Cinta CEO Pesakitan

Cinta CEO Pesakitan
Episode. 18. Gempa


__ADS_3

Qenny menyela pembicaraan Huang, karena dia tidak ingin mendengar alasan jika belum melakukan apapun ...


"Diam kau! Mencari seorang wanita saja tidak bisa! Apa yang kau bisa, haaah!!" 


"Tuan Mu-- ..." tunduk Huang.


"Diam!! Tinggalkan aku sendiri!" bentak Qenny pada Huang.


Huang hanya bisa menunduk hormat tanpa mau beranjak dari apartemen yang terlihat seperti Kapal Titanic akan terbelah dua. Tumpukan kain bersatu dengan kain pel, bahkan sudah menumpuk beberapa bungkus samyang yang menjadi makanan kesukaan Qenny.


Huang Zhong yang melihat perubahan sahabatnya seperti ini, tidak tega untuk meninggalkan nya sendiri di sana.


Huang menunduk hormat, "Maaf Tuan Muda Qen, bagaimana jika Tuan Muda ikut dengan saya ke apartemen, Tuan. Sejak awal saya menawarkan agar Tuan beristirahat di sana, mungkin tidak akan terjadi seperti ini, Tuan Muda. Nyonya Besar Cantika, masih menunggu kehadiran Tuan di kantor," jelasnya sebagai seorang sahabat.


Qenny merebahkan tubuhnya di sofa, ruangan apartemen yang kecil bahkan terlihat sangat memprihatinkan. Dia memejamkan matanya, membayangkan keindahan bersama Ara kala itu ...


"Dia meninggalkan aku, Huang ... Dia tidak ingin hidup dengan ku. Aku yang salah, aku yang telah mengecewakan nya. Aku benar-benar menjadi pria brengsek yang tidak berguna, bahkan sangat buruk. Pantas saja Daddy membenci aku. Karena kelakuan ku sangat menjijikkan." Air mata Qenny mengalir deras tak terbendung karena telah mengecewakan seorang gadis.


Gadis cantik, baik dan polos, ternyata dalam diam mencintai Qenny. Perhatiannya selama ini cukup membuat pria tampan itu menjadi ketergantungan pada sosok Ara.


Wanita yang tidak pernah mengeluh saat merawatnya, menyiapkan makan malam dan sarapan pagi, hanya karena satu kesalahan, Ara benar-benar pergi meninggalkan Qenny bak di telan bumi.


Huang menarik nafas panjang, mengusap lembut kepalanya, bertanya karena penasaran, "Apakah kalian menghabiskan malam bersama, Tuan? Bukankah Tuan Muda Qen bilang kalau Ara hanya teman yang bersedia memberikan Tuan tempat tinggal? Ara juga yang menjadi teman pertama saat berada di Tokyo sebelum bertemu dengan ku?"


Qenny mengangguk meng'iya'kan.


Pria berwajah lesu itu kembali merebahkan tubuhnya di sofa, sambil menyebut nama Ara.


"Cari dia, Huang! Cari Ara sampai dapat. Kirimkan beberapa pelayan untuk mengurus ku ... Aku tidak ingin pelayan wanita, aku ingin pelayan pria," isak Qenny.


Huang menarik nafas dalam-dalam, "Saya tidak akan mencarikan pelayan untuk Tuan, tapi ... Saya yang akan merawat Tuan," ucapnya tegas.

__ADS_1


Qenny menjawab lemas penuturan Huang, "Jangan berharap aku akan memberi mu gaji besar bodoh! Lebih baik carikan aku pelayan, dan kamu gaji dia. Aku tidak ingin memikirkan hal lain. Aku hanya ingin memikirkan Ara. Apa kamu paham?"


Lagi-lagi Huang menarik nafas panjang, karena Qenny yang benar-benar keras kepala, bahkan sekeras batu karang.


Huang menghubungi salah satu pelayan apartemen agar datang ke tempat tinggal Qenny yang sekarang. Tentu dalam pengawasan sahabat Tuan Muda tersebut.


Tanpa menunggu lama, pelayan pria sesuai permintaan Qenny tiba di sana. Dengan sigap pria bertubuh besar itu membereskan semua dengan sangat cepat. Sampah-sampah yang berserakan di lantai, kini tampak bersih tanpa noda.


Seperti di sulap menjadi lebih bersih dan indah, semua di ganti dengan yang baru, seperti apartemen yang baru di sulap dalam kemewahan hanya semalam.


