Cinta CEO Pesakitan

Cinta CEO Pesakitan
Episode 7. Perusahaan Raksasa


__ADS_3

Dua insan yang tak saling mengenal itu hanya diam mematung sesaat Qenny masih memeluk erat tubuh ramping itu dari belakang tanpa perasaan bersalah saat dia sadar dari pingsannya. Kening sebelah kiri yang masih terasa nyeri telah tertutup rapat plaster.


'Kenapa wanita ini tidak menjawab permintaan maaf ku' ... batinnya berfikir, mencari cara agar gadis yang masih memegang nampan itu mau berbicara padanya.


"Hei ... Bicaralah! Apakah kamu bisu, Nona?" tanya Qenny menoleh kearah Ara yang ternyata tengah membendung air mata yang akan menetes di pelupuk mata indahnya.


Ara mendehem agar Qenny melepas dekapannya, meletakkan nampan yang ada ditangan ke atas meja. Seketika dia membalikkan badannya ...


PLAAAAK ...!


"Aaagh ...!"


Ara melayangkan tamparan sangat keras kewajah Qenny, atas rasa sakit hatinya pada pria muda tersebut, yang dengan tega akan merebut paksa kehormatannya sebagai seorang gadis.


"Shiiit ... Apa yang kamu lakukan!? Apa kamu tidak mau memaafkan, aku?" tanya Qenny tanpa dosa meringis menahan rasa sakit ditampar oleh seorang wanita.


Ara menyunggingkan senyuman tipis, berpangku tangan dihadapan Qenny dengan wajah merah padam, "Dengar Tuan! Saya tidak mengenal Anda ... Tapi kenapa Anda tega melakukan hal yang tidak senonoh pada saya? Apa salah saya pada Anda, Tuan?" bentaknya dengan suara lantang.


Qenny ternganga, 'Ternyata gadis ini masih mengingat kejadian tadi?' bisiknya dalam hati.


"Apa-apaan kamu? Aku kan, sudah minta maaf padamu! Apa kurangnya aku? Jangan terlalu banyak drama. Satu lagi, kita ini di rumah! Jangan terlalu formal, cukup aku dan kamu saja!" tegas Qenny diwajah Ara.


Mendengar penuturan Qenny, sontak membuat Ara semakin muak dengan pria yang ada di hadapannya. Bagaimana mungkin dia yang bersalah, dia yang semena-mena, dia pula yang mengatur tuan rumah.

__ADS_1


"Hei Tuan! Apa maksud mu berbuat seenaknya pada ku? Apa kamu pikir aku seorang pelayan hasrat gila mu!" tantang Ara pada kedua bola mata lentik dan hitam itu. Dia sedikit menyembunyikan kekaguman pada wajah Qenny yang benar-benar tampan.


Walau Qenny telah berbuat jahat padanya, sejujurnya saat pria itu menyentuh bagian kenyalnya, dia merasakan sesuatu. Namun sebagai wanita berdarah Indo, Ara selalu menjaga harga dirinya hingga pernikahan.


Qenny terdiam, dia seakan-akan terhipnotis oleh kecantikan wanita yang tengah menantangnya.


"Maafkan aku Ara ... Aku sudah minta maaf pada mu! Jangan marah lagi, aku berjanji akan mengikuti semua perintah mu, asalkan kamu mau membantu ku untuk mencarikan aku kegiatan. Tidak meninggalkan aku sendiri di apartemen ini yang dapat membuat kepalaku serasa pecah karena tidak melakukan apa-apa," rungut Qenny panjang lebar.


Ara terdiam, jujur ini sudah kedua kalinya Qenny mengucapkan maaf padanya. Sehingga dia seperti orang bodoh yang terus terbius oleh kata maaf seorang pria bernama Qenny.


Gadis itu mengangguk, dia mencoba untuk berdamai walau masih merasakan trauma yang teramat sangat, harus tinggal satu atap dengan pria semesum Qenny.


"Hmm ... Duduklah. Lukamu masih belum aku lihat sedalam apa. Aku takut kamu kenapa-napa, dan kepolisian mencari keberadaan mu di Tokyo," perintah Ara.


Ara menghela nafas panjang, perutnya terasa sangat lapar, namun dia harus memperhatikan luka yang cukup menganga di kening Qenny karena ulahnya telah tega menendang pria yang akan menyakitinya.


