Cinta CEO Pesakitan

Cinta CEO Pesakitan
Episode 12. Dompet


__ADS_3

Qenny mulai curiga dengan gerak gerik Ara yang selalu muncul tiba-tiba saat time istirahatnya. Bagaimana mungkin seorang secretaris yang memiliki kesibukan luar biasa, mau menemaninya yang merupakan seorang driver diluar gedung pertemuan hanya karena perasaan tidak nyaman dengan Altezza.


Jika Ara menganggap Qenny merupakan pria polos, mungkin gadis itu salah besar. Justru saat ini, pria tampan itu tengah masuk dalam teka-teki permainan Tuan Besar Hary di dalamnya.


Mereka tengah menikmati makan siang yang berada diarea gedung, sesekali mata Ara melirik kearah Qenny yang tengah menyantap makanan dengan lahap.


Namun, saat akan memasukkan suapan terakhir mereka di kejutkan dengan kehadiran Altezza dan seorang wanita cantik sedang merangkul sang direktur.


Altezza cukup membulatkan bola matanya, maka Ara akan menunduk hormat dan menghentikan makanannya, demi mentaati aturan yang dibuat oleh Altezza selaku penguasa perusahaan di Tokyo.


Altezza berteriak kearah Qenny, "Hei, sopir bodoh! Cepat kau bawa kami ke restoran mahal dekat sini. Kamu satu, mau sekali makan bersama orang serendah dia!?" bentaknya kesal.


Qenny mengangguk patuh, dia bergegas membayar makanan mereka berdua, tanpa sengaja memperlihatkan dompet termahal milik pria muda itu dihadapan Altezza sang direktur.


Altezza mendelik tajam, melihat dompet mahal milik supir pribadinya, "Wait! Apakah kau seorang pencuri? Dari mana kau mendapatkan dompet mahal ini? Apakah kau pemasok barang-barang mewah? Sehingga memiliki barang kualitas terbaik dan limited edition. Aku yakin, kau adalah seorang pencuri barang mewah milik orang kelas atas!"


Qenny yang mendengar ucapan Altezza yang telah menghinanya menggeram kesal, bahkan ingin sekali dia memecahkan mulut sang direktur agar tetap menjaga omongannya didepan umum.


Namun tidak untuk Altezza, pria angkuh itu berusaha merampas dompet Qenny yang masih ada dalam genggaman.


Sontak Qenny melawan tak ingin menyerahkan dompet miliknya pada Altezza.


Qenny meremas kuat tangan Altezza yang akan mengambil paksa dompet pribadinya, dengan wajah garang dia membalikkan tubuh sang direktur, "Jangan pernah menyentuh barang-barang milik ku, Tuan! Jika tidak Anda akan menyesali semua perbuatan mu!" ancamnya berbisik.


Qenny melepaskan tangannya, berlalu meninggalkan Ara juga wanita cantik yang tampak kebingungan juga takut, saat melihat kedua pria itu saling bermusuhan.


Wanita yang bernama Alea mendekati Altezza untuk memastikan bahwa partner ranjangnya baik-baik saja, "Sayang ... Apa kamu baik-baik saja?"


Altezza menoleh kearah Ara yang masih berdiri didepan matanya, "Kenapa kau masih berdiri di situ! Kejar pria brengsek itu! Aku yakin dia seorang pencuri! Karena memiliki barang-barang mewah yang luar biasa harganya. Sopir brengsek, siapa dia? Kenapa dia mau menjadi sopir jika harga dompetnya diatas gaji sopir!" geramnya.

__ADS_1


Ara mendengus kesal, meninggalkan Altezza yang selalu menjadikannya budak ketika sedang bersama teman kencannya tanpa tahu bagaimana perasaannya.


'Dasar orang aneh. Jika berdua dengan ku, selalu menjadikan ku wanita satu-satunya. Tapi jika sudah bertemu para selir, jangankan melihat, meraba pun dia tak sudi ... Bahkan sangat kasar memperlakukan aku seperti aku tidak memiliki harga diri,' geram Ara berjalan sendiri mencari keberadaan Qenny.


Ara melihat Qenny yang tengah duduk sendiri dianak tangga darurat saat akan memasuki gedung pencakar langit tersebut, dengan wajah yang menekuk lutut tepat didepan mobil Altezza.


Ara mendekati Qenny sedikit menunduk dan menyapa dengan suara pelan, "Hai ..."


Qenny hanya menoleh, namun tidak menjawab. Dia hanya duduk terdiam tak ingin banyak bicara.


