Cinta CEO Pesakitan

Cinta CEO Pesakitan
Episode. 23. Apakah Qen anak dari Keluarga Subagio ...?


__ADS_3

Semenjak kejadian Qenny bertemu dengan Ara beberapa waktu lalu. Pria tampan itu terus menunggu Shania Sahara Atmaja di toko buku tersebut. Hanya untuk menanyakan status dan anak kecil yang ada dalam gendongan pria tersebut.


Sudah lebih dari tiga jam Qenny menunggu di pintu masuk utama toko buku tersebut, berharap Ara akan datang di sana.


Berbeda dengan Tuan Besar Hary, dia mencari pemilik penerbit toko buku tersebut, untuk mengambil alih perusahaan itu, hanya untuk mencari tahu siapa gadis yang telah membuat putra kesayangannya menjadi seperti ini, selama bertahun-tahun.


"Penerbit itu perusahaan swasta Tuan. Mereka bersedia bertemu dengan Tuan Besar. Saya juga sudah memberi kabar kepada pengawal Tuan Muda Qenny, agar menghadiri rapat pengalihan saham satu jam lagi. Kemungkinan besar produksi buku novel gadis itu, masih berjalan sesuai permintaan pasar," jelas pengawal Tuan Besar Hary.


Hary menautkan kedua alisnya, menoleh kearah Cantika untuk bertanya, "Hmm, bagaimana Ma? Kamu bisa ikut?"


Cantika mengangguk, "Aku ingin melihat wajah gadis itu. Dia yang telah membuat putra kesayangan ku menjadi seperti sekarang. Qen, benar-benar berubah, sayang. Aku khawatir pada kejiwaan nya. Jika memang gadis itu sudah menikah, kita nikahkan saja Qen dan Cle! Mama sudah tidak bisa berkata-kata lagi."


Hary bersiap-siap untuk segera meninggalkan kediamannya membawa serta Cantika, menuju gedung penerbit yang terletak di tengah kota tersebut.


Tentu dengan susah payah pengawal pribadi Qenny membujuk pria tersebut. Dia masih duduk termenung sendiri di tangga supermarket tersebut tanpa menghiraukan beberapa pasang mata yang menertawakannya.


"Tuan Muda Qen, kita ada rapat penting untuk menemukan gadis itu. Tuan Besar Hary sudah mengambil alih saham perusahaan penerbit buku novel Nona Ara. Mereka menunggu kita di sana!" tegasnya.


Mendengar penuturan pengawal pribadinya, Qen bersemangat untuk menghadiri pengalihan saham tersebut.


Bergegas mereka menuju gedung penerbit tersebut, dengan penuh harap Qenny dapat bertemu dan menanyakan pada Ara siapa anak kecil tersebut, dan siapa pria yang ada di bersamanya beberapa waktu lalu.


Setibanya di loby, Qenny berlari menuju lift untuk segera tiba di lantai tempat mereka akan mengadakan pertemuan. Dadanya berdegup kencang, nafasnya tersengal-sengal, matanya menyesiasati sekelilingnya, mencari keberadaan Shania Sahara Atmaja.


Benar saja, begitu pintu lift terbuka, Qenny berpapasan dengan gadis itu, yang tengah berdiri sendiri di dalam lift.


Kedua bola mata mereka saling bertatapan, Ara hanya bisa menahan nafasnya, merasa terkejut melihat sosok Qenny ada di hadapannya.

__ADS_1


Tangan Qen menahan pintu lift yang masih terbuka, perlahan maju selangkah. Dia tidak ingin menahan rasa kerinduannya terhadap gadis yang berdiri tegak di hadapannya.


"Qen ...? Apa yang telah kamu lakukan di sini? Bukankah kamu ada di Tok--- ..."


Qenny yang tak kuasa menahan rasa kerinduan selama ini, menarik tangan Ara, membawanya dalam pelukan hangatnya.


Ara masih tampak kebingungan, bahkan merasa tidak nyaman dengan perlakuan Qenny yang tidak pernah berubah sejak dulu, hanya diam mematung tak membalas pelukan mereka.


"Maafkan aku, Ara! Maafkan aku! Aku mencari-cari mu, namun tidak pernah menemukan keberadaan mu! Apa yang kamu lakukan padaku? Kamu terlalu jahat Ara. Kenapa kamu menghilang? Meninggalkan aku selama ini? Aku tidak kuasa jauh dari mu! Jangan pergi lagi. Aku mohon, berpisah lah dari suami mu itu, aku yakin anak itu adalah anak kandung ku ..." ungkap Qenny panjang lebar membuat wajah Ara tampak kebingungan.


