Cinta Berawal Dari Mimpi

Cinta Berawal Dari Mimpi
Episode 9


__ADS_3

Banyak orang yang menyangka jika aku dan Aldi adalah sepasang kekasih. begitu juga dengan kedua sahabatku, mereka menyangka bahwa aku dan Aldi sudah jadian, lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum paksa karna semua perkiraan mereka hanyalah mimpi bagiku.


Bahkan ada beberapa perempuan yang di dekati Aldi tapi mereka tidak terlalu menggubrisnya karna merasa tidak enak hati pada-ku. mereka takut aku marah. rasanya aku ingin tertawa saat mendengar berita itu dari kedua sahabatku.


Jujur, aku ingin marah kepada siapa saja yang dekat dengan Aldi, tapi aku sadar siapa aku, aku hanya temannya yang merangkap menjadi sahabatnya. Aku cemburu. tapi aku tidak berhak untuk semua itu.


Aku berterima kasih kepada mereka yang masih menghargai perasaanku meskipun aku tau mereka menyimpan rasa kepada Aldi.


Bukan keinginanku untuk menjalani hubungan tanpa status seperti ini, pernah saat itu aku bertanya pada Aldi mengenai setatus kita, tapi Aldi menjawab bahwa status tidaklah penting selagi kita masih bisa bersama dan merasa nyaman satu sama lain. Ya, aku juga sempat berpikir seperti itu, tapi aku juga perempuan yang butuh kepastian dan pengakuan, aku tidak ingin seperti ini terlalu lama.


Ternyata memang benar kata-kata di beberapa novel yang pernah aku baca, bahwa persahabatan antara perempuan dan laki-laki tidak pernah murni, pasti ada salah satu yang menyimpan hati, ya sekarang aku harus mengakui bahwa itu benar adanya, dan kini aku makin terjebak dalam persahabatan aku dengan Aldi.


Semakin hari perasaanku terhadap Aldi semakin tumbuh, perasaan yang berawal hanya dari sebuah mimpi itu hingga membuat perasaanku semakin dalam dan semakin sulit aku lupakan bahkan untuk melepaskannya.



Entah sejak kapan Aldi dekat dengan Riska teman satu jurusanku yang berarti satu jurusan juga dengan Aldi. Sekarang Aldi menjadi lebih sering bersama Riska dibandingkan aku, meskipun Aldi masih sering menjemputku untuk berangkat bersama, tapi jika pulang Aldi lebih sering bersama Riska, untung saja Apartemenku tidak terlalu jauh letaknya dari kampus, jadi aku tidak terlalu susah untuk pulang, karna masih ada bus atau angkutan umum yang bisa mengantar aku pulang ke apartemen. karna semenjak Aldi sering menjemput dan mengantarkan aku pulang, aku mejadi tidak pernah memakai kendaraan sendiri.


Aku ingin marah rasanya karna kini Aldi lebih memilih mengantarkan orang lain dari pada aku, tapi lagi-lagi aku harus ingat bahwa aku hanyalah temannya dan aku tidak berhak melarangnya.


Terhitung sebulan kedekatan Aldi dengan Riska, dan membuat aku jarang bertemu bahkan sekedar mengobrol seperti dulu. aku ingin menangis. jujur aku cemburu pada Riska, karna dia baru mengenal Aldi tapi dia dengan mudahnya mendapatkan hati Aldi, sedangkan aku, aku yang sudah lama dekat dengan Aldi bahkan aku yang selalu menemani hari-hari Aldi sejak setahun belakangan ini tapi tak kunjung juga mendapatkan hatinya.


Aldi tidak pernah berniat menjadikan aku kekasihnya, entah apa alasannya. entah karna Raina, atau mungkin dia memang tidak menyukaiku.


Pagi ini aku kekampus sendirian karna semalam Aldi mengirim ku pesan bahwa dia akan berangkat bersama Riska, aku hanya bisa menangis dan tidak membalas pesan dari Aldi, aku kira dia akan tetap berangkat denganku meskipun dia sedang dekat dengan perempuan lain, tapi nyatanya tidak.


Aku berjalan lemas menuju kantin tempat dimana kedua sahabatku berada sekarang, aku menghampiri Ayuni dan Fitria dan duduk di bangku yang kosong di sebelah Ayuni.

__ADS_1


"Aduh lemes banget sih sahabatku ini, kenapa hhemm?" Tanya Ayuni sedikit meledekku dan aku hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban bahwa aku tidak apa-apa.


"Pangerannya kemana, kok tumben gak bareng?" tambah Fitria yang ikut meledekku aku hanya terdiam dan mengabaikan ledekan mereka karna sungguh aku sedang tidak mood membahas Aldi saat ini.


"Oh ternyata itu alasannya. Pantes lesu banget, padahal masih pagi," ucap Fitria yang membuat aku menatap bingung kearahnya.


Mengerti dengan kebingunganku Fitria lalu menunjuk kearah belakangku dengan dagunya, akhirnya Ayuni dan aku mengikuti arah yang Fitria tunjuk dan membuat aku semakin lemas saja.


kulihat di belakangku ternyata ada Aldi yang sedang makan berdua dengan riska. Aku membuang napas kasar dan menelungkupkan wajahku pada meja. Aku merasakan ada tangan yang mengelusku, dan aku yakin bahwa itu adalah Ayuni yang melakukannya,


"Yang sabar ya, Vin." Fitia mencoba menenangkanku.



Hari ini, aku dan kedua sahabatku akan pergi bersama untuk sekedar bermain di timezone dan makan es krim di tempat langganan kami.