Ara melanjutkan pertanyaannya, "Apakah kamu marah pada ku, Qen? Yang menghina itu kan Altezza Sun, bukan aku, kenapa kamu sepertinya kesel sama aku?"


Perlahan Qenny menatap wajah cantik Ara, tersenyum tipis kearahnya, "Aku dituduh mencuri dompet orang lain oleh Tuan mu. Aku berhenti. Aku tidak bisa berada disini. Aku akan melanjutkan perjalanan ku. Selamat siang!" ucapnya tegas.


Qenny hendak berdiri untuk meninggalkan Ara yang masih duduk di sampingnya, mata keduanya saling menatap lekat berharap agar tetap tenang dalam menghadapi semua tantangan walau pahit sekalipun.


Ara memberanikan diri menarik tangan Qenny, memberi tatapan memohon agar tidak meninggalkannya sendiri saat ini.


Qenny tersenyum tipis, menghela nafas panjang, mengusap wajah tampannya menatap langit yang tampak cerah.


"Baiklah ... Aku disini hanya karena permintaan kamu Ara. Walau pada dasarnya aku tidak menyukai situasi seperti ini. Aku akan membawamu suatu saat nanti. Tenanglah ..." ucap Qenny pelan.


"Terimakasih, aku senang mendengarnya. Kita tunggu di loby ..."


Ara tersenyum sumringah, dia berlari kecil mencari keberadaan Altezza yang tengah menunggunya di loby gedung.


Qenny menggelengkan kepalanya, memasuki mobil untuk menjemput sang direktur.


Semuanya tampak kaku, bahkan Altezza masih melirik sinis kearah Qenny. Memberi sinyal bahwa dia akan kembali merebut dompet milik sopir pribadinya disaat yang tepat.

__ADS_1


Qenny hanya fokus pada tujuan awal, membuka kedok sang direktur dihadapan Tuan Besar Hary, 'Aku akan membalas semua perlakuan mu pada ku. Jika kau tahu siapa aku, suatu saat kau yang akan datang padaku untuk bersujud meminta maaf ...'


Mereka tiba di gedung perkantoran tempat Qenny bekerja. Kali ini dia berusaha bersahabat dengan keadaan, walau sesungguhnya dia sudah tidak ingin melanjutkan penyamaran yang cukup menginjak harga dirinya sendiri.


Saat pikiran Qenny tengah melamun, membayangkan bagaimana caranya mengajak Ara berkencan, untuk melampiaskan hasratnya yang semakin menyesakkan. Seketika terpikir olehnya untuk melakukan pemijatan seperti layaknya pria biasa di toilet kantor.


Qenny bergegas menuju toilet, tanpa melihat kearah dinding yang tertera. Dia membuka celananya, memulai aksinya agar kepalanya sedikit lega.


Entahlah ... Qenny yang terbiasa menikmati hal itu dengan berbagai macam wanita ketika bosan selama di Seoul. Kini berbanding terbalik dengan keadaannya di Tokyo. Tak satu orang pun bisa ajak untuk berkencan termasuk Ara, Shania Sahara yang hampir mendapat serangan fajar dari pria berstatus putra pewaris tahta tersebut.


Qenny benar-benar menikmati permainannya sendiri dalam toilet, tak menghiraukan beberapa kali handphonenya bergetar, kali ini dia harus melepaskan semua yang tengah bergemuruh didalam dadanya.


"Aaaagh ..." erangnya masih berada di dalam toilet saat mencapai pelepasannya sendiri.


Sontak dessahan seorang pria yang sangat menakutkan bagi seorang gadis, membuat Ara mencari keberadaan suara aneh yang menggema di toilet tersebut.


Gadis itu menundukkan tubuhnya melihat siapa yang tengah berbuat mesum didalam sana.


Saat Ara tengah memastikan siapa yang berada disana, seketika pintu terbuka lebar dengan di hadapkan bagian terlarang itu ada di depan wajahnya, 'Ooogh ... Shiiit!' gumamnya menelan ludah.


Perlahan Ara mendongakkan kepalanya, menatap lekat wajah Qenny yang berdiri tegap di hadapannya.


"Qen ... What are you doing here?" tanya Ara tampak ketakutan dengan tenggorokan sedikit tercekat.


Qenny tersenyum tipis, "Apakah jika aku meminta pada mu kamu akan memberikannya ...?"


"Aaaagh ...!!"


Ara berhamburan keluar toilet meninggalkan Qenny yang masih berdiri tegap, dipintu toilet dengan senyuman yang sangat mempesona.

__ADS_1


"Aku akan mendapatkan mu gadis bodoh!" kesal Qenny.


__ADS_2