Qenny yang masih berbaring di sofa sambil menyebut nama Ara, membuat Huang tampak kesal melihat kebodohan sang Tuan Muda.


'Bukankah gadis itu hanya gadis biasa saja? Bahkan lebih menarik Lulu daripada Ara! Lulu lebih seksi dan menarik. Ara cantik, tapi terlalu polos ...' geram Huang.


Hari semakin larut, Qenny masih tertidur tanpa mau beranjak dari sofa ruang tamu, yang sudah lima kali di angkat-angkat oleh pelayan untuk membersihkan ruangan, membuat dia tertidur lagi.


Suasana apartemen sepi seketika. Seketika Huang memilih untuk meninggalkan Tuan Muda Qen, karena tidak bisa meninggalkan pekerjaan nya esok hari.


Qenny terjaga dari tidurnya, melihat jam dinding yang berdetak. Dia duduk di sofa, beberapa kali menguap, dan beranjak menuju kamar Ara sambil menggaruk-garuk bokongnya yang terasa gatal, karena tidak ada niat untuk membersihkan diri sejak tiga hari yang lalu.


"Ara! Ara!"


Qenny mengetuk-ngetuk pintu kamar Ara yang tidak terkunci, melihat seisi ruangan yang tampak berubah. Aroma kamar milik Ara yang sangat khas di penciuman nya, berganti menjadi wangi baru, membuat emosinya membludak seketika.


"Brengsek! Siapa yang mengganti kamar Ara? Aaaagh! Ini pasti kerjaan Huang. Dasar laki-laki brengsek! Aku meminta dia membersihkan ruangan depan saja. Bukan kamar ini! Bagaimana jika dia pulang, dan melihat kamarnya berganti seperti ini. Siiiaal ...!" emosinya membuncah seketika.


Di tengah malam itu Qenny menghubungi Huang untuk mencaci maki sahabat sekaligus rekan kerjanya, namun tidak ada jawaban dari pria tersebut.


"Aaaagh! Damn it!"


Qenny terduduk di depan pintu kamar Ara, bersandar di tembok, membentur kan kepalanya ke dinding.

__ADS_1


"Bodoh ..."


"Bodoh ..."


"Bodoh ..."


Berkali-kali dia mengatakan bahwa dirinya bodoh, membuat pandangannya kembali membayang dan berputar-putar.


"Oooogh Tuhan! Apakah ini gempa bumi?"


Qenny terhuyung ke kiri dan ke kanan, merasa bahwa keseimbangan tubuhnya tak mampu lagi menopang berat badannya yang tak berarti apa-apa.


Jika ditanya dalam hati Qenny saat ini, dia tidak akan mengakui bahwa dia mencintai Ara. Akan tetapi, dia tidak ingin wanita itu pergi meninggalkan nya, seperti pertama kali Altezza memberikan kamar kecil untuknya di mansion mewah sang direktur.


Semua itu atas keinginan Qenny, sesuai janji mereka berdua layaknya seorang teman yang berjanji akan bersama hingga meraih sukses dan tinggal di kota yang tenang untuk melanjutkan hoby Ara sebagai seorang penulis.


Qenny mencoba mengingat-ingat apa kebiasaan Ara saat jam pulang kantor. Dia selalu menemani gadis itu mencari buku kesukaannya di pusat perbelanjaan, terutama toko buku juga toko roti.


Setiap minggu gadis lugu itu selalu membeli sebuah buku novel karya Moonmarvel.


Qenny melangkah pelan menuju kamarnya, tanpa merasakan lapar ataupun haus. Kali ini, dia akan menahan haus dan lapar demi seorang Ara.


"Ara ..."


"Ara ..."


"Hanya Ara! Aku mau Ara yang hadir di hadapan ku untuk menyuapkan makan pagi, siang dan malam untuk ku ..."


Qenny merebahkan tubuhnya dilantai kamar, setelah melepaskan semua penghalang di tubuhnya, dimana dia terjerembab karena tendangan seorang Ara padanya kala itu.


Semua pikiran Qenny saat ini, hanya Ara. Gadis sabar dan baik hati, tidak pernah mengeluh seperti Lulu ataupun gadis yang pernah dia temui.

__ADS_1


"Bagaimana caranya agar aku dapat menemukannya? Menemukan Ara! Wanita cantik yang sangat berbeda dari gadis-gadis lainnya," ujar Qenny mengusap-usap bagian bawahnya yang mengeras karena mengingat keindahan gadis bernama Ara.


__ADS_2