Cinta CEO Pesakitan

Cinta CEO Pesakitan
Episode 31. Menaklukkan


__ADS_3

Cukup lama para pebisnis handal itu berada dalam satu ruangan. Hary menghitung ulang nilai rencana pembangunan, di bantu secara virtual bersama Huang Zhong yang berada di Tokyo.


Tentu ini menjadi senjata yang sedikit menakutkan bagi Akuang dan rekan dua rekan bisnisnya.


"Tuan Besar Hary, jika kalian masih sibuk menghitung buang semua nilai RAB dari awal, lebih baik saya permisi dulu! Karena saya ada janji dengan Cleo untuk melanjutkan tinjauan kami ke salam satu proyek yang hampir rampung," izinnya.


Hary mengangguk setuju, karena dia tidak suka basa basi, apalagi melihat nilai yang hampir terlena di buatnya untuk segera mencairkan cek 30% dari nominal yang di tertulis.


Hary memijat pelipisnya, dia merebahkan tubuhnya di sofa, melirik kearah putra kesayangannya.


"Apakah ini hanya kebetulan? Atau memang sengaja untuk menaikkan nilai pembangunan setinggi ini, Qen? Aku pikir Akuang itu partner yang baik. Ternyata dia belum berubah!" sesalnya masih memijat pelan pelipisnya.


Qenny tersenyum, "Aku sudah mengetahui sejak awal niat dia meminta aku untuk menerima pinangan Cle, tapi aku tidak mencintai nya, Dad! Aku akan memutuskan pertunangan ini! Dan aku ingin membawa putra kesayangan ku masuk ke keluarga kita ..." tunduknya.


Kedua alis Hary menyatu, mendengar cucu mahkota ternyata benar adanya, "Di mana cucu ku? Di mana Qen? Kenapa kamu tidak pernah membawa mereka ke rumah kita? Ada apa dengan mu? Bukankah kita sudah mengambil alih perusahaan penerbit itu! Cepat jemput dia, aku akan menunggu kedatangan kalian di rumah! Oya, dari mana asal keluarganya? Aku lihat namanya menggunakan Atmaja, apakah dia putri dari Keluarga Atmaja yang selama ini Daddy cari?"


Qenny menggelengkan kepalanya, "Aku jalan dulu, Dad! Sampai ketemu di rumah ..."


Hary bergegas menghubungi Cantika sang istri. Bagaimana pun mereka sangat bahagia, menerima seorang cucu dan akan mencari tahu bibit, bebet, bobot keluarga Ara tersebut.


.


Qen turun dari mobil yang terparkir di loby apartemen, menoleh ke sisi kiri melalui pantulan kaca, terlihat Ara tengah berdedat dengan Benz.


Mereka berdua yang tidak menyadari kehadiran Qenny karena tertutup pilar utama yang besar menjadi penghalang untuk melihat, namun dapat di dengar oleh Qen.


Perlahan Qen mendekat, dan menempelkan tubuhnya di pilar besar itu, mendengar perdebatan mereka berdua ...


"Aku tidak terima! Berarti selama ini kamu membohongi aku? Hingga Nyonya Besar Cantika sendiri yang mengatakan bahwa Yodi adalah cucu mereka! Kenapa kamu tidak bicara padaku? Itu yang aku sesalkan Ara!!!" bentaknya pada Ara yang masih menangis.


"Benz ... Aku sudah berusaha menjauh dari mereka, tapi Qen menemukan aku! Aku harus bagaimana? Aku sudah berbohong, tapi dia mengetahui semuanya!! Please Benz ... Mengertilah kondisi aku saat ini! Aku menyayangimu Benz!" tangis Ara berusaha meraih tangan Benz.

__ADS_1


Benz berlalu meninggalkan halaman loby apartemen, dia tidak menoleh sedikitpun pada Ara.


Ara menangis sejadi-jadinya, membayangkan hubungannya dengan Benz akan kandas, karena tidak terima selama ini seperti di bohongi olehnya.


Qenny yang melihat kejadian itu, mendekati Ara secepatnya, dia memeluk tubuh ramping itu yang menangis dengan bahu bergetar hebat. Gadis itu masuk ke dalam dekapan Tuan Muda Qen.


Perlahan Qen membawa Ara untuk masuk ke dalam apartemen, tanpa melepas dekapannya.


Ara yang masih menangis kembali tersedu-sedu dan tidak menyangka akan di perlakukan seperti itu oleh Benz. Pria baik yang berjanji akan menerima Yodi apa adanya, kembali berubah pikiran, saat mendengar penuturan Nyonya Besar Cantika.