Jujur dia tidak mengerti apa yang di maksud Qenny ...


Ara melepaskan pelukan mereka, "Maaf, aku memang sudah bertunangan. Tapi aku tidak memiliki anak, dan anak yang bersama kami kemaren itu adalah keponakan calon tunangan ku, Qen. Maafkan aku!"


Qenny menyandarkan tubuhnya ke dinding lift. Tidak menyangka bahwa Ara telah menikah dengan pria lain.


Ara tertawa kecil, air matanya tergenang di pelupuk mata yang akan mengalir, "Bukan kah kamu yang meminta, Qen? Kamu yang meminta aku untuk tidak banyak berharap! Semua yang kita lakukan itu hanya sebatas teman. Aku kecewa pada mu! Kamu telah menyakiti aku. Kini Benz sudah menjadi tunangan ku. Kami akan segera menikah, dan kami bahagia. Jangan ganggu aku lagi!"


Ara menekan tombol lift agar bisa keluar dari dalam lift yang sudah berhenti sejak tadi.


Qenny yang sejak awal menahan amarahnya dengan kejujuran gadis itu berteriak lantang sebelum Ara meninggalkan nya, "Siapa Benz? Siapa dia? Apakah dia yang memiliki gedung perkantoran ini? Aku tahu, perusahaan ini tengah mengalami penurunan dalam produksi, Ara!"


Ara tersenyum lirih, menoleh kearah Qenny, "So! Jika benar perusahaan ini mengalami penurunan dalam produksi, apa urusan mu? Apakah kamu sanggup mengalihkan perusahaan sebesar ini? Ingat Qen, kamu hanya seorang sopir! Kita tidak akan bisa bersama. Biarkan aku dan Benz menghadapi semua tantangan ini. Aku yakin, di dalam ruangan itu tengah duduk orang baik yang akan menjadi malaikat untum perusahaan calon suami ku!" tegasnya.


Qenny tersenyum lirih, menoleh kearah ruangan yang di tunjuk gadis cantik itu, menarik tangan Ara agar ikut bersamanya menuju ruangan yang di tunjuk Ara.


Wajah Ara berubah seketika, saat semua pengawal Qen menunduk hormat padanya.

__ADS_1


Qenny menoleh kearah Ara, "Aku akan melakukan apapun untuk mu, asal kamu kembali pada ku!"


Ara mendengus dingin, 'Bagaimana mungkin seorang supir akan melakukan apapun untuk ku? Hidupnya saja sudah berantakan sekali. Sekarang justru ingin melakukan sesuatu untuk ku? Tidak mungkin, karena aku tahu siapa pria mesum ini ...'


Pintu terbuka lebar, Benz yang awalnya memandang Qen hanya sebelah mata awalnya, menunduk hormat setelah mengetahui identitas putra kesayangan Tuan Besar Hary dan Nyonya Besar Cantika.


Benz menunduk hormat, "Selamat datang Tuan Muda Qen!"


Ara menghentikan langkah kakinya, wajahnya terasa panas, bahkan memerah tak bergeming. Melihat tunangan nya menunduk hormat pada pria yang menggandeng tangannya.


Dada Ara berdebar-debar, dia tidak mengerti drama apa lagi yang tengah dia hadapi. Setelah kehilangan kehormatannya beberapa tahun silam, sehingga bertemu dengan Benz yang mengagumi karya-karya nya.


Kini harus di hadapkan dengan posisi yang sangat membingungkan.


Ara bertanya, karena tampak kebingungan, "Tu-Tu-Tuan! Tuan apa maksud mu, sayang? Apakah kamu mengenal, Qen sebelumnya?"


Qen tersenyum sumringah, 'Kemenangan akan berpihak pada ku ...!'


Benz mendekati Ara juga Qenny, membukakan kursi untuk wanita pujaannya, "Duduklah!"


Qenny mempersilahkan Ara duduk di hadapan Tuan Besar Hary dan Nyonya Besar Cantika, sementara dia memilih duduk disamping Ara, dan di sebelah gadis itu ada Benz, tunangannya.


Cantika tampak tersenyum sumringah, menatap ketiga anak muda itu dengan tatapan kebahagiaan, "Akhirnya kami menemukan mu gadis cantik!"


Ara terdiam, tampak kebingungan, karena di pertemuan dalam situasi seperti saat ini.


'Apa maksud dari semua ini? Apakah Qen di angkat menjadi anak oleh mereka Keluarga Subagio ...?'

__ADS_1


__ADS_2