Cinta CEO Pesakitan

Cinta CEO Pesakitan
Episode 10. Tuan Mu.. Qen


__ADS_3

Qenny menuju ruangan HRD, seperti yang di perintahkan oleh Altezza tanpa mau berbasa-basi dengan Ara. Sejujurnya dia tidak menyukai wanita yang munafik seperti gadis yang bersedia memberikannya tempat tinggal selama beberapa hari di apartemen yang disewakan oleh perusahaan.


Wajah tampannya seketika murung, duduk terdiam menantikan manager HRD yang akan memberikan baju dinas pada Qenny. Dia tidak ingin melanjutkan pekejaan ini. Dia ingin sekali berhenti disini, karena merasa kesal pada wanita bernama Ara. 'Apakah dia seorang simpanan?'


Qenny menoleh kearah yang berbeda, melihat sosok wanita cantik yang dia temui di dalam lift beberapa waktu lalu. Wajah anggun, dan tampak pendiam hanya sibuk dengan pekerjaannya. 'Siapa nama gadis itu? Apakah dia orang biasa? Aaaagh ... Tapi aku masih penasaran dengan Ara. 'Qenny tenang ... Jangan gegabah, lakukan tugas mu sesuai perintah majikan ...' batinnya kembali berteriak kesal.


Setelah menandatangani surat kontrak kerja dengan upah yang hanya mencongkel tenggorokannya saja, Qenny bergegas keluar ruangan HRD mencari keberadaan Ara, karena perutnya terasa sangat lapar.


Benar saja, saat Qenny akan mengetuk pintu ruangan Altezza karena tidak dapat menemukan Ara di mejanya, dia mendengar suara dessahan seorang gadis yang tengah menikmati permainan pria laknat itu.


"Aaagh ... Siapa itu? Apakah Ara? Oooogh Tuhan, kenapa dia menolak ku sore itu? Namun, menerima perlakuan Tuannya. Aku harus mendapatkan wanita itu malam ini, untuk membalas sakit hatiku ..."


Qenny membalikkan tubuhnya, betapa terkejutnya dia saat melihat wajah Ara ada di hadapannya, "Astaga ... Ara!? Kam-ka-kamu, didalam ada siapa? Aku mendengar suara dessahan seorang wanita. Siapa itu ..."


Ara menautkan kedua alisnya, melihat pintu yang terbuka sedikit memastikan apa yang dilakukan Altezza didalam sana.


Betapa terkejutnya Ara saat melihat Altezza tengah membalikkan tubuh seorang gadis office girl dengan posisi membelakangi pria itu yang akan segera menghujamkan miliknya ke lembah gelap surga sang gadis dengan erangan yang membuat bulu kuduknya meremang seketika.


Tubuh Ara menggigil, merasakan sakit teramat sangat. Beberapa harapan yang dia harapkan pupus sudah karena perhatian sang direktur beralih pada wanita tinggi semampai sekelas office girl.


Ara menarik tangan Qenny, wajahnya merah padam, matanya berkaca-kaca bahkan akan mengalir deras butiran bening dari sudut mata indahnya.


Mereka menuju sebuah ruangan yang tampak tenang dengan berbagai macam desain gedung pencakar langit buatan salah satu arsitek yang sangat Qenny kenal. Seorang sahabat sekaligus orang kepercayaan sang Daddy yang masih muda dan sangat santai.


Qenny melihat foto dan prestasi Huang Zhong yang terpampang disana. Sontak saja dia menoleh kearah Ara yang masih dirundung kesedihan.


"Apakah kamu mengenal pria ini?" tunjuknya pada foto Huang.

__ADS_1


Ara mengangguk meng'iya'kan.


"Apakah dia berada di gedung ini?"


Ara kembali mengangguk.


"Hmm ..."


Qenny memikirkan, bagaimana caranya agar dia tidak bertemu dengan sahabatnya tersebut, karena akan berdampak pada penyamarannya saat ini.


Qenny duduk disebelah Ara, memangku tangan didada. Tanpa dia sadari gadis cantik yang tengah patah hati itu, menyandarkan kepalanya di bahu pria tampan tersebut.


"Apa rasanya sakit jika kecewa, Qen?" tanya Ara tanpa menoleh kearah Qenny.


Qenny yang kurang peka, hanya bisa terdiam menahan kepala wanita itu agar tetap tenang selama bersandar di bahunya.


Qenny hanya bisa menelan ludahnya sendiri saat terngiang suara dessahan wanita itu yang sangat menikmati permainan laki-laki brengsek itu pada tubuh sang gadis yang pendiam.