Qen meminta para pelayan untuk mempersiapkan semua kebutuhan Ara, karena mereka akan berkunjung ke mansion Keluarga Subagio.


Qenny membawa Ara agar bersiap-siap hanya untuk sekedar beristirahat di kamar, menjelang Yodi terjaga dari tidurnya.


Ara duduk di bibir ranjang, menoleh kearah Qenny yang memerintahkan kepada pelayan agar membuat kan sesuatu minuman hangat untuk Nona Muda.


Ara masih terisak, menangisi kepergian Benz. Lagi-lagi matanya tertuju pada layar handphone yang enggan menyala.


Pelayan yang mempersiapkan makanan kecil dan minuman hangat untuk Ara serta dirinya, masuk setelah mengetuk pintu dua kali.


Jantung Ara seperti akan meloncat keluar dari dadanya, karena kembali mengingat siapa Qen kala itu.


Qen masih merebahkan tubuhnya di ranjang kamar, belum menyadari bahwa mereka tengah berada berdua di dalam kamar sore itu.


Ara beringsut menuju sofa kamarnya, namun tangan Qen menahannya untuk kembali duduk di ranjang.


"Kamu mau kemana hmm? Jika kamu berpisah dari pria itu, kita bisa menikah Ara ..." ucap Qen pelan.


Qen duduk membuka jas yang dia kenakan, membuka baju kemeja, di hadapan Ara yang seketika menutup mata dengan jemari halusnya.


Qen menoleh kearah pintu kamar yang telah tertutup rapat, entah mengapa rasa ingin tahunya tentang hubungan Benz dan Ara semakin besar.

__ADS_1


Pria tampan itu kini tidak mengenakan bajunya, memperlihatkan keindahan dadanya yang bidang, roti sobek yang tampak menawan. Mendekati wanita yang menutup matanya dengan kedua tangannya.


Perlahan Qen mendekatkan wajahnya, sedikit berbisik ketelinga Ara, "Apakah kamu pernah melakukan hal ini pada Benz? Aku hanya ingin tahu Ara. Karena aku sedikit penasaran dengan hubungan kalian ..." tanyanya.


Ara mendelik tajam melihat wajah Qenny yang sudah berada di dekatnya, dia memaju kan sedikit bibirnya, mendengar pertanyaan Qen.


Perlahan kepala Ara menggeleng, "Sama sekali aku belum pernah melakukan hal itu. Dan Benz tidak pernah memintanya ..."


Qenny menautkan kedua alisnya, membayangkan bagaimana mungkin, seorang Benz yang sudah cukup umur tidak melakukan hal itu pada kekasih nya.


"Are you sure, baby ...?" bisiknya lembut ketelinga Ara.


Ara mengangguk, menatap mata Qen yang kembali memikat hati gadis itu, yang seakan-akan telah merebahkan tubuhnya di ranjang.


Tatapan mata Qen, sungguh menawan hati seorang gadis muda sepertinya, seolah-olah tengah terhipnotis, membuat Ara kembali pasrah kali ini apa yang akan di lakukan Qenny padanya.


Tanpa di paksa, kali ini terjadi begitu saja, ciuman, sentuhan, bahkan semua terjadi begitu indah. Membuat dua insan dewasa itu saling melepas rindu, perlahan tangan mereka bekerja untuk melepas penghalang yang menjadi pembatas menembus surga dunia.


Seketika kedua-nya kembali di kejutkan dengan suara panggilan Yodi dari arah luar kamar.


"Ma-ma-mama ..." Yodi mengetuk pintu kamar.


Bergegas Ara menolak tubuh Qenny yang akan menembus surganya, dengan tergesa-gesa.


Seperti di grebek Pak RT, Ara mengenakan pakaiannya terburu-buru, sementara Qenny hanya tertawa kecil melihat tingkah laku gadis itu.


"Hei! Apa yang kamu lakukan? Cepat pasang celana dan baju mu! Aku tidak ingin Yodi melihat kita! Cepat masuk ke kamar mandi, Qen!" teriak Ara.


Qenny tak mengindahkan teriakan wanita yang iya anggap kekasihnya, dia hanya melihat gadis itu tampak seperti orang linglung.


Dengan sigap Qenny merangkul tubuh ramping Ara agar masuk ke kamar mandi bersama, untuk menuntaskan apa yang menjadi kerinduannya selama ini tanpa menghiraukan panggilan Yodi di luar sana.

__ADS_1


"Maaf kan Papa sayang! Papa akan menaklukkan Mama sore ini, sebelum membawa nya ke mansion ...!" gumam Qen, yang tengah menerima pukulan kecil tangan Ara yang tidak berasa apa-apa.


"Qen ... Lepaskan aku! Lepaskan!"


__ADS_2