka lakukan itu terlihat jelas oleh mataku. Mataku seolah panas melihat kemesraan mereka. Aku ingin menangis melihat mereka, tapi aku tidak berhak untuk itu, aku bukan siapa-siapanya.



Ayuni yang menyadari sikaf ku yang tiba-tiba diam kini mengikuti arah pandanganku, seakan mengerti dengan keadaanku Ayuni segera mengajakku dan juga Fitria pergi dari kantin.



"Vin, sepertinya kamu memang menyukainya. Dan saranku sebaiknya kamu mencoba melupakan dia deh, aku tau itu berat tapi aku juga gak mau kamu sakit hati terus menerus melihat ini setiap hari," jelas Ayuni.



"Tapi bukankah kamu kemarin yang bilang untuk memperjuangkan dan bertahan? Kenapa sekarang malah menyuruhku melupakannya?" tanyaku heran dengan pendapat ayuni yang berbeda dengan kemarin.



"Ya awalnya aku ingin kamu memperjuangkannya. Tapi setelah aku melihat tadi, aku yakin bahwa kamu memang harus melupakannya bersama perasaan yang kamu punya, aku tidak mau ngeliat kamu sedih dan sakit saat melihat kemesraan mereka. Dan apa kamu ingin menjadi perusak antara mereka, kamu bisa lihatkan betapa saling cinta-nya mereka. Apa kamu tega merusak kebahagian orang yang sudah kamu anggap sebagai adik kamu sendiri itu? coba kamu pikirkan sekali lagi Vin," kata Ayuni mengingatkan.



Aku masih kepikiran dengan apa yang kemarin Ayuni katakana, aku mencerna semua pertakaan Ayuni, dan setelah ku pikir-pikir mungkin memang sudah seharusnya aku melupakan dan menghilangkan perasaan ini, aku tidak boleh egois hanya mementingkan perasaanku saja, aku juga harus memikirkan perasaan orang lain.



Aldi adalah temanku dan Raina sudah ku anggap seperti adikku sendiri. Dan kini aku sudah memutuskan untuk melupakan semuanya dan membuang jauh-jauh perasaanku terhadap Aldiansya.


__ADS_1


Kini aku mencoba bersikap biasa kepada Aldi dan juga Raina dan sesekali aku mencoba meledek kemesraan mereka, meskipun awalnya sakit tapi aku akan mencoba membiasakan-nya. Meskipun perasaan ini belum hilang sepenuhnya setidaknya aku sudah berusaha melupakannya.



__ADS_2