"Apa kamu pernah berkencan sebelumnya?" tanya Qenny tanpa suka berbasa-basi.


Ara menggelengkan kepalanya, "Semenjak kedua orang tua ku meninggal dunia, aku hanya fokus pada pendidikan dan mencari pekerjaan yang cukup layak untuk membiayai semua kebutuhan ku. Aku hanya gadis yang tumbuh di panti asuhan. Bagaimana dengan kamu? Apa kamu pernah berkencan dengan wanita seusia mu?" dia balik bertanya dengan menatap lekat wajah teman barunya itu.


Meletakkan tangannya di meja ruang meeting yang tampak tenang dan sepi tersebut, menepuk pipi Qenny yang tampak memerah saat gadis itu menanyakan masalah pribadi.


Qenny tersenyum menunduk malu, menarik nafas panjang, memikirkan bagaimana caranya membuat cerita yang sangat menyedihkan sehingga wanita yang duduk di sebelahnya merasa iba padanya.


"Aku hanya pria yang kurang beruntung. Buktinya aku di pekerjakan sebagai seorang driver di perusahaan sebesar ini. Padahal aku bisa melakukan sesuatu untuk meningkatkan kualitas pembangunan apartemen dan hotel yang ada di perusahaan ini," cerita Qenny membuat Ara sedikit kurang memahami maksud pria yang ada di sebelahnya.

__ADS_1


"Maksud mu?"


Qenny tersadar, mengusap lembut kepala Ara, "Yuuuk ... Nanti Tuan mencari kita. Jangan pikirkan hati kamu dulu. Yang penting bekerja dengan giat, semoga kita di pertemukan dengan orang yang tepat ...! ucapnya terdengar sangat bersemangat.


Ara mengangguk setuju, mereka meninggalkan ruang meeting tersebut, untuk melanjutkan pekerjaan masing-masing.


Ara sempat memberikan bekal untuk Qenny, sebelum pria itu meninggalkan lantai 30, "Semangat teman ..."


Qenny tersenyum tipis, setidaknya dia dapat merasa lega setelah mendengar curahan hati seorang Ara yang mau berteman dengannya saat ini.


Pintu lift terbuka lebar, saat Qenny tiba dilantai dasar yang menunjukkan beberapa divisi umum. Saat dia akan meminta kunci mobil Altezza Sun pada security, benar saja ... Huang Zhong berpapasan dengan Qenny yang menggunakan baju dinas, sebagai seorang driver.


"Tuan Mu-- Qen ..."


Secepat kilat Qenny merangkul bahu Huang, membawanya untuk sedikit bersembunyi disalah satu pot bunga yang besar, dengan menutup mulut sahabatnya itu.


"Apa yang kamu lakukan disini, Tuan Muda ...!?" Huang hanya menggerakkan bibirnya tanpa suara.


Qenny meletakkan telunjuknya dibibir, agar tidak diketahui oleh siapapun di gedung itu, "Sssst ... Jangan bersuara! Temui aku nanti malam dikediaman Altezza Sun, bawa aku saat jam pulang kerja. Karena aku menjadi driver pribadi untuk pria brengsek itu. Aku harap kamu jangan bicara pada siapapun, termasuk Daddy. Aku mohon ...!"


Huang mengangguk seperti sedang di todong pistol oleh penjahat yang akan menyakitinya, "Ta-ta-tapi kenapa penampilan Anda jadi begini, Tuan Muda? Aku akan di cabik-cabik oleh Nyonya Besar Cantika. Dia tidak pernah menyukai penampilan mu yang seperti ini. Aku akan meminta Lulu untuk mengirimkan semua fasilitas yang kamu punya, agar bisa tinggal di apartemen milik mu disini. Semua fasilitas itu sudah atas nama mu Tuan Muda, aku akan segera mengurusnya, dan aku akan menjaga semua rahasia ini ..."


Qenny mengangguk, "Aku akan melanjutkan pekerjaan ku hari ini. Jangan pernah hubungi aku, ataupun memanggil ku Tuan Muda. Jika tidak kamu akan aku lempar dari atas gedung ini. Kamu mengerti?"


Huang hanya bisa mengangguk patuh, mendengar ancaman dari Tuan Muda.


Mereka berpisah, masuk kedalam pikiran masing-masing.

__ADS_1


'Bagaimana Tuan Muda bisa berada disini? Apakah terjadi sesuatu padanya ...?'


__ADS_2