Hanya untuk mengembalikan mood-ku kedua sahabatku rela mengeluarkan sebagian uangnya untuk meneraktirku hari ini, sungguh baik sekali mereka, dan aku tidak ingin mengecewakan niat baik mereka, makanya aku memilih melupakan kejadian tadi terlebih dahulu selagi aku masih bersama kedua sahabatku, karna aku yakin jika saat aku sendiri aku akan kembali menangis karna Aldi.


Aku masuk kekamar mandi untuk membersihkan tubuhku yang sudah lengket dengan keringat karna hampir seharian ini melakukan banyak kegiatan bersama kedua sahabatku.


Sekitar dua puluh menit aku selesai mandi dan keluar sudah memakai piyama panda kesukaanku. ku baringkan tubuhku di empuknya ranjang, karna merasa sangat lelah. tidak butuh waktu lama untuk aku tertidur dengan pulas.


Aku terbangun pada saat jam sudah menunjukan pukul sepuluh siang. ternyata aku tertidur lama. untung saja hari ini tidak ada jadwal ngampus jadi aku bisa santai seharian.


Biasanya jika hari libur seperti ini Aldi akan mengajakku kerumahnya, atau hanya sekedar jalan-jalan ditaman. Sungguh aku merindukan saat-saat itu, tapi sekarang sudah ada yang menggantikan posisiku yaitu Riska, sedih sih tapi mau gimana lagi, mau tak mau aku juga harus terbiasa dan kembali berusaha melupakannya lagi.


Ku langkahkan kaki menuju dapur dan membuka kulkas untuk mengambil susu kesukaanku dan meminumnya lalu berjalan menuju kamar lagi karna tidak ada yang aku lakukan hari ini, merasa bosan akhirnya aku memutuskan untuk pergi berbelanja dan akan memasak hanya untuk mengisi waktu kosongku, dan tentunya tidak lupa untuk mengajak kedua sahabatku.

__ADS_1


Sebelum pergi ke supermarket aku menyempatkan menelpon Ayuni dan Fitria untuk datang ke Apartemenku. jika sudah bilang aku ingin membuat acara memasak, sudah pasti kedua sahabatku itu tidak akan pernah menolak untuk datang kesini.


Sepulangnya dari berbelanja aku mendapati kedua sahabatku sudah menunggu di depan Apartemenku. aku hanya menggelengkan kepala dengan kelakuan mereka, ku hampiri mereka berdua dan menyuruhnya masuk setelah aku membukakan pintu yang sedari tadi terkunci.


"Giliran makanan aja cepet banget kalian sampe sininya," kataku mencibir. Mereka hanya cengengesan lalu mengikuti ku kedapur. aku sudah tidak heran lagi dengan tingkah mereka.


Ku susun bahan-bahan yang tadi aku beli di supermarket, dan memisahkannya apa yang akan aku masak hari ini. Setiap aku mengajak kedua sahabatku ini untuk memasak mereka hanya duduk manis di kursi meja makanku dan membiarkan aku berkutat dengan barang-barang dapurku seorang diri. sungguh tidak tau diri sekali mereka ini. datang kesini hanya untuk makan saja, padahal aku mengundangnya untuk memasak.


"Kalian berdua tidak ada yang mau membantuku?" kataku mencoba meminta bantuan, dengan serempak mereka menggeleng yang membuat aku mendengus kesal.


"Biar aku yang membantu..." Senyumku mengembang, karna ternyata Ayuni mau membantuku.


"Menghabiskan masakanmu," lanjut Ayuni yang membuat senyumku perlahan pudar, memang aku tidak bisa berharap banyak pada mereka jika sudah urusan masak, aku hanya menghela napas kasar dan melanjutkan acara memasakku tanpa menghiraukan mereka berdua.


Selesai dengan acara memasakku, ku lihat kedua sahabatku sudah terlihat seperti anjing lapar yang siap menerkam makanan yang berada di depannya. aku mendengus kesal saat sudah meletakan semua masakanku di meja makan yang sudah di huni kedua sahabatku dari tadi.


"Selamat makan," seru Ayuni dan Fitria berbarengan.


"Giliran makan aja cepet banget," gerutuku pada mereka berdua, tapi dengan tidak tau malunya mereka hanya tersenyum tanpa dosa dan mengabaikan cibiranku. Harus banyak sabar jika punya sahabat seperti mereka. Sekali lagi aku menghela napas kasar sebelum melanjutkan makan.


Selesai dengan acara makan-makan, kami melanjutkan dengan menonton film di laptopku yang beberapa hari yang lalu ku download. Tak terasa kini sudah pukul lima sore, tapi kedua sahabatku tidak berniat untuk pergi dari kamarku. Haruskah aku mengusir mereka? Ucapku dalam hati.


"Vin, kita nginep disini ya, besok juga masih libur," kata Fitria yang di angguki Ayuni.


"Memang orang tua kalian ngizinin?" tanyaku meremehkan.


"Tenang aja kami udah izin dari tadi sebelum kesini, dan kami juga udah bawa baju ganti." kini giliran Ayuni yang menjawab dan Fitria yang memperlihatkan isi tasnya, dan benar saja mereka sudah sangat siap, dan sepertinya memang sudah niat banget untuk menginap di tempatku.

__ADS_1


Aku hanya mengangguk dan berjalan menuju kedapur untuk mengambil cemilan yang tadi sempat aku beli, lalu kembali lagi kekamar.


"Dari tadi kek, Vin," ucap Fitria sambil merebut toples yang berisi cemilan dari tanganku. Aku hanya menghela napas sabar dengan kelakuan kedua temanku.


__ADS_2