Jika dibalik ke kejadian beberapa waktu lalu, entah siapa yang salah. Namun, sebagai tuan rumah Ara masih memiliki empati karena mengetahui Qenny tidak memiliki siapapun disana.


'Aaagh ... Dia kan pria! Kenapa aku mau terlalu baik padanya? Apa kata Altezza jika dia mengetahui aku tinggal bersama seorang pria disini. Aku kan, sedang pendekatan dengan pria itu karena kebaikannya pada ku. Memberikan aku gaji yang cukup besar dan memperhatikan semua kebutuhan ku selama bekerja di Perusahaan Tuan Besar ...'


Ara merobek plaster dengan giginya, menempel tempat dikepala Qenny, "Bagaimana? Apakah masih terasa sakit?" tanyanya pelan.


Qenny hanya menggeleng, menikmati tangan lembut dan perhatian seorang wanita yang sangat perhatian dan baik padanya.

__ADS_1


Qenny melihat sebuah foto didepan pintu kulkas yang dipajang Ara, "Apakah yang didalam foto itu kekasih mu?" tanyanya.


Ara mendelik, melihat arah telunjuk Qenny yang mengarah ke pintu kulkas dua pintu itu, "Hmm ... Dia bos ku. Namanya Altezza, dan kami baru saling mengenal, karena aku adalah secretarisnya," jawabannya jujur.


Qenny mengangguk, dia tidak pernah terpikir akan di hadapkan dengan situasi seperti saat ini. Beberapa yang dia ketahui bahwa Perusahaan yang dipimpin oleh Altezza di Tokyo merupakan saham kedua milik keluarganya. 'Siapa Altezza? Apakah dia orang penting, sehingga memfasilitasi wanita seperti Ara disini? Memberikan apartemen yang kurang layak, bahkan sangat kecil ...'


Mereka masuk dalam pikiran masing-masing, tidak ingin membahas tentang pekerjaan atau apapun saat ini.


Dalam pikiran Qenny dia hanya ingin menikmati kehidupan barunya selaku orang biasa sambil berpikir bagaimana caranya untuk masuk ke perusahaan raksasa itu, tanpa diketahui oleh Altezza dan rekan Tuan Besar Hary lainnya.


'Apakah mereka mengenal aku? Karena Daddy memang tidak pernah mengajakku untuk mengetahui tentang mereka. Bagaimana caranya agar Ara memperkerjakan aku disana? Hmm ... Jika mereka mengetahui siapa aku, mungkin aku juga tidak akan bisa dekat dengan gadis ini untuk mencari informasi perusahaan keluarga ku ...'


Pikiran-pikiran itu yang ada dalam benak Qenny, 'Tapi malam ini aku akan mengetahui siapa Altezza dari secretaris ku di Seoul. Aaagh ... Lulu ... kamu pasti merindukan milik ku ...'


Ara masih terlihat lebih menyibukkan diri untuk menghidangkan beberapa makanan untuk mereka santap selain cream soup asparagus dan nasi, tapi ada juga ayam lada hitam kesukaannya.


"Apa kamu suka ayam lada hitam? Menu ini merupakan makanan khas Indo yang sering aku buat saat di panti asuhan, apa kamu mau mencicipinya?" tanya Ara meletakkan diatas meja makan yang memiliki empat kursi tersebut.


Qenny mencium aroma wangi bawang bombai dan lada hitam yang sangat menggugah selera. Seketika dia menyentuh perutnya, sedikit memelas menatap kearah Ara.


"Bisakah kamu membuatkan aku sarapan setiap pagi? Karena aku tidak bisa menyalakan kompor yang tidak begitu bagus! Aku lihat kompor mu itu terlalu buruk karena tidak memiliki sistem otomatis yang dapat memudahkan kita dalam memasak. Contohnya kita hanya bicara, masakan itu langsung masak," pertanyaan Qenny seperti tengah menghayal dihadapan Ara.


"Are you crazy, Mr! Kamu pikir dirimu siapa? CEO kah? Pemilik perusahaan atau orang yang telah memberi upah padaku? Haaaah!!" kesal Ara melempar Qenny dengan gulungan sapu tangan.

__ADS_1


Qenny menelan ludahnya pelan, saat Ara berdiri di hadapannya kembali mempertontonkan bagian kenyal yang sangat sejuk dimatanya.


__ADS_2